BAGIAN I: LITERASI
KEUANGAN DASAR
19. Pelajaran Keuangan
yang Jarang Diajarkan di Sekolah
"Kita
belajar matematika, fisika, sejarah, dan berbagai ilmu lainnya di sekolah.
Namun ketika mulai menerima gaji pertama, membayar tagihan, mengelola utang,
atau merencanakan masa depan, banyak orang merasa kebingungan. Mengapa? Karena
ada pelajaran penting yang sering luput diajarkan secara mendalam: pelajaran
tentang uang."
Sekolah memiliki peran besar dalam
membentuk pengetahuan dan karakter seseorang. Melalui pendidikan formal, kita belajar
membaca, menulis, berhitung, berpikir kritis, dan memahami berbagai fenomena
sosial maupun ilmiah. Namun, ada satu keterampilan hidup yang sering kali baru
dipelajari setelah seseorang memasuki dunia kerja, yaitu kemampuan mengelola
keuangan pribadi.
Akibatnya,
banyak orang dewasa yang memiliki pendidikan tinggi tetapi masih kesulitan
mengatur pengeluaran, terjebak utang konsumtif, tidak memiliki dana darurat,
bahkan tidak memahami cara berinvestasi dengan benar.
Padahal,
keputusan keuangan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Setiap orang
akan berhadapan dengan pilihan finansial, mulai dari mengatur uang saku,
menabung, membeli rumah, membayar pajak, hingga mempersiapkan dana pensiun.
Organisasi
untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menjelaskan bahwa literasi
keuangan merupakan kombinasi pengetahuan, keterampilan, sikap, dan perilaku
yang memungkinkan seseorang mengambil keputusan keuangan yang baik demi
kesejahteraan hidupnya. OECD juga menemukan bahwa individu dengan tingkat
literasi keuangan yang lebih tinggi cenderung memiliki kesejahteraan dan
ketahanan finansial yang lebih baik.
Lalu,
pelajaran keuangan apa saja yang sebenarnya sangat penting tetapi masih jarang
diajarkan secara sistematis di sekolah?
1. Cara Membuat dan
Mengelola Anggaran Keuangan
Sebagian
besar siswa belajar menghitung luas bangun datar atau menyelesaikan persamaan
matematika. Namun, tidak banyak yang diajarkan cara menyusun anggaran keuangan
pribadi.
Padahal,
kemampuan membuat anggaran merupakan dasar dari kesehatan finansial.
Anggaran membantu seseorang mengetahui:
- Berapa uang yang dimiliki.
- Berapa uang yang dibelanjakan.
- Berapa yang dapat ditabung.
- Berapa yang dapat diinvestasikan.
Ilustrasi Sederhana
Seorang mahasiswa menerima uang saku
Rp1.500.000 per bulan.
Tanpa anggaran:
- Minggu pertama: Rp700.000
habis untuk nongkrong dan belanja.
- Minggu kedua: mulai kesulitan.
- Minggu ketiga dan keempat: harus meminjam uang.
Dengan anggaran:
- Kebutuhan makan: Rp800.000
- Transportasi: Rp200.000
- Tabungan: Rp200.000
- Kebutuhan lain: Rp300.000
Hasilnya jauh lebih terkontrol.
Sayangnya,
keterampilan sederhana ini sering dipelajari melalui pengalaman dan kesalahan,
bukan melalui pendidikan formal.
2. Perbedaan Antara
Kebutuhan dan Keinginan
Banyak
masalah keuangan muncul karena seseorang tidak mampu membedakan kebutuhan dan
keinginan.
Kebutuhan adalah sesuatu yang harus
dipenuhi agar kehidupan berjalan dengan baik.
Contohnya:
- Makanan.
- Tempat tinggal.
- Pendidikan.
- Kesehatan.
Sementara keinginan adalah sesuatu yang
menyenangkan tetapi tidak selalu harus dimiliki.
Contohnya:
- Telepon genggam terbaru.
- Barang bermerek.
- Liburan mewah.
- Aksesori mahal.
Di era
media sosial, kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan menjadi semakin
penting karena masyarakat terus dibombardir oleh iklan dan tren konsumsi.
3. Cara Kerja Utang
Banyak
orang baru memahami risiko utang ketika sudah terlanjur memiliki cicilan yang
memberatkan.
Padahal,
memahami utang seharusnya menjadi bagian dari pendidikan dasar.
Yang
perlu dipahami bukan hanya cara meminjam uang, tetapi juga:
- Bunga pinjaman.
- Risiko gagal bayar.
- Dampak skor kredit.
- Perbedaan utang produktif dan konsumtif.
Ilustrasi
Dua orang meminjam Rp10 juta.
Orang pertama menggunakan pinjaman
untuk modal usaha yang menghasilkan keuntungan.
Orang kedua menggunakan pinjaman untuk
membeli barang konsumtif yang nilainya terus menurun.
Meskipun jumlah pinjamannya sama, hasil
akhirnya sangat berbeda.
Pelajaran semacam ini sangat penting
agar generasi muda tidak mudah terjebak dalam utang yang tidak produktif.
4. Pentingnya Dana Darurat
Ketika masih sekolah, banyak orang
beranggapan bahwa kehidupan akan selalu berjalan normal.
Padahal kenyataannya tidak demikian.
Kehilangan pekerjaan, sakit, bencana
alam, atau kebutuhan keluarga yang mendadak dapat terjadi kapan saja.
Dana darurat adalah tabungan khusus
yang digunakan untuk menghadapi situasi tidak terduga.
Sayangnya, konsep ini jarang dibahas
dalam pendidikan formal.
Padahal banyak krisis keuangan keluarga
terjadi bukan karena kurangnya penghasilan, melainkan karena tidak adanya dana
cadangan saat keadaan darurat muncul.
5. Cara Kerja Investasi
Ketika mendengar kata investasi,
sebagian orang langsung membayangkan saham, properti, atau keuntungan besar.
Padahal inti investasi jauh lebih sederhana.
Investasi adalah proses menempatkan
uang atau sumber daya saat ini untuk memperoleh manfaat yang lebih besar di
masa depan.
Pelajaran
yang seharusnya diajarkan meliputi:
- Risiko dan keuntungan investasi.
- Diversifikasi.
- Inflasi.
- Investasi jangka panjang.
- Efek bunga majemuk (compound growth).
Banyak anak muda yang menjadi korban
investasi bodong karena memahami janji keuntungan, tetapi tidak memahami
risiko.
Penelitian
menunjukkan bahwa literasi keuangan berpengaruh terhadap kualitas keputusan
investasi dan perilaku pengelolaan keuangan seseorang.
6. Uang Tidak Hanya Soal
Matematika, Tetapi Juga Psikologi
Ini
adalah pelajaran yang sangat jarang dibahas.
Banyak
keputusan keuangan sebenarnya tidak dibuat berdasarkan logika semata.
Orang sering membeli sesuatu karena:
- Takut ketinggalan tren.
- Ingin dianggap sukses.
- Terpengaruh teman.
- Sedang stres atau sedih.
Dalam ilmu perilaku keuangan (behavioral
finance), kondisi emosional sering memengaruhi cara seseorang menggunakan
uang.
Ilustrasi
Ketika sedang sedih, seseorang membuka
aplikasi belanja daring dan membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
Beberapa
hari kemudian, ia menyesal karena uangnya berkurang.
Masalahnya
bukan pada kurangnya uang, melainkan kurangnya pengendalian emosi.
Pelajaran
mengenai hubungan antara emosi dan keuangan sangat penting untuk membangun
perilaku finansial yang sehat.
7. Cara Menghitung Biaya
Hidup Nyata
Ketika
masih sekolah, jarang ada mata pelajaran yang mengajarkan berapa sebenarnya
biaya hidup seorang dewasa.
Padahal setelah lulus, seseorang akan
menghadapi berbagai kebutuhan seperti:
- Sewa rumah.
- Listrik.
- Air.
- Internet.
- Transportasi.
- Pajak.
- Asuransi.
Akibatnya, banyak lulusan baru yang
terkejut ketika mengetahui bahwa penghasilan pertama mereka harus dibagi ke
banyak kebutuhan.
Pelajaran
tentang biaya hidup dapat membantu siswa mempersiapkan diri menghadapi dunia
nyata.
8. Pentingnya Pajak dalam Kehidupan
Pajak sering dianggap sebagai urusan
orang dewasa.
Padahal hampir semua warga negara akan
berhubungan dengan pajak dalam berbagai bentuk.
Banyak orang baru belajar tentang:
- Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
- Pelaporan pajak.
- Pajak penghasilan.
- Pajak usaha.
setelah memasuki dunia kerja.
Dalam berbagai diskusi masyarakat,
pajak termasuk salah satu keterampilan praktis yang paling sering disebut
sebagai hal yang seharusnya diperkenalkan sejak sekolah.
9. Cara Merencanakan Masa
Depan Finansial
Sekolah
sering mengajarkan pentingnya memiliki cita-cita.
Namun,
tidak banyak yang mengajarkan cara membiayai cita-cita tersebut.
Misalnya:
- Berapa biaya kuliah?
- Berapa dana yang diperlukan untuk membuka usaha?
- Bagaimana menyiapkan dana pernikahan?
- Bagaimana mempersiapkan dana pensiun?
Perencanaan
keuangan membantu seseorang menerjemahkan impian menjadi langkah-langkah yang
realistis.
10. Uang Harus Bekerja
untuk Kita
Sebagian
besar orang diajarkan bahwa cara memperoleh uang adalah bekerja.
Itu
benar.
Namun
ada pelajaran lanjutan yang jarang diajarkan:
Bagaimana membuat uang ikut
bekerja untuk kita.
Hal ini dapat dilakukan melalui:
- Investasi.
- Aset produktif.
- Usaha.
- Dividen.
- Pendapatan pasif lainnya.
Konsep ini penting karena kemampuan
bekerja memiliki batas, sedangkan aset produktif dapat terus menghasilkan nilai
dalam jangka panjang.
Mengapa Pelajaran Ini
Penting?
Dunia
saat ini jauh berbeda dibanding beberapa dekade lalu.
Generasi muda menghadapi:
- Kemudahan akses kredit digital.
- Investasi berbasis aplikasi.
- Perdagangan elektronik.
- Risiko penipuan finansial daring.
- Berbagai produk keuangan yang semakin kompleks.
OECD menegaskan bahwa digitalisasi dan
berkembangnya produk keuangan modern membuat literasi keuangan menjadi semakin
penting bagi masyarakat.
Karena itu, kemampuan mengelola uang
bukan lagi keterampilan tambahan, melainkan kebutuhan hidup.
Bahkan berbagai negara mulai mendorong
integrasi literasi keuangan dalam sistem pendidikan karena rendahnya kemampuan
finansial masyarakat dapat berdampak pada kesejahteraan individu maupun ekonomi
nasional.
Penutup
Sekolah telah memberikan banyak bekal
ilmu yang berharga. Namun kenyataannya, masih ada sejumlah pelajaran keuangan
penting yang sering kali belum diajarkan secara mendalam. Akibatnya, banyak
orang memasuki dunia dewasa tanpa memahami cara mengelola uang, membangun
tabungan, menghindari utang yang berbahaya, atau mempersiapkan masa depan finansial
mereka.
Pelajaran tentang anggaran, investasi,
dana darurat, pajak, perilaku konsumsi, dan perencanaan keuangan sesungguhnya
merupakan keterampilan hidup yang akan digunakan sepanjang hayat. Semakin cepat
seseorang mempelajarinya, semakin besar peluangnya untuk mencapai kondisi
keuangan yang sehat dan stabil.
Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan
hanya menciptakan individu yang cerdas secara akademik, tetapi juga individu
yang mampu mengambil keputusan bijak dalam kehidupan nyata. Dan salah satu keputusan
terpenting yang akan terus dihadapi setiap orang adalah keputusan mengenai
uang.
Daftar Pustaka
Lusardi, A. (2019). Financial literacy
and the need for financial education: Evidence and implications. Swiss
Journal of Economics and Statistics, 155(1), 1–8.
OECD. (2023). OECD/INFE 2023
International Survey of Adult Financial Literacy. Paris: OECD Publishing.
OECD. (2024). Financial Education.
Organisation for Economic Co-operation and Development. Retrieved from https://www.oecd.org
Pranata, T. Y., & Widoatmodjo, S.
(2023). Pengaruh pendapatan, literasi keuangan, dan sikap keuangan terhadap
perilaku pengelolaan keuangan orang dewasa belum menikah di DKI Jakarta. Jurnal
Manajemen Bisnis dan Kewirausahaan, 7(4).
Thomas, G. N., Nur, S. M. R., &
Indriaty, L. (2024). The Impact of Financial Literacy, Social Capital, and
Financial Technology on Financial Inclusion of Indonesian Students. arXiv
Preprint.
Pakpahan, T. F., Retta, A. M., &
Nopriyanti, T. D. (2023). Analisis Materi Aritmetika Sosial Menggunakan Konteks Literasi
Finansial. Supremum Journal of Mathematics
Education, 7(1), 1–14.
Direktorat Sekolah Dasar Kemendikbudristek. (2023).
Literasi Finansial dalam Pendidikan Dasar. Jakarta: Kementerian Pendidikan,
Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.