Ikut Kelas Online Gratis dari Universitas Dunia: Kuliah
Jauh Tanpa Tiket Pesawat
| Ikut Kelas Online Gratis dari Universitas Dunia |
Dulu saya pernah punya mimpi yang terdengar mahal.
Pengen kuliah di luar negeri.
Bukan karena gengsi. Cuma penasaran aja: gimana
rasanya duduk di kelas kampus terkenal dunia? Dengerin profesor yang bukunya
ada di mana-mana? Belajar bareng orang dari berbagai negara?
Tapi ya… realita cepat menepuk bahu.
Biaya kuliah? Mahal.
Tiket pesawat? Mahal.
Biaya hidup? Lebih mahal lagi.
Akhirnya mimpi itu saya simpan rapi di laci
“nanti saja kalau kaya”.
Sampai suatu malam, waktu lagi iseng scroll
internet, saya nemu sesuatu yang bikin saya bengong:
kelas online gratis dari universitas luar negeri.
Gratis.
Legal.
Dan bisa diakses siapa saja.
Reaksi pertama saya cuma:
“Serius nih? Nggak tipu-tipu, kan?”
Ternyata beneran ada.
Dan sejak itu, saya sadar: kadang dunia ini lebih
ramah dari yang kita kira.
Kampus Dunia, Layar Laptop
Sekarang bayangannya lucu.
Saya duduk di kamar, pakai kaos rumahan, sambil
minum kopi sachet.
Tapi di layar laptop, dosennya dari universitas
top dunia. Materinya kelas internasional. Pesertanya dari mana-mana.
Secara teknis… saya lagi “kuliah luar negeri”.
Tanpa paspor. Tanpa jet lag. Tanpa biaya kos.
Cuma modal WiFi.
Teknologi memang gila sih.
Dulu hal kayak gini cuma mimpi. Sekarang tinggal
klik.
Awalnya Iseng, Lama-Lama Keterusan
Saya daftar kelas pertama bukan karena niat
serius.
Cuma penasaran.
Topiknya simpel: pengantar psikologi.
“Ya udah deh, coba-coba.”
Niat awal: nonton satu video.
Eh, kok seru.
Videonya pendek-pendek. Penjelasannya enak. Nggak
kayak kuliah formal yang kaku.
Tahu-tahu sudah nonton tiga.
Besoknya lanjut lagi.
Tanpa sadar, saya ngerjain kuis. Ikut forum
diskusi. Baca materi tambahan.
Lah, kok jadi rajin?
Padahal ini gratis. Nggak ada yang maksa.
Ternyata kalau belajarnya karena mau, bukan
karena disuruh, rasanya beda banget.
Belajar Tanpa Tekanan Nilai
Yang paling saya suka dari kelas online gratis
itu: nggak ada tekanan.
Nggak ada dosen galak.
Nggak ada absen.
Nggak ada takut remedial.
Kalau capek? Pause.
Kalau ngantuk? Lanjut besok.
Kalau nggak paham? Ulang videonya.
Fleksibel banget.
Belajar jadi terasa… manusiawi.
Nggak harus sempurna.
Saya jadi sadar, mungkin selama ini kita capek
bukan karena belajarnya, tapi karena tekanannya.
Begitu tekanannya hilang, belajar malah
menyenangkan.
Topiknya Gila Banyak
Yang bikin kalap: pilihannya banyak banget.
Serius.
Mau belajar apa saja ada:
·
psikologi
·
filsafat
·
sejarah
·
bisnis
·
teknologi
·
desain
·
menulis
·
sains
·
kesehatan
·
bahkan astronomi dan dinosaurus pun ada
Rasanya seperti masuk perpustakaan raksasa.
Tinggal pilih sesuai mood.
Lagi pengen mikir berat? Ambil filsafat.
Lagi santai? Ambil kelas kreativitas.
Lagi penasaran dunia kerja? Ambil bisnis.
Belajar jadi kayak Netflix.
“Eh, hari ini nonton… eh maksudnya belajar apa,
ya?”
Rasanya Kayak Buka Jendela Dunia
Yang paling berkesan bukan cuma ilmunya.
Tapi perspektifnya.
Dosen-dosen itu sering kasih contoh dari budaya
dan konteks berbeda.
Kadang saya mikir,
“Oh, cara mereka lihat masalah beda juga ya.”
Atau baca komentar peserta dari negara lain:
“Aku dari Brazil…”
“Aku dari Turki…”
“Aku dari India…”
Tiba-tiba sadar: dunia ini luas banget.
Saya cuma satu titik kecil.
Dan anehnya, itu menyenangkan.
Karena rasanya seperti terhubung.
Belajar bareng orang-orang yang bahkan nggak
pernah kita temui.
Belajar Jadi Nggak Terasa “Berat”
Format kelas online sekarang enak banget.
Bukan kuliah 2 jam nonstop.
Biasanya:
·
video 5–10 menit
·
kuis kecil
·
bacaan ringan
·
diskusi santai
Potongan kecil.
Cocok buat yang rentang fokusnya pendek (termasuk
saya 😄).
Jadi bisa belajar di sela-sela:
nunggu makan, sebelum tidur, atau pas sore
santai.
Nggak perlu duduk lama.
Sedikit-sedikit tapi rutin.
Dan anehnya, lebih nempel.
Ada Rasa Bangga Kecil
Walaupun cuma kelas gratis, tetap ada rasa puas.
Apalagi kalau selesai satu kursus.
Dapat sertifikat digital.
Nama kita terpampang.
Padahal ya… cuma file PDF.
Tapi tetap aja rasanya:
“Lumayan juga, ya gue.”
Bukan buat pamer.
Lebih ke perasaan: saya nggak berhenti belajar.
Di usia berapa pun, kita masih bisa nambah ilmu.
Dan itu bikin percaya diri.
Belajar Tanpa Umur
Dulu saya sempat mikir, belajar serius itu cuma
pas sekolah atau kuliah.
Setelah kerja, ya sudah. Hidup saja.
Ternyata salah.
Belajar itu nggak ada batas umurnya.
Justru makin dewasa, kita makin tahu mau belajar
apa.
Nggak lagi dipaksa kurikulum.
Bisa pilih sendiri.
Dan itu jauh lebih menyenangkan.
Belajar jadi terasa seperti hobi, bukan
kewajiban.
Nggak Harus Ambisius
Penting juga: jangan terlalu ambisius.
Saya pernah daftar 5 kelas sekaligus.
Hasilnya?
Semua mangkrak.
Terlalu semangat di awal, lalu burnout.
Sekarang saya santai saja.
Satu kelas dulu. Selesai. Baru lanjut.
Pelan-pelan.
Belajar itu maraton, bukan sprint.
Kalau capek, ya istirahat.
Nggak ada yang marah, kok.
Ritual Kecil yang Menyenangkan
Sekarang kadang saya punya ritual kecil.
Sore hari atau malam, buka laptop, pakai
earphone, lanjut satu-dua video pelajaran.
Suasananya tenang.
Nggak ada tekanan.
Cuma saya dan rasa penasaran.
Aneh ya, dulu belajar identik sama stres.
Sekarang malah jadi cara santai.
Seperti ngopi, tapi buat otak.
Siapa Saja Bisa Mulai
Kalau kamu mikir:
“Ah, saya bukan orang akademis…”
“Udah lama nggak belajar…”
“Takut nggak ngerti…”
Santai saja.
Banyak kelas yang bahasanya ringan banget.
Mulai dari level dasar.
Anggap saja eksplorasi.
Nggak harus langsung pintar.
Yang penting mulai dulu.
Karena kadang yang kita butuhkan cuma satu klik
kecil buat membuka dunia baru.
Dunia Itu Ternyata Dekat
Kadang saya masih suka senyum sendiri.
Duduk di kamar kecil, tapi belajar dari profesor
luar negeri.
Dunia yang dulu terasa jauh, sekarang tinggal
sejauh layar.
Dan saya bersyukur hidup di zaman ini.
Zaman di mana ilmu nggak lagi eksklusif.
Siapa saja bisa akses.
Asal mau.
Jadi kalau suatu hari kamu lagi bosan, lagi
pengen nambah wawasan, atau cuma pengen merasa produktif dikit…
coba deh ikut satu kelas online gratis.
Nggak ada ruginya.
Paling cuma kehilangan waktu sejam.
Tapi siapa tahu dapat ide baru. Perspektif baru.
Atau bahkan hobi baru.
Karena belajar itu ternyata nggak harus di gedung
kampus megah.
Kadang cukup di kamar sendiri.
Dengan WiFi seadanya.
Dan rasa penasaran yang sederhana.
Salam santai dan tetap haus belajar dari
Catatan PAHUPAHU
🎓