Membaca Buku dan Menulis Ulasannya: Cara Sederhana
Menikmati Bacaan Lebih Dalam
| Membaca Buku dan Menulis Ulasannya |
Ada dua tipe pembaca buku di dunia ini.
Pertama, yang membaca lalu selesai. Tutup buku, taruh di rak, lanjut hidup seperti biasa.
Kedua, yang setelah membaca justru belum selesai—karena kepalanya masih penuh pikiran, perasaan, dan keinginan buat cerita ke orang lain.
Kalau kamu termasuk tipe kedua, selamat. Kamu
mungkin diam-diam sudah setengah jalan jadi penulis ulasan buku.
Saya dulu termasuk tipe pertama. Baca buku cepat,
puas, lalu lupa. Judulnya masih ingat, tapi isinya samar. Kadang cuma tersisa,
“Kayaknya bagus deh.” Tapi kenapa bagus? Nggak tahu.
Sampai suatu hari saya iseng menulis sedikit
catatan setelah selesai membaca. Bukan ulasan panjang, cuma beberapa paragraf:
kesan, kutipan favorit, dan pendapat pribadi. Ternyata efeknya luar biasa. Buku
itu seperti “tinggal” lebih lama di kepala.
Dari situlah saya sadar: membaca dan menulis
ulasan itu pasangan yang serasi. Seperti kopi dan pagi hari. Seperti hujan dan
kenangan.
Mereka saling melengkapi.
Membaca Bukan Cuma Soal Tamat
Banyak orang menganggap membaca itu soal
kuantitas.
“Tahun ini target 50 buku!”
“Bulan ini minimal 5 buku!”
Nggak salah, sih. Target bisa bikin semangat.
Tapi kadang kita jadi lupa menikmati prosesnya. Buku dibaca cepat-cepat, yang
penting selesai. Ibarat nonton film sambil fast forward.
Padahal membaca itu mestinya pelan. Dinikmati.
Kita berhenti di kalimat yang indah.
Mengulang paragraf yang menampar hati.
Atau tiba-tiba melamun karena ceritanya terasa dekat dengan hidup sendiri.
Nah, di sinilah menulis ulasan berperan. Ulasan
memaksa kita memperlambat langkah. Kita jadi bertanya:
·
Apa sih inti buku ini?
·
Kenapa saya suka/tidak suka?
·
Bagian mana yang paling berkesan?
·
Pelajaran apa yang saya dapat?
Pertanyaan-pertanyaan itu bikin kita membaca
dengan lebih sadar.
Bukan cuma lewat mata, tapi juga lewat pikiran
dan perasaan.
Menulis Ulasan Itu Bukan Tugas Sekolah
Banyak orang malas menulis ulasan karena trauma
tugas sekolah.
Harus formal.
Harus baku.
Harus ada sinopsis, tema, amanat, kelebihan, kekurangan…
Aduh, ribet banget.
Padahal ulasan buku di blog itu bebas. Santai
saja. Anggap seperti cerita ke teman.
Bayangkan kamu baru selesai baca buku, lalu
nongkrong sama sahabat. Kamu pasti bilang:
“Eh, gue baru baca buku keren banget!”
“Ceritanya bikin nangis, sumpah.”
“Tokohnya ngeselin tapi realistis.”
Nah, itu sebenarnya sudah ulasan. Tinggal ditulis
saja.
Nggak perlu bahasa tinggi. Nggak perlu istilah
akademis. Tulis dengan suara kamu sendiri. Justru itu yang bikin pembaca blog
merasa dekat.
Karena mereka bukan cari skripsi.
Mereka cari cerita.
Kenapa Perlu Menulis Ulasan Buku?
Selain biar nggak lupa isi buku, ada banyak
manfaat tersembunyi.
1. Ingatan Lebih Kuat
Saat menulis, otak bekerja dua kali. Kita
mengingat, menyusun, lalu mengekspresikan ulang. Hasilnya? Cerita lebih
melekat.
Kadang saya masih ingat detail buku yang dibaca
bertahun-tahun lalu, cuma karena dulu sempat menulis ulasannya.
2. Melatih Berpikir Kritis
Menulis ulasan bikin kita nggak asal suka atau
nggak suka. Kita belajar menjelaskan alasan.
“Kenapa bagus?”
“Kenapa membosankan?”
Pelan-pelan kita jadi pembaca yang lebih kritis.
3. Melatih Menulis
Kalau rutin bikin ulasan, tanpa sadar kemampuan
menulis ikut naik. Kosakata bertambah. Gaya bahasa makin luwes. Kalimat makin
enak dibaca.
Ibarat olahraga kecil tapi rutin.
4. Berbagi Manfaat ke Orang Lain
Pernah beli buku karena rekomendasi orang? Nah,
ulasan kita bisa jadi “petunjuk jalan” buat pembaca lain.
Siapa tahu tulisan kita membantu seseorang
menemukan buku yang mengubah hidupnya.
Keren, kan?
Cara Santai Menulis Ulasan Buku
Buat yang masih bingung mulai dari mana, ini
versi santainya.
Nggak ribet. Nggak kaku.
Mulai dari Perasaan
Tanya diri sendiri:
“Setelah baca buku ini, saya merasa apa?”
Senang? Sedih? Marah? Terinspirasi?
Mulai dari situ.
Contoh:
Buku ini bikin saya terdiam lama setelah halaman
terakhir. Rasanya campur aduk antara haru dan kesal.
Lihat? Simpel.
Ceritakan Sedikit Isinya
Nggak perlu spoiler. Cukup gambaran umum biar
pembaca paham.
Seperti trailer film, bukan rangkuman lengkap.
Tambahkan Pendapat Pribadi
Bagian ini yang paling penting. Karena inilah
yang bikin ulasan kamu unik.
·
Tokoh favorit?
·
Bagian paling berkesan?
·
Kutipan yang menempel di kepala?
·
Kritik kecil?
Jangan takut jujur.
Tutup dengan Rekomendasi
Buku ini cocok buat siapa?
“Buat yang lagi cari bacaan ringan.”
“Buat pecinta misteri.”
“Atau buat kamu yang lagi patah hati.”
Kalimat sederhana, tapi membantu.
Nggak Harus Sempurna
Kadang kita nunda nulis karena merasa:
“Ah, belum bagus.”
“Takut jelek.”
“Takut dibilang sok tahu.”
Percayalah, semua penulis pernah ada di fase itu.
Tulisan pertama pasti berantakan. Wajar.
Anggap saja seperti coretan di buku harian. Nggak
perlu sempurna. Yang penting jujur.
Lama-lama gaya kamu akan terbentuk sendiri.
Justru ketidaksempurnaan itu yang bikin tulisan
terasa manusiawi.
Menjadikan Ulasan Sebagai Ritual
Coba biasakan satu hal kecil:
Setiap selesai satu buku, tulis minimal 300–500 kata.
Nggak usah panjang. Yang penting konsisten.
Bisa di blog, notes HP, atau buku catatan.
Lama-lama kamu akan punya “jejak membaca”.
Kumpulan kenangan dalam bentuk tulisan.
Seru banget kalau suatu hari kamu baca ulang
ulasan lama. Rasanya seperti ketemu versi diri sendiri di masa lalu.
“Oh, dulu gue mikir gini, ya.”
Menyenangkan sekaligus mengharukan.
Membaca Lebih Hidup, Menulis Lebih Jujur
Akhirnya saya percaya satu hal:
Membaca itu menyerap dunia orang lain.
Menulis ulasan itu menemukan suara diri sendiri.
Dua-duanya saling melengkapi.
Buku memberi kita cerita.
Ulasan memberi kita makna.
Jadi lain kali setelah menutup buku terakhir
halaman, jangan langsung buru-buru pindah ke bacaan berikutnya.
Diam sebentar.
Ambil napas.
Buka laptop atau catatan.
Tulis.
Tulis apa pun yang terlintas. Tentang tokohnya,
tentang emosimu, tentang kenangan yang tiba-tiba muncul.
Karena mungkin, justru di situlah pengalaman
membaca yang sesungguhnya dimulai.
Dan siapa tahu, dari sekadar ulasan santai di
blog Catatan PAHUPAHU,
lahir tulisan-tulisan lain yang lebih panjang, lebih dalam, dan lebih bermakna.
Selamat membaca.
Selamat menulis.
Dan selamat jatuh cinta berkali-kali lewat buku. ๐