Hobi Menulis Jurnal Harian:
Ngobrol Pelan dengan Diri Sendiri
| Hobi Menulis Jurnal Harian |
Ada satu kebiasaan kecil yang kelihatannya sepele, tapi diam-diam menyelamatkan banyak hal dalam hidup saya.
Bukan olahraga.
Bukan meditasi.
Bukan juga bangun pagi jam lima (yang niatnya sering gagal itu).
Cuma… nulis.
Iya, nulis jurnal harian.
Kedengarannya jadul ya. Kayak buku diary anak SMP
dengan gembok kecil warna pink.
Dulu saya juga mikir begitu. Nulis jurnal itu lebay.
Terlalu dramatis. Kayak kerjaannya orang galau.
Tapi entah sejak kapan, saya mulai iseng nyatet
sedikit-sedikit. Dan ternyata rasanya… enak.
Bukan enak karena tulisannya bagus. Justru sering
berantakan. Typo di mana-mana. Kalimat loncat-loncat.
Tapi enak karena rasanya seperti ngobrol sama diri
sendiri.
Pelan. Jujur. Tanpa sensor.
Awalnya Cuma Iseng
Saya mulai nulis jurnal bukan karena niat “mau jadi
produktif” atau “mau self-improvement”.
Nggak seambisius itu.
Awalnya cuma karena kepala terasa penuh.
Pernah nggak sih, rasanya pikiran ribut banget?
Kerjaan kepikiran.
Tagihan kepikiran.
Omongan orang kepikiran.
Hal kecil pun jadi bahan overthinking.
Seperti ada 20 tab kebuka di otak, semuanya muter
lagu masing-masing.
Capek.
Waktu itu saya cuma ambil buku kosong, lalu nulis:
“Hari ini rasanya mumet banget.”
Satu kalimat.
Terus nambah lagi. Terus nambah lagi.
Tahu-tahu satu halaman penuh.
Dan anehnya… setelah selesai, rasanya lebih ringan.
Masalahnya belum hilang, tapi kepala terasa lega.
Seperti habis curhat.
Padahal cuma ke kertas.
Jurnal Itu Bukan Harus
Puitis
Banyak orang takut mulai nulis jurnal karena merasa
harus pinter nulis dulu.
Harus puitis. Harus rapi. Harus dalam.
Padahal… nggak.
Jurnal itu bukan lomba sastra.
Isinya boleh:
“Hari ini capek banget.”
“Males kerja.”
“Kangen masa kecil.”
“Pengin makan bakso.”
Sesederhana itu.
Nggak ada yang nilai. Nggak ada yang baca (kecuali
kamu sendiri).
Justru karena bebas itulah dia terasa nyaman.
Nggak perlu jaim. Nggak perlu terlihat bijak.
Boleh jelek. Boleh ngawur. Boleh curhat receh.
Ini ruang aman.
Tempat Sampah Pikiran
Saya sering menganggap jurnal sebagai “tempat sampah
pikiran”.
Dalam arti positif ya.
Semua hal yang muter-muter di kepala, dibuang ke
situ.
Keluhan.
Kekesalan.
Ketakutan.
Ide random jam dua pagi.
Daripada disimpan di otak sampai bikin stres,
mending dikeluarin.
Dan setelah ditulis, biasanya masalah terasa lebih
kecil.
Karena begitu dituangkan, kita bisa lihat dengan
lebih jelas.
Ternyata nggak sebesar yang dibayangkan.
Kadang cuma drama di kepala saja.
Seru Baca Ulang Tulisan Lama
Salah satu hal paling menyenangkan dari jurnal
harian adalah baca ulang tulisan lama.
Serius, ini kayak buka kapsul waktu.
Saya pernah baca jurnal dua tahun lalu. Isinya
keluhan:
“Duh, kerjaan ribet banget. Nggak kuat.”
Sekarang pas baca lagi malah ketawa.
“Lah, itu doang ternyata masalahnya.”
Atau kadang nemu kalimat polos:
“Hari ini hujan deras. Enak banget ngopi sore.”
Sederhana, tapi hangat.
Kita jadi sadar: hidup itu kumpulan momen kecil.
Dan jurnal menyimpannya.
Kalau nggak ditulis, mungkin semua sudah lupa.
Lebih Kenal Diri Sendiri
Efek samping yang nggak saya duga: jadi lebih kenal
diri sendiri.
Karena kalau rutin nulis, pola-pola mulai kelihatan.
Misalnya:
·
tiap Senin selalu bad mood
·
tiap kurang tidur jadi sensitif
·
kalau jalan pagi mood lebih baik
·
kalau kebanyakan medsos malah overthinking
Dari tulisan sendiri, kita bisa baca kebiasaan kita.
Seperti ngaca, tapi versi pikiran.
Dan dari situ kita bisa pelan-pelan memperbaiki.
Bukan karena teori orang lain. Tapi karena bukti
dari diri sendiri.
Nggak Harus Panjang
Kadang orang mikir jurnal harus satu halaman penuh
tiap hari.
Akhirnya keburu capek duluan.
Saya juga pernah begitu. Semangat di awal, lalu
berhenti total.
Sekarang saya santai saja.
Kadang cuma 3–4 kalimat. Kadang setengah halaman.
Kadang panjang banget kalau lagi banyak cerita.
Fleksibel.
Yang penting konsisten, bukan panjangnya.
Lebih baik sedikit tapi rutin, daripada panjang tapi
cuma seminggu sekali.
Kertas atau Digital?
Ini soal selera.
Ada yang suka buku fisik. Ada yang nyaman ngetik di
HP atau laptop.
Saya pribadi suka dua-duanya.
Kalau lagi di rumah, enak nulis tangan. Rasanya
lebih personal. Lebih pelan. Lebih terasa.
Kalau lagi di luar, pakai notes HP juga oke. Yang penting
idenya nggak hilang.
Intinya bukan medianya.
Intinya kebiasaannya.
Jurnal Bukan Cuma Curhat
Sedih
Banyak yang mengira jurnal cuma buat curhat galau.
Padahal justru seru kalau isinya campur-campur.
Saya kadang nulis:
·
hal kecil yang bikin senyum
·
makanan enak hari ini
·
kutipan menarik
·
ide tulisan
·
rencana kecil
·
hal yang disyukuri
Jadi nggak melulu muram.
Kadang malah isinya receh banget.
“Hari ini nemu parkiran kosong. Bahagia.”
Tapi justru hal kecil begitu yang bikin hidup terasa
hangat.
Dan beberapa bulan kemudian, baca lagi rasanya
manis.
Ritual Kecil Sebelum Tidur
Sekarang nulis jurnal jadi ritual kecil sebelum
tidur.
Nggak lama. 5–10 menit saja.
Lampu redup. Suasana tenang. HP dijauhkan sebentar.
Lalu nulis:
“Hari ini gimana, ya?”
Seperti ngobrol sama diri sendiri.
Kadang cuma recap. Kadang malah jadi refleksi
panjang.
Setelah itu tidur rasanya lebih nyenyak.
Kayak semua beban sudah ditaruh di kertas, nggak
dibawa ke kasur.
Di Dunia yang Terlalu Ramai
Kita hidup di dunia yang berisik banget.
Notifikasi bunyi. Timeline penuh. Semua orang
ngomong.
Tapi jarang banget kita benar-benar dengar diri
sendiri.
Jurnal itu seperti tombol “mute”.
Sebentar saja, kita berhenti dari dunia luar.
Fokus ke dalam.
Apa yang saya rasakan?
Apa yang saya pikirkan?
Apa yang sebenarnya saya mau?
Pertanyaan sederhana, tapi sering terlupakan.
Coba Satu Halaman Saja
Kalau kamu belum pernah nulis jurnal, coba saja
malam ini.
Nggak perlu beli buku mahal. Pakai kertas apa pun
juga bisa.
Tulis:
“Hari ini…”
Lalu lanjutkan.
Nggak usah dipikir bagus atau jelek.
Tulis saja.
Siapa tahu kamu kaget sendiri.
Ternyata enak. Ternyata lega. Ternyata seru.
Karena kadang, yang kita butuhkan bukan nasihat
orang lain.
Tapi ruang kecil untuk jujur sama diri sendiri.
Dan jurnal harian, sesederhana itu, bisa jadi teman
paling setia.
Nggak menghakimi. Nggak memotong. Cuma mendengarkan.
Pelan. Diam. Tapi selalu ada.
Salam santai dari
Catatan PAHUPAHU ✍️