Senin, 31 Agustus 2026

Cara Menghitung Laba Usaha dengan Benar: Panduan Praktis untuk Pelaku UMKM dan Wirausaha

 

Cara Menghitung Laba Usaha dengan Benar: Panduan Praktis untuk Pelaku UMKM dan Wirausaha

Ketika ditanya, “Apakah usaha Anda untung?”, banyak pelaku UMKM menjawab dengan cepat, “Alhamdulillah, setiap hari ada uang masuk.” Namun, apakah banyaknya uang yang masuk berarti usaha benar-benar menghasilkan laba?

Belum tentu.

Inilah kesalahan yang paling sering terjadi dalam dunia usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Banyak pelaku usaha menganggap seluruh uang hasil penjualan sebagai keuntungan. Padahal, sebagian besar uang tersebut harus digunakan untuk membeli bahan baku, membayar listrik, transportasi, sewa tempat, gaji karyawan, dan berbagai biaya operasional lainnya.

Akibatnya, tidak sedikit usaha yang terlihat ramai dan laris, tetapi sebenarnya memiliki laba yang sangat kecil, bahkan merugi. Penelitian tentang praktik keuangan UMKM di Indonesia menunjukkan bahwa banyak pelaku usaha belum melakukan pencatatan keuangan secara memadai sehingga sulit mengetahui kondisi laba-rugi usaha secara akurat.

Karena itu, memahami cara menghitung laba usaha dengan benar merupakan keterampilan dasar yang wajib dimiliki setiap wirausahawan.

Apa Itu Laba Usaha?

Secara sederhana, laba usaha adalah selisih antara seluruh pendapatan yang diperoleh dengan seluruh biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan usaha.

Rumus dasarnya:

Laba = Pendapatan – Total Biaya

Jika hasilnya positif, usaha memperoleh laba atau keuntungan.

Jika hasilnya negatif, usaha mengalami kerugian.

Meskipun terlihat sederhana, banyak pelaku UMKM yang lupa memasukkan seluruh biaya sehingga laba yang dihitung menjadi tidak akurat.

Mengapa Menghitung Laba Itu Penting?

Menghitung laba bukan hanya untuk mengetahui untung atau rugi. Ada beberapa manfaat penting lainnya:

1. Mengetahui Kesehatan Usaha

Laba menunjukkan apakah usaha berkembang atau justru mengalami penurunan.

2. Dasar Pengambilan Keputusan

Data laba membantu pemilik usaha menentukan harga jual, menambah produk, membuka cabang, atau mengurangi biaya yang tidak perlu.

3. Memudahkan Mendapatkan Modal

Bank dan lembaga pembiayaan biasanya meminta laporan keuangan untuk menilai kelayakan usaha.

4. Menghindari Kesalahan Persepsi

Banyak usaha terlihat ramai pembeli, tetapi sebenarnya margin keuntungannya sangat kecil.

Penelitian tentang laporan laba rugi UMKM menunjukkan bahwa laporan laba rugi dapat menjadi alat evaluasi penting untuk menilai efisiensi operasional dan kinerja keuangan usaha.

Memahami Jenis-Jenis Laba

Sebelum menghitung laba, kita perlu memahami bahwa laba terdiri atas beberapa tingkatan.

1. Laba Kotor (Gross Profit)

Laba kotor diperoleh dari:

Penjualan – Harga Pokok Penjualan (HPP)

HPP mencakup biaya langsung yang digunakan untuk menghasilkan produk.

Contoh:

Penjualan bulan Januari = Rp10.000.000

Biaya bahan baku = Rp4.000.000

Maka:

Laba Kotor = Rp10.000.000 – Rp4.000.000

= Rp6.000.000

2. Laba Operasional

Laba operasional diperoleh setelah mengurangi biaya operasional.

Rumus:

Laba Operasional = Laba Kotor – Biaya Operasional

Biaya operasional meliputi:

  • Listrik
  • Air
  • Internet
  • Transportasi
  • Gaji karyawan
  • Biaya pemasaran

3. Laba Bersih

Laba bersih adalah keuntungan akhir yang benar-benar menjadi hak pemilik usaha.

Rumus:

Laba Bersih = Pendapatan – Semua Biaya

Biaya tersebut mencakup:

  • HPP
  • Biaya operasional
  • Pajak
  • Biaya administrasi
  • Bunga pinjaman

Laba bersih merupakan indikator yang paling sering digunakan untuk menilai profitabilitas usaha.

Langkah-Langkah Menghitung Laba Usaha dengan Benar

Langkah 1: Catat Seluruh Pendapatan

Tuliskan seluruh pemasukan usaha selama periode tertentu.

Misalnya dalam satu bulan:

Sumber Pendapatan

Nilai

Penjualan Produk A

Rp8.000.000

Penjualan Produk B

Rp4.000.000

Penjualan Produk C

Rp3.000.000

Total Pendapatan:

Rp15.000.000

Langkah 2: Hitung Harga Pokok Penjualan (HPP)

HPP mencakup biaya yang langsung berkaitan dengan produksi.

Misalnya:

Komponen

Nilai

Bahan baku

Rp5.000.000

Kemasan

Rp500.000

Ongkos produksi

Rp1.000.000

Total HPP:

Rp6.500.000

Langkah 3: Hitung Laba Kotor

Laba Kotor = Pendapatan – HPP

= Rp15.000.000 – Rp6.500.000

= Rp8.500.000

Langkah 4: Hitung Biaya Operasional

Misalnya:

Biaya Operasional

Nilai

Listrik

Rp300.000

Internet

Rp200.000

Transportasi

Rp500.000

Gaji Karyawan

Rp2.000.000

Total:

Rp3.000.000

Langkah 5: Hitung Laba Bersih

Laba Bersih = Laba Kotor – Biaya Operasional

= Rp8.500.000 – Rp3.000.000

= Rp5.500.000

Artinya usaha menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp5.500.000 dalam satu bulan.

Ilustrasi Sederhana: Warung Kopi Pak Ahmad

Agar lebih mudah dipahami, mari melihat contoh nyata.

Pak Ahmad memiliki warung kopi kecil.

Dalam satu bulan:

Pendapatan penjualan:

Rp20.000.000

Biaya:

  • Kopi dan bahan baku: Rp6.000.000
  • Susu dan gula: Rp2.000.000
  • Gas dan listrik: Rp500.000
  • Gaji pegawai: Rp3.000.000
  • Internet: Rp200.000
  • Transportasi: Rp300.000

Total biaya:

Rp12.000.000

Laba:

Rp20.000.000 – Rp12.000.000

= Rp8.000.000

Jika Pak Ahmad hanya melihat uang masuk Rp20 juta tanpa menghitung biaya, ia mungkin mengira seluruhnya adalah keuntungan. Padahal laba sebenarnya hanya Rp8 juta.

Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menghitung Laba

1. Mencampur Uang Pribadi dan Uang Usaha

Ini merupakan kesalahan klasik UMKM.

Contoh:

Pemilik usaha mengambil uang usaha untuk:

  • Belanja keluarga
  • Membayar sekolah anak
  • Membeli kebutuhan rumah tangga

Tanpa pencatatan yang jelas, laba usaha menjadi sulit diketahui.

2. Tidak Menghitung Penyusutan Aset

Misalnya:

  • Mesin produksi
  • Komputer
  • Kendaraan usaha

Aset tersebut mengalami penurunan nilai setiap tahun.

Jika penyusutan tidak dihitung, laba yang terlihat akan lebih besar dari kondisi sebenarnya.

3. Mengabaikan Biaya Kecil

Banyak pelaku usaha menganggap biaya kecil tidak penting.

Padahal:

  • Parkir
  • Ongkir
  • Pulsa
  • Air minum karyawan

Jika diakumulasi selama satu bulan bisa menjadi jumlah yang cukup besar.

4. Menganggap Omzet Sebagai Laba

Ini adalah kesalahan paling umum.

Omzet ≠ Laba

Omzet adalah total penjualan.

Laba adalah sisa uang setelah seluruh biaya dikurangi.

Cara Mengetahui Apakah Laba Sudah Baik

Selain menghitung nominal laba, pelaku usaha juga perlu mengetahui persentase laba.

Rumus:

Margin Laba Bersih = (Laba Bersih ÷ Penjualan) × 100%

Contoh:

Laba Bersih = Rp5.500.000

Penjualan = Rp15.000.000

Margin Laba:

= (5.500.000 ÷ 15.000.000) × 100%

= 36,7%

Artinya dari setiap Rp100 penjualan, usaha memperoleh laba sekitar Rp36,70.

Semakin tinggi margin laba, semakin efisien usaha tersebut dalam mengelola biaya.

Gunakan Metode Sederhana untuk UMKM

Banyak pelaku UMKM merasa pencatatan keuangan terlalu rumit.

Padahal saat ini sudah tersedia berbagai metode sederhana yang memudahkan pelaku usaha menghitung laba secara praktis. Salah satu pendekatan yang banyak direkomendasikan adalah mencatat empat komponen utama:

1.     Pendapatan

2.     Biaya bahan baku

3.     Biaya lainnya

4.     Laba atau rugi

Model pencatatan sederhana seperti ini terbukti membantu pelaku UMKM memahami kondisi usaha tanpa harus menguasai akuntansi secara mendalam.

Laba Tinggi Belum Tentu Kas Banyak

Ada satu hal penting yang sering dilupakan.

Usaha bisa saja mencatat laba tinggi, tetapi tetap mengalami kesulitan uang tunai.

Mengapa?

Karena sebagian penjualan mungkin belum dibayar pelanggan dan masih berupa piutang.

Oleh sebab itu, selain menghitung laba, pelaku usaha juga harus memperhatikan arus kas (cash flow). Banyak praktisi keuangan menilai bahwa laba dan arus kas harus berjalan seimbang agar usaha tetap sehat.

Penutup

Menghitung laba usaha dengan benar bukan sekadar kegiatan administrasi, melainkan fondasi utama dalam menjalankan bisnis yang sehat. Banyak UMKM gagal berkembang bukan karena produknya buruk, tetapi karena pemilik usaha tidak mengetahui kondisi keuangan sebenarnya.

Ingatlah bahwa laba bukanlah seluruh uang yang masuk ke rekening atau laci kas. Laba adalah sisa pendapatan setelah seluruh biaya usaha diperhitungkan secara lengkap.

Mulailah dengan langkah sederhana:

  • Catat semua pemasukan.
  • Catat semua pengeluaran.
  • Pisahkan uang pribadi dan uang usaha.
  • Hitung laba setiap bulan.
  • Evaluasi biaya yang bisa ditekan.

Dengan kebiasaan tersebut, pelaku UMKM tidak hanya mengetahui apakah usahanya untung atau rugi, tetapi juga memiliki dasar yang kuat untuk mengambil keputusan bisnis yang lebih cerdas dan berkelanjutan.

Daftar Pustaka

Aryani, R. M. (2023). Implementasi pencatatan keuangan akuntansi pada usaha mikro kecil dan menengah (Studi kasus Bolu Kijing Bu Dahlia). ABDIMA Jurnal Pengabdian Mahasiswa, 2(1).

Fatimah, S., & Mulyandani, V. C. (2023). The penyusunan laporan keuangan berdasarkan standar akuntansi keuangan entitas mikro kecil dan menengah pada Berkah Store. Indonesian Accounting Research Journal, 3(3), 252–260.

Khusnaini. (2023). Penerapan aplikasi Buku Warung untuk pencatatan keuangan usaha UMKM Kedai Family. Co-Value Jurnal Ekonomi Koperasi dan Kewirausahaan, 14(6).

Sa’id, M., & Handayani, M. (2024). Analisis laporan laba rugi pada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM): Studi kasus Kost El Farras berdasarkan laporan pendapatan dan pengeluaran. Jurnal Bisnis dan Manajemen.

Setyaningsih, W., Rahayu, I. A., Yogi, & Tandiseru, R. A. N. (2025). Analisis laporan laba rugi sebagai alat evaluasi kinerja keuangan pada UMKM Jaya Pigura di Yogyakarta. Holistik Analisis Nexus, 2(6), 28–33.

Wiyatamandala, R. K. (2025). Teknik PBBL: Model penyederhanaan dalam penyusunan laporan laba rugi untuk UMKM. Journal of Business and Entrepreneurship, 13(2).

 

 

Minggu, 30 Agustus 2026

Kesalahan Keuangan yang Sering Dilakukan Pelaku UMKM

 

Kesalahan Keuangan yang Sering Dilakukan Pelaku UMKM

Pendahuluan

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan sektor yang memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia. Selain menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, UMKM juga menjadi sumber pendapatan bagi jutaan keluarga. Namun, di balik kontribusinya yang besar, banyak UMKM menghadapi tantangan serius dalam mempertahankan keberlangsungan usaha.

Menariknya, kegagalan UMKM tidak selalu disebabkan oleh kurangnya pelanggan, kualitas produk yang rendah, atau persaingan pasar yang ketat. Dalam banyak kasus, masalah utama justru berasal dari pengelolaan keuangan yang kurang baik. Banyak pelaku usaha yang memiliki produk unggulan dan omzet yang terus meningkat, tetapi tetap mengalami kesulitan keuangan, kekurangan modal kerja, bahkan terpaksa menutup usahanya.

Keuangan ibarat jantung dalam sebuah bisnis. Jika pengelolaannya tidak sehat, maka seluruh aktivitas usaha akan terganggu. Sayangnya, berbagai kesalahan keuangan sering dilakukan tanpa disadari oleh pelaku UMKM, terutama mereka yang baru memulai usaha atau belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang manajemen keuangan.

Artikel ini membahas berbagai kesalahan keuangan yang paling sering dilakukan pelaku UMKM, dampaknya terhadap bisnis, serta cara menghindarinya agar usaha dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Mengapa Pengelolaan Keuangan Sangat Penting?

Banyak orang beranggapan bahwa keberhasilan usaha hanya ditentukan oleh kemampuan menjual produk. Padahal, penjualan hanyalah salah satu bagian dari bisnis.

Usaha yang sehat membutuhkan kemampuan untuk:

  • Mengelola modal.
  • Mengontrol biaya.
  • Mengatur arus kas.
  • Menghitung keuntungan.
  • Merencanakan investasi.
  • Mengantisipasi risiko.

Tanpa pengelolaan keuangan yang baik, peningkatan penjualan justru dapat menciptakan masalah baru, seperti kekurangan modal kerja atau kesulitan memenuhi permintaan pasar.

Kesalahan 1: Mencampurkan Uang Pribadi dan Uang Usaha

Ini adalah kesalahan paling umum yang dilakukan oleh pelaku UMKM.

Banyak pemilik usaha menggunakan satu rekening yang sama untuk kebutuhan bisnis dan kebutuhan rumah tangga.

Ilustrasi

Pak Amir memiliki usaha warung makan. Setiap kali ada kebutuhan keluarga, ia langsung mengambil uang dari laci kas usaha.

Pada akhir bulan, ia kesulitan mengetahui apakah usahanya untung atau rugi karena tidak ada pemisahan yang jelas antara pengeluaran usaha dan pengeluaran pribadi.

Dampaknya

  • Sulit menghitung keuntungan.
  • Modal usaha berkurang tanpa disadari.
  • Arus kas menjadi tidak stabil.
  • Pembukuan menjadi tidak akurat.

Solusinya

  • Gunakan rekening terpisah.
  • Tetapkan gaji atau pengambilan pribadi secara teratur.
  • Catat setiap pengambilan dana pribadi.

Kesalahan 2: Tidak Membuat Pembukuan

Banyak pelaku UMKM masih mengandalkan ingatan dalam mengelola transaksi.

Mereka merasa usaha masih kecil sehingga pembukuan dianggap tidak penting.

Padahal, pembukuan merupakan alat utama untuk mengetahui kondisi keuangan usaha.

Dampaknya

  • Tidak mengetahui jumlah penjualan yang sebenarnya.
  • Sulit menghitung biaya operasional.
  • Tidak dapat mengukur keuntungan.
  • Sulit membuat perencanaan bisnis.

Solusinya

Mulailah dengan pembukuan sederhana yang mencatat:

  • Pemasukan.
  • Pengeluaran.
  • Utang.
  • Piutang.
  • Persediaan.

Kesalahan 3: Fokus pada Omzet, Bukan Keuntungan

Banyak pelaku usaha merasa bangga ketika omzet meningkat.

Namun omzet yang besar belum tentu menghasilkan keuntungan yang besar.

Contoh

Usaha A memiliki omzet Rp100 juta dengan laba Rp5 juta.

Usaha B memiliki omzet Rp50 juta dengan laba Rp15 juta.

Meskipun omzet Usaha A lebih besar, Usaha B sebenarnya lebih sehat karena menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi.

Dampaknya

  • Biaya operasional tidak terkendali.
  • Keuntungan menjadi sangat kecil.
  • Pemilik usaha salah menilai kinerja bisnis.

Solusinya

Selalu fokus pada laba bersih, bukan hanya angka penjualan.

Kesalahan 4: Tidak Mengontrol Arus Kas

Arus kas (cash flow) adalah aliran uang masuk dan keluar dari usaha.

Banyak UMKM mengalami kesulitan keuangan karena tidak memantau arus kas secara rutin.

Ilustrasi

Sebuah usaha menerima banyak pesanan secara kredit.

Secara teori usaha memperoleh keuntungan.

Namun pembayaran baru diterima dua bulan kemudian, sementara biaya operasional harus dibayar setiap minggu.

Akibatnya usaha mengalami kekurangan uang tunai.

Dampaknya

  • Kesulitan membeli bahan baku.
  • Keterlambatan pembayaran tagihan.
  • Gangguan operasional.

Solusinya

Buat laporan arus kas dan pantau secara berkala.

Kesalahan 5: Menggunakan Utang Secara Tidak Bijak

Utang dapat membantu pertumbuhan usaha jika digunakan secara produktif.

Namun banyak pelaku UMKM menggunakan pinjaman untuk:

  • Kebutuhan konsumtif.
  • Membeli barang yang tidak mendukung usaha.
  • Menutup utang sebelumnya.

Dampaknya

  • Beban cicilan meningkat.
  • Keuntungan berkurang.
  • Risiko gagal bayar semakin besar.

Solusinya

Pastikan pinjaman digunakan untuk aktivitas yang dapat meningkatkan pendapatan usaha.

Kesalahan 6: Tidak Memiliki Dana Darurat

Sebagian besar UMKM menghabiskan seluruh keuntungan untuk kebutuhan operasional atau konsumsi pribadi.

Mereka tidak menyiapkan dana cadangan.

Dampaknya

Ketika terjadi:

  • Penurunan penjualan.
  • Kerusakan alat produksi.
  • Kenaikan harga bahan baku.
  • Bencana atau krisis ekonomi.

Usaha menjadi sangat rentan.

Solusinya

Sisihkan sebagian keuntungan sebagai dana darurat usaha.

Kesalahan 7: Pengeluaran Operasional yang Tidak Terkendali

Pengeluaran kecil yang tidak diawasi dapat menjadi beban besar dalam jangka panjang.

Contoh

  • Pembelian perlengkapan yang tidak diperlukan.
  • Biaya transportasi berlebihan.
  • Promosi tanpa evaluasi.

Dampaknya

  • Keuntungan menurun.
  • Modal kerja berkurang.
  • Efisiensi usaha menurun.

Solusinya

Evaluasi seluruh pengeluaran secara berkala dan fokus pada biaya yang benar-benar memberikan nilai tambah.

Kesalahan 8: Tidak Menghitung Harga Pokok Produk dengan Benar

Sebagian pelaku usaha menentukan harga jual hanya berdasarkan perkiraan atau mengikuti harga pesaing.

Padahal harga jual harus mempertimbangkan seluruh biaya produksi.

Komponen Harga Pokok

  • Bahan baku.
  • Tenaga kerja.
  • Kemasan.
  • Transportasi.
  • Listrik.
  • Penyusutan peralatan.

Dampaknya

Produk terlihat laku, tetapi sebenarnya tidak menghasilkan keuntungan yang memadai.

Solusinya

Hitung seluruh biaya produksi secara rinci sebelum menentukan harga jual.

Kesalahan 9: Menumpuk Persediaan Berlebihan

Banyak UMKM membeli stok dalam jumlah besar karena menganggap harga lebih murah.

Namun persediaan yang terlalu banyak dapat menghambat perputaran modal.

Ilustrasi

Ibu Lina membeli stok makanan ringan untuk enam bulan sekaligus.

Ternyata sebagian produk mendekati masa kedaluwarsa sebelum terjual.

Akibatnya modal tertahan dan sebagian barang harus dibuang.

Dampaknya

  • Modal tidak produktif.
  • Risiko kerusakan barang meningkat.
  • Arus kas terganggu.

Solusinya

Kelola persediaan sesuai kebutuhan dan tingkat penjualan.

Kesalahan 10: Tidak Melakukan Evaluasi Keuangan

Sebagian pelaku usaha hanya mencatat transaksi tanpa pernah menganalisis hasilnya.

Padahal evaluasi sangat penting untuk mengetahui:

  • Produk paling menguntungkan.
  • Pengeluaran terbesar.
  • Peluang efisiensi.
  • Kondisi keuangan usaha.

Dampaknya

Masalah keuangan sering terlambat terdeteksi.

Solusinya

Lakukan evaluasi keuangan minimal satu kali setiap bulan.

Kesalahan 11: Mengabaikan Teknologi Keuangan

Di era digital, masih banyak UMKM yang enggan menggunakan aplikasi pencatatan keuangan.

Alasannya antara lain:

  • Takut rumit.
  • Tidak terbiasa menggunakan teknologi.
  • Menganggap pembukuan manual sudah cukup.

Dampaknya

  • Pencatatan lebih lambat.
  • Risiko kesalahan lebih tinggi.
  • Sulit membuat laporan keuangan.

Solusinya

Manfaatkan aplikasi keuangan sederhana yang sesuai dengan kebutuhan usaha.

Kesalahan 12: Terlalu Cepat Melakukan Ekspansi

Pertumbuhan usaha sering membuat pemilik bisnis tergoda membuka cabang baru atau membeli aset mahal.

Namun ekspansi tanpa perencanaan dapat menguras modal.

Dampaknya

  • Beban biaya meningkat.
  • Arus kas terganggu.
  • Risiko kerugian bertambah.

Solusinya

Pastikan usaha memiliki keuntungan dan arus kas yang stabil sebelum melakukan ekspansi.

Ilustrasi: Dua Pelaku UMKM

Pak Hendra

  • Tidak membuat pembukuan.
  • Menggunakan uang usaha untuk kebutuhan pribadi.
  • Tidak memiliki dana cadangan.
  • Sering membeli stok berlebihan.

Meskipun omzet cukup tinggi, usahanya sering mengalami kekurangan modal.

Ibu Rani

  • Memisahkan rekening pribadi dan usaha.
  • Membuat pembukuan harian.
  • Mengontrol arus kas.
  • Menyisihkan dana darurat.

Dalam beberapa tahun, usahanya berkembang dan mampu memperluas pasar.

Perbedaan keduanya terletak pada cara mengelola keuangan, bukan pada produk yang dijual.

Membangun Kebiasaan Keuangan yang Sehat

Menghindari kesalahan keuangan membutuhkan disiplin dan konsistensi.

Beberapa kebiasaan yang perlu dibangun antara lain:

  • Mencatat setiap transaksi.
  • Memisahkan uang pribadi dan usaha.
  • Menyusun anggaran.
  • Mengevaluasi laporan keuangan.
  • Mengendalikan pengeluaran.
  • Menyisihkan dana darurat.
  • Menggunakan teknologi pencatatan.

Kebiasaan sederhana ini dapat memberikan dampak besar terhadap keberlangsungan usaha.

Penutup

Banyak UMKM gagal bukan karena kekurangan pelanggan atau kualitas produk yang rendah, melainkan karena kesalahan dalam mengelola keuangan. Mencampurkan uang pribadi dan usaha, tidak membuat pembukuan, mengabaikan arus kas, menggunakan utang secara tidak tepat, serta tidak memiliki dana darurat merupakan beberapa kesalahan yang paling sering terjadi.

Kabar baiknya, sebagian besar kesalahan tersebut dapat dihindari melalui disiplin, pencatatan yang baik, dan peningkatan literasi keuangan. Dengan memahami serta menghindari kesalahan-kesalahan tersebut, pelaku UMKM dapat membangun usaha yang lebih sehat, lebih stabil, dan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan penjualan, tetapi juga oleh kemampuan mengelola setiap rupiah yang masuk dan keluar dari bisnis.

Referensi

Bruhn, M., & Love, I. (2021). Financial management and small business performance: Evidence from developing economies. World Bank Research Observer, 36(2), 195–220.

International Finance Corporation. (2023). Financial management toolkit for small and medium enterprises. Washington, DC: IFC.

Lusardi, A. (2019). Financial literacy and the need for financial education: Evidence and implications. Swiss Journal of Economics and Statistics, 155(1), 1–8. https://doi.org/10.1186/s41937-019-0027-5

OECD. (2023). Financing SMEs and entrepreneurs 2023: An OECD scoreboard. Paris: OECD Publishing.

OECD. (2023). OECD studies on SMEs and entrepreneurship 2023. Paris: OECD Publishing.

Storey, D. J., & Greene, F. J. (2019). Small business and entrepreneurship (2nd ed.). London: Pearson Education.

World Bank. (2022). Small and medium enterprises (SMEs) finance: Improving SMEs’ access to finance and finding innovative solutions. Washington, DC: World Bank.

Yoshino, N., & Taghizadeh-Hesary, F. (2018). The role of SMEs in Asia and their difficulties in accessing finance. Tokyo: Asian Development Bank Institute.

Zada, M., Yukun, C., Zada, S., & Ali, M. (2023). Financial literacy, financial management practices, and SME performance: Evidence from developing economies. Sustainability, 15(4), 1–18.