Memahami Risiko Sebelum Berinvestasi: Pelajaran Pahit yang Lebih Baik
Dipelajari dari Awal
Catatan Pahupahu – Ada satu pertanyaan yang paling sering
saya terima dari pembaca setelah dua tahun menulis blog ini. Bukan tentang
saham apa yang naik, bukan tentang reksadana mana yang terbaik. Pertanyaan itu
sederhana, tapi menusuk: *"Bang, saya rugi 50 juta karena ikut
investasi yang diiming-imingi return 20% per bulan. Kenapa saya bisa sebodoh
itu?"*
Setiap kali membaca
pesan seperti ini, hati saya terenyuh. Bukan hanya karena nominalnya yang besar,
tetapi karena pola yang selalu sama: si korban biasanya orang baik, pekerja
keras, dan sangat ingin memperbaiki hidup keluarganya. Mereka tidak bodoh.
Mereka hanya tidak paham risiko sebelum berinvestasi.
Di bagian ke-45 dari
seri Investasi dan Pengelolaan Aset ini, kita akan membahas topik yang paling
tidak populer tapi paling penting: risiko.
Bukan karena saya ingin
menakut-nakuti Anda. Justru sebaliknya. Saya ingin Anda berinvestasi dengan
mata terbuka, bukan dengan mata tertutup sambil berdoa. Karena investasi tanpa
pemahaman risiko bukanlah investasi—itu namanya judi.
Mari kita bedah bersama.
Ironi Literasi Keuangan di Indonesia: Tahu Tapi Tak Paham
Sebelum melangkah lebih
jauh, mari kita lihat fakta yang agak membingungkan ini.
Berdasarkan Survei Nasional
Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan
(OJK), tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia terus meningkat secara
signifikan. Pada 2019, angkanya masih 38,03%. Di 2022, naik menjadi 49,68%. Dan
pada 2024, mencapai 65,43% .
Secara statistik, ini
kabar baik. Lebih dari separuh orang Indonesia sekarang "melek" soal
produk dan layanan keuangan.
Tapi tunggu dulu. Ada
kejanggalan.
Di tahun yang sama
ketika literasi naik menjadi 65,43%, OJK justru menutup 238 entitas
investasi ilegal yang merugikan masyarakat hingga Rp16,16
triliun . Ya, triliun dengan huruf T.
Angka ini sebenarnya
lebih rendah dibandingkan tahun 2022 yang mencapai Rp109,67 triliun, tapi tetap
mengkhawatirkan. Artinya, meskipun lebih banyak orang yang "tahu"
soal keuangan, jumlah korban investasi bodong masih sangat besar.
Ilustrasi Sederhana:
Ini seperti mengetahui bahwa ada jalan berlubang di depan rumah, tapi tetap
mengendarai motor dengan kecepatan tinggi sambil memejamkan mata. Literasi
tanpa pemahaman risiko hanya membuat Anda tahu kata-katanya, tapi
tidak paham bahayanya.
Apa yang menyebabkan
ironi ini? Jawabannya terletak pada pemahaman kita tentang risiko itu sendiri.
Dua Wajah Risiko: Sistematis vs. Tidak Sistematis
Dalam dunia investasi,
para ahli membagi risiko menjadi dua kategori besar . Memahami perbedaan
ini adalah langkah pertama untuk tidak menjadi korban investasi bodong.
1. Risiko Sistematis
(Systematic Risk)
Ini adalah risiko yang
mempengaruhi seluruh pasar secara bersamaan. Namanya juga
"risiko pasar" atau "risiko umum." Ketika ekonomi global
sedang resesi, ketika perang terjadi, atau ketika pandemi melanda—semua investasi
akan terkena dampaknya.
Contoh nyata: saat
pandemi COVID-19 melanda pada 2020, hampir semua saham di Bursa Efek Indonesia
(dan dunia) jatuh bersamaan. IHSG ambles hingga di bawah 4.000. Saham bank
jatuh, saham properti jatuh, saham teknologi ikut jatuh. Tidak ada yang
selamat.
Sifat paling penting
dari risiko sistematis adalah: tidak bisa dihilangkan dengan diversifikasi.
Anda bisa membeli 100 saham sekaligus, tapi ketika badai datang, semuanya tetap
akan basah .
Yang bisa Anda lakukan
hanyalah:
- Memahami bahwa risiko ini akan selalu ada
- Menyiapkan strategi jangka panjang
- Tidak panik saat pasar sedang turun
2. Risiko Tidak Sistematis (Unsystematic Risk)
Ini adalah risiko yang
spesifik untuk satu perusahaan atau satu industri tertentu. Contohnya:
manajemen perusahaan korupsi, pabrik kebakaran, produknya kena boikot, atau
laporan keuangannya terbukti palsu.
Kabar baiknya: risiko
tidak sistematis BISA dikurangi dengan diversifikasi . Jika Anda hanya
memiliki saham di satu perusahaan, lalu perusahaan itu bangkrut, Anda
kehilangan semuanya. Tapi jika Anda memiliki saham di 20 perusahaan berbeda,
satu perusahaan bangkrut, Anda masih punya 19 lainnya.
Inilah mengapa para ahli
selalu berkata: "Jangan menaruh semua telur dalam satu
keranjang."
Tabel Perbandingan
Risiko Sistematis vs Tidak Sistematis:
|
Karakteristik |
Risiko Sistematis |
Risiko Tidak Sistematis |
|
Sumber |
Makroekonomi, politik, bencana global |
Spesifik perusahaan/industri |
|
Cakupan |
Semua investasi |
Individual |
|
Bisa dihilangkan dengan diversifikasi? |
TIDAK |
YA (dapat
dikurangi) |
|
Contoh |
Inflasi tinggi,
perang, krisis keuangan global |
Skandal korupsi
perusahaan, kebakaran pabrik |
|
Cara mengelola |
Alokasi aset, investasi jangka panjang, lindung nilai (hedging) |
Diversifikasi portofolio |
Mengapa
Banyak Orang Tertipu Investasi Bodong? Perilaku Irasional yang Harus Diwaspadai
Sekarang kita sampai
pada pertanyaan krusial: jika sudah tahu teorinya, kenapa masih banyak yang
tertipu?
Penelitian terbaru yang
dipublikasikan di Jurnal Keunis (2025) mengungkapkan tiga "musuh dalam
diri" yang membuat kita rentan terhadap investasi berisiko tinggi dan
bahkan investasi bodong .
1. Loss Aversion (Takut
Kehilangan)
Ini adalah kecenderungan psikologis di mana rasa sakit karena kehilangan terasa
dua kali lebih kuat dibandingkan kenikmatan karena mendapatkan. Dalam konteks
investasi bodong, pelaku memanfaatkan ini dengan iming-iming "jaminan uang
kembali" atau "proteksi modal." Ironisnya, ketakutan kehilangan
justru membuat orang mengambil keputusan yang lebih berisiko .
Contohnya:
"Investasi dengan capital guarantee 100%!" Kalimat ini sangat
menggoda bagi orang yang takut kehilangan uangnya. Padahal di dunia investasi
yang sah, tidak ada yang namanya "jaminan" dengan return tinggi.
2. Regret Aversion
(Takut Menyesal)
Ini adalah ketakutan bahwa jika kita tidak ikut suatu
kesempatan, kita akan menyesal di kemudian hari. Pelaku investasi bodong sangat
paham ini. Mereka membuat skenario "terbatas" dan "segera
habis" untuk memicu rasa takut ketinggalan .
Contohnya: "Hanya
100 orang pertama yang bisa dapat bonus 50%!" atau "Promo
ini berlaku hari ini saja!" Tekanan waktu dibuat agar Anda tidak
sempat berpikir jernih.
3. Herding Behavior
(Perilaku Kawanan)
Ini adalah kecenderungan untuk mengikuti apa yang dilakukan orang banyak,
dengan asumsi bahwa "masa semua orang salah?" Penelitian menunjukkan
bahwa herding behavior justru memiliki pengaruh positif terhadap
keputusan investasi berisiko—artinya, semakin banyak orang yang mengikuti
kerumunan, semakin besar kemungkinan mereka mengambil keputusan yang
keliru .
Contoh kasus nyata:
kasus investasi bodong oleh influencer saham Ahmad Rafif Raya yang merugikan
investor hingga Rp96 miliar. Banyak korban adalah anak muda yang tergiur
melihat gaya hidup mewah sang influencer di media sosial, lalu ikut-ikutan
tanpa melakukan verifikasi .
Ilustrasi Sederhana:
Bayangkan Anda melihat antrean panjang di depan sebuah toko. Tanpa tahu apa
yang dijual, Anda ikut antre karena pikir "pasti ada yang bagus."
Setelah satu jam, ternyata toko itu menjual... batu kali seharga emas. Perilaku
kawanan membuat Anda membuang waktu dan uang untuk sesuatu yang tidak berharga.
Penelitian yang sama juga
menemukan bahwa literasi keuangan berperan sebagai
"quasi-moderator" —artinya, meskipun tidak sepenuhnya
menetralisir ketiga perilaku irasional tersebut, literasi keuangan yang baik
dapat memperlemah pengaruhnya terhadap keputusan investasi yang buruk .
Inilah mengapa edukasi
risiko sangat penting: bukan agar Anda menjadi paranoid, tapi agar Anda
memiliki "kekebalan" terhadap jeratan psikologis para pelaku
investasi bodong.
High Risk, High Return: Prinsip Dasar yang Sering Disalahpahami
Salah satu prinsip
paling fundamental dalam investasi adalah hubungan positif antara risiko dan
imbal hasil: semakin tinggi potensi keuntungan, semakin tinggi pula
risikonya .
Tapi prinsip ini sering
disalahpahami. Banyak yang membacanya sebagai "ambil risiko tinggi, pasti
dapat return tinggi." Ini keliru. Yang benar adalah: "Jika Anda ingin
berpotensi mendapatkan return tinggi, Anda harus siap menghadapi risiko tinggi.
Tapi mengambil risiko tinggi tidak menjamin return
tinggi."
Coba lihat tabel berikut
yang diadaptasi dari buku ajar Manajemen Keuangan Dasar . Ini adalah
ilustrasi dua saham dengan karakteristik berbeda:
|
Sekuritas |
Expected Return |
Risiko (Standar Deviasi) |
Karakteristik |
|
T-Bill (Surat Utang Negara) |
8,0% |
0,0% |
Bebas risiko, return pasti |
|
Saham USR |
13,8% |
18,8% |
Risiko sedang, return
sedang |
|
Saham HT |
17,4% |
20,0% |
Risiko tinggi, return tinggi |
Perhatikan saham HT: ia
menawarkan return tertinggi (17,4%), tapi juga memiliki risiko tertinggi
(20,0%). Dalam berbagai skenario ekonomi, saham HT bisa naik sampai 50% di
kondisi puncak, tapi juga bisa turun sampai -22% di kondisi resesi .
Saham Collection adalah
contoh menarik. Ia justru bergerak berlawanan dengan kondisi
ekonomi (bergerak naik saat resesi dan turun saat ekonomi memuncak). Ini
menunjukkan bahwa setiap instrumen memiliki karakter risiko yang unik.
Poin pentingnya: tidak
ada investasi yang memberikan return tinggi tanpa risiko tinggi. Jika
seseorang menjanjikan return 10% per bulan dengan risiko "aman" atau
"dijamin", 99,9% itu adalah investasi bodong.
Memahami Profil Risiko Diri Sendiri: Tiga Komponen Kunci
Setelah memahami
jenis-jenis risiko, langkah selanjutnya adalah mengenali diri sendiri.
Tidak semua orang memiliki kemampuan dan kesiapan yang sama dalam menghadapi
risiko.
Para ahli keuangan
(seperti Vishal Dhawan, Certified Financial Planner, dan Standard Chartered
Bank) sepakat bahwa profil risiko seseorang terdiri dari tiga komponen yang
berbeda :
1. Risk Tolerance
(Toleransi Risiko)
Ini adalah kesediaan psikologis Anda untuk menghadapi risiko.
Apakah Anda tipe orang yang bisa tidur nyenyak meskipun portofolio turun 20%
dalam sebulan? Atau Anda akan begadang dan panik setiap kali melihat saldo
menyusut?
Risk tolerance bersifat
subjektif dan psikologis. Cara terbaik mengukurnya adalah dengan kuesioner
psikometrik yang banyak tersedia di platform investasi terpercaya .
Contoh pertanyaan untuk
mengukur toleransi risiko:
- "Jika investasi Anda turun 15% dalam sebulan, apa
yang akan Anda lakukan?"
- A. Jual semua, ini terlalu berisiko (Toleransi rendah)
- B. Diam saja, saya yakin akan naik lagi (Toleransi
sedang)
- C. Beli lebih banyak, ini kesempatan (Toleransi
tinggi)
2. Risk Capacity
(Kapasitas Risiko)
Ini adalah kemampuan finansial Anda untuk menyerap kerugian.
Dua orang dengan toleransi risiko yang sama bisa memiliki kapasitas yang sangat
berbeda. Seorang pengusaha kaya dengan aset miliaran memiliki kapasitas risiko
tinggi karena jika rugi 10%, hidupnya tidak terganggu. Sebaliknya, seorang
karyawan dengan tabungan Rp50 juta memiliki kapasitas risiko rendah karena kerugian
10% sudah sangat terasa.
Kapasitas risiko
dipengaruhi oleh: pendapatan, jumlah aset, jumlah tanggungan, dan jangka waktu
investasi .
3. Risk Requirement
(Kebutuhan Risiko)
Ini adalah seberapa besar risiko yang harus Anda ambil untuk
mencapai tujuan keuangan Anda. Jika tujuan Anda sederhana (misalnya: menabung
untuk liburan tahun depan), kebutuhan risikonya rendah. Cukup deposito atau
reksadana pasar uang.
Tapi jika tujuan Anda
ambisius (misalnya: menyiapkan dana pensiun Rp5 miliar dalam 15 tahun dengan tabungan
terbatas), Anda terpaksa mengambil risiko lebih tinggi karena
return dari deposito tidak akan pernah mencukupi .
Ilustrasi Kombinasi
Ketiga Komponen:
Bayangkan Anda dan teman Anda sama-sama akan menyebrangi sungai dengan jembatan
tali.
- Toleransi Risiko =
seberapa berani Anda secara mental (ada yang takut ketinggian, ada yang
cuek)
- Kapasitas Risiko =
apakah Anda bisa berenang jika jatuh? (yang bisa berenang punya kapasitas
lebih tinggi)
- Kebutuhan Risiko =
seberapa penting Anda harus sampai ke seberang? (jika ada rapat penting,
kebutuhannya tinggi)
Seorang investor yang
bijak adalah yang ketiga komponen ini selaras. Jangan sampai toleransi Anda
tinggi tapi kapasitas rendah (berani ambil risiko padahal tidak punya dana
cadangan). Juga jangan sampai kebutuhan risiko tinggi tapi toleransi rendah
(butuh return besar tapi panik setiap fluktuasi kecil).
Klasifikasi Profil Risiko Investor: Mana Tipe Anda?
Berdasarkan kombinasi
ketiga komponen di atas, investor umumnya diklasifikasikan ke dalam lima profil
risiko :
1. Risk Averse
(Menghindari Risiko)
- Tidak mau mengambil risiko investasi sama sekali
- Lebih memilih menjaga keamanan modal di deposito atau
tabungan
- Terima suku bunga rendah asal aman
- Cocok untuk: dana
darurat, kebutuhan jangka pendek (<1 tahun), investor mendekati pensiun
2. Conservative
(Konservatif)
- Ingin return sedikit di atas deposito
- Bersedia menerima risiko rendah dengan potensi kerugian
minimal
- Mayoritas portofolio di obligasi pemerintah dan
reksadana pendapatan tetap
- Cocok untuk: tujuan
1-3 tahun, investor yang tidak nyaman dengan fluktuasi
3. Moderate (Moderat)
- Menyeimbangkan pertumbuhan modal dan pendapatan rutin
- Portofolio seimbang antara saham (30-50%) dan
obligasi/deposito
- Paham bahwa nilai investasi bisa naik turun
- Cocok untuk: tujuan
3-7 tahun, investor dengan toleransi risiko sedang
4. Moderately Aggressive
(Cukup Agresif)
- Prioritas utama pada pertumbuhan modal jangka panjang
- Eksposur saham lebih besar (60-80%), sisanya
diversifikasi
- Siap menghadapi fluktuasi yang lebih tinggi
- Cocok untuk: tujuan
7-10 tahun, investor muda dengan penghasilan stabil
5. Aggressive (Agresif)
- Fokus utama pada pertumbuhan agresif jangka panjang
- Portofolio hampir seluruhnya (80-100%) di saham dan
instrumen berisiko tinggi
- Paham dan siap menerima potensi kerugian besar dalam
jangka pendek
- Cocok untuk: tujuan
10+ tahun, investor dengan kapasitas risiko tinggi
Peringatan penting: Profil risiko seseorang BUKAN tetap seumur
hidup. Seorang investor agresif di usia 25 tahun (masih lajang, penghasilan
terus naik) bisa berubah menjadi konservatif di usia 55 tahun (mendekati
pensiun, punya tanggungan keluarga). Lakukan evaluasi profil risiko secara
berkala, setidaknya setiap 2-3 tahun atau saat terjadi perubahan besar dalam
hidup (menikah, punya anak, pensiun).
Risiko Spesifik pada Berbagai Jenis Investasi
Agar lebih konkret, mari
kita lihat risiko-risiko spesifik pada beberapa instrumen investasi yang umum:
1. Risiko pada Obligasi
Korporasi
Berdasarkan materi dari Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI), investasi pada
obligasi korporasi memiliki enam jenis risiko utama: risiko kredit
(gagal bayar), risiko perubahan suku bunga, risiko ekonomi, risiko reinvestasi,
risiko penurunan peringkat, dan risiko likuiditas .
Yang paling ditakuti
adalah risiko kredit—ketika perusahaan penerbit obligasi tidak
mampu membayar kupon (bunga) dan pokok obligasi tepat waktu. Ini analog dengan
memberikan kredit kepada perusahaan; sebelum membeli obligasi korporasi,
investor wajib melakukan analisis fundamental seperti halnya bank menganalisis
debitur sebelum memberikan pinjaman .
2. Risiko pada Saham
Risiko utama saham adalah volatilitas harga yang tinggi. Seperti terlihat pada
contoh sebelumnya, satu saham bisa naik 50% di tahun bagus dan turun 22% di
tahun buruk . Selain itu, ada risiko likuiditas (susah dijual saat butuh),
risiko perusahaan (bangkrut), dan risiko pasar (seluruh saham turun).
3. Risiko pada Reksadana
Meskipun lebih terdiversifikasi, reksadana tetap memiliki risiko. Reksadana
saham memiliki risiko tinggi (karena isinya saham), reksadana pendapatan tetap
memiliki risiko menengah (dari obligasi), dan reksadana pasar uang memiliki
risiko rendah (dari deposito jangka pendek). Yang sering dilupakan: risiko
manajer investasi—bisa saja manajer investasi mengambil keputusan yang
buruk.
4. Risiko pada Investasi
Ilegal
Ini adalah risiko paling ekstrem: kehilangan 100% modal. Ciri-ciri
investasi ilegal berdasarkan OJK antara lain: iming-iming return tidak wajar
(di atas 10-15% per bulan), tidak berbadan hukum jelas, menggunakan sistem
ponzi atau money game (membayar investor lama dengan uang investor baru), dan
tidak ada produk nyata yang dijalankan .
Praktik Baik: Cara
Mengelola Risiko Sebelum Berinvestasi
Setelah semua teori di
atas, inilah panduan praktis yang bisa Anda terapkan sebelum memutuskan
berinvestasi:
Langkah 1: Kenali Tujuan
dan Jangka Waktu
Tanyakan pada diri sendiri: "Untuk apa saya berinvestasi? Kapan saya butuh
uang ini?" Jangan pernah investasikan dana yang Anda butuhkan dalam 1-2
tahun ke depan ke instrumen berisiko tinggi seperti saham .
Langkah 2: Kenali Profil
Risiko Diri
Lakukan kuesioner profil risiko di platform investasi terpercaya (biasanya
gratis). Jangan berbohong dalam menjawab—tidak ada yang melihat hasilnya selain
Anda sendiri.
Langkah 3: Lakukan
Diversifikasi, Jangan "All-in"
Jangan menaruh seluruh dana di satu instrumen. Kombinasikan berbagai aset
dengan karakter risiko berbeda .
Langkah 4: Verifikasi
Legalitas Sebelum Transfer
Ini langkah paling krusial untuk menghindari investasi bodong. Pastikan:
- Platform/broker terdaftar di OJK
- Produk investasi memiliki izin yang jelas
- Imbal hasil yang ditawarkan masuk akal (tidak 10-20%
per bulan)
- Jangan mudah percaya pada testimoni atau
"influencer"
Langkah 5: Siapkan Dana
Darurat Terlebih Dahulu
Sebelum berinvestasi, pastikan Anda memiliki dana darurat setara 3-6 bulan
pengeluaran. Dana darurat ini disimpan di tempat yang aman dan likuid (tabungan
atau reksadana pasar uang), BUKAN diinvestasikan ke saham atau aset berisiko
lainnya.
Langkah 6: Mulai dari
Kecil dan Belajar
Jangan langsung "all-in" jutaan rupiah ke instrumen yang belum Anda
pahami. Mulailah dengan nominal kecil, pelajari perilakunya, rasakan sendiri
naik-turunnya. Pengalaman langsung adalah guru terbaik.
Kesimpulan: Risiko Bukan Musuh, Tapi Tanda Bahaya yang Harus Dipahami
Mengakhiri tulisan yang
panjang ini, saya ingin mengajak Anda merefleksikan satu hal: risiko
bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, tapi sesuatu yang harus dipahami.
Sama seperti saat Anda
belajar menyetir mobil. Awalnya, Anda takut dengan tikungan tajam, takut dengan
jalanan basah, takut dengan mobil di depan yang tiba-tiba mengerem. Tapi
setelah Anda memahami cara mengerem yang benar, cara menikung dengan aman, dan
jarak aman dengan mobil lain—rasa takut itu berubah menjadi kewaspadaan
yang produktif.
Investasi pun demikian.
Ketika Anda sudah
memahami bahwa saham bisa turun 30% dalam sebulan, Anda tidak akan panik saat
itu benar-benar terjadi. Anda akan tenang karena sudah menyiapkan strategi.
Ketika Anda sudah
memahami bahwa iming-iming return 20% per bulan tidak masuk akal, Anda tidak
akan tergiur dan kehilangan tabungan puluhan atau ratusan juta.
Ketika Anda sudah
memahami profil risiko diri sendiri, Anda tidak akan terjebak dalam siklus
FOMO—beli di puncak karena iri melihat orang lain untung, lalu jual di dasar
karena panik.
Investasi yang bijak
bukanlah investasi yang menghasilkan return tertinggi. Investasi yang bijak
adalah investasi yang sesuai dengan profil risiko dan tujuan Anda,
sehingga Anda bisa tetap tenang dan konsisten dalam jangka panjang.
Karena pada akhirnya,
konsistensi—bukan keberuntungan—adalah kunci sebenarnya dari membangun
kekayaan.
Jadi sebelum transfer
uang ke "kesempatan investasi" berikutnya, tanyakan pada diri
sendiri: "Apakah saya benar-benar paham risikonya, atau saya hanya
terpesona dengan janji return-nya?"
Jawaban jujur atas
pertanyaan itu bisa menyelamatkan Anda dari kehilangan bertahun-tahun tabungan.
Salam Paham Risiko,
Pahupahu
Daftar Referensi
Nugraha, M. A. S., &
Wahyuni, N. W. (2025). Loss Aversion, Regret Aversion, Herding in Fraudulent
Investment Decisions Moderated by Financial Literacy. Keunis,
13(2), 188–210.
Nuzula, N. F., &
Nurlaily, F. (2020). Dasar-dasar Manajemen Investasi. Universitas
Brawijaya Press.
Rahmawati, A.
(2021). Buku Ajar Hukum Pasar Modal. Universitas Kristen Indonesia
Press.
Rohmah, S., &
Hidayat, W. (2021). Buku Ajar Manajemen Keuangan Dasar. Universitas
Negeri Malang.
Standard Chartered Bank.
(2025). Choosing Mutual Funds Wisely: The Importance of Risk Profiling.
Standard Chartered Wealth Insights.
Sumartini, N. K.
(2025). Pengaruh Mental Accounting, Regret Aversion Bias, dan Herding
Behaviour terhadap Pengambilan Keputusan Investasi pada Investor di Galeri
Investasi Politeknik Negeri Bali [Skripsi, Politeknik Negeri Bali].
Tim Asosiasi Dana
Pensiun Indonesia. (2025). Six Biggest Risks of Corporate Bonds.
Info ADPI Edisi Mei-Juni 2025.
Vishal Dhawan. (2019,
December 23). Is your risk profile really what you think it is? The
Economic Times.