Belajar Public Speaking Lewat Video: Latihan Ngomong Tanpa
Harus Punya Panggung
| Belajar Public Speaking Lewat Video |
Kalau ada satu hal yang dulu paling saya hindari waktu sekolah, itu adalah: maju ke depan kelas.
Bukan ulangan.
Bukan tugas kelompok.
Tapi… presentasi.
Deg-degan duluan. Tangan dingin. Suara tiba-tiba
serak. Padahal cuma disuruh jelasin materi lima menit.
Lucunya, otak sebenarnya tahu jawabannya. Tapi
begitu berdiri di depan orang banyak, semua hilang. Blank. Kayak file di-delete.
Sejak saat itu saya selalu percaya satu hal:
“Saya emang nggak bakat ngomong di depan umum.”
Titik.
Sampai akhirnya saya sadar, mungkin bukan nggak
bakat.
Mungkin cuma kurang latihan.
Dan latihan paling aman ternyata bukan di
panggung.
Tapi… lewat video.
Kedengarannya sepele ya? Tapi efeknya lumayan
ajaib.
Public Speaking Itu Bukan Buat MC Saja
Dulu saya kira public speaking itu cuma buat:
·
pembawa acara
·
dosen
·
motivator
·
YouTuber
·
atau orang super percaya diri
Saya? Cukup jadi pendengar saja.
Tapi makin ke sini, saya sadar: hampir semua
orang butuh public speaking.
Presentasi kerja.
Rapat.
Wawancara.
Ngasih pendapat.
Bahkan cuma cerita di depan teman.
Semua itu sebenarnya bentuk “berbicara di depan
orang”.
Artinya, kita nggak bisa benar-benar menghindar.
Cepat atau lambat, tetap harus ngomong juga.
Dan daripada panik setiap kali disuruh bicara,
kenapa nggak pelan-pelan belajar?
Kenapa Lewat Video?
Saya termasuk orang yang gampang canggung kalau
latihan langsung di depan orang.
Baru dua orang lihat saja, sudah salah tingkah.
Akhirnya malah nggak jadi latihan.
Nah, video itu rasanya seperti jalan tengah.
Nggak sendirian banget, tapi juga nggak ditonton
orang.
Aman. Nggak ada yang nilai. Nggak ada yang
ketawa.
Kalau jelek? Hapus saja.
Simple.
Dan justru karena santai itu, kita jadi berani
coba.
Pertama Kali Ngomong ke Kamera
Pengalaman pertama? Canggung parah.
Saya taruh HP di meja. Nyalakan kamera. Lalu
mulai ngomong.
Dan… aneh banget.
Baru lima detik sudah lupa mau ngomong apa.
Lihat muka sendiri di layar malah makin gugup.
Suara terasa aneh. Gestur kaku. Senyum maksa.
Rasanya pengen menyerah.
Tapi pas dipikir-pikir, ya wajar. Kita jarang
lihat diri sendiri ngomong.
Biasanya kan cuma dengar suara dari dalam kepala,
bukan dari luar.
Jadi terasa asing.
Tapi justru di situlah latihan dimulai.
Video Itu Jujur Banget
Hal yang bikin video efektif adalah: dia jujur.
Nggak ada filter.
Semua kelihatan.
Kita baru sadar:
“Oh, ternyata saya sering bilang ‘eee…’ ya.”
“Lho, kok ngomongnya nunduk terus?”
“Kenapa tangan nggak bisa diam begini?”
“Cepat banget ngomongnya, kayak dikejar setan.”
Hal-hal kecil yang selama ini nggak kita sadari.
Kalau cuma latihan di kepala, kita merasa sudah
oke.
Tapi begitu lihat rekaman? Kenyataannya beda.
Agak nyesek sih. Tapi justru bagus.
Karena dari situ kita tahu apa yang perlu
diperbaiki.
Latihan Tanpa Tekanan
Yang saya suka dari latihan lewat video adalah:
bebas tekanan.
Mau salah sepuluh kali? Nggak masalah. Ulang
saja.
Mau berhenti di tengah? Bisa.
Mau rekam 20 kali sampai puas? Silakan.
Nggak ada yang protes.
Ini beda banget kalau latihan langsung di depan
orang. Salah sedikit langsung malu.
Kalau sendirian, kita lebih berani eksperimen.
Coba gaya santai.
Coba lebih pelan.
Coba senyum.
Coba pakai tangan.
Semua bisa dicoba tanpa takut dinilai.
Mulai dari Hal Sederhana
Dulu saya kira latihan public speaking harus
pakai materi berat.
Ternyata nggak.
Justru mulai dari yang receh.
Misalnya:
·
cerita kegiatan hari ini
·
review film yang baru ditonton
·
jelasin hobi sendiri
·
pura-pura presentasi produk
·
atau sekadar cerita pengalaman lucu
Yang penting ngomong.
Bukan isinya dulu, tapi kelancarannya.
Kayak olahraga. Yang penting gerak dulu.
Nggak harus langsung angkat beban berat.
5–10 Menit Sehari Sudah Cukup
Saya pernah terlalu semangat: latihan satu jam.
Hasilnya? Capek. Bosan. Besoknya males.
Akhirnya sekarang santai saja.
5–10 menit sehari.
Rekam satu video pendek. Lihat ulang. Evaluasi
sedikit.
Udah.
Tapi karena rutin, efeknya terasa.
Lama-lama ngomong jadi lebih natural.
Nggak terlalu mikir. Nggak terlalu tegang.
Seperti otot yang mulai terbiasa.
Belajar dari Orang Lain Juga
Selain rekam diri sendiri, video juga enak buat
belajar dari orang lain.
Sekarang banyak banget:
·
TED Talk
·
presentasi
·
podcast video
·
konten edukasi
·
YouTuber yang jago storytelling
Saya sering nonton sambil merhatiin:
“Kenapa dia enak didengar, ya?”
“Oh, ternyata dia jeda di sini.”
“Gesturnya santai.”
“Matanya lihat kamera, bukan ke bawah.”
Dari situ kita nyolong ilmu kecil-kecil.
Nggak perlu teori ribet. Cukup amati.
Kadang cuma satu trik sederhana sudah bikin beda.
Pelan-Pelan Rasa Takut Berkurang
Yang paling terasa bukan cuma skill naik.
Tapi rasa takutnya berkurang.
Dulu lihat kamera saja grogi. Sekarang biasa aja.
Dulu ngomong 1 menit ngos-ngosan. Sekarang 5–10
menit santai.
Bukan karena tiba-tiba jadi jago.
Tapi karena otak sudah terbiasa.
Ternyata banyak ketakutan itu cuma karena jarang
mencoba.
Begitu sering dihadapi, ya biasa saja.
Seperti pertama kali naik sepeda. Awalnya
gemetar. Lama-lama santai.
Bonus: Jadi Lebih Kenal Diri Sendiri
Lucunya, latihan ngomong ke kamera bikin saya
lebih kenal diri sendiri.
Saya jadi tahu:
·
gaya bicara saya seperti apa
·
ekspresi wajah saya
·
kebiasaan kecil yang aneh
·
cara saya menyampaikan cerita
Rasanya seperti lihat versi lain dari diri
sendiri.
Agak malu sih kadang. Tapi juga seru.
Karena kita jadi sadar: “Oh, ternyata saya
begini, ya.”
Dan dari situ kita bisa pelan-pelan memperbaiki.
Nggak Harus Jadi Pembicara Hebat
Tujuan saya bukan jadi motivator panggung atau MC
profesional.
Nggak.
Saya cuma pengen:
·
ngomong lebih jelas
·
nggak gugup waktu presentasi
·
bisa cerita tanpa belepotan
·
lebih percaya diri
Itu saja sudah cukup.
Kadang kita terlalu tinggi pasang target, jadi
malah nggak mulai-mulai.
Padahal peningkatan kecil pun sudah berharga.
Sedikit lebih berani dari kemarin, itu sudah
menang.
Coba Saja Dulu
Kalau kamu merasa:
“Saya nggak jago ngomong…”
“Saya pemalu…”
“Saya grogian…”
Mungkin bukan nggak bisa. Mungkin cuma belum
latihan.
Coba deh.
Ambil HP. Nyalakan kamera. Rekam 2–3 menit saja.
Nggak usah serius. Anggap ngobrol sama diri
sendiri.
Nonton ulang. Ketawa sedikit. Lalu coba lagi
besok.
Pelan-pelan.
Karena public speaking itu bukan bakat lahir.
Lebih mirip kebiasaan.
Semakin sering dilakukan, semakin biasa.
Dan siapa tahu, beberapa bulan lagi kamu kaget
sendiri:
“Kok sekarang saya lebih pede, ya?”
Padahal awalnya cuma iseng ngomong ke kamera di
kamar.
Begitulah.
Kadang panggung terbaik buat belajar bukan di
depan banyak orang.
Tapi di ruang kecil, sendirian, ditemani layar
HP.
Latihan pelan-pelan. Tanpa drama.
Sampai akhirnya, tanpa sadar, suara kita
menemukan bentuknya sendiri.
Salam santai dari
Catatan PAHUPAHU
🎤
Tidak ada komentar:
Posting Komentar