Review Jajanan Pasar Favorit: Cita Rasa Tradisional yang
Tak Pernah Kehilangan Penggemar
| Review Jajanan Pasar Favorit |
Di tengah maraknya dessert modern, minuman kekinian, dan jajanan viral yang datang silih berganti, jajanan pasar tradisional tetap punya tempat istimewa di hati banyak orang. Tidak perlu kemasan mewah atau topping berlapis-lapis, jajanan pasar justru tampil sederhana—namun soal rasa, jangan diremehkan.
Lewat tulisan ini, Catatan PAHUPAHU
mengajak pembaca bernostalgia lewat review
jajanan pasar favorit yang masih eksis sampai sekarang. Jajanan
yang mungkin sering kita temui di pasar tradisional, acara keluarga, hajatan,
hingga pengajian. Murah, merakyat, dan penuh cerita.
Mengapa Jajanan Pasar Selalu Dicari?
Sebelum masuk ke daftar jajanan, ada satu
pertanyaan menarik: kenapa
jajanan pasar tidak pernah benar-benar ditinggalkan?
Jawabannya sederhana:
·
Rasanya familiar
·
Harganya ramah di kantong
·
Sarat kenangan masa kecil
·
Menggunakan bahan alami
·
Dibuat dengan resep turun-temurun
Jajanan pasar bukan sekadar makanan ringan. Ia
adalah bagian dari budaya makan orang Indonesia. Bahkan, banyak orang yang
mengaku belum “sarapan” kalau belum mencicipi kue pasar.
Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)
1. Klepon – Si Hijau Kecil yang Meledak di Mulut
Kalau bicara jajanan pasar favorit, klepon hampir
selalu masuk daftar teratas.
Bentuknya kecil, bulat, berwarna hijau dari daun
pandan atau suji. Namun jangan tertipu ukurannya. Begitu digigit, gula merah
cair di dalamnya langsung lumer di mulut. Sensasi manis, kenyal, dan gurih dari
kelapa parut adalah kombinasi yang sulit dilupakan.
Kelebihan
klepon:
·
Tekstur kenyal pas
·
Rasa manis tidak berlebihan
·
Cocok untuk semua usia
Tak heran jika klepon sering disebut sebagai ikon kue tradisional Indonesia.
2. Onde-onde – Legendaris dan Mengenyangkan
Onde-onde adalah contoh jajanan pasar yang sukses
bertahan lintas generasi. Lapisan luar wijen yang renyah berpadu dengan kulit
kenyal dan isian kacang hijau yang lembut.
Ada dua tipe onde-onde yang umum:
·
Onde-onde isi kacang hijau
·
Onde-onde kosong (tanpa isian)
Keduanya sama-sama punya penggemar setia. Selain
enak, onde-onde juga cukup mengenyangkan, sehingga sering jadi pilihan camilan
pagi atau sore.
3. Dadar Gulung – Manis, Lembut, dan Wangi
Dadar gulung adalah bukti bahwa jajanan pasar tradisional
tidak perlu ribet untuk terasa nikmat. Kulitnya tipis, lembut, dan berwarna
hijau dengan aroma pandan yang khas. Di dalamnya terdapat isian kelapa parut
dan gula merah yang manis legit.
Kunci kelezatan dadar gulung ada pada:
·
Kulit yang tidak kering
·
Isian yang lembap
·
Aroma pandan alami
Dimakan satu sering tidak cukup. Ini jajanan
pasar yang bikin “nambah tanpa sadar”.
4. Kue Lapis – Cantik, Lembut, dan Nostalgik
Kue lapis termasuk kue pasar legendaris
yang selalu menarik perhatian karena warna-warninya. Lapisan demi lapisan bukan
hanya soal tampilan, tapi juga soal kesabaran dalam proses pembuatannya.
Teksturnya lembut, sedikit kenyal, dan manisnya
pas. Banyak orang punya kebiasaan unik saat memakannya: mengupas lapisan satu
per satu.
Kue lapis bukan cuma jajanan, tapi juga permainan
kecil yang menyenangkan.
5. Lemper – Klasik dan Mengenyangkan
Kalau jajanan pasar lain cenderung manis, lemper
hadir sebagai penyeimbang. Terbuat dari ketan dan diisi ayam suwir berbumbu,
lemper adalah camilan yang serius.
Dibungkus daun pisang, aroma lemper semakin
menggoda. Rasanya gurih, legit, dan mengenyangkan. Cocok untuk yang tidak
terlalu suka jajanan manis.
Dalam banyak acara resmi maupun tradisional,
lemper hampir selalu hadir sebagai pilihan utama.
6. Nagasari – Lembut dan Menenangkan
Nagasari adalah jajanan pasar berbahan dasar
tepung beras dan santan, dengan isian pisang di tengahnya. Teksturnya lembut,
rasanya gurih-manis, dan aromanya khas karena dibungkus daun pisang.
Ini tipe jajanan yang tidak “menyerang” lidah, tapi
justru menenangkan. Sangat cocok dinikmati sore hari sambil minum teh hangat.
7. Getuk – Sederhana Tapi Penuh Rasa
Getuk mungkin terlihat paling sederhana dibanding
jajanan pasar lainnya. Terbuat dari singkong yang dihaluskan dan diberi gula
serta pewarna alami, getuk sering disajikan dengan taburan kelapa parut.
Namun di balik kesederhanaannya, getuk punya rasa
yang khas dan tekstur yang unik. Ini adalah contoh aneka jajanan pasar
yang lahir dari kreativitas rakyat dengan bahan seadanya.
Jajanan Pasar dan Identitas Budaya
Setiap daerah di Indonesia punya versi jajanan
pasarnya sendiri. Nama boleh berbeda, bentuk boleh mirip, tapi ceritanya selalu
lokal.
Itulah mengapa review jajanan pasar bukan hanya soal
rasa, tapi juga soal identitas. Jajanan ini tumbuh bersama masyarakat, menjadi
bagian dari ritual sosial, dan sering hadir di momen-momen penting.
Bertahan di Tengah Serbuan Jajanan Modern
Meski banyak jajanan modern bermunculan, jajanan
pasar tetap bertahan. Bahkan, belakangan mulai naik kelas:
·
Dikemas lebih menarik
·
Dijual di kafe tradisional
·
Dijadikan menu nostalgia
Ini bukti bahwa jajanan pasar tidak ketinggalan
zaman. Justru, ia beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
Penutup: Jajanan Pasar Bukan Sekadar Camilan
Lewat review
jajanan pasar favorit ini, kita diingatkan bahwa makanan
sederhana sering kali punya makna paling dalam. Ia menyimpan kenangan,
kebiasaan, dan rasa kebersamaan.
Di setiap gigitan klepon, lapisan kue lapis, atau
potongan lemper, ada cerita panjang tentang dapur-dapur kecil, pasar pagi, dan
tangan-tangan terampil yang menjaga tradisi.
Dan selama masih ada orang yang merindukan rasa
rumah, jajanan pasar
tradisional akan selalu punya tempat—di meja, di hati, dan di
ingatan.
Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)