Senin, 23 Februari 2026

Volunteering di Komunitas Sekitar: Dari Niat Sampai Jadi Ketagihan

Halo lagi, teman-teman Pahupahu!

Volunteering di Komunitas Sekitar

Masih ingat dengan artikel saya beberapa waktu lalu tentang bergabung dengan komunitas hobi? Nah, kali ini saya mau cerita tentang pengalaman “naik level” dalam hal berkegiatan sosial: volunteering alias jadi relawan di komunitas sekitar.

Kalau dulu saya bilang komunitas hobi itu kayak keluarga yang kita pilih, maka volunteering ini kayak jadi “tetangga yang aktif” — bukan cuma urusan hobi pribadi, tapi benar-benar ikut nimbrung dalam kehidupan komunitas sekitar kita.

Dan jujur, awal ceritanya nggak muluk-muluk banget.

Awal Cerita: Dari Iseng Jadi Serius

Ini berawal dari keresahan kecil. Setiap pagi, jalan depan kompleks saya selalu penuh dengan sampah daun dan plastik. Sudah sering saya geram sendiri, tapi ya cuma diem di rumah sambil geleng-geleng. Sampai suatu Sabtu pagi, saya lihat dari jendela ada beberapa pemuda dan ibu-ibu sedang kerja bakti membersihkan selokan.

“Ah, mungkin cuma sesekali,” pikir saya. Tapi ternyata, mereka adalah bagian dari kelompok relawan lingkungan di RW saya. Namanya “Sekar Wangi” — keren ya? Mereka aktif tiap bulan.

Rasa penasaran (dan sedikit malu karena cuma jadi penonton) bikin saya memberanikan diri turun. Dengan celana pendek dan kaos oblong lusuh, saya nyodorkan diri, “Permisi, boleh ikut bantu?”

Reaksi mereka? Senyum lebar, salam hangat, dan langsung disodorin sapu. Simpel. Nggak ada interogasi, nggak ada pendaftaran ribet. Begitulah awal mula saya “terjebak” dalam dunia volunteering.

Volunteering Itu Bukan Cuma untuk “Orang Baik”

Satu stigma yang harus kita bongkar: volunteering itu bukan cuma untuk mereka yang punya waktu luang melimpah, duit berlebih, atau sifat kayak malaikat. Volunteering itu untuk semua orang yang peduli — sekecil apapun kontribusinya.

Saya sendiri bekerja full-time, punya deadline tulisan, dan kadang malas banget kalau hari libur. Tapi volunteering justru jadi penyegar di tengah rutinitas. Ada kepuasan yang beda.

Di kelompok Sekar Wangi, anggotanya macam-macam:

·         Pak Budi, pensiunan guru yang sekarang jadi “komandan” daur ulang

·         Mba Sari, ibu muda yang bawa bayi nya ikut sambil bawa kue untuk teman-teman relawan

·         Mas Andi, mahasiswa yang hobinya bikin konten dokumentasi kegiatan buat .

·         Saya sendiri, yang awalnya cuma bisa nyapu, sekarang belajar bikin kompos

Kita nggak harus jadi superhero. Cukup jadi diri sendiri, dengan kemampuan yang ada.

Manfaat Volunteering yang Nggak Terduga

Kalau dipikir-pikir, saya dapat banyak banget dari kegiatan yang awalnya cuma “bantu-bersih-bersih” ini:

1. Kedekatan dengan Tetangga Jadi Nyata

Zaman sekarang, kenal tetangga cuma lebaran atau saat ada masalah. Tapi dengan volunteering, saya jadi kenal Bu RT yang jago merajut, Mas Heru yang ternyata ahli bangunan, bahkan anak-anak muda yang biasanya cuma lewat dengan earphone. Komunikasi jadi cair, dan rasa “kebersamaan” itu bukan lagi jargon.

2. Belajar Skill Baru yang Nggak diajarin di Mana-mana

Siapa sangka, dari kegiatan bersih-bersih, saya belajar:

·         Cara bikin kompos dari sampah organik

·         Teknik biopori untuk resapan air

·         Negosiasi dengan tukang sampah untuk pemilahan

·         Even organizing sederhana untuk acara lingkungan
Ini ilmu praktis yang langsung aplikatif dan bikin hidup saya lebih “melek” lingkungan.

3. Kesehatan Mental Boost!

Ada kepuasan batin yang sulit dijelaskan ketika lihat selokan yang tadinya mampet jadi lancar, atau taman kecil yang tadinya kumuh jadi hijau. Itu seperti “therapy gratis”. Plus, aktivitas fisik di luar ruangan, ketawa bareng, dan rasa punya tujuan bersama — resep ampuh untuk usir stres.

4. Perspective Baru tentang Lingkungan Sendiri

Kita sering mengeluh tentang keadaan sekitar, tapi volunteering bikin saya sadar: perubahan itu bisa dimulai dari hal kecil, dan kita bisa jadi bagian dari solusi. Nggak perlu nunggu pemerintah atau orang lain.

5. Jaringan Sosial yang Organik dan Tulus

Ini nggak disengaja. Karena sering ketemu, jadi tahu siapa yang bisa diajak kolaborasi. Misalnya, ternyata ada anggota yang punya usaha katering, jadi pas ada acara komunitas, bisa kerjasama. Atau ada yang punya akses ke bibit tanaman gratis. Semua terjadi alami, tanpa agenda tersembunyi.

Gimana Cara Mulai Volunteering buat Pemula?

Bingung mau mulai dari mana? Ini tips berdasarkan pengalaman saya yang awalnya super-pemalu:

1. Cari yang Sesuai Passion dan Kapasitas

Volunteering nggak cuma bersih-bersih lingkungan. Banyak pilihan:

·         Bantu mengajar anak-anak di taman baca

·         Jadi relawan di posyandu atau kegiatan kesehatan

·         Ikut kelompok seni atau budaya lokal

·         Bantu kegiatan di panti atau lembaga sosial terdekat
Pilih yang sesuai dengan minat, biar nggak cepat burnout.

2. Datang dan Tawarkan Diri

Kebanyakan komunitas volunteering informal itu welcome banget sama pendatang baru. Datang aja ke kegiatannya, perkenalkan diri, dan tawarkan bantuan sesuai kemampuan. Saya dulu cuma bilang, “Saya bisa bawa kamera buat dokumentasi, atau bantu angkat-angkat.”

3. Nggak Perlu Perfect, yang Penting Konsisten

Lebih baik bantu sedikit tapi rutin, daripada sekali datang bak superhero terus hilang. Konsistensi itu yang bikin kita dianggap bagian dari komunitas.

4. Jangan Malu dengan Keterbatasan

Waktu terbatas? Cukup 2 jam sebulan pun berarti. Skill terbatas? Banyak tugas sederhana yang butuh tangan. Saya awal-awal cuma bantu bawa air minum atau bersihkan peralatan. Tapi kontribusi kecil itu dihargai.

5. Bawa Teman atau Keluarga

Volunteering bisa jadi kegiatan bonding yang asyik. Saya pernah ajak keponakan ikut tanam pohon, dan dia excited banget. Atau ajak teman kantor buat ikut kegiatan weekend. Seru!

Cerita-cerita Kecil yang Bikin Semangat

Beberapa momen yang bikin saya terus semangat volunteering:

·         Ketika anak-anak ikut: Ada hari dimana anak-anak kompleks diajak ikut bersih-bersih. Mereka justru paling antusias, dan jadi edukasi dini tentang kebersihan.

·         Hasil yang terlihat: Taman kecil yang kita rawat bersama sekarang jadi tempat favorit warga buat santai sore. Itu kebanggaan bersama.

·         Ucapan terima kasih sederhana: Dari nenek-nenek yang senang jalan depan rumahnya bersih, sampai ibu-ibu yang bisa dapat kompos gratis untuk tanamannya.

·         When things go wrong tapi tetap seru: Pernah sekali acara tanam pohon hujan deras. Alih-alih bubar, kita malah ngumpul di pos ronda, minum teh hangat, dan rencana ulang. Jadi cerita lucu yang diingat terus.

Tantangan Volunteering dan Cara Menyiasatinya

Jangan dikira selalu mulus. Beberapa tantangan yang mungkin kalian hadapi:

1. “Saya sibuk banget!”
Solusi: Komitmen kecil. Coba ikut kegiatan bulanan dulu, atau volunteer untuk tugas spesifik yang nggak makan waktu lama. Even 2 jam sebulan itu lebih baik daripada nol.

2. “Saya malu, belum kenal siapa-siapa”
Solusi: Banyak yang merasa begitu! Saya dulu juga. Tapi kebanyakan relawan itu orang-orang terbuka. Coba datang ke acara sosial sebelum ikut kerja bakti, biar kenalan dulu.

3. “Apa saya bisa berkontribusi? Saya nggak punya keahlian khusus”
Solusi: Percaya deh, selalu ada yang bisa dilakukan. Bawa kudapan, bantu dokumentasi pakai HP, atau sekadar menyemangati — itu kontribusi berharga.

4. “Komunitasnya klik-ish atau eksklusif”
Solusi: Coba cari kelompok lain. Tidak semua komunitas sama. Cari yang sesuai dengan vibe kalian.

Volunteering di Era Modern

Sekarang volunteering juga bisa fleksibel:

·         Micro-volunteering: Tugas kecil yang bisa dilakukan online atau dalam waktu singkat

·         Skill-based volunteering: Menawarkan keahlian spesifik (desain, akuntansi, menulis) untuk organisasi sosial

·         Virtual volunteering: Bantu manage media sosial, terjemahan, atau riset dari rumah

·         Event-based volunteering: Ikut acara tertentu seperti festival budaya, bazaar, atau kampanye kesehatan

Penutup: Sebuah Undangan untuk Merasakan Sendiri

Teman-teman Pahupahu, kalau ada satu hal yang saya pelajari dari volunteering ini: kita mendapat lebih banyak daripada yang kita beri.

Yang kita beri mungkin waktu, tenaga, atau ide. Yang kita dapat? Rasa memiliki, kebanggaan, keterampilan baru, teman baru, dan kepuasan batin yang nggak bisa dibeli.

Volunteering itu seperti menanam pohon. Awalnya kecil, butuh kesabaran, dan kadang kita nggak lihat hasilnya langsung. Tapi lama-lama, akarnya kuat, daunnya rindang, dan banyak yang merasakan manfaatnya — termasuk diri kita sendiri.

Jadi, apakah kalian pernah kepikiran untuk volunteering? Atau mungkin sudah punya pengalaman? Yuk, cerita di komentar!

Siapa tahu, di luar sana ada komunitas sekitar yang sedang menunggu kehadiran dan kontribusi unik kalian. Nggak perlu nunggu jadi kaya raya atau punya waktu luang melimpah. Cukup dengan niat dan langkah pertama — seperti saya yang dulu turun dengan sapu di tangan, dan pulang dengan senyum lebar.

Sampai jumpa di tulisan berikutnya. Dan siapa tahu, kita bisa ketemu di kegiatan volunteering yang sama suatu hari nanti!

Penulis adalah anggota biasa Sekar Wangi yang masih belajar bikin kompos tanpa bau, dan percaya bahwa perubahan besar dimulai dari aksi kecil yang konsisten. Follow . @catatanpahupahu untuk cerita-cerita lokal lainnya yang hangat dan relatable.




 

Minggu, 22 Februari 2026

Belajar Sejarah Lewat Serial TV: Nonton Serius Tapi Tetap Santai

 

Belajar Sejarah Lewat Serial TV: Nonton Serius Tapi Tetap Santai

Jujur saja.

Belajar Sejarah Lewat Serial TV


Dulu kalau dengar kata sejarah, yang kebayang di kepala saya cuma satu: buku tebal, tanggal-tanggal ribet, nama tokoh yang susah diingat, plus guru yang ngomongnya datar.

Sejarah terasa seperti hafalan panjang yang entah buat apa.

Tahun sekian terjadi ini.
Tahun sekian terjadi itu.

Ulangan datang, hafal.
Ulangan lewat, lupa.

Siklusnya begitu terus.

Saya sampai pernah mikir, “Kenapa sih kita harus tahu semua ini?”

Kedengarannya kejam, ya. Tapi ya begitulah kenyataannya waktu sekolah dulu.

Sampai suatu hari, semuanya berubah gara-gara… serial TV.

Iya. Serial. Yang biasanya cuma buat hiburan.

Yang niat awalnya cuma, “ah nonton satu episode sebelum tidur.”

Eh tahu-tahu malah bikin saya googling sejarah sampai jam dua pagi.

Lucu juga.

Ternyata sejarah bisa semenarik itu.


Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)


Awalnya Cuma Mau Hiburan

Waktu itu saya nonton serial berlatar kerajaan-kerajaan lama.

Niatnya jelas: cari tontonan santai.

Ada kostum keren, drama politik, perebutan tahta, pengkhianatan, perang, intrik keluarga.

Seru. Tegang. Bikin penasaran.

Episode pertama selesai, lanjut.
Episode kedua, lanjut lagi.
Tahu-tahu maraton.

Tapi di tengah nonton, muncul pikiran kecil:

“Eh, ini beneran kejadian nggak sih?”

Akhirnya saya cari di internet.

Dan boom.

Ternyata tokohnya nyata. Perangnya nyata. Dinastinya nyata.

Saya kaget.

Lah, ini sejarah toh?

Kenapa dulu di buku pelajaran rasanya hambar banget, tapi di layar TV kok hidup banget?

Sejarah Jadi Punya Wajah

Masalah terbesar saya dulu sama sejarah adalah: terlalu abstrak.

Nama tokoh cuma teks.
Peristiwa cuma paragraf.

Nggak ada wajah. Nggak ada emosi.

Tapi begitu nonton serial, semuanya berubah.

Raja bukan cuma nama — dia manusia, punya ego, takut, marah, cemburu.
Ratu bukan cuma gelar — dia bisa galau, dendam, atau ambisius.
Perang bukan cuma angka korban — ada tangisan, strategi, pengkhianatan.

Tiba-tiba sejarah terasa personal.

Bukan lagi cerita jauh di masa lalu.

Tapi kisah manusia yang kebetulan hidup ratusan tahun sebelum kita.

Dan entah kenapa, itu bikin lebih mudah nyambung.

Tanggal Memang Membosankan, Cerita Tidak

Saya sadar satu hal penting:

otak kita suka cerita, bukan angka.

Kalau disuruh hafal “Perang terjadi tahun 1815”, ya cepat lupa.

Tapi kalau lihat dramanya:

kenapa perang terjadi, siapa yang sakit hati, siapa yang berkhianat, siapa yang jatuh cinta di tengah kekacauan…

itu malah nempel.

Karena ada emosinya.

Serial TV pintar banget soal ini.

Mereka bikin sejarah terasa seperti drama manusia.

Dan kita, tanpa sadar, ikut belajar.

Efek Samping: Jadi Rajin Googling

Sejak mulai nonton serial berlatar sejarah, kebiasaan baru muncul.

Setiap selesai satu episode, saya buka Google.

“Tokoh ini beneran ada nggak sih?”
“Ending aslinya gimana?”
“Seakurat apa ceritanya?”

Kadang malah masuk Wikipedia, terus lompat-lompat ke artikel lain.

Tahu-tahu sudah baca sejarah satu dinasti lengkap.

Padahal niat awal cuma nonton buat santai.

Tapi malah dapat ilmu bonus.

Belajar tanpa terasa belajar.

Dan menurut saya, itu cara paling efektif.

Nonton Tapi Otak Ikut Kerja

Yang saya suka, nonton serial sejarah itu bukan cuma hiburan pasif.

Otak ikut mikir.

Kita mulai nebak-nebak:

“Kalau gue jadi dia, bakal ngapain ya?”
“Kenapa keputusan politiknya begitu?”
“Kalau beda strategi, mungkin sejarahnya berubah?”

Rasanya seperti ikut masuk ke mesin waktu.

Ikut terlibat.

Sejarah jadi bukan cuma masa lalu, tapi bahan refleksi.

Kadang saya malah bandingin sama kondisi sekarang.

Dan sadar:

eh, manusia dari dulu ternyata dramanya sama saja.

Cuma kostumnya beda.

Belajar Budaya Sekalian

Bonus lain yang nggak saya duga: jadi kenal budaya.

Dari serial sejarah, saya belajar:

·         pakaian tradisional

·         adat istiadat

·         cara bicara

·         struktur sosial

·         sampai makanan khas

Hal-hal kecil yang jarang dibahas di buku sekolah.

Padahal justru itu yang bikin sebuah zaman terasa nyata.

Kadang saya malah lebih ingat detail kehidupan sehari-harinya daripada perangnya.

Dan itu bikin dunia terasa luas banget.

Tapi Tetap Harus Kritis

Walaupun seru, saya juga sadar: serial TV tetaplah hiburan.

Nggak semuanya akurat.

Kadang ada drama tambahan. Kadang dilebih-lebihkan.

Ada tokoh yang disederhanakan biar ceritanya enak ditonton.

Jadi penting juga buat cek fakta.

Anggap saja serial itu “pintu masuk”.

Bukan sumber utama.

Dia bikin kita tertarik dulu.

Setelah itu, baru cari tahu sejarah aslinya.

Kayak trailer yang bikin penasaran sama filmnya.

Cara Santai Belajar Sejarah

Buat saya, ini cara belajar paling santai:

nonton → penasaran → googling → baca → nonton lagi.

Siklusnya natural.

Nggak dipaksa.

Nggak terasa seperti belajar.

Tapi lama-lama wawasan nambah sendiri.

Dan yang paling penting: nggak bikin ngantuk.

Karena jujur ya… baca buku sejarah tebal kadang butuh niat besar.

Tapi kalau serial? Tinggal pencet play.

Jadi Lebih Menghargai Masa Lalu

Setelah sering nonton serial sejarah, saya jadi punya rasa hormat baru sama masa lalu.

Ternyata dunia yang kita nikmati sekarang nggak muncul tiba-tiba.

Ada proses panjang.

Ada konflik. Ada perjuangan. Ada kegagalan.

Orang-orang dulu juga sama bingungnya, sama takutnya, sama nekatnya seperti kita sekarang.

Sejarah bukan cuma “cerita lama”.

Tapi fondasi hidup kita hari ini.

Dan menyadari itu bikin saya lebih bersyukur.

Nonton dengan Rasa Ingin Tahu

Sekarang tiap mulai serial berlatar sejarah, saya punya mindset baru.

Bukan cuma: “Semoga seru.”

Tapi juga: “Kira-kira bisa belajar apa ya dari sini?”

Kadang dapat pengetahuan baru.

Kadang cuma dapat hiburan.

Dua-duanya oke.

Karena buat saya, belajar nggak harus selalu serius.

Bisa sambil rebahan.

Bisa sambil ngemil.

Bisa sambil ketawa atau teriak kesel lihat tokohnya.

Penutup: Belajar Nggak Harus Duduk Tegak

Kalau dulu ada yang bilang saya bakal suka sejarah, mungkin saya ketawa.

Tapi hidup memang lucu.

Ternyata saya suka.

Cuma medianya beda.

Bukan buku tebal.
Bukan hafalan.
Tapi layar TV.

Kadang kita cuma belum ketemu cara belajar yang cocok.

Begitu ketemu, semuanya terasa ringan.

Jadi kalau kamu merasa sejarah itu membosankan…

mungkin bukan sejarahnya yang salah.

Mungkin cuma metodenya.

Coba saja nonton satu serial berlatar sejarah.

Siapa tahu malah keterusan.

Siapa tahu malah googling sampai tengah malam.

Siapa tahu tiba-tiba kamu bilang:

“Eh, ternyata sejarah seru juga, ya.”

Dan menurut saya, itu sudah cukup.

Belajar sambil santai.
Santai tapi tetap nambah isi kepala.

Salam rebahan produktif dari
Catatan PAHUPAHU πŸ“ΊπŸ“š


 Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)