Mengapa Banyak Orang Bergaji Besar Tetap Kesulitan Menabung?
BAGIAN I: LITERASI KEUANGAN DASAR
Di tengah masyarakat, masih banyak orang yang beranggapan bahwa masalah
keuangan hanya dialami oleh mereka yang berpenghasilan rendah. Logikanya
sederhana: jika pendapatan besar, tentu lebih mudah menabung dan membangun kekayaan.
Namun kenyataan sering kali berbeda. Tidak sedikit orang yang memiliki gaji
belasan bahkan puluhan juta rupiah per bulan, tetapi tetap merasa kekurangan
uang, tidak memiliki tabungan yang memadai, dan sering mengalami kesulitan
keuangan.
Sebaliknya, ada pula individu dengan penghasilan yang relatif sederhana
namun mampu menabung secara konsisten, memiliki dana darurat, bahkan
berinvestasi secara rutin. Fenomena ini menunjukkan bahwa besarnya penghasilan
bukan satu-satunya faktor yang menentukan kesehatan keuangan seseorang.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: mengapa banyak orang bergaji besar
tetap kesulitan menabung?
Jawabannya tidak sesederhana persoalan pendapatan. Dalam banyak kasus, akar
masalah justru terletak pada perilaku keuangan, gaya hidup, kebiasaan konsumsi,
serta cara seseorang memandang uang.
Artikel ini membahas berbagai faktor yang menyebabkan seseorang sulit
menabung meskipun memiliki penghasilan tinggi, sekaligus menawarkan solusi
praktis untuk membangun kebiasaan keuangan yang lebih sehat.
Mitos: Gaji Besar Otomatis Membuat Seseorang Kaya
Banyak orang menganggap bahwa kekayaan identik dengan besarnya pendapatan.
Padahal, kekayaan dan pendapatan adalah dua hal yang berbeda.
Pendapatan adalah jumlah uang yang diterima seseorang dalam periode
tertentu, misalnya setiap bulan.
Sementara itu, kekayaan adalah akumulasi aset yang dimiliki setelah
dikurangi seluruh kewajiban atau utang.
Seseorang bisa saja memiliki pendapatan tinggi tetapi tidak memiliki aset
yang berarti karena seluruh penghasilannya habis untuk konsumsi. Sebaliknya,
seseorang dengan pendapatan yang lebih rendah dapat membangun kekayaan secara
bertahap melalui kebiasaan menabung dan berinvestasi.
Dalam bukunya The Psychology of Money, Housel (2020) menjelaskan
bahwa banyak orang mampu terlihat kaya melalui pengeluaran yang besar, tetapi
belum tentu benar-benar memiliki kekayaan yang kuat secara finansial.
Fenomena Inflasi Gaya Hidup
Salah satu penyebab utama sulitnya menabung meskipun bergaji besar adalah
fenomena yang dikenal sebagai lifestyle inflation atau inflasi gaya
hidup.
Inflasi gaya hidup terjadi ketika peningkatan pendapatan diikuti oleh
peningkatan pengeluaran dalam jumlah yang hampir sama atau bahkan lebih besar.
Ilustrasi
Ketika masih bergaji Rp4 juta per bulan, seseorang tinggal di kos sederhana
dan menggunakan kendaraan umum.
Setelah gajinya naik menjadi Rp10 juta per bulan, ia berpindah ke apartemen
yang lebih mahal, membeli kendaraan dengan cicilan tinggi, sering makan di
restoran, dan meningkatkan berbagai pengeluaran lainnya.
Akibatnya, meskipun penghasilannya meningkat secara signifikan, jumlah uang
yang dapat ditabung tidak mengalami perubahan berarti.
Dalam kondisi seperti ini, kenaikan pendapatan justru diikuti oleh kenaikan
standar hidup yang semakin mahal.
Tidak Memiliki Tujuan Keuangan yang Jelas
Salah satu alasan mengapa seseorang sulit menabung adalah karena tidak
memiliki tujuan yang spesifik.
Uang yang tidak memiliki tujuan biasanya akan habis mengikuti berbagai
keinginan yang muncul setiap hari.
Sebaliknya, seseorang yang memiliki target keuangan akan lebih mudah
mengendalikan pengeluarannya.
Contoh tujuan keuangan antara lain:
·
Membeli rumah;
·
Dana pendidikan anak;
·
Dana pensiun;
·
Modal usaha;
·
Dana darurat;
·
Kebebasan finansial.
Ketika tujuan tersebut jelas, proses menabung menjadi lebih terarah dan
memiliki makna yang lebih kuat.
Menganggap Tabungan sebagai Sisa Pengeluaran
Kesalahan yang sangat umum adalah menabung dari uang yang tersisa setelah
semua kebutuhan dan keinginan dipenuhi.
Masalahnya, sering kali tidak ada uang yang tersisa.
Ilustrasi
Pak Andi memiliki penghasilan Rp15 juta per bulan.
Ia berpikir akan menabung jika ada sisa uang di akhir bulan.
Namun setelah membayar berbagai kebutuhan, cicilan, hiburan, dan belanja lainnya,
ternyata tidak ada dana yang tersisa.
Situasi ini terus berulang setiap bulan.
Sebaliknya, banyak perencana keuangan menyarankan prinsip:
"Bayar diri sendiri terlebih dahulu" (Pay Yourself First).
Artinya, tabungan dan investasi harus dialokasikan segera setelah menerima
penghasilan, bukan menunggu sisa uang di akhir bulan.
Terjebak dalam Gaya Hidup Konsumtif
Kemajuan teknologi dan media sosial membuat perilaku konsumtif semakin mudah
berkembang.
Setiap hari kita melihat berbagai iklan, promosi, dan gaya hidup yang tampak
menarik.
Tanpa disadari, muncul dorongan untuk membeli barang yang sebenarnya tidak
terlalu diperlukan.
Menurut penelitian dalam bidang ekonomi perilaku, manusia cenderung lebih
menghargai kepuasan jangka pendek dibandingkan manfaat jangka panjang (Thaler,
2016).
Karena itu, membeli gawai baru sering terasa lebih menyenangkan dibandingkan
menyimpan uang untuk dana pensiun yang manfaatnya baru dirasakan puluhan tahun
kemudian.
Terlalu Banyak Pengeluaran Tersembunyi
Banyak orang bergaji besar merasa tidak boros karena tidak melakukan
pembelian besar secara rutin.
Namun mereka sering mengabaikan pengeluaran kecil yang terjadi setiap hari.
Contohnya:
·
Kopi premium setiap pagi;
·
Langganan berbagai aplikasi;
·
Makan siang di restoran;
·
Belanja daring spontan;
·
Biaya hiburan mingguan.
Secara terpisah, pengeluaran tersebut terlihat kecil. Namun jika dijumlahkan
dalam satu bulan atau satu tahun, nilainya bisa sangat besar.
Ilustrasi Sederhana
Jika seseorang mengeluarkan Rp75.000 per hari untuk kopi dan camilan:
Rp75.000 × 30 hari = Rp2.250.000 per bulan.
Dalam setahun:
Rp2.250.000 × 12 = Rp27.000.000.
Angka tersebut cukup untuk membangun dana darurat atau menjadi modal
investasi awal.
Ketergantungan pada Utang Konsumtif
Pendapatan tinggi sering kali membuat seseorang lebih mudah memperoleh akses
kredit.
Bank dan lembaga keuangan cenderung menawarkan berbagai fasilitas seperti:
·
Kartu kredit;
·
Kredit kendaraan;
·
Kredit tanpa agunan;
·
Layanan buy now pay later.
Jika digunakan secara bijak, fasilitas tersebut dapat membantu pengelolaan
keuangan.
Namun jika digunakan untuk mempertahankan gaya hidup konsumtif, utang dapat
menjadi penghambat utama kemampuan menabung.
Tidak sedikit orang yang memiliki penghasilan besar tetapi sebagian besar
pendapatannya habis untuk membayar cicilan.
Salah Mengartikan Kesuksesan
Dalam banyak lingkungan sosial, kesuksesan sering diukur melalui
simbol-simbol yang terlihat.
Misalnya:
·
Kendaraan mewah;
·
Rumah besar;
·
Gawai terbaru;
·
Liburan mahal;
·
Barang bermerek.
Akibatnya, sebagian orang merasa perlu mempertahankan citra tertentu
meskipun kondisi keuangannya belum benar-benar kuat.
Housel (2020) mengingatkan bahwa kekayaan sering kali tidak terlihat. Orang
yang benar-benar memiliki kekayaan justru sering hidup lebih sederhana
dibandingkan yang terlihat kaya.
Tabungan, investasi, dan aset produktif tidak selalu tampak oleh orang lain,
tetapi justru itulah yang menjadi fondasi kekuatan finansial.
Tidak Memahami Konsep Arus Kas
Sebagian orang fokus pada jumlah gaji tanpa memperhatikan arus kas.
Padahal yang menentukan kesehatan keuangan bukan hanya besarnya pendapatan,
melainkan selisih antara pemasukan dan pengeluaran.
Contoh
Orang A
·
Gaji Rp20 juta
·
Pengeluaran Rp19 juta
Sisa Rp1 juta
Orang B
·
Gaji Rp8 juta
·
Pengeluaran Rp5 juta
Sisa Rp3 juta
Meskipun pendapatannya lebih kecil, Orang B memiliki kapasitas menabung yang
lebih baik karena arus kasnya lebih sehat.
Tidak Memiliki Dana Darurat
Tanpa dana darurat, setiap kejadian tak terduga akan mengganggu keuangan.
Contohnya:
·
Kendaraan rusak;
·
Biaya kesehatan;
·
Kehilangan pekerjaan;
·
Perbaikan rumah.
Karena tidak memiliki dana cadangan, seseorang sering menggunakan tabungan
atau bahkan berutang untuk mengatasi masalah tersebut.
Akibatnya, tabungan yang telah dikumpulkan sulit berkembang.
Kurangnya Literasi Keuangan
Menurut OECD (2023), literasi keuangan berperan penting dalam membantu
individu mengambil keputusan keuangan yang lebih baik.
Sayangnya, banyak orang berpenghasilan tinggi yang memiliki keahlian
profesional yang sangat baik tetapi tidak pernah mempelajari cara mengelola
uang.
Mereka memahami cara memperoleh pendapatan, tetapi tidak memahami cara
mempertahankan dan mengembangkan kekayaan.
Inilah sebabnya mengapa pendidikan keuangan menjadi sangat penting bagi
semua kelompok masyarakat, termasuk mereka yang memiliki pendapatan tinggi.
Cara Agar Gaji Besar Tidak Habis Begitu Saja
Setelah memahami berbagai penyebab di atas, langkah berikutnya adalah
memperbaiki kebiasaan keuangan.
1. Menetapkan Tujuan Keuangan
Tentukan target yang jelas dan terukur.
2. Menabung di Awal
Sisihkan dana tabungan segera setelah menerima gaji.
3. Membuat Anggaran Bulanan
Tentukan batas pengeluaran untuk setiap kategori.
4. Mengendalikan Inflasi Gaya Hidup
Tidak semua kenaikan pendapatan harus diikuti peningkatan standar hidup.
5. Membangun Dana Darurat
Prioritaskan pembentukan dana darurat sebelum meningkatkan konsumsi.
6. Berinvestasi Secara Rutin
Investasi membantu mengubah sebagian pendapatan menjadi aset produktif.
7. Mencatat Arus Kas
Memahami ke mana uang mengalir setiap bulan merupakan langkah penting menuju
kesehatan finansial.
Ilustrasi: Dua Orang dengan Gaji yang Sama
Bayangkan dua karyawan yang masing-masing menerima gaji Rp15 juta per bulan.
Rudi
·
Meningkatkan gaya hidup setiap kali gaji naik;
·
Memiliki banyak cicilan;
·
Tidak memiliki tabungan.
Deni
·
Menabung 20% dari penghasilannya;
·
Memiliki dana darurat;
·
Berinvestasi secara rutin;
·
Hidup di bawah kemampuan finansialnya.
Lima hingga sepuluh tahun kemudian, kondisi keuangan mereka kemungkinan akan
sangat berbeda.
Perbedaannya bukan terletak pada jumlah pendapatan, melainkan pada
keputusan-keputusan kecil yang mereka ambil setiap hari.
Penutup
Besarnya gaji tidak menjamin seseorang mampu menabung atau mencapai
kesejahteraan finansial. Banyak orang bergaji besar tetap mengalami kesulitan
keuangan karena terjebak dalam inflasi gaya hidup, perilaku konsumtif, utang
yang berlebihan, dan kurangnya perencanaan keuangan.
Pada akhirnya, kesehatan finansial lebih ditentukan oleh kebiasaan
dibandingkan jumlah pendapatan. Orang yang mampu mengendalikan pengeluaran,
memiliki tujuan yang jelas, serta disiplin menabung dan berinvestasi akan
memiliki peluang lebih besar untuk membangun kekayaan jangka panjang.
Karena itu, pertanyaan yang paling penting bukanlah “Berapa besar gaji
saya?”, melainkan “Seberapa baik saya mengelola gaji tersebut?”. Jawaban atas
pertanyaan itulah yang sering kali menentukan masa depan keuangan seseorang.
Daftar Pustaka
·
Housel, M. (2020). The Psychology of Money:
Timeless Lessons on Wealth, Greed, and Happiness. Harriman House
Publishing.
·
Kaiser, T., & Lusardi, A. (2024). Financial
Literacy and Financial Education: An Overview. National Bureau of Economic
Research Working Paper No. 32355. https://doi.org/10.3386/w32355
·
Lusardi, A. (2019). Financial literacy and the
need for financial education: Evidence and implications. Swiss Journal of
Economics and Statistics, 155(1), 1–8. https://doi.org/10.1186/s41937-019-0027-5
·
OECD. (2023). OECD/INFE 2023 International
Survey of Adult Financial Literacy. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/56003a32-en
·
Thaler, R. H. (2016). Misbehaving: The
Making of Behavioral Economics. W. W. Norton & Company.
·
Xiao, J. J., Porto, N., & Mason, M. (2022).
Financial resilience and household financial well-being: Evidence from consumer
financial behavior studies. Journal of Financial Counseling and Planning,
33(2), 245–260.
·
World Bank. (2022). Financial Inclusion
Overview. World Bank Group.