Selasa, 17 Februari 2026

Hobi Menonton Film Dokumenter: Jalan-Jalan Jauh Tanpa Keluar Rumah

 

Hobi Menonton Film Dokumenter: Jalan-Jalan Jauh Tanpa Keluar Rumah

Hobi Menonton Film Dokumenter

Dulu, kalau dengar kata film dokumenter, yang terbayang di kepala saya cuma satu:
membosankan.

Serius.

Bayangan saya waktu itu: suara narator berat, gambar hitam-putih, tempo lambat, dan topik yang terasa “terlalu ilmiah”. Pokoknya vibes-nya seperti tontonan wajib di kelas IPS.

Sementara saya? Lebih milih film aksi, komedi, atau drama yang bikin nangis.

Dokumenter? Nanti saja.

Tapi suatu malam, entah kenapa saya iseng nonton satu dokumenter di laptop. Nggak ada ekspektasi. Cuma pengen isi waktu sebelum tidur.

Dan anehnya… saya malah lupa tidur.

Tahu-tahu sudah lewat tengah malam.

Bukan karena tegang seperti film thriller. Bukan juga karena plot twist. Tapi karena ceritanya terasa nyata. Dekat. Dan bikin penasaran.

Sejak saat itu, pelan-pelan saya jatuh cinta.

Ternyata dokumenter nggak semembosankan yang saya kira.
Justru sering kali lebih seru dari film fiksi.

Karena ini bukan cerita karangan. Ini dunia beneran.

Nonton Dunia Lewat Layar

Hal paling menyenangkan dari dokumenter adalah: kita bisa “jalan-jalan” tanpa ke mana-mana.

Lagi rebahan di kamar, tapi tiba-tiba:

·         lagi di Antartika bareng peneliti es

·         ikut nelayan di laut dalam

·         masuk dapur restoran Michelin

·         atau menyusuri hutan Amazon

Semua cuma modal layar dan kuota internet.

Rasanya seperti punya tiket keliling dunia gratis.

Dan yang lebih keren, kita nggak cuma lihat pemandangan. Kita juga dengar cerita orang-orangnya. Perjuangannya. Ketakutannya. Mimpinya.

Hal-hal yang sering nggak kelihatan di film biasa.

Lebih Nyata, Lebih Ngena

Film fiksi kadang seru, tapi kita tahu itu cuma cerita.

Sementara dokumenter?

Ini nyata.

Orang-orangnya benar ada. Masalahnya sungguhan. Dampaknya terasa.

Waktu nonton dokumenter tentang lingkungan, misalnya, lihat laut penuh sampah plastik, rasanya beda. Lebih nyesek.

Atau dokumenter tentang kehidupan pekerja keras di kota besar—rasanya lebih empati.

Ada perasaan,
“Oh… ternyata hidup orang lain begini, ya.”

Dokumenter bikin kita sedikit keluar dari gelembung sendiri.

Nggak cuma mikirin hidup kita doang.

Belajar Tanpa Terasa Belajar

Ini bagian favorit saya.

Dokumenter itu seperti sekolah versi santai.

Nggak ada ujian. Nggak ada catatan. Tapi ilmunya masuk sendiri.

Tiba-tiba kita tahu:

·         cara kerja otak manusia

·         sejarah perang yang rumit

·         kehidupan hewan liar

·         sisi gelap industri makanan cepat saji

·         cerita musisi atau seniman favorit

Semua didapat sambil selonjoran makan camilan.

Kalau dipikir-pikir, ini cara belajar paling enak.

Siapa sih yang nolak nambah pengetahuan sambil rebahan?

Banyak Cerita yang Nggak Pernah Kita Dengar

Kadang saya mikir, dunia ini luas banget. Tapi berita yang kita lihat tiap hari itu-itu saja.

Dokumenter sering membuka pintu ke cerita-cerita kecil yang jarang disorot.

Tentang:

·         petani garam di desa terpencil

·         guru yang mengajar di perbatasan

·         atlet difabel yang berjuang

·         orang biasa dengan mimpi luar biasa

Cerita sederhana, tapi justru mengena.

Bukan drama buatan. Bukan akting.

Kejujuran mereka terasa.

Dan entah kenapa, itu lebih menyentuh.

Kadang saya malah lebih terharu nonton dokumenter daripada film romantis.

Tempo yang Pelan Itu Nikmat

Dokumenter biasanya nggak buru-buru.

Gambarnya tenang. Pengambilan adegannya panjang. Narasinya pelan.

Dulu saya pikir ini membosankan.

Sekarang malah terasa menenangkan.

Di tengah hidup yang serba cepat, notifikasi tiada henti, dan konten 15 detik di mana-mana, dokumenter terasa seperti rem.

Kita dipaksa pelan.

Dipaksa fokus.

Dipaksa benar-benar melihat.

Rasanya seperti tarik napas panjang.

Adem.

Jadi Lebih Penasaran Sama Dunia

Sejak sering nonton dokumenter, saya jadi lebih kepo.

Kalau lihat sesuatu, jadi sering mikir:

“Ini ceritanya apa, ya?”
“Prosesnya gimana, ya?”
“Orang-orang di balik ini siapa?”

Dulu mungkin cuek.

Sekarang lebih pengen tahu.

Dokumenter menulari rasa ingin tahu.

Dan menurut saya, itu hal yang bagus.

Karena rasa penasaran bikin hidup terasa lebih hidup.

Dokumenter Itu Banyak Rasanya

Yang enak, genre dokumenter sekarang luas banget. Nggak melulu soal alam atau sejarah.

Ada yang:

·         kriminal (true crime)

·         kuliner

·         musik

·         olahraga

·         teknologi

·         sosial

·         perjalanan

·         bahkan tentang hobi-hobi unik

Jadi tinggal pilih sesuai mood.

Lagi santai? Nonton dokumenter makanan.
Lagi mikir berat? Nonton sejarah atau sains.
Lagi tegang? True crime.

Dokumenter ternyata fleksibel juga.

Ritual Kecil di Akhir Pekan

Sekarang saya punya kebiasaan kecil.

Sabtu malam, daripada keluyuran atau maraton media sosial, saya pilih satu dokumenter.

Bikin kopi atau teh. Matikan lampu utama. Nyalakan layar.

Dan selama satu atau dua jam, saya “pergi” ke tempat lain.

Kadang ke gunung.
Kadang ke kota asing.
Kadang ke masa lalu.

Selesai nonton, rasanya seperti habis perjalanan.

Ada cerita baru. Ada perspektif baru.

Walaupun badan tetap di kamar.

Murah meriah, tapi memuaskan.

Nggak Harus Selalu Berat

Kalau kamu takut dokumenter itu berat atau serius banget, santai saja.

Mulai dari yang ringan.

Dokumenter tentang street food. Tentang hewan lucu. Tentang perjalanan.

Nggak harus langsung topik politik atau perang dunia.

Anggap saja seperti ngemil.

Yang penting menikmati dulu.

Nanti lama-lama selera berkembang sendiri.

Dokumenter dan Rasa Syukur

Ada satu efek samping yang saya rasakan: jadi lebih bersyukur.

Lihat perjuangan orang lain, kesulitan di tempat lain, bikin kita sadar…

Hidup kita mungkin nggak sempurna, tapi nggak seburuk itu juga.

Kadang kita terlalu sibuk mengeluh hal kecil.

Padahal di luar sana banyak orang yang berjuang jauh lebih keras.

Dokumenter diam-diam ngajarin empati.

Dan empati itu penting.

Biar kita tetap manusia.

Coba Satu Saja Dulu

Kalau kamu belum pernah atau jarang nonton dokumenter, coba deh sekali saja.

Pilih topik yang kamu suka. Jangan maksa.

Tonton santai. Nggak perlu serius amat.

Siapa tahu malah ketagihan.

Siapa tahu malah nemu hobi baru.

Karena kadang, hal-hal yang kita kira membosankan justru menyimpan kejutan.

Seperti saya dulu.

Yang awalnya skeptis… sekarang malah sering bilang:

“Satu episode lagi, deh.”

Padahal sudah jam satu malam.

Begitulah.

Dokumenter itu mungkin bukan tontonan paling heboh.
Nggak penuh ledakan.
Nggak penuh drama buatan.

Tapi justru karena nyata, dia terasa hangat.

Seperti ngobrol pelan dengan dunia.

Dan di tengah hidup yang berisik ini, kadang kita memang cuma butuh itu.

Sedikit sunyi.
Sedikit cerita.
Sedikit jendela untuk melihat dunia yang lebih luas.

Salam santai dari
Catatan PAHUPAHU 🎬

 Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar