Gak Usah Sok Sempurna: 7 Kesalahan Fatal Investor Pemula (dan Cara
Menghindarinya)
Catatan Pahupahu – Bagian III: Investasi dan Pengelolaan Aset
Halo, Pemirsa. Balik
lagi sama saya, Pahupahu.
Sebelum kita mulai, saya
mau cerita sesuatu.
Jumat lalu, saya
ngopi-ngopi sama seorang teman lama. Sebut saja namanya Rudi. Dua tahun lalu,
Rudi adalah salah satu investor pemula paling bersemangat yang pernah saya
temui. Matanya berbinar setiap kali ngomongin saham. Dia baca berita ekonomi
tiap pagi. Dia ngikutin forum diskusi saham sampai larut malam.
"Om, saya udah siap
jadi investor kaya!" katanya waktu itu.
Hari ini? Rudi duduk di
depan saya dengan muka lesu.
"Om, saya kapok.
Saya udah rugi hampir 50% dari modal saya. Saya pikir saya pinter, ternyata
saya cuma beruntung dua kali terus jadi overconfident. Terus pas market merah,
saya panik jual semua. Terus pas mulai naik lagi, saya gak berani masuk. Saya
gak ngerti kenapa saya sebego itu."
Saya cuma diam.
Bukan karena saya gak
punya jawaban. Tapi karena saya tahu, apa yang dialami Rudi itu bukan
karena dia bodoh. Rudi cuma jatuh ke dalam jebakan yang sama yang sudah
puluhan juta investor alami sebelumnya—dan akan terus dialami oleh investor
baru berikutnya.
Namanya juga pemula.
Wajar kalau salah. Yang gak wajar itu kalau kita gak mau belajar dari
kesalahan.
Nah, di Catatan Pahupahu
edisi kali ini—tepatnya poin ke-49 dari Bagian III tentang Investasi dan
Pengelolaan Aset—kita akan bedah tuntas kesalahan umum investor pemula.
Saya akan kasih tahu bukan cuma apa kesalahannya, tapi kenapa kita
cenderung melakukannya (ini urusan psikologi, lho), dan gimana cara
menghindarinya.
Siap? Ambil minuman lo.
Kita mulai perjalanan introspeksi ini.
Ilustrasi Pahupahu: "Si Jaka yang Belajar dari Kesalahan"
Sebelum masuk ke daftar
kesalahan, saya mau kasih gambaran dulu tentang Jaka.
Jaka adalah karyawan
swasta umur 24 tahun. Gajinya Rp6 juta sebulan. Dia baru belajar investasi
tahun lalu. Dalam perjalanannya, Jaka melakukan setiap kesalahan
yang akan kita bahas hari ini. Dia FOMO, dia overtrading, dia gak
diversifikasi, dia panik, dia cut loss di titik terbawah, dan seterusnya.
Setahun kemudian,
portofolio Jaka minus 30%. Dia hampir menyerah.
Tapi Jaka memilih
untuk belajar. Dia baca. Dia bertanya. Dia evaluasi kesalahannya
satu per satu.
Hari ini, tahun kedua
investasinya, Jaka tidak menjadi kaya raya. Tapi dia sudah tidak rugi lagi.
Portofolionya mulai menghijau. Yang lebih penting: Jaka sekarang bisa tidur
nyenyak meskipun IHSG lagi merah.
Apa bedanya? Jaka
belajar mengelola dirinya sendiri—bukan cuma mengelola uangnya.
Nah, sekarang kita lihat
kesalahan apa saja yang dulu dilakukan Jaka, dan bagaimana lo bisa belajar dari
pengalamannya tanpa harus merugi dulu.
Kesalahan #1: Investasi Tanpa Tujuan Jelas (Cuma Ikut-ikutan)
Gejalanya:
Lo buka aplikasi
investasi karena lihat temen lo pamer cuan di Instagram. Lo transfer duit
karena ada promo "gratis saldo Rp50.000". Lo beli saham X karena
katanya "lagi viral". Tapi kalau lo ditanya: "Bu, tujuan lo
investasi buat apa?" lo jawab: "Ya buat kaya lah."
Kenapa Ini Berbahaya?
Investasi tanpa tujuan
itu kayak naik mobil tanpa GPS. Lo bisa muter-muter di jalan yang sama,
kehabisan bensin, dan gak pernah sampai tujuan.
Penelitian behavioral
finance yang terbit di Indonesian Interdisciplinary Journal of Sharia
Economics (2025) menegaskan bahwa investor pemula sering gagal
karena kurangnya perencanaan keuangan yang matang—mereka tidak
mendefinisikan tujuan investasi, horizon waktu, dan parameter risiko secara
jelas .
Tanpa tujuan, lo gak
punya patokan kapan harus berhenti, kapan harus ambil untung, dan seberapa
besar risiko yang bisa lo tanggung.
Solusinya:
Duduk tenang. Tulis
jawaban tiga pertanyaan ini di buku catatan lo:
1.
Untuk
apa? (Beli rumah? Biaya
nikah? Dana pensiun? Liburan ke Jepang?)
2.
Kapan
butuhnya? (1 tahun? 3 tahun?
10 tahun? 20 tahun?)
3.
Berapa
yang lo butuhin? (Estimasi kasar
nominalnya)
Dengan tiga jawaban ini,
lo akan tahu instrumen apa yang cocok. Tujuan jangka pendek (<3 tahun)
cocoknya reksa dana pasar uang atau deposito. Tujuan jangka panjang (>5
tahun) baru masuk ke saham atau reksa dana saham.
Kesalahan #2: FOMO (Fear Of Missing Out)
Gejalanya:
Lo lihat saham ASII lagi
naik 10% dalam seminggu. Semua grup Telegram bahas itu. "Ayo beli sebelum
terlambat!" Lo panik. Lo beli di harga tertinggi. Besoknya turun. Lo
stuck.
Atau lo lihat temen lo
cuan dari kripto. Lo ikut-ikutan beli koin aneh dengan nama kocak. Pekan depan,
koin itu anjiok 80%. Lo cuma bisa gigit jari.
Kenapa Ini Terjadi?
Ini namanya herding
behavior—kecenderungan manusia untuk mengikuti apa yang dilakukan orang
banyak, karena secara evolusi, "ikut kelompok" dulu adalah strategi
bertahan hidup .
Penelitian yang
dilakukan di Yogyakarta terhadap 10 investor ritel (Mei-Juli 2025) menemukan
bahwa 6 dari 10 informan mengaku mengambil keputusan investasi
berdasarkan tren (FOMO), bukan analisis fundamental. Akibatnya, mereka
sering cut loss dalam keputusan investasinya, dan bahkan 4
dari 6 orang tersebut mengaku "sidang keluarga" untuk
mempertanggungjawabkan kerugiannya .
Dr. Gde Agung Satria,
dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Satya Dharma, juga mengingatkan bahwa kesalahan
terbesar investor pemula adalah mengambil keputusan berdasarkan emosi—ketika
pasar sedang euphoria mereka ikut beli, ketika pasar turun mereka panik
jual .
Solusinya:
Buat aturan dingin. Sebelum beli instrumen apapun, lo wajib
kasih jeda 24 jam. Tulis di kertas: "Saya mau beli saham X karena..."
Kalau lo gak bisa nulis alasan yang masuk akal selain "katanya sih
bagus", jangan beli.
Juga, hindari grup
Telegram atau kanal YouTube yang bahas "saham hot minggu ini". Itu
adalah mesin FOMO.
Kesalahan #3: Overtrading dan "Time The Market"
Gejalanya:
Lo buka aplikasi
investasi lo setiap 30 menit. Lo beli-jual saham beberapa kali dalam seminggu.
Lo pikir dengan sering trading, lo bisa "memanfaatkan setiap pergerakan
harga".
Hasilnya? Fee transaksi
lo membengkak. Lo kelelahan secara mental. Dan studi membuktikan: investor
yang paling sering trading adalah investor yang paling rendah return-nya.
Kenapa Ini Berbahaya?
Ali Masarwah, analis
dana investasi dan Managing Director envestor.de, dalam artikelnya untuk Deutsche Börse
Group (2026) menjelaskan bahwa overaktivitas adalah salah satu
kesalahan investor klasik. Investor sering menganggap bahwa semakin aktif
mereka trading, semakin besar kontrol mereka—padahal data jelas menunjukkan
sebaliknya. Ini didorong oleh overconfidence bias dan illusion
of control .
Di balik ini, ada bias
psikologis yang disebut overconfidence—kecenderungan investor
pemula untuk melebih-lebihkan kemampuan mereka sendiri. Sebuah penelitian
akademik menjelaskan bahwa overconfident investors cenderung melebih-lebihkan
pengetahuan dan kemampuan prediksi mereka, yang berujung pada overtrading, underestimate
risiko, dan akhirnya performa yang lebih buruk dibanding investor yang lebih
pasif .
Peter Lynch, salah satu
investor legendaris, pernah berkata:
"Far more money has
been lost by investors preparing for corrections, or trying to anticipate corrections,
than has been lost in corrections themselves."
("Jauh lebih banyak uang yang hilang karena investor mencoba
mengantisipasi koreksi pasar, dibandingkan uang yang hilang dalam koreksi itu
sendiri.")
Data J.P. Morgan juga
menunjukkan: jika lo missed 10 hari terbaik dalam 20 tahun
investasi, return tahunan lo turun dari 7,47% menjadi hanya 3,35%. Ironisnya,
10 hari terbaik itu sering terjadi di tengah-tengah pasar paling
volatile dan penurunan terdalam .
Solusinya:
Adopsi strategi Dollar
Cost Averaging (DCA). Investasi rutin dengan nominal tetap setiap bulan,
tanpa peduli harga lagi tinggi atau rendah. Jual minimal setahun sekali, itupun
untuk rebalancing. Kecuali lo memang punya profesi sebagai trader (dan itu
full-time job), jangan coba-coba time the market.
Kesalahan #4: Gak Diversifikasi (Semua Telur Satu Keranjang)
Gejalanya:
Lo cuma punya satu
saham. Atau lo cuma punya saham dari satu sektor (misalnya semua bank). Atau
lebih parah lagi: lo all-in ke satu instrumen seperti kripto doang.
Kenapa Ini Berbahaya?
Ini namanya concentration
risk. Kalau satu saham itu jatuh—entah karena laporan keuangan buruk,
skandal manajemen, atau regulasi pemerintah—portofolio lo ikut jatuh semua.
Deutsche Börse Group
mengidentifikasi concentration risk dan home bias sebagai
salah satu kesalahan investor klasik. Investor cenderung memusatkan aset mereka
di sedikit sekuritas, sektor, atau pasar domestik, dan meremehkan risikonya. Di
balik ini ada familiarity bias ("Apa yang saya tahu itu
aman") dan endowment effect ("Saham saya
spesial") .
Investor pemula sering
berpikir: "Saya gak punya duit banyak, gak mungkin diversifikasi."
Padahal, dengan reksa dana, lo bisa diversifikasi hanya dengan modal Rp10.000.
Reksa dana mengumpulkan dana dari banyak investor sehingga bisa menyebar ke
berbagai instrumen—saham, obligasi, deposito—yang gak mungkin lo lakukan
sendiri dengan dana terbatas .
Solusinya:
Sebarkan duit lo.
Minimal ke 3 kelas aset berbeda. Contoh sederhana untuk pemula:
- 50% reksa dana saham (untuk pertumbuhan)
- 30% reksa dana pendapatan tetap (untuk stabilitas)
- 20% reksa dana pasar uang (untuk likuiditas)
Seiring waktu dan modal
bertambah, lo bisa tambah emas, properti, atau saham langsung.
Kesalahan #5: Panik Saat Market Merah
Gejalanya:
IHSG turun 3% dalam
sehari. Lo lihat portofolio lo merah semua. Lo panik. Lo jual semua saham lo
karena takut turun lebih dalam.
Dua minggu kemudian,
IHSG balik naik. Lo cuma bisa nyesel.
Kenapa Ini Terjadi?
Ini namanya loss
aversion bias—kecenderungan manusia merasakan sakitnya kerugian dua kali
lebih kuat dibandingkan senangnya keuntungan yang sama besar .
Penelitian tentang prospect
theory (teori yang memenangkan Nobel di bidang ekonomi) menunjukkan
bahwa manusia lebih termotivasi untuk menghindari kerugian daripada meraih
keuntungan. Akibatnya, saat pasar turun, investor cenderung panik dan menjual
di titik terendah—tepat saat seharusnya mereka justru membeli .
Dr. Gde Agung Satria
menekankan: "Investor pemula biasanya kelemahan utamanya ada pada
aspek emosional. Ketika terjadi gejolak ekonomi atau pasar sedang turun, mereka
sering panik dan mengambil keputusan yang tidak rasional" .
Solusinya:
Jangan lihat aplikasi
investasi lo setiap hari. Iya,
sesederhana itu. Pasang jadwal: cek portofolio maksimal sebulan sekali. Dan
ingat pepatah: It's not a loss until you sell. Selama lo belum
jual, kerugian lo hanya di atas kertas.
Kalau lo terlanjur panik
dan jual, lo mengkonversi "paper loss" menjadi "real loss".
Itulah yang dilakukan Rudi di awal cerita kita.
Kesalahan #6: Cut Loss di Titik Terendah
Gejalanya:
Saham lo sudah turun
20%. Lo stres. Lo akhirnya memutuskan jual, "daripada tambah parah".
Besoknya, saham itu naik 25%. Lo menyesal seumur hidup.
Kenapa Ini Terjadi?
Ini kombinasi dari loss
aversion (takut rugi lebih dalam) dan recency bias (terlalu
fokus pada kejadian baru-baru ini).
Recency bias adalah kecenderungan untuk mengingat dan
fokus pada informasi terbaru sambil meremehkan data masa lalu. Dalam konteks
investor pemula, ini bisa menyebabkan mereka bereaksi berlebihan terhadap tren
pasar terkini—terjebak euforia saat naik, panik saat turun .
Sementara itu, anchoring
bias membuat investor terpaku pada harga beli awal. Mereka menolak
menjual di bawah harga itu karena "sayang" atau "nanti balik
lagi". Akibatnya, mereka memegang saham jelek terlalu lama .
Yang lucu (atau tragis)
adalah: penelitian menunjukkan cut loss justru lebih sering dilakukan
oleh investor yang gak paham fundamental perusahaan. Mereka jual karena
takut, bukan karena analisis.
Solusinya:
Sebelum lo beli saham
apapun, tentukan dulu titik jual lo:
- Target profit: di
harga berapa lo akan ambil untung?
- Stop loss: di
harga berapa lo akan mengakui kesalahan dan keluar?
Dengan dua angka ini,
keputusan jual-beli lo jadi berbasis aturan, bukan emosi. Dan ingat: stop loss
jangan dipasang terlalu sempit (misal 3%), karena saham itu wajar naik-turun.
Untuk investor jangka panjang, stop loss 15-20% lebih realistis.
Kesalahan #7: Gak Punya Dana Darurat Sebelum Investasi
Gejalanya:
Lo dengar kabar
investasi itu penting. Lo langsung transfer semua tabungan lo ke reksa dana
atau saham. Tiba-tiba, ada kejadian darurat: motor lo mogok, orang tua lo
sakit, atau lo kena PHK.
Lo terpaksa jual
investasi lo pas lagi merah. Lo rugi. Lo stres dobel.
Kenapa Ini Berbahaya?
Ini adalah kesalahan paling
mendasar, tapi paling sering dilakukan.
Dr. Gde Agung Satria
mengingatkan: "Yang paling penting sebelum berinvestasi adalah
memastikan kebutuhan pokok dan dana darurat telah terpenuhi" .
Dana darurat
adalah jaring pengaman. Besarnya 3-6 kali pengeluaran bulanan lo.
Simpan di tempat yang aman dan mudah dicairkan—misalnya tabungan atau reksa
dana pasar uang .
Tanpa dana darurat, lo
akan terpaksa menjadi forced seller—menjual investasi di saat yang
tidak tepat karena kebutuhan mendesak. Dan forced selling adalah
musuh nomor satu investor jangka panjang.
Solusinya:
Urutannya jangan
dibalik:
1.
Bayar utang konsumtif
(kartu kredit, pinjol)
2.
Siapkan dana darurat
(3-6x pengeluaran bulanan)
3.
Baru investasi
Kalau lo belum punya
dana darurat, jangan paksakan investasi. Fokus dulu nabung. Karena investasi
tanpa dana darurat sama seperti main panjat tebing tanpa tali pengaman.
Tabel Ringkasan: 7 Kesalahan + Solusi Cepat
Biar lo gak bingung
mengingat, saya buatkan tabel praktis:
|
No |
Kesalahan |
Akar Masalah (Bias Psikologis) |
Solusi Cepat |
|
1 |
Investasi tanpa tujuan |
Planning deficit |
Tulis tujuan investasi di buku |
|
2 |
FOMO ikut-ikutan |
Herding bias |
Jeda 24 jam sebelum
beli |
|
3 |
Overtrading & timing market |
Overconfidence, illusion of control |
Pake strategi DCA, jangan intip tiap hari |
|
4 |
Gak diversifikasi |
Familiarity bias, home
bias |
Minimal 3 kelas aset
berbeda |
|
5 |
Panik saat market merah |
Loss aversion |
Cek portofolio max sebulan sekali |
|
6 |
Cut loss di titik
terendah |
Recency bias,
anchoring |
Tentukan stop loss
dari awal |
|
7 |
Gak punya dana darurat |
Present bias |
Siapkan dana darurat 3-6 bulan dulu |
Bonus: Kesalahan yang Gak Kalah Penting (Tapi Jarang Dibahas)
8. Gak Mau Belajar
(Terlalu Percaya Diri)
Ada investor pemula yang
setelah untung dua kali langsung merasa "jago". Mereka berhenti belajar.
Mereka pikir mereka sudah tahu segalanya.
Ini berbahaya. Pasar
berubah. Instrumen baru muncul. Regulasi berganti. Investor yang gak terus
belajar akan tertinggal.
9. Terlalu Banyak
Konsumsi Konten "Influencer Saham"
Lo ikutin 10 akun
YouTube yang kasih rekomendasi saham gratis. Masalahnya, rekomendasi mereka
seringkali conflict of interest (mereka sudah punya posisi
lebih dulu, lalu ngajak lo beli jadi harga naik, lalu mereka jual).
Hindari "sinyal
saham" dari sumber gak jelas. Belajar analisis fundamental sendiri, atau
pake reksa dana yang dikelola profesional.
10. Mengabaikan Biaya
dan Fee
Setiap kali lo
transaksi, ada fee. Beli kena, jual kena, reksa dana kena biaya kelola. Over
time, fee yang kecil bisa makan return lo secara signifikan.
Ali Masarwah menyebut
ini sebagai cost blindness—investor meremehkan atau mengabaikan
biaya berkelanjutan. Padahal, perbedaan kecil dalam biaya memiliki dampak besar
terhadap return bersih selama bertahun-tahun .
Pastikan lo paham
berapa expense ratio reksa dana lo, dan berapa fee broker lo.
Jangan sampai kerja keras investasi lo sia-sia karena fee yang membengkak.
Penutup: Kata Pahupahu
Investasi itu sederhana,
tapi gak mudah.
Sederhana karena
rumusnya cuma: beli aset bagus, tahan lama, diversifikasi, konsisten.
Gak mudah karena musuh
terbesar lo bukanlah pasar, bukan krisis, bukan kebijakan pemerintah. Musuh
terbesar lo adalah diri lo sendiri.
Ketakutan lo.
Keserakahan lo. Rasa percaya diri berlebihan lo. Kebiasaan ikut-ikutan lo. Dan
keengganan lo untuk belajar dari kesalahan.
Tapi kabar baiknya:
semua itu bisa dilatih. Rudi yang saya ceritakan di awal—dia sekarang sudah
mulai bangkit. Dia mengakui kesalahannya. Dia belajar dari setiap kerugian. Dia
sekarang punya rencana investasi tertulis, dana darurat, dan portofolio yang
terdiversifikasi. Dia masih belum kaya, tapi dia tidak akan pernah mengulang
kesalahan yang sama.
Lo juga bisa.
Mulai dari mengakui
bahwa lo mungkin melakukan salah satu dari 7 kesalahan di atas. Lalu pilih satu
untuk diperbaiki. Gak usah sekaligus. Sedikit demi sedikit.
Karena investasi itu
maraton, bukan sprint. Yang menang bukan yang paling cepat, tapi yang paling
konsisten dan paling sedikit melakukan kesalahan fatal.
Sampai jumpa di catatan
berikutnya!
Salam,
Pahupahu
Referensi
1.
Pham, U. (2025). Behavioral
Biases Affecting Beginner Investors During Stock Market Volatility [Bachelor's
Thesis]. Theseus.
2.
Satria, R., Nugraha,
Disman, & Purnamasari, I. (2025). Behavioral Finance Factors and Investment
Decisions in Retail: A Moderation Analysis Across Demographic Segments. Indonesian
Interdisciplinary Journal of Sharia Economics, 8(1), 2221-2241.
3.
Deutsche Börse Group.
(2026, April 6). Investor Mistakes Kill Returns – How They Can Do
Better. Deutsche Börse News. https://live.deutsche-boerse.com/news/investor-mistakes-kill-returns-how-they-can-do-better
4.
J.P. Morgan Asset
Management. (2020). Guide to Retirement. Dalam THOR Wealth Management
(2022), Common Investor Mistakes – Pt. 1: Emotional Trading.
5.
RRI Singaraja. (2026,
Juni 11). Investor Pemula Diminta Kendalikan Emosi saat Hadapi Gejolak
Rupiah. RRI.co.id. https://rri.co.id/singaraja/regional/2488454/investor-pemula-diminta-kendalikan-emosi-saat-hadapi-gejolak-rupiah
6.
Finansialku.
(2025). Panduan Berinvestasi Reksa Dana [E-book].
7.
Universitas Airlangga.
(2025). Reksa Dana sebagai Alternatif Investasi [Bahan
Bacaan]. MOOC Universitas Airlangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar