Rabu, 25 Februari 2026

Ikut Lomba Menulis atau Fotografi: Dari "Ah, Mana Berani!" Sampai "Eh, Kok Menang Sih?"

Halo, teman-teman Pahupahu!

Ikut Lomba Menulis atau Fotografi

Kalau ngomongin lomba, pasti inget masa kecil dulu, ya? Lomba balap karung di 17-an, atau lomba makan kerupuk yang seru abis. Tapi gimana kalau lombanya sekarang udah "level up"? Kayak lomba menulis atau fotografi, misalnya. Denger namanya aja udah kayak, "Wah, itu kan buat yang jago-jago."

Nah, saya mau cerita nih tentang pengalaman pertama ikut lomba menulis lokal — yang bikin dag-dig-dug tapi ternyata jadi pintu masuk ke pengalaman seru lainnya. Plus, saya juga bakal bagiin cerita beberapa teman yang nekat ikut lomba fotografi padahal kamera cuma modal HP.

Spoiler alert: hasilnya nggak selalu menang. Tapi justru di situlah serunya.

Awal Mula: Dorongan dari Teman yang Nggak Bisa Ditolak

Ini berawal dari group chat komunitas menulis online yang saya ikuti. Suatu hari, adminnya share info tentang lomba menulis artikel bertema "Kearifan Lokal di Sekitarku". Hadiahnya nggak seberapa, tapi yang bikin tertarik: pemenang bakal diterbitin di media online lokal.

"Siapa nih yang mau ikut? Yuk, kita sama-sama semangatin!" tulis adminnya.

Hati kecil saya langsung protes. "Ah, mana berani. Pesaingnya pasti banyak yang jago. Lagian nulis tema kearifan lokal? Aduh, berat deh." Tapi sebelum sempet mundur, teman-teman di grup udah pada kasih semangat. Akhirnya, dengan modal nekat plus deadline yang masih sebulan lagi, saya pun niatin untuk coba.

Proses Kreatif: Lebih Berharga Dari Kemenangan

Inilah bagian yang bikin saya jatuh cinta sama ikut lomba: prosesnya. Dari yang awalnya cuma modal nekat, jadi harus benar-benar mikir, riset, dan eksekusi.

Fase 1: Riset dan Galau Tema

Saya habisin seminggu cuma buat tentuin mau nulis tentang apa. Kearifan lokal kan luas banget. Akhirnya, saya putusin buat nulis tentang tradisi "mapag Sri" di sawah dekat rumah nenek dulu — tradisi menyambut panen yang sekarang udah mulai jarang dilakukan. Riset kecil-kecilan via Google, ditambah tanya-tanya ke orang tua, bikin saya kayak lagi jadi detektif budaya. Seru!

Fase 2: Menulis dan Rewrite

Draft pertama kelar dalam 3 hari. Tapi pas dibaca ulang... ah, rasanya biasa banget. Nggak ada "roh"-nya. Akhirnya, saya coba teknik baru: nulis sambil bayangin saya lagi cerita ke temen langsung. Gaya bahasanya dibuat lebih santai, kayak di blog ini. Dan ternyata, lebih enak dibaca! Saya rewrite total dua kali sebelum akhirnya merasa percaya diri buat submit.

Fase 3: Submit dan Pasrah

Tombol "submit" itu yang paling mendebarkan. Setelah diklik, rasanya campur aduk: lega, khawatir, tapi juga bangga karena udah berani nyoba. Sementara nunggu pengumuman, saya coba ikutan lomba lain — biar nggak kebanyakan mikirin satu lomba aja.

Kisah Paralel: Teman yang Nekat Ikut Lomba Fotografi

Sementara nunggu pengumuman lomba menulis, saya ngobrol sama Rara, temen komunitas yang baru aja ikut lomba fotografi tingkat kota. Ceritanya lucu sekaligus inspiring.

Rara bukan fotografer profesional. Kamera andalannya cuma HP jadul yang kameranya 12 MP. Tapi dia punya kelebihan: mata yang jeli lihat detail sehari-hari. Lombanya bertema "Warna-Warni Kota".

"Gue ikut karena pengen punya alasan buat explore kota lebih dalem," cerita Rara. "Tiap weekend, gue jalan-jalan ke pasar tradisional, perkampungan, sama sudut-sudut kota yang biasanya gue lewatin doang."

Hasilnya? Dia submit foto close-up pedagang sirih di pasar yang lagi ngatur daun-daun sirih berwarna hijau segar, dikombinasin dengan kain alas berwarna merah. Kontras warna yang simple tapi powerful.

Dan tau nggak? Dia nggak menang juara. Tapi fotonya masuk 10 besar, dan dipajang di galeri virtual panitia. Yang lebih keren: salah satu peserta lain yang fotografer profesional ngasih tau dia kalo komposisi fotonya bagus, cuma kurang di editing aja. Mereka akhirnya berteman, dan sekarang Rara lagi belajar teknik editing dasar dari dia.

"Menang nggak menang itu bonus," kata Rara. "Yang penting, gue jadi punya portfolio pertama, punya temen baru yang sehobi, dan yang pasti, mata gue jadi lebih peka liat keindahan di sekitar."

Manfaat Ikut Lomba yang Nggak Tergantikan

Dari pengalaman saya dan Rara (dan banyak temen lain), ada beberapa manfaat ikut lomba yang nggak bakal didapetin kalau cuma diam:

1. Deadline Jadi Motivator Ampuh

Kita semua punya ide "suatu hari nanti mau nulis tentang..." atau "pengen ambil foto itu...". Tapi "suatu hari" itu sering nggak pernah dateng. Deadline lomba memaksa kita buat eksekusi. It's now or never!

2. Keluar dari Zona Nyaman dan Gaya Sendiri

Saya biasanya nulis santai kayak gini. Tapi untuk lomba, saya musti adaptasi sama ketentuan panitia, tema spesifik, dan mungkin tone yang sedikit berbeda. Hasilnya? Skill nulis jadi lebih fleksibel. Sama kayak Rara yang belajar komposisi foto secara nggak langsung.

3. Dapat Feedback (Resmi atau Nggak)

Walau nggak menang, kadang kita bisa intip karya pemenang. Dari situ, kita bisa belajar: "Oh, pemenangnya nulis dari sudut pandang ini ya," atau "Fotonya kuat di angle ini." Itu feedback berharga banget.

4. Portfolio Pertama yang "Legal"

Karya yang dilombakan itu kayak cap resmi bahwa kita serius. Buat yang pengen jadi penulis atau fotografer, ikut lomba (apalagi kalau menang atau masuk nominasi) itu bikin CV atau portfolio jadi ada isinya.

5. Komunitas Baru

Sering banget, peserta lomba itu dikumpulin di group khusus. Dari situ, kita kenal orang-orang yang sejalan. Saya sampe sekarang masih kontakan sama beberapa peserta lomba menulis dulu — kita saling support tiap ada lomba baru.

6. Eksplorasi Diri

Ikut lomba bikin kita lebih kenal sama diri sendiri: sejauh mana kemampuan kita, di mana kelemahan kita, sama sebenarnya kita passionate di bagian apa. Rara jadi tahu kalo dia jeli di detail kehidupan sehari-hari, sementara saya sadar kalo saya lebih kuat nulis narasi personal.

Tips Buat Pemula yang Mau Coba

Buat kalian yang kepikiran mau ikut lomba tapi masih ragu, ini tips dari kami yang udah "terlanjur" nyoba:

1. Mulai dari yang Kecil dan Spesifik

Jangan langsung targetin lomba nasional bergengsi. Cari yang lokal dulu, hadiahnya sederhana, atau tema yang sesuai sama minat kita. Lomba blog, lomba foto ., atau lomba menulis cerpen pendek itu starting point yang bagus.

2. Baca Ketentuan Baik-Baik

Ini penting banget! Panjang naskah, format file, tema, deadline — baca berkali-kali. Jangan sampe karya kita gugur karena nggak sesuai ketentuan teknis. Rara cerita, ada peserta yang fotonya bagus tapi didiskualifikasi karena editannya melebihi batas yang ditentukan.

3. Originalitas adalah Kunci

Ini nasihat dari juri lomba menulis yang pernah saya baca: "Kami bisa bedain mana yang dari hati dan mana yang cuma ikut-ikutan." Tulis atau ambil foto tentang sesuatu yang benar-benar kalian pahami dan rasakan. Keaslian itu keliatan banget.

4. Jangan Terlalu Fokus Sama Hadiah

Fokus ke proses belajar dan eksplorasinya. Hadiah itu bonus. Kalau dari awal udah mikir "pengen menang biar dapet uang", tekanan nya jadi gede banget.

5. Submit dan Lupakan (Sesaat)

Setelah submit, coba alihkan perhatian. Kerjain project lain, atau ikut lomba lain. Jangan dicek email terus-terusan nunggu pengumuman. Biar nggak stres.

6. Analisis Karya Pemenang

Pas pengumuman keluar, cek karya yang menang. Coba analisis: kenapa karya ini menang? Apa kelebihannya? Bukan untuk nyontek, tapi untuk belajar.

Bagaimana Dengan Hasil Lomba Saya?

Oke, mungkin kalian penasaran: saya menang nggak?

Jawabannya: nggak. Saya cuma masuk 15 besar dari ratusan peserta. Tapi ceritanya nggak berhenti di situ.

Beberapa hari setelah pengumuman, saya dapet email dari panitia. Isinya kurang lebih: "Karya Anda tidak menang, tapi kami tertarik dengan gaya penulisan Anda yang personal. Apakah berminat untuk jadi kontributor tetap di media kami dengan topik serupa?"

Dan itu... bikin saya terkejut sekaligus seneng. Dari situlah, saya mulai nulis secara rutin untuk mereka — dengan bayaran tentunya. Jadi, walau nggak menang lomba, saya dapet "jalan lain" yang nggak kalah keren.

Penutup: Sebuah Ajakan untuk Berani Coba

Teman-teman Pahupahu, ikut lomba itu kayak naik roller coaster. Deg-degan di awal, excited pas proses, tegang nunggu hasil, dan puas di akhir — apapun hasilnya.

Yang perlu diingat: setiap lomba itu punya dua jenis pemenang. Pemenang resmi yang dapet piala dan hadiah. Dan pemenang tidak resmi — yaitu kita yang berani coba, yang belajar sesuatu baru, yang punya cerita buat dibagi, dan yang nambah satu karya di portfolio.

Jadi, apa ada lomba menulis atau fotografi yang lagi kalian incer tapi masih ragu? Atau mungkin ada tema yang pengen banget kalian tulis atau abadikan lewat foto?

Ambil kesempatan itu. Klik tombol "submit" itu. Karena sejujurnya, rasa sesal karena nggak nyoba itu lebih lama nempelnya daripada rasa kecewa karena nggak menang.

Siapa tahu, di balik tombol "submit" itu, ada pintu baru yang nunggu buat dibuka — kayak pengalaman saya dan Rara.

Yuk, share di komentar kalau kalian punya pengalaman ikut lomba yang seru atau lucu! Atau kalau lagi galau milih lomba, siapa tau kita bisa diskusi.

Sampai ketemu di tulisan berikutnya, dan siapa tau, kita bisa jadi peserta lomba yang sama suatu hari nanti!

Penulis adalah peserta lomba yang jarang menang tapi selalu dapat pelajaran, dan percaya bahwa keberanian mencoba itu sudah merupakan kemenangan tersendiri. Follow . @catatanpahupahu untuk cerita-cerita tentang petualangan kreatif lainnya.



Selasa, 24 Februari 2026

Kegiatan Relawan Digital: Menjadi Pahlawan dari Balik Layar, Pakai Kaos Nyaman dan Kopi Hangat

Halo, teman-teman Pahupahu!

Kegiatan Relawan Digital

Pernah nggak sih, scrolling timeline media sosial terus nemu konten tentang aksi sosial, bantuan bencana, atau donasi online, lalu hati kecil bertanya, “Apa ya yang bisa aku lakukan? Aku cuma punya laptop dan kuota internet.”

Beberapa tahun lalu, saya juga punya pertanyaan yang sama. Sampai akhirnya, saya nemu jawabannya: jadi relawan digital.

Dan jujur, ini mungkin salah satu bentuk “kepahlawanan” paling nyaman yang pernah saya coba — karena bisa dilakukan sambil pakai piyama, duduk di sofa, dengan segelas kopi hangat di tangan. Tapi dampaknya? Nggak kalah serius sama relawan yang turun langsung ke lapangan.

Awal Mula: Dari “Silent Reader” Jadi “Klik Aktivist”

Ceritanya berawal pas pandemi dulu. Saya yang biasanya aktif di kegiatan komunitas langsung, tiba-tiba harus di rumah aja. Rasanya kayak kehilangan “suara”. Sampai suatu hari, saya ikut webinar tentang digital volunteering yang diadain sama sebuah NGO lokal.

Intinya: mereka butuh bantuan untuk menyebarkan informasi kesehatan yang akurat lewat media sosial. Tugasnya? Bikin thread Twitter yang mudah dicerna, desain infografis sederhana, dan bantu moderasi grup WhatsApp.

“Ah, ini mah saya bisa,” pikir saya. Modal cuma laptop, Canva gratis, dan kuota internet.

Daftarnya gampang banget. Cuma isi Google Form, ikut briefing online 1 jam, lalu langsung dapat “misi” pertama. Nggak pakai seragam, nggak ada janji muluk-muluk, tapi ada rasa tanggung jawab yang bikin excited.

Apa Sih Relawan Digital Itu Sebenarnya?

Singkatnya: relawan digital adalah mereka yang menyumbangkan waktu, keterampilan digital, dan akses internetnya untuk mendukung berbagai cause sosial — tanpa harus keluar rumah.

Bentuknya beragam banget:

·         Content warrior: Bikin konten edukatif, infografis, atau video pendek

·         Data ninja: Bantu input data donasi, survei, atau pendataan penerima bantuan

·         Social media guardian: Manage akun media sosial, reply DM, atau sebarkan kampanye

·         Tech supporter: Bantu maintain website, bikin tool sederhana, atau troubleshooting online

·         Digital translator: Menerjemahkan dokumen atau konten untuk audiens global

·         Crowdfunding companion: Bantu galang dana online atau manage platform donasi

Yang keren: kita bisa pilih sesuai “kekuatan” digital kita. Saya yang jago nggak banget di desain, milih jadi content writer dan thread maker. Temen saya yang jago analisis data, jadi data ninja.

Pengalaman Relawan Digital Pertama: Kampanye #PakaiMasker

Misi pertama saya: bikin 5 thread Twitter tentang pentingnya pakai masker yang benar, dengan gaya bahasa anak muda, nggak menggurui.

Awalnya mikir, “Ah, gampang.” Ternyata... nggak segampang itu. Harus riset data valid (dari WHO dan kemenkes), bikin narasi yang nggak ngebosenin, cari visual yang eye-catching, dan tentuin waktu posting yang tepat.

Satu thread aja bisa makan 3-4 jam. Tapi pas thread itu live dan mulai di-retweet ratusan kali, bahkan dipakai sama akun kesehatan kampus, rasanya... wow. Ini beneran bermanfaat.

Yang bikin semangat: ada laporan dari tim lapangan yang bilang, beberapa relawan di posko kesehatan ngasih tau kalo mereka pake thread kita buat edukasi ke warga. Jadi konten digital itu sampai juga ke dunia nyata.

Kisah Teman: Jadi “Remote Translator” untuk Bencana Alam

Selain pengalaman saya, ada cerita seru dari Maya, temen di grup relawan digital. Dia seorang freelance writer yang fluent bahasa Inggris.

Waktu ada gempa besar di suatu daerah, banyak NGO internasional yang mau bantu tapi terkendala bahasa. Mereka butuh penerjemah cepat untuk dokumen kebutuhan darurat, laporan kondisi, dan komunikasi dengan relawan lokal.

Maya mendaftar jadi translator via platform digital volunteering. Kerjanya dari rumah, jadwal fleksibel. Tapi impact-nya langsung: dokumen yang dia terjemahin bantu percepat distribusi bantuan karena tim internasional jadi paham kebutuhan mendesak di lapangan.

“Pernah suatu malam, saya terjemahin dokumen daftar obat-obatan yang dibutuhkan sampai jam 2 pagi,” cerita Maya. “Lelah? Pasti. Tapi besok paginya, saya liat di berita kalo bantuan medis udah sampe. Rasanya... saya jadi bagian dari rantai kebaikan itu, walau cuma dari belakang layar.”

Manfaat Jadi Relawan Digital yang Nggak Terduga

1. Skill Digital Naik Level

Dari cuma bisa pakai Canxa standar, sekarang saya udah belajar dasar SEO, analitik media sosial, bahkan dasar-dasar desain UI untuk website sederhana. Semua gratis, sambil menyelam minum air — belajar sambil bantu orang.

2. Portfolio yang “Hidup”

Buat yang lagi bangun karir di dunia digital, pengalaman volunteer ini jadi portfolio yang powerful. Pernah waktu interview kerja, saya dikasih pertanyaan teknis berdasarkan pengalaman bikin kampanye digital untuk NGO. Jadi pembeda yang significant.

3. Jaringan Global dari Kamar Sendiri

Saya kenal sama programmer dari Bandung, desainer dari Surabaya, bahkan sama aktivis dari Malaysia — semua lewat grup relawan digital. Kolaborasi lintas kota bahkan lintas negara itu biasa banget di dunia digital volunteering.

4. Kesehatan Mental: Rasanya “Connected”

Di saat yang paling isolating (kayak pas pandemi), jadi relawan digital bikin saya merasa tetap terhubung dengan dunia luar, tetap punya tujuan, dan merasa berguna. Itu penyelamat mental health banget.

5. Flexi-time yang Beneran Flexi

Kebanyakan relawan digital nggak punya jam kerja tetap. Bisa bantu pas weekend, malam hari, atau bahkan pas break kerja. Cocok buat yang jadwalnya unpredictable kayak saya.

6. Melatih Empati Digital

Kita jadi belajar melihat masalah sosial dari berbagai perspektif, lalu menyampaikannya dengan cara yang empatik di dunia digital. Skill yang langka di era medsos yang kadang keras ini.

Tantangan Relawan Digital yang Nggak Kasat Mata

Jangan dikira tanpa tantangan ya. Beberapa hal yang saya alami:

1. “Ini beneran bermanfaat atau cuma sekadar klik?”
Pernah ada rasa ragu: apa yang kita bikin di dunia digital ini beneran nyampe ke yang membutuhkan? Solusinya: cari organisasi yang transparan, yang kasih laporan berkala tentang impact di lapangan. Jadi kita tau ujungnya di mana.

2. Burnout karena “Always On”
Karena kerjanya remote dan fleksibel, batas antara “bantu” dan “terlalu banyak bantu” jadi tipis. Saya pernah sampai begadang bikin konten karena merasa “urgent”. Akhirnya, saya belajar buat set boundaries: kapan harus “on” dan kapan harus “off”.

3 Minimnya Pengakuan
Relawan lapangan sering dapet apreasiasi langsung, relawan digital kadang cuma dikenal sebagai “anonim di balik akun”. Tapi saya kemudian sadar: rasa puas karena konten kita bantu ribuan orang itu lebih dari cukup.

4. Overwhelmed dengan Informasi
Terutama pas kondisi darurat, info berdatangan cepat banget. Harus pinter-pilter mana yang valid, mana yang hoax. Di sinilah critical thinking sangat diuji.

Gimana Cara Mulai Jadi Relawan Digital?

Buat yang penasaran pengen coba, ini langkah-langkah sederhana:

1. Audit Skill Digital Diri Sendiri
Apa keahlianmu? Nulis? Desain? Analisis data? Translate? Manage media sosial? Pilih yang sesuai passion.

2. Cari Organisasi yang Tepat
Mulai dari yang lokal dulu. Banyak NGO yang butuh bantuan digital tapi belum terekspos. Bisa juga lewat platform seperti Kitabisa.com (punya program relawan digital), atau NGO internasional seperti UN Volunteers yang punya banyak opportunity remote.

3. Mulai dengan Komitmen Kecil
Jangan langsung ambil proyek besar. Coba dulu jadi “social media sharer” — sebarkan konten campaign mereka. Atau bantu input data 2 jam per minggu. Dari kecil dulu.

4. Ikut Briefing dan Onboarding
Meski digital, briefing itu penting banget. Biar paham visi organisasi, aturan main, dan ekspektasinya. Jangan sampai bikin konten yang malah bertentangan dengan nilai organisasi.

5. Bergabung dengan Komunitas Relawan Digital
Di Facebook atau Telegram ada banyak grup relawan digital Indonesia. Bergabunglah. Bisa sharing, tanya-tanya, dan dapat info opportunity.

6. Evaluate Diri Sendiri Secara Berkala
Setiap 3 bulan, tanya diri sendiri: “Apakah saya masih enjoy? Apakah waktu yang saya dedikasikan seimbang dengan kehidupan pribadi? Apa yang sudah saya pelajari?”

Cerita Favorit: Ketika Konten Digital Jadi Penghubung Donor dan Penerima

Ini cerita yang bikin saya yakin bahwa relawan digital itu penting.

Suatu kali, tim saya bikin series konten tentang “Satu Hari Bersama Ibu Penjaga Kantin Sekolah Terpencil”. Kontennya sederhana: foto-foto yang dikirim relawan lapangan, lalu kita bikin narasi tentang perjuangan beliau selama pandemi.

Konten itu viral. Donasi mengalir. Tapi yang bikin terharu: kita bikin video call sederhana antara ibu penjaga kantin dengan beberapa donor terbesar. Melihat mereka ngobrol langsung, si ibu cerita gimana donasi itu bantu dia bertahan, saya (di belakang layar yang ngatur semuanya) cuma bisa mewek senang.

Di situ saya sadar: relawan digital itu jembatan. Menghubungkan yang ingin membantu dengan yang butuh dibantu. Memperpendik jarak dengan klik.

Penutup: Ajakan untuk Jadi Pahlawan dari Rumah

Teman-teman Pahupahu, di era di mana kita menghabiskan begitu banyak waktu di depan layar, kenapa nggak ubah sebagian dari waktu itu jadi sesuatu yang meaningful?

Jadi relawan digital itu bukti bahwa kebaikan itu nggak harus berat, nggak harus jauh, dan nggak harus pakai seragam. Kadang, cukup dengan smartphone dan hati yang mau berbagi.

Kita bisa bantu selamatkan nyawa dengan menyebarkan info evakuasi bencana yang akurat. Bantu pendidikan anak dengan menerjemahkan materi belajar. Bantu UMKM bangkit dengan manage media sosial mereka.

Semua bisa dimulai dari hal kecil. Dari satu share, satu desain, satu artikel.

Jadi, apa skill digitalmu yang bisa jadi senjata untuk berbuat baik? Atau mungkin kamu punya pengalaman jadi relawan digital yang seru?

Yuk cerita di komentar! Siapa tau kita bisa kolaborasi untuk project sosial berikutnya.

Dan ingat: di balik setiap klik yang bermakna, ada pahlawan yang mungkin lagi duduk santai sambil minum kopi — tapi hatinya sedang bekerja keras untuk dunia yang sedikit lebih baik.

Sampai jumpa di tulisan berikutnya, dan siapa tau, kita bisa jadi rekan satu tim di project relawan digital yang sama!

Penulis adalah relawan digital yang masih belajar bikin infografis yang nggak norak, dan percaya bahwa teknologi terbaik adalah yang digunakan untuk memanusiakan manusia. Follow . @catatanpahupahu untuk cerita-cerita lain tentang hidup yang meaningful di era digital.