Jumat, 17 Juli 2026

Pelajaran Keuangan yang Jarang Diajarkan di Sekolah

 

BAGIAN I: LITERASI KEUANGAN DASAR

19. Pelajaran Keuangan yang Jarang Diajarkan di Sekolah

"Kita belajar matematika, fisika, sejarah, dan berbagai ilmu lainnya di sekolah. Namun ketika mulai menerima gaji pertama, membayar tagihan, mengelola utang, atau merencanakan masa depan, banyak orang merasa kebingungan. Mengapa? Karena ada pelajaran penting yang sering luput diajarkan secara mendalam: pelajaran tentang uang."

Sekolah memiliki peran besar dalam membentuk pengetahuan dan karakter seseorang. Melalui pendidikan formal, kita belajar membaca, menulis, berhitung, berpikir kritis, dan memahami berbagai fenomena sosial maupun ilmiah. Namun, ada satu keterampilan hidup yang sering kali baru dipelajari setelah seseorang memasuki dunia kerja, yaitu kemampuan mengelola keuangan pribadi.

Akibatnya, banyak orang dewasa yang memiliki pendidikan tinggi tetapi masih kesulitan mengatur pengeluaran, terjebak utang konsumtif, tidak memiliki dana darurat, bahkan tidak memahami cara berinvestasi dengan benar.

Padahal, keputusan keuangan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Setiap orang akan berhadapan dengan pilihan finansial, mulai dari mengatur uang saku, menabung, membeli rumah, membayar pajak, hingga mempersiapkan dana pensiun.

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menjelaskan bahwa literasi keuangan merupakan kombinasi pengetahuan, keterampilan, sikap, dan perilaku yang memungkinkan seseorang mengambil keputusan keuangan yang baik demi kesejahteraan hidupnya. OECD juga menemukan bahwa individu dengan tingkat literasi keuangan yang lebih tinggi cenderung memiliki kesejahteraan dan ketahanan finansial yang lebih baik.

Lalu, pelajaran keuangan apa saja yang sebenarnya sangat penting tetapi masih jarang diajarkan secara sistematis di sekolah?

1. Cara Membuat dan Mengelola Anggaran Keuangan

Sebagian besar siswa belajar menghitung luas bangun datar atau menyelesaikan persamaan matematika. Namun, tidak banyak yang diajarkan cara menyusun anggaran keuangan pribadi.

Padahal, kemampuan membuat anggaran merupakan dasar dari kesehatan finansial.

Anggaran membantu seseorang mengetahui:

  • Berapa uang yang dimiliki.
  • Berapa uang yang dibelanjakan.
  • Berapa yang dapat ditabung.
  • Berapa yang dapat diinvestasikan.

Ilustrasi Sederhana

Seorang mahasiswa menerima uang saku Rp1.500.000 per bulan.

Tanpa anggaran:

  • Minggu pertama: Rp700.000 habis untuk nongkrong dan belanja.
  • Minggu kedua: mulai kesulitan.
  • Minggu ketiga dan keempat: harus meminjam uang.

Dengan anggaran:

  • Kebutuhan makan: Rp800.000
  • Transportasi: Rp200.000
  • Tabungan: Rp200.000
  • Kebutuhan lain: Rp300.000

Hasilnya jauh lebih terkontrol.

Sayangnya, keterampilan sederhana ini sering dipelajari melalui pengalaman dan kesalahan, bukan melalui pendidikan formal.

2. Perbedaan Antara Kebutuhan dan Keinginan

Banyak masalah keuangan muncul karena seseorang tidak mampu membedakan kebutuhan dan keinginan.

Kebutuhan adalah sesuatu yang harus dipenuhi agar kehidupan berjalan dengan baik.

Contohnya:

  • Makanan.
  • Tempat tinggal.
  • Pendidikan.
  • Kesehatan.

Sementara keinginan adalah sesuatu yang menyenangkan tetapi tidak selalu harus dimiliki.

Contohnya:

  • Telepon genggam terbaru.
  • Barang bermerek.
  • Liburan mewah.
  • Aksesori mahal.

Di era media sosial, kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan menjadi semakin penting karena masyarakat terus dibombardir oleh iklan dan tren konsumsi.

3. Cara Kerja Utang

Banyak orang baru memahami risiko utang ketika sudah terlanjur memiliki cicilan yang memberatkan.

Padahal, memahami utang seharusnya menjadi bagian dari pendidikan dasar.

Yang perlu dipahami bukan hanya cara meminjam uang, tetapi juga:

  • Bunga pinjaman.
  • Risiko gagal bayar.
  • Dampak skor kredit.
  • Perbedaan utang produktif dan konsumtif.

Ilustrasi

Dua orang meminjam Rp10 juta.

Orang pertama menggunakan pinjaman untuk modal usaha yang menghasilkan keuntungan.

Orang kedua menggunakan pinjaman untuk membeli barang konsumtif yang nilainya terus menurun.

Meskipun jumlah pinjamannya sama, hasil akhirnya sangat berbeda.

Pelajaran semacam ini sangat penting agar generasi muda tidak mudah terjebak dalam utang yang tidak produktif.

4. Pentingnya Dana Darurat

Ketika masih sekolah, banyak orang beranggapan bahwa kehidupan akan selalu berjalan normal.

Padahal kenyataannya tidak demikian.

Kehilangan pekerjaan, sakit, bencana alam, atau kebutuhan keluarga yang mendadak dapat terjadi kapan saja.

Dana darurat adalah tabungan khusus yang digunakan untuk menghadapi situasi tidak terduga.

Sayangnya, konsep ini jarang dibahas dalam pendidikan formal.

Padahal banyak krisis keuangan keluarga terjadi bukan karena kurangnya penghasilan, melainkan karena tidak adanya dana cadangan saat keadaan darurat muncul.

5. Cara Kerja Investasi

Ketika mendengar kata investasi, sebagian orang langsung membayangkan saham, properti, atau keuntungan besar.

Padahal inti investasi jauh lebih sederhana.

Investasi adalah proses menempatkan uang atau sumber daya saat ini untuk memperoleh manfaat yang lebih besar di masa depan.

Pelajaran yang seharusnya diajarkan meliputi:

  • Risiko dan keuntungan investasi.
  • Diversifikasi.
  • Inflasi.
  • Investasi jangka panjang.
  • Efek bunga majemuk (compound growth).

Banyak anak muda yang menjadi korban investasi bodong karena memahami janji keuntungan, tetapi tidak memahami risiko.

Penelitian menunjukkan bahwa literasi keuangan berpengaruh terhadap kualitas keputusan investasi dan perilaku pengelolaan keuangan seseorang.

6. Uang Tidak Hanya Soal Matematika, Tetapi Juga Psikologi

Ini adalah pelajaran yang sangat jarang dibahas.

Banyak keputusan keuangan sebenarnya tidak dibuat berdasarkan logika semata.

Orang sering membeli sesuatu karena:

  • Takut ketinggalan tren.
  • Ingin dianggap sukses.
  • Terpengaruh teman.
  • Sedang stres atau sedih.

Dalam ilmu perilaku keuangan (behavioral finance), kondisi emosional sering memengaruhi cara seseorang menggunakan uang.

Ilustrasi

Ketika sedang sedih, seseorang membuka aplikasi belanja daring dan membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Beberapa hari kemudian, ia menyesal karena uangnya berkurang.

Masalahnya bukan pada kurangnya uang, melainkan kurangnya pengendalian emosi.

Pelajaran mengenai hubungan antara emosi dan keuangan sangat penting untuk membangun perilaku finansial yang sehat.

7. Cara Menghitung Biaya Hidup Nyata

Ketika masih sekolah, jarang ada mata pelajaran yang mengajarkan berapa sebenarnya biaya hidup seorang dewasa.

Padahal setelah lulus, seseorang akan menghadapi berbagai kebutuhan seperti:

  • Sewa rumah.
  • Listrik.
  • Air.
  • Internet.
  • Transportasi.
  • Pajak.
  • Asuransi.

Akibatnya, banyak lulusan baru yang terkejut ketika mengetahui bahwa penghasilan pertama mereka harus dibagi ke banyak kebutuhan.

Pelajaran tentang biaya hidup dapat membantu siswa mempersiapkan diri menghadapi dunia nyata.

8. Pentingnya Pajak dalam Kehidupan

Pajak sering dianggap sebagai urusan orang dewasa.

Padahal hampir semua warga negara akan berhubungan dengan pajak dalam berbagai bentuk.

Banyak orang baru belajar tentang:

  • Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
  • Pelaporan pajak.
  • Pajak penghasilan.
  • Pajak usaha.

setelah memasuki dunia kerja.

Dalam berbagai diskusi masyarakat, pajak termasuk salah satu keterampilan praktis yang paling sering disebut sebagai hal yang seharusnya diperkenalkan sejak sekolah.

9. Cara Merencanakan Masa Depan Finansial

Sekolah sering mengajarkan pentingnya memiliki cita-cita.

Namun, tidak banyak yang mengajarkan cara membiayai cita-cita tersebut.

Misalnya:

  • Berapa biaya kuliah?
  • Berapa dana yang diperlukan untuk membuka usaha?
  • Bagaimana menyiapkan dana pernikahan?
  • Bagaimana mempersiapkan dana pensiun?

Perencanaan keuangan membantu seseorang menerjemahkan impian menjadi langkah-langkah yang realistis.

10. Uang Harus Bekerja untuk Kita

Sebagian besar orang diajarkan bahwa cara memperoleh uang adalah bekerja.

Itu benar.

Namun ada pelajaran lanjutan yang jarang diajarkan:

Bagaimana membuat uang ikut bekerja untuk kita.

Hal ini dapat dilakukan melalui:

  • Investasi.
  • Aset produktif.
  • Usaha.
  • Dividen.
  • Pendapatan pasif lainnya.

Konsep ini penting karena kemampuan bekerja memiliki batas, sedangkan aset produktif dapat terus menghasilkan nilai dalam jangka panjang.

Mengapa Pelajaran Ini Penting?

Dunia saat ini jauh berbeda dibanding beberapa dekade lalu.

Generasi muda menghadapi:

  • Kemudahan akses kredit digital.
  • Investasi berbasis aplikasi.
  • Perdagangan elektronik.
  • Risiko penipuan finansial daring.
  • Berbagai produk keuangan yang semakin kompleks.

OECD menegaskan bahwa digitalisasi dan berkembangnya produk keuangan modern membuat literasi keuangan menjadi semakin penting bagi masyarakat.

Karena itu, kemampuan mengelola uang bukan lagi keterampilan tambahan, melainkan kebutuhan hidup.

Bahkan berbagai negara mulai mendorong integrasi literasi keuangan dalam sistem pendidikan karena rendahnya kemampuan finansial masyarakat dapat berdampak pada kesejahteraan individu maupun ekonomi nasional.

Penutup

Sekolah telah memberikan banyak bekal ilmu yang berharga. Namun kenyataannya, masih ada sejumlah pelajaran keuangan penting yang sering kali belum diajarkan secara mendalam. Akibatnya, banyak orang memasuki dunia dewasa tanpa memahami cara mengelola uang, membangun tabungan, menghindari utang yang berbahaya, atau mempersiapkan masa depan finansial mereka.

Pelajaran tentang anggaran, investasi, dana darurat, pajak, perilaku konsumsi, dan perencanaan keuangan sesungguhnya merupakan keterampilan hidup yang akan digunakan sepanjang hayat. Semakin cepat seseorang mempelajarinya, semakin besar peluangnya untuk mencapai kondisi keuangan yang sehat dan stabil.

Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan hanya menciptakan individu yang cerdas secara akademik, tetapi juga individu yang mampu mengambil keputusan bijak dalam kehidupan nyata. Dan salah satu keputusan terpenting yang akan terus dihadapi setiap orang adalah keputusan mengenai uang.

Daftar Pustaka

Lusardi, A. (2019). Financial literacy and the need for financial education: Evidence and implications. Swiss Journal of Economics and Statistics, 155(1), 1–8.

OECD. (2023). OECD/INFE 2023 International Survey of Adult Financial Literacy. Paris: OECD Publishing.

OECD. (2024). Financial Education. Organisation for Economic Co-operation and Development. Retrieved from https://www.oecd.org

Pranata, T. Y., & Widoatmodjo, S. (2023). Pengaruh pendapatan, literasi keuangan, dan sikap keuangan terhadap perilaku pengelolaan keuangan orang dewasa belum menikah di DKI Jakarta. Jurnal Manajemen Bisnis dan Kewirausahaan, 7(4).

Thomas, G. N., Nur, S. M. R., & Indriaty, L. (2024). The Impact of Financial Literacy, Social Capital, and Financial Technology on Financial Inclusion of Indonesian Students. arXiv Preprint.

Pakpahan, T. F., Retta, A. M., & Nopriyanti, T. D. (2023). Analisis Materi Aritmetika Sosial Menggunakan Konteks Literasi Finansial. Supremum Journal of Mathematics Education, 7(1), 1–14.

Direktorat Sekolah Dasar Kemendikbudristek. (2023). Literasi Finansial dalam Pendidikan Dasar. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.