Mengelola Keuangan Rumah Tangga di
Tengah Inflasi: Antara Menjerit dan Menjinakkan
Oleh:
Catatan Pahupahu
Pernahkah
Anda mengalami momen di mana uang Rp 100.000 terasa seperti Rp 50.000? Atau
saat berjalan di lorong supermarket, Anda mendapati harga minyak goreng sudah
naik lagi padahal minggu lalu baru saja naik? Selamat datang di era inflasi
yang tidak kenal kompromi.
Berdasarkan
data Bank Indonesia, inflasi umum pada triwulan I 2025 tercatat sebesar 1,77%
secara tahunan, dipicu oleh tekanan pada kelompok perumahan, air, listrik, dan
bahan bakar rumah tangga yang menyumbang andil hingga 0,95%. Namun yang lebih
mengkhawatirkan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya melonjak hingga 13,18%—ini
bukan sekadar inflasi biasa, ini adalah "inflasi gaya hidup" yang
diam-diam menggerus dompet kita.
Sementara
itu, data BI juga menunjukkan bahwa komposisi penggunaan pendapatan masyarakat
pada November 2025 mencapai 74,6% untuk konsumsi, 11% untuk cicilan, dan hanya
14,4% untuk tabungan. Artinya, dari Rp 10 juta pendapatan, hanya Rp 1,4 juta
yang ditabung. Sisanya habis untuk kebutuhan hari ini.
Lalu
bagaimana cara bertahan? Mari kita bedah satu per satu.
1. Kenali Dulu Musuhnya: Inflasi Itu
Tidak Merata
Banyak
yang salah kaprah mengira inflasi adalah kenaikan harga semua barang secara
merata. Padahal, inflasi itu pilih-pilih. Menurut laporan Bank Indonesia,
komoditas utama penyumbang inflasi pada awal 2025 adalah:
- Emas perhiasan: andil 0,84% (naik karena
ketidakpastian global)
- Bawang merah: andil 0,27% (dampak cuaca dan
permintaan Ramadhan)
- Bahan Bakar Rumah Tangga (gas LPG
3kg): andil
0,18% (akibat kebijakan penyesuaian HET)
Sementara
itu, komoditas yang justru deflasi (harganya turun) antara lain tarif listrik
(-0,80%), daging ayam ras (-0,17%), dan tomat (-0,17%).
Ilustrasi
Penting:
Bayangkan
inflasi sebagai hujan yang tidak merata. Ada yang terkena guyuran deras
(seperti emas dan bawang merah), ada yang hanya gerimis (seperti pendidikan
dengan kenaikan 1,86%), dan ada yang justru kering (listrik dan ayam yang
harganya turun). Tugas kita sebagai pengelola keuangan rumah tangga
adalah: berdiri di tempat yang tidak terlalu basah. Artinya, kita
harus tahu pos belanja mana yang sedang "banjir inflasi" dan mana
yang aman-aman saja.
Menurut
LPEM FEB UI, tekanan pada kelas menengah semakin nyata terlihat dari perubahan
pola konsumsi. Pengeluaran untuk barang tahan lama seperti elektronik turun
dari 2,89% (2019) menjadi 1,95% (2024). Sementara pengeluaran untuk kosmetik
dan perawatan pribadi justru naik dari 1,14% menjadi 1,27%. Ini membuktikan
teori "efek lipstik" (lipstick effect):
ketika daya beli tertekan, orang masih mencari "kemewahan kecil"
sebagai pelarian, meskipun harus mengorbankan pembelian barang besar.
2. Strategi Audit Pengeluaran: Menemukan
Bocornya di Mana
Langkah
paling mendasar tapi paling sering disepelekan adalah mencatat semua
pengeluaran. Bukan kira-kira, bukan perasaan, tapi hitam di atas putih.
Pengamat
keuangan keluarga, Baratadewa Sakti Perdana, menekankan bahwa masyarakat harus
memprioritaskan anggaran untuk kebutuhan dasar seperti pangan, energi, dan
kesehatan. Pengeluaran non-esensial harus dikurangi untuk menjaga keseimbangan
anggaran.
Praktik
Sederhana yang Bisa Dilakukan:
1. Evaluasi
langganan digital:
Coba cek, bulan lalu berapa kali Anda membuka aplikasi streaming yang Anda
bayar? Jika jawabannya "jarang", segera berhenti berlangganan.
Penghematan Rp 50.000-Rp 100.000 per bulan dari langganan yang tidak terpakai
adalah awal yang baik.
2. Catat
"pengeluaran receh": Kopi di kantin Rp 15.000, gorengan Rp
10.000, parkir Rp 5.000. Kelihatannya kecil, tapi jika dikalkulasi, bisa
mencapai Rp 500.000 per bulan. Ini yang disebut "kebocoran halus"
oleh para perencana keuangan.
3. Bandingkan
dengan standar nasional: Jika porsi cicilan Anda sudah melebihi 15% dari
pendapatan, itu tanda bahaya. Data BI menunjukkan rata-rata nasional porsi
cicilan adalah 11%. Jika Anda jauh di atas itu, mungkin sudah saatnya
restrukturisasi utang atau mencari tambahan pemasukan.
3. Optimasi Belanja Pangan: Bedah Tuntas
Isi Kulkas
Kelompok
makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang inflasi terbesar. Pada
Agustus 2025, kelompok ini tercatat mengalami inflasi 3,99% secara tahunan,
dengan komoditas utama seperti beras, telur, dan minyak goreng sebagai
pemicunya.
Strategi
Food Preparation:
Salah satu cara paling efektif untuk memangkas anggaran pangan hingga 20-30%
adalah dengan menerapkan food preparation. Ini bukan sekadar
"masak sendiri", tetapi:
- Buat menu mingguan sebelum belanja. Dengan tahu
persis apa yang akan dimasak, Anda tidak akan membeli bahan makanan yang
tidak jelas ujungnya.
- Bersihkan dan potong bahan makanan sebelum disimpan di lemari
pendingin. Ini mencegah makanan cepat busuk karena Anda tinggal ambil dan
masak, bukan diamkan berhari-hari.
- Manfaatkan bagian yang terbuang: Batang brokoli bisa jadi sup,
tulang ayam bisa jadi kaldu. Ini adalah filosofi "zero waste"
yang juga zero waste of money.
Efisiensi
Air Minum:
Satu pos pengeluaran yang sering luput dari evaluasi adalah air minum. Mari
kita hitung:
Jika
keluarga kecil mengonsumsi 3 galon per minggu dengan harga Rp 22.000 per galon,
pengeluaran bulanan mencapai Rp 264.000. Setahun, totalnya sekitar Rp
3.168.000.
Bandrolnya,
teknologi filtrasi air seperti Nazava dapat menghemat biaya air minum hingga
90% dalam jangka panjang. Ini bukan endorse, ini ilustrasi
bahwa investasi pada efisiensi rumah tangga bisa mengubah pos
belanja rutin menjadi pos tabungan.
4. Jangan Terjebak "Kemewahan
Kecil" yang Menggerus
Ingat
"efek lipstik" yang kita bahas tadi? Tren ini sangat nyata di
Indonesia. Laporan UOB menunjukkan bahwa kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa
Lainnya mengalami inflasi 8,66% pada Agustus 2025, jauh di atas inflasi umum
yang hanya 2,31%.
Mengapa
ini penting? Karena kenaikan harga di kelompok ini adalah pilihan,
bukan kebutuhan. Artinya, kita secara sadar atau tidak, tetap menghabiskan uang
untuk perawatan muka, potong rambut di salon mahal, atau membeli produk
kecantikan meskipun harga-harga lain sedang naik.
Pertanyaan
Reflektif:
- Apakah skincare Rp 500.000
benar-benar diperlukan atau hanya "pelarian" dari stres ekonomi?
- Apakah potong rambut di salon
langganan yang naik 20% bisa diganti dengan tukang cukur keliling?
- Apakah kopi susu kekinian setiap
hari adalah kebutuhan atau sekadar kebiasaan yang bisa diganti dengan kopi
tubruk di rumah?
Dosen
FEB Universitas Wiraraja, Syahril, menambahkan bahwa edukasi keuangan harus
diberikan kepada semua anggota keluarga, termasuk anak-anak. Ajarkan pentingnya
hidup hemat, ajarkan investasi, dan ajarkan jiwa wirausaha sejak dini.
5. Diversifikasi Pendapatan: Jangan
Bergantung pada Satu Sumber
Di
tengah inflasi yang tidak pasti dan kenaikan upah riil yang stagnan (hanya 0,6%
per tahun dalam periode 2017-2024 menurut LPEM FEB UI), mengandalkan satu
sumber pendapatan adalah tindakan nekat.
Baratadewa
Sakti Perdana merekomendasikan diversifikasi sumber pendapatan melalui
bisnis sampingan, seperti bisnis daring atau layanan berbasis keterampilan.
Ide
Sampingan yang Realistis:
- Jika Anda pandai memasak, jualan
makanan frozen yang tahan lama.
- Jika Anda mahir menulis,
jadi freelance writer di platform lepas.
- Jika Anda punya hobi berkebun,
tanam sayuran hidroponik—bisa untuk konsumsi sendiri sekaligus dijual.
- Manfaatkan keahlian keluarga: les
privat, menjual hasil masakan, atau dropship tanpa modal.
Yang
penting, pendapatan tambahan ini harus dipisahkan pengelolaannya.
Jangan dicampur dengan gaji utama. Alokasikan minimal 50% dari pendapatan
sampingan untuk investasi atau tabungan jangka panjang.
6. Tabungan dan Investasi: Lindung Nilai
di Tengah Badai
Data
BI menunjukkan bahwa saldo rata-rata rekening deposito masyarakat kecil (di
bawah Rp 100 juta) turun drastis dari Rp 4,29 juta pada 2012 menjadi hanya Rp
1,78 juta pada 2025—penurunan kumulatif 58,5%. Artinya, masyarakat benar-benar
sedang mengeruk tabungan untuk bertahan hidup.
Ini
adalah sinyal bahaya. Jika Anda masih memiliki tabungan, jaga mati-matian. Jika
belum, mulailah dari sekarang, sekecil apa pun.
Rekomendasi
Investasi di Masa Inflasi:
1. Emas: Komoditas ini memang
menyumbang inflasi karena harganya naik, tapi justru itulah fungsinya
sebagai hedging atau lindung nilai. Ketika inflasi naik, emas
ikut naik, sehingga nilai kekayaan Anda tergerus lebih kecil. Rencanakan pembelian
emas secara berkala, misalnya 0,5 gram per bulan.
2. Reksa
dana pasar uang:
Untuk jangka pendek (1-3 tahun), reksa dana pasar uang menawarkan imbal hasil
di atas deposito dengan risiko rendah. Cocok untuk dana darurat yang tidak
ingin tergerus inflasi.
3. Hindari
utang konsumtif:
Bunga kredit yang tinggi (dengan BI Rate di 5,50% pada 2026) membuat cicilan
KPR, kendaraan, dan modal usaha ikut membengkak. Jika tekanan ini berlangsung
lama, risiko penyusutan kelas menengah semakin besar.
7.
Bangun Solidaritas Sosial: Barter dan Berbagi
Ini
adalah strategi yang sering dilupakan: berkolaborasi dengan tetangga
dan komunitas. Dalam situasi ekonomi sulit, tidak ada yang bisa bertahan
sendirian.
Beberapa
ide kolaborasi:
- Barter barang: Anda punya kelebihan sayur dari
kebun, tetangga punya kelebihan telur. Tukar saja.
- Komunitas penghematan: Bentuk grup whatsapp dengan
5-10 keluarga terdekat untuk berbagi informasi harga murah, promo, atau
bahkan grosir barang bersama-sama.
- Sistem bergantian masak: Bayangkan jika 5 keluarga
bergantian memasak untuk semua. Anda masak Senin-Rabu, tetangga masak
Kamis-Sabtu. Efisiensi energi, waktu, dan biaya.
Syahril
menambahkan, jangan lupa untuk menyisihkan 10-15% dari penghasilan untuk
sedekah. "Sebab sejatinya harta kita sesungguhnya adalah apa yang kita
keluarkan untuk sedekah," ujarnya.
Kesimpulan: Menjinakkan Inflasi, Satu
Langkah Kecil Sehari
Inflasi
memang tidak bisa kita hentikan. Harga bawang merah akan tetap naik jika cuaca
buruk. Harga BBM akan tetap fluktuatif jika geopolitik dunia tidak menentu.
Tapi yang bisa kita ubah adalah cara kita merespons.
Tiga
langkah yang bisa Anda lakukan mulai besok pagi:
1. Catat
semua pengeluaran selama
satu bulan penuh. Jangan ada yang terlewat, bahkan Rp 2.000 untuk beli permen
sekalipun.
2. Bedah
pos belanja terbesar Anda. Jika itu pangan, terapkan food preparation.
Jika itu transportasi, beralihlah ke transportasi umum atau carpool.
3. Sisihkan
minimal 5% dari pendapatan di awal bulan sebagai dana darurat, sebelum Anda
membayar apa pun.
Ingat,
mengelola keuangan di tengah inflasi bukan tentang menjadi kikir atau hidup
susah. Ini tentang menjadi cerdas. Cerdas memilih mana yang
benar-benar penting, cerdas mencari alternatif yang lebih efisien, dan cerdas
membangun kolaborasi agar beban terasa lebih ringan.
Karena
pada akhirnya, keuangan keluarga yang sehat bukan diukur dari seberapa besar
gaji Anda, tapi dari seberapa tenang Anda tidur di malam hari—tanpa pusing
memikirkan tagihan yang menumpuk.
Catatan
Pahupahu – Belajar
dari yang sederhana, hidup dari yang bermakna.
Daftar
Pustaka
Bank
Indonesia. (2025). Laporan Perekonomian Provinsi Sumatera Selatan Edisi
Mei 2025. Bank Indonesia.
Kompas.com. (2026, Januari
4). Biaya hidup terus meningkat, tabungan jadi bantalan kelas menengah. Kompas. https://money.kompas.com/
LPEM
FEB UI. (2025). Indonesia Economic Outlook Q3 2025. Lembaga
Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Indonesia.
Nazava.
(2026, Mei 21). Cara atur keuangan rumah tangga di tengah inflasi. Nazava
Blog. https://www.nazava.com/
RRI.co.id.
(2025, Januari 18). Langkah stabilkan ekonomi keluarga ditengah inflasi. RRI. https://rri.co.id/
Tempo.co. (2025, Maret 26).
Weakened purchasing power: How to navigate economic uncertainty. Tempo. https://en.tempo.co/
UOB
Global Economics & Markets Research. (2025, September 1). Indonesia:
Inflation held steady, volatile food leads gains. UOB Group.