Halo lagi, teman-teman Pahupahu!
| Volunteering di Komunitas Sekitar |
Masih ingat dengan artikel saya beberapa waktu lalu tentang bergabung dengan komunitas hobi? Nah, kali ini saya mau cerita tentang pengalaman “naik level” dalam hal berkegiatan sosial: volunteering alias jadi relawan di komunitas sekitar.
Kalau dulu saya
bilang komunitas hobi itu kayak keluarga yang kita pilih, maka volunteering ini
kayak jadi “tetangga yang aktif” — bukan cuma urusan hobi pribadi, tapi
benar-benar ikut nimbrung dalam kehidupan komunitas sekitar kita.
Dan jujur, awal
ceritanya nggak muluk-muluk banget.
Awal Cerita: Dari Iseng Jadi
Serius
Ini berawal dari keresahan
kecil. Setiap pagi, jalan depan kompleks saya selalu penuh dengan sampah daun
dan plastik. Sudah sering saya geram sendiri, tapi ya cuma diem di rumah sambil
geleng-geleng. Sampai suatu Sabtu pagi, saya lihat dari jendela ada beberapa
pemuda dan ibu-ibu sedang kerja bakti membersihkan selokan.
“Ah, mungkin cuma
sesekali,” pikir saya. Tapi ternyata, mereka adalah bagian dari kelompok
relawan lingkungan di RW saya. Namanya “Sekar Wangi” — keren ya? Mereka aktif
tiap bulan.
Rasa penasaran (dan
sedikit malu karena cuma jadi penonton) bikin saya memberanikan diri turun.
Dengan celana pendek dan kaos oblong lusuh, saya nyodorkan diri, “Permisi,
boleh ikut bantu?”
Reaksi mereka? Senyum
lebar, salam hangat, dan langsung disodorin sapu. Simpel. Nggak ada interogasi,
nggak ada pendaftaran ribet. Begitulah awal mula saya “terjebak” dalam dunia
volunteering.
Volunteering Itu Bukan Cuma
untuk “Orang Baik”
Satu stigma yang
harus kita bongkar: volunteering itu bukan cuma untuk mereka yang punya waktu
luang melimpah, duit berlebih, atau sifat kayak malaikat. Volunteering itu
untuk semua orang yang peduli — sekecil apapun kontribusinya.
Saya sendiri bekerja
full-time, punya deadline tulisan, dan kadang malas banget kalau hari libur.
Tapi volunteering justru jadi penyegar di tengah rutinitas. Ada kepuasan yang
beda.
Di kelompok Sekar
Wangi, anggotanya macam-macam:
·
Pak Budi, pensiunan guru yang sekarang jadi
“komandan” daur ulang
·
Mba Sari, ibu muda yang bawa bayi nya ikut
sambil bawa kue untuk teman-teman relawan
·
Mas Andi, mahasiswa yang hobinya bikin konten
dokumentasi kegiatan buat .
·
Saya sendiri, yang awalnya cuma bisa nyapu,
sekarang belajar bikin kompos
Kita nggak harus jadi
superhero. Cukup jadi diri sendiri, dengan kemampuan yang ada.
Manfaat Volunteering yang
Nggak Terduga
Kalau dipikir-pikir,
saya dapat banyak banget dari kegiatan yang awalnya cuma “bantu-bersih-bersih”
ini:
1.
Kedekatan dengan Tetangga Jadi Nyata
Zaman sekarang, kenal
tetangga cuma lebaran atau saat ada masalah. Tapi dengan volunteering, saya
jadi kenal Bu RT yang jago merajut, Mas Heru yang ternyata ahli bangunan,
bahkan anak-anak muda yang biasanya cuma lewat dengan earphone. Komunikasi jadi
cair, dan rasa “kebersamaan” itu bukan lagi jargon.
2.
Belajar Skill Baru yang Nggak diajarin di Mana-mana
Siapa sangka, dari
kegiatan bersih-bersih, saya belajar:
·
Cara bikin kompos dari sampah organik
·
Teknik biopori untuk resapan air
·
Negosiasi dengan tukang sampah untuk pemilahan
·
Even organizing sederhana untuk acara lingkungan
Ini ilmu praktis yang langsung aplikatif dan bikin hidup saya lebih “melek”
lingkungan.
3.
Kesehatan Mental Boost!
Ada kepuasan batin
yang sulit dijelaskan ketika lihat selokan yang tadinya mampet jadi lancar,
atau taman kecil yang tadinya kumuh jadi hijau. Itu seperti “therapy gratis”. Plus,
aktivitas fisik di luar ruangan, ketawa bareng, dan rasa punya tujuan bersama —
resep ampuh untuk usir stres.
4.
Perspective Baru tentang Lingkungan Sendiri
Kita sering mengeluh
tentang keadaan sekitar, tapi volunteering bikin saya sadar: perubahan itu bisa
dimulai dari hal kecil, dan kita bisa jadi bagian dari solusi. Nggak perlu
nunggu pemerintah atau orang lain.
5.
Jaringan Sosial yang Organik dan Tulus
Ini nggak disengaja.
Karena sering ketemu, jadi tahu siapa yang bisa diajak kolaborasi. Misalnya,
ternyata ada anggota yang punya usaha katering, jadi pas ada acara komunitas,
bisa kerjasama. Atau ada yang punya akses ke bibit tanaman gratis. Semua
terjadi alami, tanpa agenda tersembunyi.
Gimana Cara Mulai
Volunteering buat Pemula?
Bingung mau mulai dari
mana? Ini tips berdasarkan pengalaman saya yang awalnya super-pemalu:
1. Cari
yang Sesuai Passion dan Kapasitas
Volunteering nggak
cuma bersih-bersih lingkungan. Banyak pilihan:
·
Bantu mengajar anak-anak di taman baca
·
Jadi relawan di posyandu atau kegiatan kesehatan
·
Ikut kelompok seni atau budaya lokal
·
Bantu kegiatan di panti atau lembaga sosial
terdekat
Pilih yang sesuai dengan minat, biar nggak cepat burnout.
2.
Datang dan Tawarkan Diri
Kebanyakan komunitas
volunteering informal itu welcome banget sama pendatang baru. Datang aja ke
kegiatannya, perkenalkan diri, dan tawarkan bantuan sesuai kemampuan. Saya dulu
cuma bilang, “Saya bisa bawa kamera buat dokumentasi, atau bantu
angkat-angkat.”
3.
Nggak Perlu Perfect, yang Penting Konsisten
Lebih baik bantu
sedikit tapi rutin, daripada sekali datang bak superhero terus hilang.
Konsistensi itu yang bikin kita dianggap bagian dari komunitas.
4.
Jangan Malu dengan Keterbatasan
Waktu terbatas? Cukup
2 jam sebulan pun berarti. Skill terbatas? Banyak tugas sederhana yang butuh
tangan. Saya awal-awal cuma bantu bawa air minum atau bersihkan peralatan. Tapi
kontribusi kecil itu dihargai.
5. Bawa
Teman atau Keluarga
Volunteering bisa
jadi kegiatan bonding yang asyik. Saya pernah ajak keponakan ikut tanam pohon, dan
dia excited banget. Atau ajak teman kantor buat ikut kegiatan weekend. Seru!
Cerita-cerita Kecil yang
Bikin Semangat
Beberapa momen yang
bikin saya terus semangat volunteering:
·
Ketika anak-anak ikut: Ada hari
dimana anak-anak kompleks diajak ikut bersih-bersih. Mereka justru paling
antusias, dan jadi edukasi dini tentang kebersihan.
·
Hasil yang terlihat: Taman
kecil yang kita rawat bersama sekarang jadi tempat favorit warga buat santai
sore. Itu kebanggaan bersama.
·
Ucapan terima kasih sederhana:
Dari nenek-nenek yang senang jalan depan rumahnya bersih, sampai ibu-ibu yang
bisa dapat kompos gratis untuk tanamannya.
·
When things go wrong tapi tetap seru:
Pernah sekali acara tanam pohon hujan deras. Alih-alih bubar, kita malah
ngumpul di pos ronda, minum teh hangat, dan rencana ulang. Jadi cerita lucu
yang diingat terus.
Tantangan Volunteering dan
Cara Menyiasatinya
Jangan dikira selalu
mulus. Beberapa tantangan yang mungkin kalian hadapi:
1. “Saya
sibuk banget!”
Solusi: Komitmen kecil. Coba ikut kegiatan bulanan dulu, atau volunteer untuk
tugas spesifik yang nggak makan waktu lama. Even 2 jam sebulan itu lebih baik
daripada nol.
2. “Saya
malu, belum kenal siapa-siapa”
Solusi: Banyak yang merasa begitu! Saya dulu juga. Tapi kebanyakan relawan itu
orang-orang terbuka. Coba datang ke acara sosial sebelum ikut kerja bakti, biar
kenalan dulu.
3. “Apa saya
bisa berkontribusi? Saya nggak punya keahlian khusus”
Solusi: Percaya deh, selalu ada yang bisa dilakukan. Bawa kudapan, bantu
dokumentasi pakai HP, atau sekadar menyemangati — itu kontribusi berharga.
4.
“Komunitasnya klik-ish atau eksklusif”
Solusi: Coba cari kelompok lain. Tidak semua komunitas sama. Cari yang sesuai
dengan vibe kalian.
Volunteering di Era Modern
Sekarang volunteering
juga bisa fleksibel:
·
Micro-volunteering: Tugas kecil
yang bisa dilakukan online atau dalam waktu singkat
·
Skill-based volunteering:
Menawarkan keahlian spesifik (desain, akuntansi, menulis) untuk organisasi
sosial
·
Virtual volunteering: Bantu
manage media sosial, terjemahan, atau riset dari rumah
·
Event-based volunteering: Ikut
acara tertentu seperti festival budaya, bazaar, atau kampanye kesehatan
Penutup: Sebuah Undangan
untuk Merasakan Sendiri
Teman-teman Pahupahu,
kalau ada satu hal yang saya pelajari dari volunteering ini: kita
mendapat lebih banyak daripada yang kita beri.
Yang kita beri
mungkin waktu, tenaga, atau ide. Yang kita dapat? Rasa memiliki, kebanggaan,
keterampilan baru, teman baru, dan kepuasan batin yang nggak bisa dibeli.
Volunteering itu
seperti menanam pohon. Awalnya kecil, butuh kesabaran, dan kadang kita nggak
lihat hasilnya langsung. Tapi lama-lama, akarnya kuat, daunnya rindang, dan
banyak yang merasakan manfaatnya — termasuk diri kita sendiri.
Jadi, apakah kalian
pernah kepikiran untuk volunteering? Atau mungkin sudah punya pengalaman? Yuk,
cerita di komentar!
Siapa tahu, di luar
sana ada komunitas sekitar yang sedang menunggu kehadiran dan kontribusi unik
kalian. Nggak perlu nunggu jadi kaya raya atau punya waktu luang melimpah.
Cukup dengan niat dan langkah pertama — seperti saya yang dulu turun dengan
sapu di tangan, dan pulang dengan senyum lebar.
Sampai jumpa di
tulisan berikutnya. Dan siapa tahu, kita bisa ketemu di kegiatan volunteering
yang sama suatu hari nanti!
Penulis adalah
anggota biasa Sekar Wangi yang masih belajar bikin kompos tanpa bau, dan
percaya bahwa perubahan besar dimulai dari aksi kecil yang konsisten. Follow .
@catatanpahupahu untuk cerita-cerita lokal lainnya yang hangat dan relatable.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar