Minggu, 19 Juli 2026

Mengelola Keuangan Rumah Tangga di Tengah Inflasi: Antara Menjerit dan Menjinakkan

 

Mengelola Keuangan Rumah Tangga di Tengah Inflasi: Antara Menjerit dan Menjinakkan

Oleh: Catatan Pahupahu

 

Pernahkah Anda mengalami momen di mana uang Rp 100.000 terasa seperti Rp 50.000? Atau saat berjalan di lorong supermarket, Anda mendapati harga minyak goreng sudah naik lagi padahal minggu lalu baru saja naik? Selamat datang di era inflasi yang tidak kenal kompromi.

Berdasarkan data Bank Indonesia, inflasi umum pada triwulan I 2025 tercatat sebesar 1,77% secara tahunan, dipicu oleh tekanan pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang menyumbang andil hingga 0,95%. Namun yang lebih mengkhawatirkan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya melonjak hingga 13,18%—ini bukan sekadar inflasi biasa, ini adalah "inflasi gaya hidup" yang diam-diam menggerus dompet kita.

Sementara itu, data BI juga menunjukkan bahwa komposisi penggunaan pendapatan masyarakat pada November 2025 mencapai 74,6% untuk konsumsi, 11% untuk cicilan, dan hanya 14,4% untuk tabungan. Artinya, dari Rp 10 juta pendapatan, hanya Rp 1,4 juta yang ditabung. Sisanya habis untuk kebutuhan hari ini.

Lalu bagaimana cara bertahan? Mari kita bedah satu per satu.

1. Kenali Dulu Musuhnya: Inflasi Itu Tidak Merata

Banyak yang salah kaprah mengira inflasi adalah kenaikan harga semua barang secara merata. Padahal, inflasi itu pilih-pilih. Menurut laporan Bank Indonesia, komoditas utama penyumbang inflasi pada awal 2025 adalah:

  • Emas perhiasan: andil 0,84% (naik karena ketidakpastian global)
  • Bawang merah: andil 0,27% (dampak cuaca dan permintaan Ramadhan)
  • Bahan Bakar Rumah Tangga (gas LPG 3kg): andil 0,18% (akibat kebijakan penyesuaian HET)

Sementara itu, komoditas yang justru deflasi (harganya turun) antara lain tarif listrik (-0,80%), daging ayam ras (-0,17%), dan tomat (-0,17%).

Ilustrasi Penting:

Bayangkan inflasi sebagai hujan yang tidak merata. Ada yang terkena guyuran deras (seperti emas dan bawang merah), ada yang hanya gerimis (seperti pendidikan dengan kenaikan 1,86%), dan ada yang justru kering (listrik dan ayam yang harganya turun). Tugas kita sebagai pengelola keuangan rumah tangga adalah: berdiri di tempat yang tidak terlalu basah. Artinya, kita harus tahu pos belanja mana yang sedang "banjir inflasi" dan mana yang aman-aman saja.

Menurut LPEM FEB UI, tekanan pada kelas menengah semakin nyata terlihat dari perubahan pola konsumsi. Pengeluaran untuk barang tahan lama seperti elektronik turun dari 2,89% (2019) menjadi 1,95% (2024). Sementara pengeluaran untuk kosmetik dan perawatan pribadi justru naik dari 1,14% menjadi 1,27%. Ini membuktikan teori "efek lipstik" (lipstick effect): ketika daya beli tertekan, orang masih mencari "kemewahan kecil" sebagai pelarian, meskipun harus mengorbankan pembelian barang besar.

2. Strategi Audit Pengeluaran: Menemukan Bocornya di Mana

Langkah paling mendasar tapi paling sering disepelekan adalah mencatat semua pengeluaran. Bukan kira-kira, bukan perasaan, tapi hitam di atas putih.

Pengamat keuangan keluarga, Baratadewa Sakti Perdana, menekankan bahwa masyarakat harus memprioritaskan anggaran untuk kebutuhan dasar seperti pangan, energi, dan kesehatan. Pengeluaran non-esensial harus dikurangi untuk menjaga keseimbangan anggaran.

Praktik Sederhana yang Bisa Dilakukan:

1.     Evaluasi langganan digital: Coba cek, bulan lalu berapa kali Anda membuka aplikasi streaming yang Anda bayar? Jika jawabannya "jarang", segera berhenti berlangganan. Penghematan Rp 50.000-Rp 100.000 per bulan dari langganan yang tidak terpakai adalah awal yang baik.

2.     Catat "pengeluaran receh": Kopi di kantin Rp 15.000, gorengan Rp 10.000, parkir Rp 5.000. Kelihatannya kecil, tapi jika dikalkulasi, bisa mencapai Rp 500.000 per bulan. Ini yang disebut "kebocoran halus" oleh para perencana keuangan.

3.     Bandingkan dengan standar nasional: Jika porsi cicilan Anda sudah melebihi 15% dari pendapatan, itu tanda bahaya. Data BI menunjukkan rata-rata nasional porsi cicilan adalah 11%. Jika Anda jauh di atas itu, mungkin sudah saatnya restrukturisasi utang atau mencari tambahan pemasukan.

3. Optimasi Belanja Pangan: Bedah Tuntas Isi Kulkas

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang inflasi terbesar. Pada Agustus 2025, kelompok ini tercatat mengalami inflasi 3,99% secara tahunan, dengan komoditas utama seperti beras, telur, dan minyak goreng sebagai pemicunya.

Strategi Food Preparation:
Salah satu cara paling efektif untuk memangkas anggaran pangan hingga 20-30% adalah dengan menerapkan food preparation. Ini bukan sekadar "masak sendiri", tetapi:

  • Buat menu mingguan sebelum belanja. Dengan tahu persis apa yang akan dimasak, Anda tidak akan membeli bahan makanan yang tidak jelas ujungnya.
  • Bersihkan dan potong bahan makanan sebelum disimpan di lemari pendingin. Ini mencegah makanan cepat busuk karena Anda tinggal ambil dan masak, bukan diamkan berhari-hari.
  • Manfaatkan bagian yang terbuang: Batang brokoli bisa jadi sup, tulang ayam bisa jadi kaldu. Ini adalah filosofi "zero waste" yang juga zero waste of money.

Efisiensi Air Minum:
Satu pos pengeluaran yang sering luput dari evaluasi adalah air minum. Mari kita hitung:

Jika keluarga kecil mengonsumsi 3 galon per minggu dengan harga Rp 22.000 per galon, pengeluaran bulanan mencapai Rp 264.000. Setahun, totalnya sekitar Rp 3.168.000.

Bandrolnya, teknologi filtrasi air seperti Nazava dapat menghemat biaya air minum hingga 90% dalam jangka panjang. Ini bukan endorse, ini ilustrasi bahwa investasi pada efisiensi rumah tangga bisa mengubah pos belanja rutin menjadi pos tabungan.

4. Jangan Terjebak "Kemewahan Kecil" yang Menggerus

Ingat "efek lipstik" yang kita bahas tadi? Tren ini sangat nyata di Indonesia. Laporan UOB menunjukkan bahwa kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya mengalami inflasi 8,66% pada Agustus 2025, jauh di atas inflasi umum yang hanya 2,31%.

Mengapa ini penting? Karena kenaikan harga di kelompok ini adalah pilihan, bukan kebutuhan. Artinya, kita secara sadar atau tidak, tetap menghabiskan uang untuk perawatan muka, potong rambut di salon mahal, atau membeli produk kecantikan meskipun harga-harga lain sedang naik.

Pertanyaan Reflektif:

  • Apakah skincare Rp 500.000 benar-benar diperlukan atau hanya "pelarian" dari stres ekonomi?
  • Apakah potong rambut di salon langganan yang naik 20% bisa diganti dengan tukang cukur keliling?
  • Apakah kopi susu kekinian setiap hari adalah kebutuhan atau sekadar kebiasaan yang bisa diganti dengan kopi tubruk di rumah?

Dosen FEB Universitas Wiraraja, Syahril, menambahkan bahwa edukasi keuangan harus diberikan kepada semua anggota keluarga, termasuk anak-anak. Ajarkan pentingnya hidup hemat, ajarkan investasi, dan ajarkan jiwa wirausaha sejak dini.

5. Diversifikasi Pendapatan: Jangan Bergantung pada Satu Sumber

Di tengah inflasi yang tidak pasti dan kenaikan upah riil yang stagnan (hanya 0,6% per tahun dalam periode 2017-2024 menurut LPEM FEB UI), mengandalkan satu sumber pendapatan adalah tindakan nekat.

Baratadewa Sakti Perdana merekomendasikan diversifikasi sumber pendapatan melalui bisnis sampingan, seperti bisnis daring atau layanan berbasis keterampilan.

Ide Sampingan yang Realistis:

  • Jika Anda pandai memasak, jualan makanan frozen yang tahan lama.
  • Jika Anda mahir menulis, jadi freelance writer di platform lepas.
  • Jika Anda punya hobi berkebun, tanam sayuran hidroponik—bisa untuk konsumsi sendiri sekaligus dijual.
  • Manfaatkan keahlian keluarga: les privat, menjual hasil masakan, atau dropship tanpa modal.

Yang penting, pendapatan tambahan ini harus dipisahkan pengelolaannya. Jangan dicampur dengan gaji utama. Alokasikan minimal 50% dari pendapatan sampingan untuk investasi atau tabungan jangka panjang.

6. Tabungan dan Investasi: Lindung Nilai di Tengah Badai

Data BI menunjukkan bahwa saldo rata-rata rekening deposito masyarakat kecil (di bawah Rp 100 juta) turun drastis dari Rp 4,29 juta pada 2012 menjadi hanya Rp 1,78 juta pada 2025—penurunan kumulatif 58,5%. Artinya, masyarakat benar-benar sedang mengeruk tabungan untuk bertahan hidup.

Ini adalah sinyal bahaya. Jika Anda masih memiliki tabungan, jaga mati-matian. Jika belum, mulailah dari sekarang, sekecil apa pun.

Rekomendasi Investasi di Masa Inflasi:

1.     Emas: Komoditas ini memang menyumbang inflasi karena harganya naik, tapi justru itulah fungsinya sebagai hedging atau lindung nilai. Ketika inflasi naik, emas ikut naik, sehingga nilai kekayaan Anda tergerus lebih kecil. Rencanakan pembelian emas secara berkala, misalnya 0,5 gram per bulan.

2.     Reksa dana pasar uang: Untuk jangka pendek (1-3 tahun), reksa dana pasar uang menawarkan imbal hasil di atas deposito dengan risiko rendah. Cocok untuk dana darurat yang tidak ingin tergerus inflasi.

3.     Hindari utang konsumtif: Bunga kredit yang tinggi (dengan BI Rate di 5,50% pada 2026) membuat cicilan KPR, kendaraan, dan modal usaha ikut membengkak. Jika tekanan ini berlangsung lama, risiko penyusutan kelas menengah semakin besar.

7. Bangun Solidaritas Sosial: Barter dan Berbagi

Ini adalah strategi yang sering dilupakan: berkolaborasi dengan tetangga dan komunitas. Dalam situasi ekonomi sulit, tidak ada yang bisa bertahan sendirian.

Beberapa ide kolaborasi:

  • Barter barang: Anda punya kelebihan sayur dari kebun, tetangga punya kelebihan telur. Tukar saja.
  • Komunitas penghematan: Bentuk grup whatsapp dengan 5-10 keluarga terdekat untuk berbagi informasi harga murah, promo, atau bahkan grosir barang bersama-sama.
  • Sistem bergantian masak: Bayangkan jika 5 keluarga bergantian memasak untuk semua. Anda masak Senin-Rabu, tetangga masak Kamis-Sabtu. Efisiensi energi, waktu, dan biaya.

Syahril menambahkan, jangan lupa untuk menyisihkan 10-15% dari penghasilan untuk sedekah. "Sebab sejatinya harta kita sesungguhnya adalah apa yang kita keluarkan untuk sedekah," ujarnya.

Kesimpulan: Menjinakkan Inflasi, Satu Langkah Kecil Sehari

Inflasi memang tidak bisa kita hentikan. Harga bawang merah akan tetap naik jika cuaca buruk. Harga BBM akan tetap fluktuatif jika geopolitik dunia tidak menentu. Tapi yang bisa kita ubah adalah cara kita merespons.

Tiga langkah yang bisa Anda lakukan mulai besok pagi:

1.     Catat semua pengeluaran selama satu bulan penuh. Jangan ada yang terlewat, bahkan Rp 2.000 untuk beli permen sekalipun.

2.     Bedah pos belanja terbesar Anda. Jika itu pangan, terapkan food preparation. Jika itu transportasi, beralihlah ke transportasi umum atau carpool.

3.     Sisihkan minimal 5% dari pendapatan di awal bulan sebagai dana darurat, sebelum Anda membayar apa pun.

Ingat, mengelola keuangan di tengah inflasi bukan tentang menjadi kikir atau hidup susah. Ini tentang menjadi cerdas. Cerdas memilih mana yang benar-benar penting, cerdas mencari alternatif yang lebih efisien, dan cerdas membangun kolaborasi agar beban terasa lebih ringan.

Karena pada akhirnya, keuangan keluarga yang sehat bukan diukur dari seberapa besar gaji Anda, tapi dari seberapa tenang Anda tidur di malam hari—tanpa pusing memikirkan tagihan yang menumpuk.

Catatan Pahupahu – Belajar dari yang sederhana, hidup dari yang bermakna.

 

Daftar Pustaka

Bank Indonesia. (2025). Laporan Perekonomian Provinsi Sumatera Selatan Edisi Mei 2025. Bank Indonesia. 

Kompas.com. (2026, Januari 4). Biaya hidup terus meningkat, tabungan jadi bantalan kelas menengah. Kompashttps://money.kompas.com/ 

LPEM FEB UI. (2025). Indonesia Economic Outlook Q3 2025. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. 

Nazava. (2026, Mei 21). Cara atur keuangan rumah tangga di tengah inflasi. Nazava Bloghttps://www.nazava.com/ 

RRI.co.id. (2025, Januari 18). Langkah stabilkan ekonomi keluarga ditengah inflasi. RRIhttps://rri.co.id/ 

Tempo.co. (2025, Maret 26). Weakened purchasing power: How to navigate economic uncertainty. Tempohttps://en.tempo.co/ 

UOB Global Economics & Markets Research. (2025, September 1). Indonesia: Inflation held steady, volatile food leads gains. UOB Group.