Belajar Bahasa Asing di Waktu Luang: Pelan-Pelan Saja,
yang Penting Jalan
| Belajar Bahasa Asing di Waktu Luang |
Dulu saya pernah punya niat mulia.
“Mulai bulan depan, saya mau serius belajar
bahasa asing. Minimal satu jam sehari.”
Kedengarannya keren, ya? Ambisius. Terlihat
seperti orang produktif yang hidupnya tertata.
Tapi kenyataannya?
Hari pertama semangat.
Hari kedua masih niat.
Hari ketiga mulai sibuk.
Hari keempat… ya sudahlah.
Buku belajar bahasanya nganggur di meja. Aplikasi
di HP cuma jadi pajangan. Target tinggal kenangan.
Akhirnya saya sadar satu hal sederhana:
belajar bahasa asing itu bukan soal disiplin militer. Bukan juga soal jadwal
ketat.
Kadang justru lebih cocok dijalani santai.
Dicicil. Dikerjakan di sela-sela waktu luang.
Seperti ngemil. Sedikit-sedikit, tapi sering.
Dan anehnya, cara santai ini malah lebih awet.
Nggak Semua Harus Serius
Banyak orang membayangkan belajar bahasa asing
itu harus seperti kursus resmi.
Duduk rapi.
Buka buku tebal.
Hafalin grammar.
Ngerjain soal.
Rasanya seperti kembali ke bangku sekolah. Berat
duluan sebelum mulai.
Padahal bahasa itu pada dasarnya alat komunikasi.
Sesuatu yang hidup. Bukan sekadar rumus.
Anak kecil bisa lancar ngomong tanpa tahu apa itu
“tenses” atau “struktur kalimat”.
Kenapa?
Karena mereka belajar sambil main. Sambil dengar.
Sambil coba-coba.
Mungkin kita juga bisa meniru cara itu.
Belajar, tapi santai. Nggak kaku.
Waktu Luang Itu Lebih Banyak dari yang Kita Kira
Coba jujur deh.
Berapa menit sehari kita habiskan buat scroll
media sosial tanpa tujuan?
10 menit?
30 menit?
Satu jam?
Tanpa sadar, waktu luang itu sebenarnya ada. Cuma
tersebar di mana-mana.
Nunggu ojek.
Ngantri kopi.
Istirahat makan siang.
Sebelum tidur.
Potongan waktu kecil seperti itu kalau
dikumpulkan bisa jadi banyak.
Dan itu cukup banget buat belajar bahasa asing.
Nggak perlu duduk dua jam nonstop. Lima belas
menit pun sudah lumayan.
Yang penting rutin.
Mulai dari Hal yang Menyenangkan
Kesalahan terbesar saya dulu adalah memulai dari
yang paling ribet: grammar.
Baru buka buku, langsung pusing.
Akhirnya menyerah.
Sekarang saya ganti strategi. Mulai dari yang menyenangkan dulu.
Misalnya:
·
Nonton film pakai subtitle bahasa target
·
Dengerin lagu sambil baca lirik
·
Main game yang pakai bahasa asing
·
Baca komik atau artikel ringan
Ternyata jauh lebih enak.
Belajar tanpa terasa seperti belajar.
Tiba-tiba sudah hafal beberapa kata baru. Tiba-tiba ngerti satu-dua
kalimat.
Rasanya kecil, tapi memuaskan.
Kayak nemu koin receh di saku celana lama. Nggak banyak, tapi bikin
senyum.
Jangan Takut Salah
Ini penyakit klasik orang dewasa: takut salah.
Takut pengucapannya jelek.
Takut grammar berantakan.
Takut diketawain.
Akhirnya malah nggak berani mulai.
Padahal bahasa itu soal latihan. Salah itu bagian dari proses.
Anak kecil belajar ngomong juga belepotan dulu. Tapi mereka santai aja.
Nggak malu.
Kita yang sudah dewasa malah kebanyakan mikir.
Saya pernah nekat ngomong bahasa Inggris sama turis, padahal grammar
campur aduk. Yang penting nyambung. Dan ternyata… mereka ngerti.
Dari situ saya belajar: komunikasi itu nggak harus sempurna.
Yang penting berani.
Sedikit Tapi Konsisten
Ada satu prinsip yang sekarang saya pegang:
lebih baik 10 menit tiap hari daripada 2 jam seminggu sekali.
Karena belajar bahasa itu soal ingatan jangka panjang.
Kalau jarang disentuh, cepat lupa.
Tapi kalau sering, walaupun sebentar, otak jadi terbiasa.
Seperti nyiram tanaman. Nggak perlu seember sekaligus. Cukup sedikit
tapi rutin.
Lama-lama tumbuh juga.
Cara Santai Belajar Bahasa di Waktu Luang
Biar lebih praktis, ini beberapa cara yang biasa saya lakukan.
Siapa tahu cocok juga buat kamu.
1. Ganti Bahasa HP
Kelihatannya sepele, tapi efektif.
Menu “Settings”, “Gallery”, “Message”—lama-lama jadi hafal sendiri.
Belajar tanpa sadar.
2. Pakai Aplikasi 5–10 Menit
Sekarang banyak aplikasi belajar bahasa yang modelnya mini lesson.
Sekali buka cuma beberapa menit. Cocok buat nunggu atau sebelum tidur.
Nggak berat, tapi konsisten.
3. Tempel Kosakata di Sekitar Rumah
Dulu saya pernah tempel kertas kecil:
·
door
·
window
·
mirror
·
table
Setiap lihat, kebaca. Tanpa sadar hafal.
Agak norak sih, tapi efektif. 😄
4. Nonton Tanpa Subtitle Indonesia
Coba pakai subtitle bahasa target atau malah tanpa subtitle.
Awalnya bingung. Tapi lama-lama telinga terbiasa.
Listening itu penting banget.
5. Tulis Catatan Kecil
Kalau nemu kata baru, catat.
Bisa di notes HP atau buku kecil.
Kadang saya baca lagi sebelum tidur. Aneh tapi lumayan nempel.
Belajar Itu Bukan Lomba
Sering kali kita bandingkan diri dengan orang lain.
“Dia udah lancar.”
“Dia cepet banget.”
“Saya kok lama, ya?”
Padahal tiap orang punya ritme sendiri.
Ada yang cepat. Ada yang pelan.
Nggak masalah.
Bahasa itu bukan lomba lari. Nggak ada garis finish.
Selama kamu masih belajar, kamu sudah maju.
Sekecil apa pun.
Bonus yang Nggak Terduga
Lucunya, belajar bahasa asing itu sering kasih kejutan kecil.
Tiba-tiba ngerti lirik lagu favorit.
Tiba-tiba bisa baca meme luar negeri.
Tiba-tiba paham dialog film tanpa lihat subtitle.
Rasanya seperti naik level di game.
Kepuasan kecil, tapi bikin ketagihan.
Dan dari situ motivasi muncul sendiri.
Bukan karena target. Tapi karena seru.
Lebih dari Sekadar Bahasa
Semakin lama belajar, saya sadar: bahasa itu bukan cuma kata-kata.
Di dalamnya ada budaya. Cara berpikir. Cara bercanda. Cara melihat
dunia.
Belajar bahasa baru rasanya seperti membuka jendela baru.
Dunia yang tadinya sempit, pelan-pelan melebar.
Kita jadi lebih ngerti orang lain. Lebih toleran. Lebih penasaran.
Dan mungkin, sedikit lebih rendah hati.
Karena sadar bahwa dunia ini luas banget.
Pelan-Pelan Saja
Jadi kalau sekarang kamu merasa:
“Saya pengen belajar bahasa asing, tapi sibuk…”
Tenang.
Nggak harus langsung jago. Nggak harus kursus mahal. Nggak harus punya
jadwal sempurna.
Mulai saja dari 5 menit hari ini.
Satu kata baru.
Satu kalimat baru.
Satu lagu baru.
Besok ulangi lagi.
Pelan-pelan.
Karena bahasa itu bukan sprint. Tapi perjalanan panjang.
Dan perjalanan panjang paling nikmat justru yang santai, sambil
menikmati pemandangan.
Siapa tahu, beberapa tahun lagi kamu kaget sendiri.
“Kok sekarang saya ngerti, ya?”
Padahal dulu cuma iseng belajar di sela-sela waktu luang.
Begitulah. Kadang hal besar memang lahir dari kebiasaan kecil.
Selamat belajar.
Selamat mencoba.
Dan semoga suatu hari nanti, kamu bisa tersenyum bangga saat berbicara
dengan bahasa yang dulu terasa asing.
Dari waktu luang yang sederhana, lahir kemampuan yang luar biasa.
Salam santai dari Catatan
PAHUPAHU.
Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar