Jumat, 06 Februari 2026

Review Jajanan Pasar Favorit: Cita Rasa Tradisional yang Tak Pernah Kehilangan Penggemar

 

Review Jajanan Pasar Favorit: Cita Rasa Tradisional yang Tak Pernah Kehilangan Penggemar

Review Jajanan Pasar Favorit

Di tengah maraknya dessert modern, minuman kekinian, dan jajanan viral yang datang silih berganti, jajanan pasar tradisional tetap punya tempat istimewa di hati banyak orang. Tidak perlu kemasan mewah atau topping berlapis-lapis, jajanan pasar justru tampil sederhana—namun soal rasa, jangan diremehkan.

Lewat tulisan ini, Catatan PAHUPAHU mengajak pembaca bernostalgia lewat review jajanan pasar favorit yang masih eksis sampai sekarang. Jajanan yang mungkin sering kita temui di pasar tradisional, acara keluarga, hajatan, hingga pengajian. Murah, merakyat, dan penuh cerita.

Mengapa Jajanan Pasar Selalu Dicari?

Sebelum masuk ke daftar jajanan, ada satu pertanyaan menarik: kenapa jajanan pasar tidak pernah benar-benar ditinggalkan?

Jawabannya sederhana:

·         Rasanya familiar

·         Harganya ramah di kantong

·         Sarat kenangan masa kecil

·         Menggunakan bahan alami

·         Dibuat dengan resep turun-temurun

Jajanan pasar bukan sekadar makanan ringan. Ia adalah bagian dari budaya makan orang Indonesia. Bahkan, banyak orang yang mengaku belum “sarapan” kalau belum mencicipi kue pasar.

Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)

1. Klepon – Si Hijau Kecil yang Meledak di Mulut

Kalau bicara jajanan pasar favorit, klepon hampir selalu masuk daftar teratas.

Bentuknya kecil, bulat, berwarna hijau dari daun pandan atau suji. Namun jangan tertipu ukurannya. Begitu digigit, gula merah cair di dalamnya langsung lumer di mulut. Sensasi manis, kenyal, dan gurih dari kelapa parut adalah kombinasi yang sulit dilupakan.

Kelebihan klepon:

·         Tekstur kenyal pas

·         Rasa manis tidak berlebihan

·         Cocok untuk semua usia

Tak heran jika klepon sering disebut sebagai ikon kue tradisional Indonesia.

2. Onde-onde – Legendaris dan Mengenyangkan

Onde-onde adalah contoh jajanan pasar yang sukses bertahan lintas generasi. Lapisan luar wijen yang renyah berpadu dengan kulit kenyal dan isian kacang hijau yang lembut.

Ada dua tipe onde-onde yang umum:

·         Onde-onde isi kacang hijau

·         Onde-onde kosong (tanpa isian)

Keduanya sama-sama punya penggemar setia. Selain enak, onde-onde juga cukup mengenyangkan, sehingga sering jadi pilihan camilan pagi atau sore.

3. Dadar Gulung – Manis, Lembut, dan Wangi

Dadar gulung adalah bukti bahwa jajanan pasar tradisional tidak perlu ribet untuk terasa nikmat. Kulitnya tipis, lembut, dan berwarna hijau dengan aroma pandan yang khas. Di dalamnya terdapat isian kelapa parut dan gula merah yang manis legit.

Kunci kelezatan dadar gulung ada pada:

·         Kulit yang tidak kering

·         Isian yang lembap

·         Aroma pandan alami

Dimakan satu sering tidak cukup. Ini jajanan pasar yang bikin “nambah tanpa sadar”.

4. Kue Lapis – Cantik, Lembut, dan Nostalgik

Kue lapis termasuk kue pasar legendaris yang selalu menarik perhatian karena warna-warninya. Lapisan demi lapisan bukan hanya soal tampilan, tapi juga soal kesabaran dalam proses pembuatannya.

Teksturnya lembut, sedikit kenyal, dan manisnya pas. Banyak orang punya kebiasaan unik saat memakannya: mengupas lapisan satu per satu.

Kue lapis bukan cuma jajanan, tapi juga permainan kecil yang menyenangkan.

5. Lemper – Klasik dan Mengenyangkan

Kalau jajanan pasar lain cenderung manis, lemper hadir sebagai penyeimbang. Terbuat dari ketan dan diisi ayam suwir berbumbu, lemper adalah camilan yang serius.

Dibungkus daun pisang, aroma lemper semakin menggoda. Rasanya gurih, legit, dan mengenyangkan. Cocok untuk yang tidak terlalu suka jajanan manis.

Dalam banyak acara resmi maupun tradisional, lemper hampir selalu hadir sebagai pilihan utama.

6. Nagasari – Lembut dan Menenangkan

Nagasari adalah jajanan pasar berbahan dasar tepung beras dan santan, dengan isian pisang di tengahnya. Teksturnya lembut, rasanya gurih-manis, dan aromanya khas karena dibungkus daun pisang.

Ini tipe jajanan yang tidak “menyerang” lidah, tapi justru menenangkan. Sangat cocok dinikmati sore hari sambil minum teh hangat.

7. Getuk – Sederhana Tapi Penuh Rasa

Getuk mungkin terlihat paling sederhana dibanding jajanan pasar lainnya. Terbuat dari singkong yang dihaluskan dan diberi gula serta pewarna alami, getuk sering disajikan dengan taburan kelapa parut.

Namun di balik kesederhanaannya, getuk punya rasa yang khas dan tekstur yang unik. Ini adalah contoh aneka jajanan pasar yang lahir dari kreativitas rakyat dengan bahan seadanya.

Jajanan Pasar dan Identitas Budaya

Setiap daerah di Indonesia punya versi jajanan pasarnya sendiri. Nama boleh berbeda, bentuk boleh mirip, tapi ceritanya selalu lokal.

Itulah mengapa review jajanan pasar bukan hanya soal rasa, tapi juga soal identitas. Jajanan ini tumbuh bersama masyarakat, menjadi bagian dari ritual sosial, dan sering hadir di momen-momen penting.

Bertahan di Tengah Serbuan Jajanan Modern

Meski banyak jajanan modern bermunculan, jajanan pasar tetap bertahan. Bahkan, belakangan mulai naik kelas:

·         Dikemas lebih menarik

·         Dijual di kafe tradisional

·         Dijadikan menu nostalgia

Ini bukti bahwa jajanan pasar tidak ketinggalan zaman. Justru, ia beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.

Penutup: Jajanan Pasar Bukan Sekadar Camilan

Lewat review jajanan pasar favorit ini, kita diingatkan bahwa makanan sederhana sering kali punya makna paling dalam. Ia menyimpan kenangan, kebiasaan, dan rasa kebersamaan.

Di setiap gigitan klepon, lapisan kue lapis, atau potongan lemper, ada cerita panjang tentang dapur-dapur kecil, pasar pagi, dan tangan-tangan terampil yang menjaga tradisi.

Dan selama masih ada orang yang merindukan rasa rumah, jajanan pasar tradisional akan selalu punya tempat—di meja, di hati, dan di ingatan.


Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)


Kamis, 05 Februari 2026

Belajar Baking Roti dan Kue: Dari Dapur Kecil, Kesabaran, dan Aroma yang Menenangkan

 

Belajar Baking Roti dan Kue: Dari Dapur Kecil, Kesabaran, dan Aroma yang Menenangkan

Awal Mula Ketertarikan pada Baking

Ada sesuatu yang magis dari proses baking roti dan kue. Bukan cuma soal hasil akhirnya yang empuk, manis, dan menggoda, tapi juga tentang prosesnya yang pelan, penuh ketelitian, dan sering kali mengajarkan kita satu hal penting: tidak semua hal bisa dipercepat.

Belajar baking roti dan kue bukan sekadar belajar memasak. Ia adalah latihan kesabaran, ketelitian, dan penerimaan. Kadang berhasil, kadang gagal. Kadang mengembang sempurna, kadang bantat tanpa aba-aba. Tapi justru di situlah serunya.

Awal Mula Ketertarikan pada Baking

Banyak orang mulai belajar baking dari rasa penasaran. Ada yang karena sering melihat video baking di media sosial, ada yang karena ingin mengisi waktu luang, ada juga yang sekadar ingin tahu: “Sebenarnya bikin roti itu susah atau tidak, sih?”

Awalnya mungkin hanya coba-coba. Beli tepung terigu, ragi instan, gula, telur, dan mentega. Resep diikuti dengan penuh harap. Timer dipasang. Oven dipanaskan. Dan lalu… deg-degan menunggu hasil.

Momen menunggu roti atau kue matang di dalam oven adalah momen yang unik. Kita tidak bisa melakukan apa-apa selain menunggu dan berharap. Dan ketika aroma mulai menyebar ke seluruh rumah, rasa lelah langsung berubah jadi senyum kecil.

Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)

Baking Itu Ilmu, Bukan Sekadar Feeling

Berbeda dengan masak harian yang sering mengandalkan “kira-kira”, baking menuntut ketepatan. Gram demi gram punya peran. Suhu, waktu, dan urutan langkah sangat menentukan hasil akhir.

Di sinilah banyak orang mulai sadar: baking itu bukan cuma seni, tapi juga ilmu.

Ragi hidup dan bernapas. Terlalu panas, dia mati. Terlalu dingin, dia malas bekerja. Tepung punya kadar protein yang berbeda. Mentega suhu ruang bukan sekadar istilah, tapi kondisi fisik yang nyata. Semua detail kecil ini perlahan dipahami seiring proses belajar.

Dan justru di situ letak kepuasannya. Setiap kegagalan bukan akhir, tapi data baru untuk percobaan berikutnya.

Kegagalan yang Wajar dan Penuh Pelajaran

Siapa pun yang belajar baking pasti pernah gagal. Roti tidak mengembang, kue keras seperti batu, atau bagian luar gosong sementara dalamnya masih mentah. Itu semua paket lengkap.

Tapi baking mengajarkan kita untuk tidak langsung menyerah. Kita mulai bertanya:

·         Apakah raginya masih aktif?

·         Apakah adonan terlalu lama diuleni?

·         Apakah oven terlalu panas?

Pelan-pelan, kita belajar membaca tanda-tanda. Tekstur adonan, aroma fermentasi, warna permukaan kue. Semua menjadi bahasa baru yang lama-lama akrab.

Dan ketika akhirnya satu resep berhasil setelah beberapa kali gagal, rasanya luar biasa. Ada kepuasan yang sulit dijelaskan, karena itu adalah hasil dari proses, bukan kebetulan.

Dapur sebagai Ruang Belajar dan Terapi

Belajar baking roti dan kue sering kali berubah menjadi aktivitas yang menenangkan. Menguleni adonan bisa jadi pelepas stres. Gerakannya berulang, ritmenya stabil, pikirannya fokus.

Di saat dunia luar terasa ribut, dapur menjadi ruang kecil yang tenang. Tidak ada tuntutan selain mengikuti proses. Tidak ada yang harus dikejar selain waktu proofing.

Baking memberi ruang untuk berhenti sejenak. Menghargai proses. Menerima bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dipaksa, termasuk adonan yang butuh waktu untuk mengembang dengan caranya sendiri.

Aroma yang Membawa Perasaan Aman

Salah satu hal paling menyenangkan dari baking adalah aromanya. Aroma roti yang baru matang atau kue yang keluar dari oven punya efek emosional yang kuat. Hangat, menenangkan, dan sering kali membuat rumah terasa “hidup”.

Aroma itu bukan cuma bau makanan. Ia membawa rasa aman. Rasa rumah. Rasa cukup.

Tidak heran jika banyak orang merasa lebih bahagia setelah baking, bahkan sebelum mencicipi hasilnya.

Dari Resep Orang Lain ke Gaya Sendiri

Awalnya, kita mengikuti resep dengan patuh. Tapi seiring waktu, keberanian untuk bereksperimen muncul. Mengurangi gula, mengganti isian, mencoba tepung lain, atau memodifikasi bentuk.

Di titik ini, belajar baking roti dan kue berubah dari sekadar meniru menjadi mencipta. Kita mulai mengenali selera sendiri. Mengetahui tekstur seperti apa yang kita suka. Menentukan tingkat manis versi pribadi.

Resep bukan lagi aturan kaku, tapi panduan yang bisa disesuaikan.

Baking dan Cerita yang Mengalir

Hasil baking jarang dinikmati sendirian. Biasanya ada keluarga, teman, atau tetangga yang ikut mencicipi. Dari situlah cerita muncul.

“Ini roti buatan sendiri?”
“Wah, sudah jago sekarang.”
“Bikin lagi kapan?”

Baking sering menjadi alasan untuk berbagi. Bukan cuma makanan, tapi juga waktu dan perhatian. Dan dari dapur kecil itu, hubungan terasa lebih hangat.

Tidak Harus Profesional

Belajar baking tidak harus berujung jadi bisnis atau profesi. Tidak semua hobi harus dimonetisasi. Kadang cukup dinikmati sebagai ruang pribadi untuk bertumbuh.

Baking bisa tetap menjadi aktivitas santai. Tempat belajar sabar. Tempat gagal tanpa dihakimi. Tempat senang tanpa alasan besar.

Dan itu sudah lebih dari cukup.

Proses yang Mengajarkan Kehidupan

Pada akhirnya, belajar baking roti dan kue mengajarkan banyak hal yang relevan dengan kehidupan:

·         Bahwa hasil baik butuh waktu.

·         Bahwa kegagalan adalah bagian dari proses.

·         Bahwa tidak semua hal bisa dipercepat.

·         Bahwa ketekunan kecil bisa menghasilkan sesuatu yang manis.

Dari dapur yang sederhana, kita belajar banyak hal penting. Tentang diri sendiri, tentang kesabaran, dan tentang bagaimana menikmati proses tanpa terlalu terobsesi pada hasil.

Karena seperti adonan yang pelan-pelan mengembang, kita pun tumbuh dengan caranya masing-masing.

Dan mungkin, di situlah esensi baking yang sesungguhnya.


Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)


Rabu, 04 Februari 2026

Ikut Kelas Online Gratis dari Universitas Dunia: Kuliah Jauh Tanpa Tiket Pesawat

 

Ikut Kelas Online Gratis dari Universitas Dunia: Kuliah Jauh Tanpa Tiket Pesawat

Ikut Kelas Online Gratis dari Universitas Dunia


Dulu saya pernah punya mimpi yang terdengar mahal.

Pengen kuliah di luar negeri.

Bukan karena gengsi. Cuma penasaran aja: gimana rasanya duduk di kelas kampus terkenal dunia? Dengerin profesor yang bukunya ada di mana-mana? Belajar bareng orang dari berbagai negara?

Tapi ya… realita cepat menepuk bahu.

Biaya kuliah? Mahal.
Tiket pesawat? Mahal.
Biaya hidup? Lebih mahal lagi.

Akhirnya mimpi itu saya simpan rapi di laci “nanti saja kalau kaya”.

Sampai suatu malam, waktu lagi iseng scroll internet, saya nemu sesuatu yang bikin saya bengong:

kelas online gratis dari universitas luar negeri.

Gratis.

Legal.

Dan bisa diakses siapa saja.

Reaksi pertama saya cuma:
“Serius nih? Nggak tipu-tipu, kan?”

Ternyata beneran ada.

Dan sejak itu, saya sadar: kadang dunia ini lebih ramah dari yang kita kira.

Kampus Dunia, Layar Laptop

Sekarang bayangannya lucu.

Saya duduk di kamar, pakai kaos rumahan, sambil minum kopi sachet.

Tapi di layar laptop, dosennya dari universitas top dunia. Materinya kelas internasional. Pesertanya dari mana-mana.

Secara teknis… saya lagi “kuliah luar negeri”.

Tanpa paspor. Tanpa jet lag. Tanpa biaya kos.

Cuma modal WiFi.

Teknologi memang gila sih.

Dulu hal kayak gini cuma mimpi. Sekarang tinggal klik.

Awalnya Iseng, Lama-Lama Keterusan

Saya daftar kelas pertama bukan karena niat serius.

Cuma penasaran.

Topiknya simpel: pengantar psikologi.

“Ya udah deh, coba-coba.”

Niat awal: nonton satu video.

Eh, kok seru.

Videonya pendek-pendek. Penjelasannya enak. Nggak kayak kuliah formal yang kaku.

Tahu-tahu sudah nonton tiga.

Besoknya lanjut lagi.

Tanpa sadar, saya ngerjain kuis. Ikut forum diskusi. Baca materi tambahan.

Lah, kok jadi rajin?

Padahal ini gratis. Nggak ada yang maksa.

Ternyata kalau belajarnya karena mau, bukan karena disuruh, rasanya beda banget.

Belajar Tanpa Tekanan Nilai

Yang paling saya suka dari kelas online gratis itu: nggak ada tekanan.

Nggak ada dosen galak.
Nggak ada absen.
Nggak ada takut remedial.

Kalau capek? Pause.
Kalau ngantuk? Lanjut besok.
Kalau nggak paham? Ulang videonya.

Fleksibel banget.

Belajar jadi terasa… manusiawi.

Nggak harus sempurna.

Saya jadi sadar, mungkin selama ini kita capek bukan karena belajarnya, tapi karena tekanannya.

Begitu tekanannya hilang, belajar malah menyenangkan.

Topiknya Gila Banyak

Yang bikin kalap: pilihannya banyak banget.

Serius.

Mau belajar apa saja ada:

·         psikologi

·         filsafat

·         sejarah

·         bisnis

·         teknologi

·         desain

·         menulis

·         sains

·         kesehatan

·         bahkan astronomi dan dinosaurus pun ada

Rasanya seperti masuk perpustakaan raksasa.

Tinggal pilih sesuai mood.

Lagi pengen mikir berat? Ambil filsafat.
Lagi santai? Ambil kelas kreativitas.
Lagi penasaran dunia kerja? Ambil bisnis.

Belajar jadi kayak Netflix.

“Eh, hari ini nonton… eh maksudnya belajar apa, ya?”

Rasanya Kayak Buka Jendela Dunia

Yang paling berkesan bukan cuma ilmunya.

Tapi perspektifnya.

Dosen-dosen itu sering kasih contoh dari budaya dan konteks berbeda.

Kadang saya mikir,
“Oh, cara mereka lihat masalah beda juga ya.”

Atau baca komentar peserta dari negara lain:

“Aku dari Brazil…”
“Aku dari Turki…”
“Aku dari India…”

Tiba-tiba sadar: dunia ini luas banget.

Saya cuma satu titik kecil.

Dan anehnya, itu menyenangkan.

Karena rasanya seperti terhubung.

Belajar bareng orang-orang yang bahkan nggak pernah kita temui.

Belajar Jadi Nggak Terasa “Berat”

Format kelas online sekarang enak banget.

Bukan kuliah 2 jam nonstop.

Biasanya:

·         video 5–10 menit

·         kuis kecil

·         bacaan ringan

·         diskusi santai

Potongan kecil.

Cocok buat yang rentang fokusnya pendek (termasuk saya 😄).

Jadi bisa belajar di sela-sela:

nunggu makan, sebelum tidur, atau pas sore santai.

Nggak perlu duduk lama.

Sedikit-sedikit tapi rutin.

Dan anehnya, lebih nempel.

Ada Rasa Bangga Kecil

Walaupun cuma kelas gratis, tetap ada rasa puas.

Apalagi kalau selesai satu kursus.

Dapat sertifikat digital.

Nama kita terpampang.

Padahal ya… cuma file PDF.

Tapi tetap aja rasanya:
“Lumayan juga, ya gue.”

Bukan buat pamer.

Lebih ke perasaan: saya nggak berhenti belajar.

Di usia berapa pun, kita masih bisa nambah ilmu.

Dan itu bikin percaya diri.

Belajar Tanpa Umur

Dulu saya sempat mikir, belajar serius itu cuma pas sekolah atau kuliah.

Setelah kerja, ya sudah. Hidup saja.

Ternyata salah.

Belajar itu nggak ada batas umurnya.

Justru makin dewasa, kita makin tahu mau belajar apa.

Nggak lagi dipaksa kurikulum.

Bisa pilih sendiri.

Dan itu jauh lebih menyenangkan.

Belajar jadi terasa seperti hobi, bukan kewajiban.

Nggak Harus Ambisius

Penting juga: jangan terlalu ambisius.

Saya pernah daftar 5 kelas sekaligus.

Hasilnya?

Semua mangkrak.

Terlalu semangat di awal, lalu burnout.

Sekarang saya santai saja.

Satu kelas dulu. Selesai. Baru lanjut.

Pelan-pelan.

Belajar itu maraton, bukan sprint.

Kalau capek, ya istirahat.

Nggak ada yang marah, kok.

Ritual Kecil yang Menyenangkan

Sekarang kadang saya punya ritual kecil.

Sore hari atau malam, buka laptop, pakai earphone, lanjut satu-dua video pelajaran.

Suasananya tenang.

Nggak ada tekanan.

Cuma saya dan rasa penasaran.

Aneh ya, dulu belajar identik sama stres.

Sekarang malah jadi cara santai.

Seperti ngopi, tapi buat otak.

Siapa Saja Bisa Mulai

Kalau kamu mikir:

“Ah, saya bukan orang akademis…”
“Udah lama nggak belajar…”
“Takut nggak ngerti…”

Santai saja.

Banyak kelas yang bahasanya ringan banget.

Mulai dari level dasar.

Anggap saja eksplorasi.

Nggak harus langsung pintar.

Yang penting mulai dulu.

Karena kadang yang kita butuhkan cuma satu klik kecil buat membuka dunia baru.

Dunia Itu Ternyata Dekat

Kadang saya masih suka senyum sendiri.

Duduk di kamar kecil, tapi belajar dari profesor luar negeri.

Dunia yang dulu terasa jauh, sekarang tinggal sejauh layar.

Dan saya bersyukur hidup di zaman ini.

Zaman di mana ilmu nggak lagi eksklusif.

Siapa saja bisa akses.

Asal mau.

Jadi kalau suatu hari kamu lagi bosan, lagi pengen nambah wawasan, atau cuma pengen merasa produktif dikit…

coba deh ikut satu kelas online gratis.

Nggak ada ruginya.

Paling cuma kehilangan waktu sejam.

Tapi siapa tahu dapat ide baru. Perspektif baru. Atau bahkan hobi baru.

Karena belajar itu ternyata nggak harus di gedung kampus megah.

Kadang cukup di kamar sendiri.

Dengan WiFi seadanya.

Dan rasa penasaran yang sederhana.

Salam santai dan tetap haus belajar dari
Catatan PAHUPAHU 🎓


Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)

 

Memasak Resep Tradisional di Waktu Luang: Antara Rasa, Kenangan, dan Cerita yang Tak Pernah Habis

 

Memasak Resep Tradisional di Waktu Luang: Antara Rasa, Kenangan, dan Cerita yang Tak Pernah Habis

Memasak Resep Tradisional

Di tengah kesibukan yang makin padat—deadline kerja, notifikasi yang tak berhenti, dan ritme hidup yang serba cepat—waktu luang sering kali terasa seperti barang mewah. Ketika akhirnya waktu itu datang, banyak orang memilih rebahan, scrolling media sosial, atau binge watching serial favorit. Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi ada satu aktivitas sederhana yang sering luput, padahal menyimpan ketenangan, kenangan, sekaligus kebahagiaan: memasak resep tradisional.

Memasak resep tradisional di waktu luang bukan sekadar urusan perut. Ia adalah perjalanan rasa, nostalgia, dan bahkan identitas. Setiap irisan bawang, setiap adukan bumbu, dan setiap aroma yang keluar dari dapur seolah membawa kita pulang—entah ke masa kecil, ke rumah orang tua, atau ke momen-momen sederhana yang dulu sering kita anggap biasa.

Waktu Luang yang Berubah Makna

Waktu luang sering dianggap sebagai waktu “kosong”. Padahal, justru di situlah kita bisa mengisinya dengan hal-hal yang memberi makna. Memasak makanan tradisional adalah salah satu cara paling manusiawi untuk memanfaatkan waktu luang. Tidak terburu-buru, tidak dituntut hasil sempurna, dan tidak perlu validasi siapa pun.

Berbeda dengan memasak instan atau makanan cepat saji, resep tradisional menuntut kesabaran. Ada yang harus ditumis perlahan, direbus lama, atau bahkan menunggu semalaman agar bumbu meresap. Proses ini secara tidak langsung mengajarkan kita untuk melambat, sesuatu yang makin jarang kita lakukan hari ini.

Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)

Resep Tradisional: Lebih dari Sekadar Masakan

Setiap daerah di Indonesia punya resep tradisionalnya sendiri. Dari Sabang sampai Merauke, dapur kita kaya akan cerita. Rendang, coto, rawon, papeda, sayur lodeh, hingga ikan bakar dengan sambal khas—semuanya bukan sekadar makanan. Mereka adalah arsip budaya.

Resep tradisional sering diwariskan secara lisan. “Kira-kira segini saja garamnya.”
“Kalau baunya sudah keluar, berarti sudah pas.”
“Jangan pakai api besar, nanti pahit.”

Tidak ada takaran pasti, tapi rasanya selalu sama: rasa rumah.

Saat kita memasak resep tradisional di waktu luang, tanpa sadar kita sedang ikut menjaga warisan itu. Kita menjadi bagian dari mata rantai panjang yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Dapur sebagai Ruang Meditasi

Banyak orang menemukan ketenangan saat memasak. Ada ritme yang menenangkan: memotong, mengulek, menumis, menunggu. Pikiran yang tadinya penuh pelan-pelan menjadi lebih jernih. Fokus pada satu hal sederhana membuat kita sejenak lupa pada hal-hal yang membebani.

Memasak resep tradisional, khususnya, sering kali menghadirkan rasa “hadir sepenuhnya”. Kita mendengar suara minyak panas, mencium aroma rempah, dan merasakan tekstur bahan di tangan. Ini adalah bentuk meditasi paling membumi—tanpa yoga mat, tanpa aplikasi, tanpa aturan rumit.

Nostalgia yang Mengendap di Setiap Masakan

Ada alasan mengapa makanan tradisional sering membuat kita emosional. Satu sendok kuah bisa membawa kita ke masa kecil. Satu aroma bisa memanggil wajah orang yang sudah lama tidak kita temui.

Mungkin dulu kita sering melihat ibu atau nenek memasak hidangan itu. Kita duduk di dapur, menunggu dengan sabar (atau tidak sabar) sambil sesekali mencicipi. Kini, ketika kita mencoba memasaknya sendiri di waktu luang, perasaan itu datang kembali—hangat, akrab, dan sedikit haru.

Memasak resep tradisional menjadi cara sederhana untuk menghidupkan kembali kenangan, bahkan ketika orang-orang yang dulu memasaknya sudah tidak lagi ada di dapur itu.

Tidak Harus Sempurna

Salah satu hal paling menyenangkan dari memasak di waktu luang adalah: tidak ada tekanan. Masakan boleh kurang asin, terlalu pedas, atau tampilannya tidak Instagramable. Tidak apa-apa.

Resep tradisional justru sering fleksibel. Setiap keluarga punya versi sendiri. Ada yang pakai santan kental, ada yang encer. Ada yang pedasnya “ngena”, ada yang ramah lidah anak-anak. Semua sah.

Di sinilah letak keindahannya. Kita bebas bereksperimen, menyesuaikan dengan bahan yang ada, dan menciptakan versi kita sendiri. Lama-lama, resep itu bukan lagi “resep orang tua”, tapi resep kita.

Memasak sebagai Bentuk Perlawanan Kecil

Di era makanan instan dan pesan-antar, memasak resep tradisional di waktu luang bisa dianggap sebagai bentuk perlawanan kecil. Perlawanan terhadap budaya serba cepat, serba instan, dan serba praktis.

Bukan berarti kita anti kemajuan. Tapi sesekali, kembali ke dapur dan memasak dari nol adalah cara untuk mengingat bahwa hal baik sering butuh waktu. Bahwa rasa yang dalam tidak datang dari proses yang terburu-buru.

Menyambung Cerita Lewat Masakan

Ketika hasil masakan akhirnya tersaji, sering kali kita tidak menikmatinya sendirian. Ada keluarga, pasangan, atau teman yang ikut mencicipi. Di meja makan, cerita pun mengalir.

“Dulu nenek juga masak begini.”
“Rasanya mirip waktu kita masih kecil.”
“Ini masakan kampung halaman, ya?”

Resep tradisional menjadi pemantik cerita. Ia membuka percakapan lintas generasi. Dari satu panci masakan, lahir banyak kisah.

Waktu Luang yang Tak Terbuang

Pada akhirnya, memasak resep tradisional di waktu luang adalah tentang memberi nilai pada waktu itu sendiri. Waktu yang tadinya terasa kosong berubah menjadi bermakna. Ada hasil nyata, ada rasa puas, dan ada kenangan baru yang tercipta.

Tidak perlu menunggu momen spesial. Tidak harus hari libur besar. Cukup satu sore yang lengang, dapur yang sederhana, dan niat untuk mencoba.

Karena terkadang, kebahagiaan tidak datang dari hal besar. Ia hadir dari dapur kecil, panci yang mengepul, dan aroma masakan tradisional yang perlahan memenuhi rumah.

Dan di situlah, di antara bumbu dan cerita, kita menemukan bahwa memasak bukan sekadar aktivitas—melainkan cara pulang.


Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)