Mendalami Filsafat atau Psikologi Populer: Ngobrol Sama
Diri Sendiri, Tapi Lebih Serius Sedikit
| Mendalami Filsafat atau Psikologi Populer |
Dulu saya pikir filsafat itu cuma buat mahasiswa berkacamata tebal yang doyan mikir berat.
Yang kalau ngobrol pakai kata-kata aneh seperti
“eksistensialisme”, “nihilisme”, “epistemologi”, dan sejenisnya.
Sementara psikologi? Kedengarannya seperti buku
motivasi di rak toko buku. Judulnya heboh. Isinya kadang cuma, “kamu pasti
bisa!”
Jujur saja, dua-duanya terasa jauh dari kehidupan
sehari-hari.
Sampai suatu hari saya iseng baca satu buku
psikologi populer. Bukan karena niat belajar, cuma penasaran.
Lalu tanpa sadar… keterusan.
Dari satu buku, jadi dua. Dari dua, jadi lima.
Dari sekadar baca, jadi mikir.
Dan pelan-pelan saya sadar satu hal:
ternyata filsafat dan psikologi itu bukan hal
berat.
Mereka cuma cara lain buat memahami hidup.
Dan hidup, ya kita jalani setiap hari.
Jadi sebenarnya ini dekat banget.
Awalnya Cuma Penasaran
Biasanya semuanya dimulai dari rasa penasaran
kecil.
Kenapa saya gampang overthinking?
Kenapa orang beda-beda cara mikirnya?
Kenapa kadang kita merasa kosong padahal semua baik-baik saja?
Apa sebenarnya arti “bahagia”?
Pertanyaan-pertanyaan kayak gitu kan sering
muncul, ya?
Cuma bedanya, dulu saya cuma lewatkan. Sekarang
saya cari jawabannya.
Dan anehnya, jawabannya sering datang dari buku
filsafat atau psikologi.
Bukan jawaban pasti sih. Tapi lebih ke arah: “Oh…
ternyata begini toh cara melihatnya.”
Dan itu rasanya melegakan.
Filsafat Itu Ternyata Cuma Suka Nanya
Kalau dipikir-pikir, filsafat itu hobinya satu:
nanya.
Apa itu bahagia?
Apa itu benar?
Apa tujuan hidup?
Kenapa manusia ada?
Kedengarannya ribet. Tapi sebenarnya kita juga
sering mikir begitu, cuma nggak sadar.
Bedanya, para filsuf serius banget mikirinnya.
Saya pernah baca satu kalimat sederhana:
Filsafat itu belajar
berpikir tentang hal-hal yang kita anggap biasa.
Dan itu masuk akal banget.
Hal-hal yang selama ini kita terima begitu saja,
tiba-tiba dipertanyakan.
Kenapa kita kerja segini keras?
Kenapa sukses harus begini bentuknya?
Kenapa takut gagal?
Tiba-tiba hidup terasa seperti punya tombol “zoom
out”.
Kita jadi lihat gambaran besar, bukan cuma drama
harian.
Psikologi Populer: Versi Ringannya
Kalau filsafat terasa berat, psikologi populer
itu seperti versi ramahnya.
Bahasanya lebih santai. Contohnya dekat dengan
kehidupan.
Topiknya juga relate banget:
·
overthinking
·
insecure
·
burnout
·
kebiasaan kecil
·
pola pikir
·
cara mengatur emosi
Rasanya kayak lagi baca buku yang ngerti isi
kepala kita.
Kadang sampai mikir,
“Lho, kok dia tahu banget sih saya begini?”
Bukan karena kita spesial, tapi ternyata manusia
emang mirip-mirip.
Kita sama-sama takut. Sama-sama bingung.
Sama-sama nyari makna.
Dan itu menenangkan.
Ternyata kita nggak sendirian.
Ngobrol Sama Diri Sendiri
Sejak baca-baca filsafat dan psikologi, saya jadi
lebih sering refleksi.
Bukan refleksi berat ya. Nggak sampai duduk
bersila sambil merenung.
Cuma jadi lebih sadar sama pikiran sendiri.
Misalnya:
“Kenapa saya kesal banget cuma gara-gara hal
kecil?”
“Ini capek fisik atau capek mental?”
“Saya marah sama orang itu… atau sebenarnya sama diri sendiri?”
Hal-hal kayak gitu.
Dulu mungkin langsung reaktif. Sekarang sedikit
lebih jeda.
Dan jeda kecil itu berharga banget.
Kadang cuma butuh satu detik buat mikir ulang
sebelum ngomel atau panik.
Filsafat dan psikologi ngajarin kita: jangan
langsung percaya semua isi kepala sendiri.
Karena pikiran kita kadang drama juga.
Belajar Tanpa Terasa Berat
Yang saya suka, belajar dua hal ini bisa santai
banget.
Nggak harus baca buku tebal 500 halaman.
Bisa:
·
artikel ringan
·
podcast
·
video pendek
·
kutipan buku
·
obrolan santai
Kadang satu kalimat aja sudah cukup bikin mikir
seharian.
Pernah baca kalimat begini:
“Kita lebih sering menderita karena pikiran kita
sendiri, bukan karena kenyataan.”
Sederhana, tapi nusuk.
Dan sejak itu saya jadi lebih hati-hati sama
overthinking.
Tuh kan, belajar tapi nggak terasa kayak belajar.
Jadi Lebih Santai Menghadapi Hidup
Efek samping paling terasa: saya jadi sedikit
lebih santai.
Bukan berarti jadi bijak banget atau zen gitu ya.
Masih panik. Masih khawatir. Masih ngeluh.
Tapi nggak separah dulu.
Ada semacam jarak kecil antara kejadian dan
reaksi.
Kayak ada suara di kepala yang bilang,
“Eh, santai. Ini cuma satu masalah kecil. Dunia nggak runtuh, kok.”
Dan sering kali suara itu muncul karena hal-hal
yang pernah saya baca.
Kadang dari
filsuf kuno. Kadang dari psikolog modern.
Lucu ya, orang
ribuan tahun lalu masih relevan buat hidup kita sekarang.
Ternyata manusia
dari dulu masalahnya mirip-mirip aja.
Bukan Buat Jadi Sok Pintar
Ada stigma kecil
soal baca filsafat atau psikologi: takut dibilang sok intelek.
Padahal nggak
harus begitu.
Buat saya, ini
bukan buat kelihatan pintar.
Ini cuma usaha
kecil biar hidup lebih masuk akal.
Biar nggak
gampang kebawa emosi.
Biar nggak terlalu keras sama diri sendiri.
Biar ngerti kenapa orang lain bertingkah aneh.
Kalau hasilnya
kita jadi lebih sabar dan lebih manusiawi, bukannya itu bagus?
Nggak ada yang
rugi.
Teman di Waktu Sepi
Ada satu momen
yang paling cocok buat baca-baca beginian: malam hari.
Saat semuanya
tenang.
Bikin teh
hangat. Buka buku. Baca pelan.
Kadang berhenti
di satu paragraf, terus mikir.
Nggak buru-buru.
Rasanya seperti
ngobrol sama diri sendiri.
Dan jujur, momen
kayak gitu sering lebih menyenangkan daripada nonton apa pun.
Karena kita
pulang ke dalam.
Nggak Harus Dalam-Dalam Banget
Kalau kamu
tertarik, nggak perlu langsung mendalami yang berat-berat.
Mulai saja dari
yang ringan.
Buku psikologi
populer yang bahas kebiasaan.
Atau tulisan filsafat sehari-hari.
Atau podcast santai tentang makna hidup.
Pelan-pelan
saja.
Anggap seperti
ngemil pikiran.
Sedikit-sedikit,
tapi rutin.
Lama-lama cara
pandang kita berubah sendiri.
Karena Hidup Itu Memang Perlu Dipikirkan
Pada akhirnya,
saya percaya satu hal sederhana:
hidup itu bukan
cuma dijalani, tapi juga dipahami.
Kalau cuma jalan
tanpa mikir, capek.
Kalau cuma mikir
tanpa jalan, ya sama saja.
Dua-duanya perlu
seimbang.
Filsafat dan
psikologi buat saya seperti kompas kecil.
Nggak selalu
nunjukin jalan yang benar, tapi setidaknya bantu kita nggak terlalu tersesat.
Dan di dunia
yang makin ribut, makin cepat, makin penuh tuntutan ini…
punya waktu buat
mikir pelan-pelan itu mewah.
Jadi kalau suatu
hari kamu lagi iseng, lagi senggang, lagi pengen sesuatu yang beda…
coba deh baca
satu buku atau artikel tentang filsafat atau psikologi populer.
Siapa tahu bukan
cuma nambah pengetahuan.
Siapa tahu malah
nambah kedekatan sama diri sendiri.
Karena kadang,
perjalanan paling jauh itu bukan ke luar kota.
Tapi ke dalam
kepala kita sendiri.
Salam santai dan
penuh tanya dari
Catatan PAHUPAHU
ðŸ§