Halo, teman-teman Pahupahu!
| Ikut Lomba Menulis atau Fotografi |
Kalau ngomongin lomba, pasti inget masa kecil dulu, ya? Lomba balap karung di 17-an, atau lomba makan kerupuk yang seru abis. Tapi gimana kalau lombanya sekarang udah "level up"? Kayak lomba menulis atau fotografi, misalnya. Denger namanya aja udah kayak, "Wah, itu kan buat yang jago-jago."
Nah, saya mau cerita
nih tentang pengalaman pertama ikut lomba menulis lokal — yang bikin
dag-dig-dug tapi ternyata jadi pintu masuk ke pengalaman seru lainnya. Plus,
saya juga bakal bagiin cerita beberapa teman yang nekat ikut lomba fotografi
padahal kamera cuma modal HP.
Spoiler alert:
hasilnya nggak selalu menang. Tapi justru di situlah serunya.
Awal Mula: Dorongan dari
Teman yang Nggak Bisa Ditolak
Ini berawal dari
group chat komunitas menulis online yang saya ikuti. Suatu hari, adminnya share
info tentang lomba menulis artikel bertema "Kearifan Lokal di
Sekitarku". Hadiahnya nggak seberapa, tapi yang bikin tertarik: pemenang
bakal diterbitin di media online lokal.
"Siapa nih yang
mau ikut? Yuk, kita sama-sama semangatin!" tulis adminnya.
Hati kecil saya
langsung protes. "Ah, mana berani. Pesaingnya pasti banyak yang jago.
Lagian nulis tema kearifan lokal? Aduh, berat deh." Tapi sebelum sempet
mundur, teman-teman di grup udah pada kasih semangat. Akhirnya, dengan modal
nekat plus deadline yang masih sebulan lagi, saya pun niatin untuk coba.
Proses Kreatif: Lebih
Berharga Dari Kemenangan
Inilah bagian yang
bikin saya jatuh cinta sama ikut lomba: prosesnya. Dari yang awalnya cuma modal
nekat, jadi harus benar-benar mikir, riset, dan eksekusi.
Fase 1:
Riset dan Galau Tema
Saya habisin seminggu
cuma buat tentuin mau nulis tentang apa. Kearifan lokal kan luas banget.
Akhirnya, saya putusin buat nulis tentang tradisi "mapag Sri" di
sawah dekat rumah nenek dulu — tradisi menyambut panen yang sekarang udah mulai
jarang dilakukan. Riset kecil-kecilan via Google, ditambah tanya-tanya ke orang
tua, bikin saya kayak lagi jadi detektif budaya. Seru!
Fase 2:
Menulis dan Rewrite
Draft pertama kelar
dalam 3 hari. Tapi pas dibaca ulang... ah, rasanya biasa banget. Nggak ada
"roh"-nya. Akhirnya, saya coba teknik baru: nulis sambil bayangin
saya lagi cerita ke temen langsung. Gaya bahasanya dibuat lebih santai, kayak
di blog ini. Dan ternyata, lebih enak dibaca! Saya rewrite total dua kali
sebelum akhirnya merasa percaya diri buat submit.
Fase 3:
Submit dan Pasrah
Tombol
"submit" itu yang paling mendebarkan. Setelah diklik, rasanya campur
aduk: lega, khawatir, tapi juga bangga karena udah berani nyoba. Sementara
nunggu pengumuman, saya coba ikutan lomba lain — biar nggak kebanyakan mikirin
satu lomba aja.
Kisah Paralel: Teman yang
Nekat Ikut Lomba Fotografi
Sementara nunggu
pengumuman lomba menulis, saya ngobrol sama Rara, temen komunitas yang baru aja
ikut lomba fotografi tingkat kota. Ceritanya lucu sekaligus inspiring.
Rara bukan fotografer
profesional. Kamera andalannya cuma HP jadul yang kameranya 12 MP. Tapi dia
punya kelebihan: mata yang jeli lihat detail sehari-hari. Lombanya bertema
"Warna-Warni Kota".
"Gue ikut karena
pengen punya alasan buat explore kota lebih dalem," cerita Rara.
"Tiap weekend, gue jalan-jalan ke pasar tradisional, perkampungan, sama
sudut-sudut kota yang biasanya gue lewatin doang."
Hasilnya? Dia submit
foto close-up pedagang sirih di pasar yang lagi ngatur daun-daun sirih berwarna
hijau segar, dikombinasin dengan kain alas berwarna merah. Kontras warna yang
simple tapi powerful.
Dan tau nggak? Dia
nggak menang juara. Tapi fotonya masuk 10 besar, dan dipajang di galeri virtual
panitia. Yang lebih keren: salah satu peserta lain yang fotografer profesional
ngasih tau dia kalo komposisi fotonya bagus, cuma kurang di editing aja. Mereka
akhirnya berteman, dan sekarang Rara lagi belajar teknik editing dasar dari
dia.
"Menang nggak
menang itu bonus," kata Rara. "Yang penting, gue jadi punya portfolio
pertama, punya temen baru yang sehobi, dan yang pasti, mata gue jadi lebih peka
liat keindahan di sekitar."
Manfaat Ikut Lomba yang
Nggak Tergantikan
Dari pengalaman saya
dan Rara (dan banyak temen lain), ada beberapa manfaat ikut lomba yang nggak
bakal didapetin kalau cuma diam:
1.
Deadline Jadi Motivator Ampuh
Kita semua punya ide
"suatu hari nanti mau nulis tentang..." atau "pengen ambil foto
itu...". Tapi "suatu hari" itu sering nggak pernah dateng.
Deadline lomba memaksa kita buat eksekusi. It's now or never!
2.
Keluar dari Zona Nyaman dan Gaya Sendiri
Saya biasanya nulis
santai kayak gini. Tapi untuk lomba, saya musti adaptasi sama ketentuan
panitia, tema spesifik, dan mungkin tone yang sedikit berbeda. Hasilnya? Skill
nulis jadi lebih fleksibel. Sama kayak Rara yang belajar komposisi foto secara
nggak langsung.
3.
Dapat Feedback (Resmi atau Nggak)
Walau nggak menang,
kadang kita bisa intip karya pemenang. Dari situ, kita bisa belajar: "Oh,
pemenangnya nulis dari sudut pandang ini ya," atau "Fotonya kuat di
angle ini." Itu feedback berharga banget.
4.
Portfolio Pertama yang "Legal"
Karya yang dilombakan
itu kayak cap resmi bahwa kita serius. Buat yang pengen jadi penulis atau
fotografer, ikut lomba (apalagi kalau menang atau masuk nominasi) itu bikin CV
atau portfolio jadi ada isinya.
5.
Komunitas Baru
Sering banget,
peserta lomba itu dikumpulin di group khusus. Dari situ, kita kenal orang-orang
yang sejalan. Saya sampe sekarang masih kontakan sama beberapa peserta lomba
menulis dulu — kita saling support tiap ada lomba baru.
6.
Eksplorasi Diri
Ikut lomba bikin kita
lebih kenal sama diri sendiri: sejauh mana kemampuan kita, di mana kelemahan
kita, sama sebenarnya kita passionate di bagian apa. Rara jadi tahu kalo dia
jeli di detail kehidupan sehari-hari, sementara saya sadar kalo saya lebih kuat
nulis narasi personal.
Tips Buat Pemula yang Mau
Coba
Buat kalian yang
kepikiran mau ikut lomba tapi masih ragu, ini tips dari kami yang udah
"terlanjur" nyoba:
1.
Mulai dari yang Kecil dan Spesifik
Jangan langsung
targetin lomba nasional bergengsi. Cari yang lokal dulu, hadiahnya sederhana,
atau tema yang sesuai sama minat kita. Lomba blog, lomba foto ., atau lomba
menulis cerpen pendek itu starting point yang bagus.
2. Baca
Ketentuan Baik-Baik
Ini penting banget!
Panjang naskah, format file, tema, deadline — baca berkali-kali. Jangan sampe
karya kita gugur karena nggak sesuai ketentuan teknis. Rara cerita, ada peserta
yang fotonya bagus tapi didiskualifikasi karena editannya melebihi batas yang
ditentukan.
3.
Originalitas adalah Kunci
Ini nasihat dari juri
lomba menulis yang pernah saya baca: "Kami bisa bedain mana yang dari hati
dan mana yang cuma ikut-ikutan." Tulis atau ambil foto tentang sesuatu
yang benar-benar kalian pahami dan rasakan. Keaslian itu keliatan banget.
4.
Jangan Terlalu Fokus Sama Hadiah
Fokus ke proses
belajar dan eksplorasinya. Hadiah itu bonus. Kalau dari awal udah mikir
"pengen menang biar dapet uang", tekanan nya jadi gede banget.
5.
Submit dan Lupakan (Sesaat)
Setelah submit, coba
alihkan perhatian. Kerjain project lain, atau ikut lomba lain. Jangan dicek
email terus-terusan nunggu pengumuman. Biar nggak stres.
6.
Analisis Karya Pemenang
Pas pengumuman
keluar, cek karya yang menang. Coba analisis: kenapa karya ini menang? Apa
kelebihannya? Bukan untuk nyontek, tapi untuk belajar.
Bagaimana Dengan Hasil Lomba
Saya?
Oke, mungkin kalian
penasaran: saya menang nggak?
Jawabannya: nggak.
Saya cuma masuk 15 besar dari ratusan peserta. Tapi ceritanya nggak berhenti di
situ.
Beberapa hari setelah
pengumuman, saya dapet email dari panitia. Isinya kurang lebih: "Karya
Anda tidak menang, tapi kami tertarik dengan gaya penulisan Anda yang personal.
Apakah berminat untuk jadi kontributor tetap di media kami dengan topik
serupa?"
Dan itu... bikin saya
terkejut sekaligus seneng. Dari situlah, saya mulai nulis secara rutin untuk
mereka — dengan bayaran tentunya. Jadi, walau nggak menang lomba, saya dapet
"jalan lain" yang nggak kalah keren.
Penutup: Sebuah Ajakan untuk
Berani Coba
Teman-teman Pahupahu,
ikut lomba itu kayak naik roller coaster. Deg-degan di awal, excited pas
proses, tegang nunggu hasil, dan puas di akhir — apapun hasilnya.
Yang perlu diingat:
setiap lomba itu punya dua jenis pemenang. Pemenang resmi yang
dapet piala dan hadiah. Dan pemenang tidak resmi — yaitu kita
yang berani coba, yang belajar sesuatu baru, yang punya cerita buat dibagi, dan
yang nambah satu karya di portfolio.
Jadi, apa ada lomba
menulis atau fotografi yang lagi kalian incer tapi masih ragu? Atau mungkin ada
tema yang pengen banget kalian tulis atau abadikan lewat foto?
Ambil kesempatan itu.
Klik tombol "submit" itu. Karena sejujurnya, rasa sesal karena nggak
nyoba itu lebih lama nempelnya daripada rasa kecewa karena nggak menang.
Siapa tahu, di balik
tombol "submit" itu, ada pintu baru yang nunggu buat dibuka — kayak
pengalaman saya dan Rara.
Yuk, share di komentar
kalau kalian punya pengalaman ikut lomba yang seru atau lucu! Atau kalau lagi
galau milih lomba, siapa tau kita bisa diskusi.
Sampai ketemu di
tulisan berikutnya, dan siapa tau, kita bisa jadi peserta lomba yang sama suatu
hari nanti!