Cara Membuat Pembukuan Sederhana untuk UMKM
Pendahuluan
Banyak pelaku Usaha
Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki produk yang bagus, pelanggan yang
loyal, dan penjualan yang cukup baik. Namun, tidak sedikit yang kesulitan
menjawab pertanyaan sederhana seperti: “Berapa keuntungan usaha bulan ini?”
atau “Berapa sebenarnya modal yang masih tersisa?”
Masalah tersebut
biasanya bukan karena usaha tidak menghasilkan uang, melainkan karena tidak
adanya pembukuan yang baik. Sayangnya, masih banyak pelaku UMKM yang menganggap
pembukuan sebagai sesuatu yang rumit dan hanya diperlukan oleh perusahaan
besar.
Padahal, pembukuan
sederhana merupakan salah satu kunci utama agar usaha dapat berkembang secara
sehat dan berkelanjutan. Dengan pembukuan yang rapi, pemilik usaha dapat
mengetahui kondisi keuangan bisnisnya secara nyata, mengambil keputusan yang
tepat, serta menghindari berbagai masalah keuangan di masa depan.
Artikel ini akan
membahas cara membuat pembukuan sederhana untuk UMKM yang mudah diterapkan
bahkan oleh pelaku usaha yang tidak memiliki latar belakang akuntansi.
Mengapa Pembukuan Penting bagi UMKM?
Pembukuan adalah proses
mencatat seluruh transaksi keuangan yang terjadi dalam usaha, baik pemasukan
maupun pengeluaran.
Melalui pembukuan, pemilik
usaha dapat mengetahui:
- Berapa total penjualan.
- Berapa biaya operasional yang dikeluarkan.
- Berapa keuntungan yang diperoleh.
- Berapa jumlah utang dan piutang.
- Berapa modal yang masih dimiliki.
- Bagaimana kondisi arus kas usaha.
Tanpa pembukuan, pengelolaan
usaha ibarat mengendarai kendaraan tanpa panel indikator. Kendaraan mungkin
tetap berjalan, tetapi pengemudi tidak mengetahui kondisi bahan bakar,
kecepatan, maupun risiko kerusakan yang mungkin terjadi.
Mengapa Banyak UMKM Tidak Membuat Pembukuan?
Ada beberapa alasan yang
sering ditemui di lapangan:
1. Menganggap Pembukuan Terlalu Rumit
Sebagian pelaku UMKM
beranggapan bahwa pembukuan identik dengan laporan keuangan yang kompleks dan
penuh angka.
Padahal, pembukuan
sederhana cukup dimulai dengan mencatat pemasukan dan pengeluaran setiap hari.
2. Tidak Memiliki Waktu
Kesibukan mengelola
produksi, pemasaran, dan pelayanan pelanggan membuat pencatatan keuangan sering
diabaikan.
3. Mengandalkan Ingatan
Banyak pelaku usaha
merasa mampu mengingat seluruh transaksi yang terjadi.
Namun seiring
bertambahnya transaksi, cara ini menjadi tidak efektif dan rentan terhadap
kesalahan.
4. Kurangnya Pengetahuan Keuangan
Sebagian besar UMKM
lahir dari keterampilan produksi atau perdagangan, bukan dari latar belakang
manajemen keuangan.
Akibatnya, pembukuan
sering dianggap sebagai hal yang sulit dipelajari.
Prinsip Dasar Pembukuan Sederhana UMKM
Sebelum mulai membuat
pembukuan, ada beberapa prinsip dasar yang perlu dipahami.
Pisahkan Uang Pribadi dan Uang Usaha
Ini adalah aturan paling
penting.
Jika uang usaha dan uang
pribadi bercampur, maka kondisi keuangan bisnis akan sulit diketahui secara
akurat.
Sebaiknya:
- Gunakan rekening khusus usaha.
- Tetapkan gaji atau pengambilan pribadi secara teratur.
- Hindari mengambil uang usaha secara sembarangan.
Catat Semua Transaksi
Jangan menunggu
transaksi menjadi besar.
Bahkan pembelian plastik
kemasan atau ongkos parkir sekalipun perlu dicatat.
Prinsipnya sederhana:
"Yang tidak dicatat
akan mudah dilupakan."
Lakukan Secara Konsisten
Pembukuan yang baik
tidak harus rumit, tetapi harus dilakukan secara rutin dan disiplin.
Langkah-Langkah Membuat Pembukuan Sederhana untuk UMKM
Langkah 1: Membuat Buku Kas Harian
Buku kas merupakan dasar
dari seluruh pembukuan usaha.
Di dalamnya dicatat:
- Uang masuk.
- Uang keluar.
- Saldo kas.
Contoh Buku Kas Harian
|
Tanggal |
Keterangan |
Masuk (Rp) |
Keluar (Rp) |
Saldo (Rp) |
|
1 Juli |
Modal awal |
5.000.000 |
- |
5.000.000 |
|
2 Juli |
Penjualan |
750.000 |
- |
5.750.000 |
|
2 Juli |
Beli bahan baku |
- |
250.000 |
5.500.000 |
|
3 Juli |
Penjualan |
900.000 |
- |
6.400.000 |
Dengan tabel sederhana
ini, pemilik usaha dapat mengetahui posisi kas setiap saat.
Langkah 2: Membuat Catatan Penjualan
Catatan penjualan
membantu mengetahui jumlah pendapatan yang diperoleh usaha.
Contoh
|
Tanggal |
Produk |
Jumlah Terjual |
Total Penjualan |
|
2 Juli |
Kopi Susu |
50 gelas |
Rp750.000 |
|
3 Juli |
Kopi Susu |
60 gelas |
Rp900.000 |
Dari data ini, pemilik
usaha dapat mengetahui produk mana yang paling diminati pelanggan.
Langkah 3: Membuat Catatan Pengeluaran
Seluruh biaya
operasional harus dicatat secara rinci.
Contoh
|
Tanggal |
Keterangan |
Jumlah |
|
2 Juli |
Beli kopi |
Rp150.000 |
|
2 Juli |
Beli gula |
Rp50.000 |
|
2 Juli |
Transportasi |
Rp50.000 |
Catatan ini membantu
mengidentifikasi biaya yang dapat ditekan atau dihemat.
Langkah 4: Membuat Catatan Utang dan Piutang
Banyak UMKM mengalami
masalah keuangan karena lupa mencatat utang atau piutang.
Piutang
Piutang adalah uang yang
seharusnya diterima dari pelanggan.
Contoh:
|
Nama Pelanggan |
Tanggal |
Jumlah |
|
Toko Maju |
5 Juli |
Rp1.500.000 |
Utang
Utang adalah kewajiban
yang harus dibayar kepada pihak lain.
Contoh:
|
Nama Pemasok |
Tanggal |
Jumlah |
|
Supplier Kopi A |
5 Juli |
Rp2.000.000 |
Dengan pencatatan ini,
UMKM dapat menghindari keterlambatan pembayaran maupun kehilangan tagihan.
Langkah 5: Membuat Laporan Laba-Rugi Sederhana
Laporan laba-rugi
menunjukkan apakah usaha memperoleh keuntungan atau mengalami kerugian.
Rumus sederhananya:
Laba Bersih = Pendapatan – Total Biaya
Contoh
Pendapatan Bulan Juli:
Rp15.000.000
Biaya Operasional:
- Bahan baku: Rp6.000.000
- Gaji karyawan: Rp3.000.000
- Listrik dan air: Rp500.000
- Transportasi: Rp500.000
Total Biaya:
Rp10.000.000
Laba Bersih:
Rp15.000.000 –
Rp10.000.000 = Rp5.000.000
Melalui laporan
sederhana ini, pemilik usaha dapat mengetahui hasil usaha yang sebenarnya.
Ilustrasi: Mengapa Pembukuan Itu Penting?
Bayangkan dua orang
memiliki usaha makanan yang sama.
Pak Budi
- Tidak mencatat transaksi.
- Mengambil uang usaha kapan saja.
- Tidak mengetahui jumlah keuntungan.
Pada akhir bulan, Pak
Budi merasa uang selalu habis meskipun warungnya ramai.
Ibu Rina
- Mencatat semua pemasukan dan pengeluaran.
- Memisahkan rekening usaha dan pribadi.
- Membuat laporan laba-rugi setiap bulan.
Pada akhir bulan, Ibu
Rina mengetahui bahwa keuntungan bersihnya Rp4 juta dan dapat menyisihkan
sebagian untuk pengembangan usaha.
Perbedaan keduanya bukan
pada produk yang dijual, tetapi pada cara mengelola keuangan.
Memanfaatkan Teknologi untuk Pembukuan UMKM
Saat ini pembukuan tidak
harus dilakukan menggunakan buku tulis.
Berbagai aplikasi
keuangan dapat membantu UMKM melakukan pencatatan dengan lebih cepat dan
akurat.
Beberapa manfaat
penggunaan aplikasi keuangan antara lain:
- Pencatatan otomatis.
- Penyimpanan data lebih aman.
- Perhitungan laba-rugi lebih cepat.
- Laporan keuangan dapat dibuat secara instan.
- Memudahkan evaluasi usaha.
Bahkan aplikasi
spreadsheet seperti Microsoft Excel atau Google Sheets sudah cukup membantu
bagi UMKM yang baru memulai pembukuan digital.
Kesalahan yang Harus Dihindari dalam Pembukuan UMKM
Tidak Mencatat Transaksi Kecil
Transaksi kecil yang
terjadi berulang kali dapat menjadi pengeluaran yang besar.
Menunda Pencatatan
Semakin lama ditunda,
semakin besar kemungkinan data terlupakan.
Tidak Menyimpan Bukti Transaksi
Simpan nota, faktur,
atau bukti transfer untuk memudahkan pengecekan.
Tidak Melakukan Evaluasi
Pembukuan bukan hanya
untuk mencatat, tetapi juga untuk dianalisis.
Mencampur Uang Pribadi dan Uang Usaha
Kesalahan ini merupakan
penyebab utama sulitnya mengetahui kondisi keuangan bisnis.
Manfaat Jangka Panjang Pembukuan bagi UMKM
Jika dilakukan secara
konsisten, pembukuan akan memberikan berbagai manfaat, antara lain:
Memudahkan Pengambilan Keputusan
Pemilik usaha dapat
menentukan langkah bisnis berdasarkan data, bukan sekadar perkiraan.
Mempermudah Pengajuan Kredit
Lembaga keuangan
biasanya meminta laporan keuangan sebelum memberikan pembiayaan.
Membantu Pengembangan Usaha
Data keuangan
menunjukkan kapan usaha siap melakukan ekspansi.
Mengurangi Risiko Kerugian
Masalah keuangan dapat
dideteksi lebih awal sebelum menjadi lebih serius.
Meningkatkan Profesionalisme
Usaha yang memiliki
pembukuan yang baik akan lebih dipercaya oleh mitra, investor, dan pelanggan.
Penutup
Pembukuan bukanlah
pekerjaan yang hanya diperuntukkan bagi perusahaan besar atau lulusan
akuntansi. Bagi UMKM, pembukuan justru merupakan alat penting untuk mengetahui
kondisi usaha secara nyata dan mengambil keputusan yang tepat.
Membuat pembukuan
sederhana dapat dimulai dari langkah yang paling dasar, yaitu mencatat
pemasukan dan pengeluaran setiap hari. Dengan konsistensi, pencatatan tersebut
dapat berkembang menjadi laporan keuangan yang membantu pemilik usaha memahami
keuntungan, arus kas, serta peluang pengembangan bisnis.
Di tengah persaingan
usaha yang semakin ketat, UMKM yang mampu mengelola keuangan dengan baik akan
memiliki peluang lebih besar untuk bertahan, berkembang, dan mencapai
kesuksesan jangka panjang. Oleh karena itu, membiasakan diri membuat pembukuan
sederhana bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan bagi setiap pelaku usaha.
Referensi
Bank Indonesia. (2023). Pedoman
pengelolaan keuangan UMKM di era digital. Jakarta: Bank Indonesia.
International Finance
Corporation. (2023). Financial management toolkit for small and medium
enterprises. Washington, DC: IFC.
Lusardi, A. (2019).
Financial literacy and the need for financial education: Evidence and
implications. Swiss Journal of Economics and Statistics, 155(1), 1–8. https://doi.org/10.1186/s41937-019-0027-5
OECD. (2023). OECD
studies on SMEs and entrepreneurship 2023. Paris: OECD Publishing.
Storey, D. J., &
Greene, F. J. (2019). Small business and entrepreneurship (2nd ed.).
London: Pearson Education.
World Bank. (2022). Small
and medium enterprises (SMEs) finance: Improving SMEs’ access to finance and
finding innovative solutions. Washington, DC: World Bank.
Yoshino, N., &
Taghizadeh-Hesary, F. (2018). The role of SMEs in Asia and their
difficulties in accessing finance. Tokyo: Asian Development Bank Institute.
Zada, M., Yukun, C.,
Zada, S., & Ali, M. (2023). Financial literacy, financial management
practices, and SME performance: Evidence from developing economies. Sustainability,
15(4), 1–18.