Rabu, 18 Februari 2026

Mendalami Filsafat atau Psikologi Populer: Ngobrol Sama Diri Sendiri, Tapi Lebih Serius Sedikit

 

Mendalami Filsafat atau Psikologi Populer: Ngobrol Sama Diri Sendiri, Tapi Lebih Serius Sedikit

Mendalami Filsafat atau Psikologi Populer

Dulu saya pikir filsafat itu cuma buat mahasiswa berkacamata tebal yang doyan mikir berat.

Yang kalau ngobrol pakai kata-kata aneh seperti “eksistensialisme”, “nihilisme”, “epistemologi”, dan sejenisnya.

Sementara psikologi? Kedengarannya seperti buku motivasi di rak toko buku. Judulnya heboh. Isinya kadang cuma, “kamu pasti bisa!”

Jujur saja, dua-duanya terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.

Sampai suatu hari saya iseng baca satu buku psikologi populer. Bukan karena niat belajar, cuma penasaran.

Lalu tanpa sadar… keterusan.

Dari satu buku, jadi dua. Dari dua, jadi lima. Dari sekadar baca, jadi mikir.

Dan pelan-pelan saya sadar satu hal:

ternyata filsafat dan psikologi itu bukan hal berat.
Mereka cuma cara lain buat memahami hidup.

Dan hidup, ya kita jalani setiap hari.

Jadi sebenarnya ini dekat banget.

Awalnya Cuma Penasaran

Biasanya semuanya dimulai dari rasa penasaran kecil.

Kenapa saya gampang overthinking?
Kenapa orang beda-beda cara mikirnya?
Kenapa kadang kita merasa kosong padahal semua baik-baik saja?
Apa sebenarnya arti “bahagia”?

Pertanyaan-pertanyaan kayak gitu kan sering muncul, ya?

Cuma bedanya, dulu saya cuma lewatkan. Sekarang saya cari jawabannya.

Dan anehnya, jawabannya sering datang dari buku filsafat atau psikologi.

Bukan jawaban pasti sih. Tapi lebih ke arah: “Oh… ternyata begini toh cara melihatnya.”

Dan itu rasanya melegakan.

Filsafat Itu Ternyata Cuma Suka Nanya

Kalau dipikir-pikir, filsafat itu hobinya satu: nanya.

Apa itu bahagia?
Apa itu benar?
Apa tujuan hidup?
Kenapa manusia ada?

Kedengarannya ribet. Tapi sebenarnya kita juga sering mikir begitu, cuma nggak sadar.

Bedanya, para filsuf serius banget mikirinnya.

Saya pernah baca satu kalimat sederhana:
Filsafat itu belajar berpikir tentang hal-hal yang kita anggap biasa.

Dan itu masuk akal banget.

Hal-hal yang selama ini kita terima begitu saja, tiba-tiba dipertanyakan.

Kenapa kita kerja segini keras?
Kenapa sukses harus begini bentuknya?
Kenapa takut gagal?

Tiba-tiba hidup terasa seperti punya tombol “zoom out”.

Kita jadi lihat gambaran besar, bukan cuma drama harian.

Psikologi Populer: Versi Ringannya

Kalau filsafat terasa berat, psikologi populer itu seperti versi ramahnya.

Bahasanya lebih santai. Contohnya dekat dengan kehidupan.

Topiknya juga relate banget:

·         overthinking

·         insecure

·         burnout

·         kebiasaan kecil

·         pola pikir

·         cara mengatur emosi

Rasanya kayak lagi baca buku yang ngerti isi kepala kita.

Kadang sampai mikir,
“Lho, kok dia tahu banget sih saya begini?”

Bukan karena kita spesial, tapi ternyata manusia emang mirip-mirip.

Kita sama-sama takut. Sama-sama bingung. Sama-sama nyari makna.

Dan itu menenangkan.

Ternyata kita nggak sendirian.

Ngobrol Sama Diri Sendiri

Sejak baca-baca filsafat dan psikologi, saya jadi lebih sering refleksi.

Bukan refleksi berat ya. Nggak sampai duduk bersila sambil merenung.

Cuma jadi lebih sadar sama pikiran sendiri.

Misalnya:

“Kenapa saya kesal banget cuma gara-gara hal kecil?”
“Ini capek fisik atau capek mental?”
“Saya marah sama orang itu… atau sebenarnya sama diri sendiri?”

Hal-hal kayak gitu.

Dulu mungkin langsung reaktif. Sekarang sedikit lebih jeda.

Dan jeda kecil itu berharga banget.

Kadang cuma butuh satu detik buat mikir ulang sebelum ngomel atau panik.

Filsafat dan psikologi ngajarin kita: jangan langsung percaya semua isi kepala sendiri.

Karena pikiran kita kadang drama juga.

Belajar Tanpa Terasa Berat

Yang saya suka, belajar dua hal ini bisa santai banget.

Nggak harus baca buku tebal 500 halaman.

Bisa:

·         artikel ringan

·         podcast

·         video pendek

·         kutipan buku

·         obrolan santai

Kadang satu kalimat aja sudah cukup bikin mikir seharian.

Pernah baca kalimat begini:

“Kita lebih sering menderita karena pikiran kita sendiri, bukan karena kenyataan.”

Sederhana, tapi nusuk.

Dan sejak itu saya jadi lebih hati-hati sama overthinking.

Tuh kan, belajar tapi nggak terasa kayak belajar.

Jadi Lebih Santai Menghadapi Hidup

Efek samping paling terasa: saya jadi sedikit lebih santai.

Bukan berarti jadi bijak banget atau zen gitu ya.

Masih panik. Masih khawatir. Masih ngeluh.

Tapi nggak separah dulu.

Ada semacam jarak kecil antara kejadian dan reaksi.

Kayak ada suara di kepala yang bilang,
“Eh, santai. Ini cuma satu masalah kecil. Dunia nggak runtuh, kok.”

Dan sering kali suara itu muncul karena hal-hal yang pernah saya baca.

Kadang dari filsuf kuno. Kadang dari psikolog modern.

Lucu ya, orang ribuan tahun lalu masih relevan buat hidup kita sekarang.

Ternyata manusia dari dulu masalahnya mirip-mirip aja.

Bukan Buat Jadi Sok Pintar

Ada stigma kecil soal baca filsafat atau psikologi: takut dibilang sok intelek.

Padahal nggak harus begitu.

Buat saya, ini bukan buat kelihatan pintar.

Ini cuma usaha kecil biar hidup lebih masuk akal.

Biar nggak gampang kebawa emosi.
Biar nggak terlalu keras sama diri sendiri.
Biar ngerti kenapa orang lain bertingkah aneh.

Kalau hasilnya kita jadi lebih sabar dan lebih manusiawi, bukannya itu bagus?

Nggak ada yang rugi.

Teman di Waktu Sepi

Ada satu momen yang paling cocok buat baca-baca beginian: malam hari.

Saat semuanya tenang.

Bikin teh hangat. Buka buku. Baca pelan.

Kadang berhenti di satu paragraf, terus mikir.

Nggak buru-buru.

Rasanya seperti ngobrol sama diri sendiri.

Dan jujur, momen kayak gitu sering lebih menyenangkan daripada nonton apa pun.

Karena kita pulang ke dalam.

Nggak Harus Dalam-Dalam Banget

Kalau kamu tertarik, nggak perlu langsung mendalami yang berat-berat.

Mulai saja dari yang ringan.

Buku psikologi populer yang bahas kebiasaan.
Atau tulisan filsafat sehari-hari.
Atau podcast santai tentang makna hidup.

Pelan-pelan saja.

Anggap seperti ngemil pikiran.

Sedikit-sedikit, tapi rutin.

Lama-lama cara pandang kita berubah sendiri.

Karena Hidup Itu Memang Perlu Dipikirkan

Pada akhirnya, saya percaya satu hal sederhana:

hidup itu bukan cuma dijalani, tapi juga dipahami.

Kalau cuma jalan tanpa mikir, capek.

Kalau cuma mikir tanpa jalan, ya sama saja.

Dua-duanya perlu seimbang.

Filsafat dan psikologi buat saya seperti kompas kecil.

Nggak selalu nunjukin jalan yang benar, tapi setidaknya bantu kita nggak terlalu tersesat.

Dan di dunia yang makin ribut, makin cepat, makin penuh tuntutan ini…

punya waktu buat mikir pelan-pelan itu mewah.

Jadi kalau suatu hari kamu lagi iseng, lagi senggang, lagi pengen sesuatu yang beda…

coba deh baca satu buku atau artikel tentang filsafat atau psikologi populer.

Siapa tahu bukan cuma nambah pengetahuan.

Siapa tahu malah nambah kedekatan sama diri sendiri.

Karena kadang, perjalanan paling jauh itu bukan ke luar kota.

Tapi ke dalam kepala kita sendiri.

Salam santai dan penuh tanya dari
Catatan PAHUPAHU 🧠

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar