Rabu, 04 Februari 2026

Ikut Kelas Online Gratis dari Universitas Dunia: Kuliah Jauh Tanpa Tiket Pesawat

 

Ikut Kelas Online Gratis dari Universitas Dunia: Kuliah Jauh Tanpa Tiket Pesawat

Ikut Kelas Online Gratis dari Universitas Dunia


Dulu saya pernah punya mimpi yang terdengar mahal.

Pengen kuliah di luar negeri.

Bukan karena gengsi. Cuma penasaran aja: gimana rasanya duduk di kelas kampus terkenal dunia? Dengerin profesor yang bukunya ada di mana-mana? Belajar bareng orang dari berbagai negara?

Tapi ya… realita cepat menepuk bahu.

Biaya kuliah? Mahal.
Tiket pesawat? Mahal.
Biaya hidup? Lebih mahal lagi.

Akhirnya mimpi itu saya simpan rapi di laci “nanti saja kalau kaya”.

Sampai suatu malam, waktu lagi iseng scroll internet, saya nemu sesuatu yang bikin saya bengong:

kelas online gratis dari universitas luar negeri.

Gratis.

Legal.

Dan bisa diakses siapa saja.

Reaksi pertama saya cuma:
“Serius nih? Nggak tipu-tipu, kan?”

Ternyata beneran ada.

Dan sejak itu, saya sadar: kadang dunia ini lebih ramah dari yang kita kira.

Kampus Dunia, Layar Laptop

Sekarang bayangannya lucu.

Saya duduk di kamar, pakai kaos rumahan, sambil minum kopi sachet.

Tapi di layar laptop, dosennya dari universitas top dunia. Materinya kelas internasional. Pesertanya dari mana-mana.

Secara teknis… saya lagi “kuliah luar negeri”.

Tanpa paspor. Tanpa jet lag. Tanpa biaya kos.

Cuma modal WiFi.

Teknologi memang gila sih.

Dulu hal kayak gini cuma mimpi. Sekarang tinggal klik.

Awalnya Iseng, Lama-Lama Keterusan

Saya daftar kelas pertama bukan karena niat serius.

Cuma penasaran.

Topiknya simpel: pengantar psikologi.

“Ya udah deh, coba-coba.”

Niat awal: nonton satu video.

Eh, kok seru.

Videonya pendek-pendek. Penjelasannya enak. Nggak kayak kuliah formal yang kaku.

Tahu-tahu sudah nonton tiga.

Besoknya lanjut lagi.

Tanpa sadar, saya ngerjain kuis. Ikut forum diskusi. Baca materi tambahan.

Lah, kok jadi rajin?

Padahal ini gratis. Nggak ada yang maksa.

Ternyata kalau belajarnya karena mau, bukan karena disuruh, rasanya beda banget.

Belajar Tanpa Tekanan Nilai

Yang paling saya suka dari kelas online gratis itu: nggak ada tekanan.

Nggak ada dosen galak.
Nggak ada absen.
Nggak ada takut remedial.

Kalau capek? Pause.
Kalau ngantuk? Lanjut besok.
Kalau nggak paham? Ulang videonya.

Fleksibel banget.

Belajar jadi terasa… manusiawi.

Nggak harus sempurna.

Saya jadi sadar, mungkin selama ini kita capek bukan karena belajarnya, tapi karena tekanannya.

Begitu tekanannya hilang, belajar malah menyenangkan.

Topiknya Gila Banyak

Yang bikin kalap: pilihannya banyak banget.

Serius.

Mau belajar apa saja ada:

·         psikologi

·         filsafat

·         sejarah

·         bisnis

·         teknologi

·         desain

·         menulis

·         sains

·         kesehatan

·         bahkan astronomi dan dinosaurus pun ada

Rasanya seperti masuk perpustakaan raksasa.

Tinggal pilih sesuai mood.

Lagi pengen mikir berat? Ambil filsafat.
Lagi santai? Ambil kelas kreativitas.
Lagi penasaran dunia kerja? Ambil bisnis.

Belajar jadi kayak Netflix.

“Eh, hari ini nonton… eh maksudnya belajar apa, ya?”

Rasanya Kayak Buka Jendela Dunia

Yang paling berkesan bukan cuma ilmunya.

Tapi perspektifnya.

Dosen-dosen itu sering kasih contoh dari budaya dan konteks berbeda.

Kadang saya mikir,
“Oh, cara mereka lihat masalah beda juga ya.”

Atau baca komentar peserta dari negara lain:

“Aku dari Brazil…”
“Aku dari Turki…”
“Aku dari India…”

Tiba-tiba sadar: dunia ini luas banget.

Saya cuma satu titik kecil.

Dan anehnya, itu menyenangkan.

Karena rasanya seperti terhubung.

Belajar bareng orang-orang yang bahkan nggak pernah kita temui.

Belajar Jadi Nggak Terasa “Berat”

Format kelas online sekarang enak banget.

Bukan kuliah 2 jam nonstop.

Biasanya:

·         video 5–10 menit

·         kuis kecil

·         bacaan ringan

·         diskusi santai

Potongan kecil.

Cocok buat yang rentang fokusnya pendek (termasuk saya 😄).

Jadi bisa belajar di sela-sela:

nunggu makan, sebelum tidur, atau pas sore santai.

Nggak perlu duduk lama.

Sedikit-sedikit tapi rutin.

Dan anehnya, lebih nempel.

Ada Rasa Bangga Kecil

Walaupun cuma kelas gratis, tetap ada rasa puas.

Apalagi kalau selesai satu kursus.

Dapat sertifikat digital.

Nama kita terpampang.

Padahal ya… cuma file PDF.

Tapi tetap aja rasanya:
“Lumayan juga, ya gue.”

Bukan buat pamer.

Lebih ke perasaan: saya nggak berhenti belajar.

Di usia berapa pun, kita masih bisa nambah ilmu.

Dan itu bikin percaya diri.

Belajar Tanpa Umur

Dulu saya sempat mikir, belajar serius itu cuma pas sekolah atau kuliah.

Setelah kerja, ya sudah. Hidup saja.

Ternyata salah.

Belajar itu nggak ada batas umurnya.

Justru makin dewasa, kita makin tahu mau belajar apa.

Nggak lagi dipaksa kurikulum.

Bisa pilih sendiri.

Dan itu jauh lebih menyenangkan.

Belajar jadi terasa seperti hobi, bukan kewajiban.

Nggak Harus Ambisius

Penting juga: jangan terlalu ambisius.

Saya pernah daftar 5 kelas sekaligus.

Hasilnya?

Semua mangkrak.

Terlalu semangat di awal, lalu burnout.

Sekarang saya santai saja.

Satu kelas dulu. Selesai. Baru lanjut.

Pelan-pelan.

Belajar itu maraton, bukan sprint.

Kalau capek, ya istirahat.

Nggak ada yang marah, kok.

Ritual Kecil yang Menyenangkan

Sekarang kadang saya punya ritual kecil.

Sore hari atau malam, buka laptop, pakai earphone, lanjut satu-dua video pelajaran.

Suasananya tenang.

Nggak ada tekanan.

Cuma saya dan rasa penasaran.

Aneh ya, dulu belajar identik sama stres.

Sekarang malah jadi cara santai.

Seperti ngopi, tapi buat otak.

Siapa Saja Bisa Mulai

Kalau kamu mikir:

“Ah, saya bukan orang akademis…”
“Udah lama nggak belajar…”
“Takut nggak ngerti…”

Santai saja.

Banyak kelas yang bahasanya ringan banget.

Mulai dari level dasar.

Anggap saja eksplorasi.

Nggak harus langsung pintar.

Yang penting mulai dulu.

Karena kadang yang kita butuhkan cuma satu klik kecil buat membuka dunia baru.

Dunia Itu Ternyata Dekat

Kadang saya masih suka senyum sendiri.

Duduk di kamar kecil, tapi belajar dari profesor luar negeri.

Dunia yang dulu terasa jauh, sekarang tinggal sejauh layar.

Dan saya bersyukur hidup di zaman ini.

Zaman di mana ilmu nggak lagi eksklusif.

Siapa saja bisa akses.

Asal mau.

Jadi kalau suatu hari kamu lagi bosan, lagi pengen nambah wawasan, atau cuma pengen merasa produktif dikit…

coba deh ikut satu kelas online gratis.

Nggak ada ruginya.

Paling cuma kehilangan waktu sejam.

Tapi siapa tahu dapat ide baru. Perspektif baru. Atau bahkan hobi baru.

Karena belajar itu ternyata nggak harus di gedung kampus megah.

Kadang cukup di kamar sendiri.

Dengan WiFi seadanya.

Dan rasa penasaran yang sederhana.

Salam santai dan tetap haus belajar dari
Catatan PAHUPAHU 🎓


Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)

 

Memasak Resep Tradisional di Waktu Luang: Antara Rasa, Kenangan, dan Cerita yang Tak Pernah Habis

 

Memasak Resep Tradisional di Waktu Luang: Antara Rasa, Kenangan, dan Cerita yang Tak Pernah Habis

Memasak Resep Tradisional

Di tengah kesibukan yang makin padat—deadline kerja, notifikasi yang tak berhenti, dan ritme hidup yang serba cepat—waktu luang sering kali terasa seperti barang mewah. Ketika akhirnya waktu itu datang, banyak orang memilih rebahan, scrolling media sosial, atau binge watching serial favorit. Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi ada satu aktivitas sederhana yang sering luput, padahal menyimpan ketenangan, kenangan, sekaligus kebahagiaan: memasak resep tradisional.

Memasak resep tradisional di waktu luang bukan sekadar urusan perut. Ia adalah perjalanan rasa, nostalgia, dan bahkan identitas. Setiap irisan bawang, setiap adukan bumbu, dan setiap aroma yang keluar dari dapur seolah membawa kita pulang—entah ke masa kecil, ke rumah orang tua, atau ke momen-momen sederhana yang dulu sering kita anggap biasa.

Waktu Luang yang Berubah Makna

Waktu luang sering dianggap sebagai waktu “kosong”. Padahal, justru di situlah kita bisa mengisinya dengan hal-hal yang memberi makna. Memasak makanan tradisional adalah salah satu cara paling manusiawi untuk memanfaatkan waktu luang. Tidak terburu-buru, tidak dituntut hasil sempurna, dan tidak perlu validasi siapa pun.

Berbeda dengan memasak instan atau makanan cepat saji, resep tradisional menuntut kesabaran. Ada yang harus ditumis perlahan, direbus lama, atau bahkan menunggu semalaman agar bumbu meresap. Proses ini secara tidak langsung mengajarkan kita untuk melambat, sesuatu yang makin jarang kita lakukan hari ini.

Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)

Resep Tradisional: Lebih dari Sekadar Masakan

Setiap daerah di Indonesia punya resep tradisionalnya sendiri. Dari Sabang sampai Merauke, dapur kita kaya akan cerita. Rendang, coto, rawon, papeda, sayur lodeh, hingga ikan bakar dengan sambal khas—semuanya bukan sekadar makanan. Mereka adalah arsip budaya.

Resep tradisional sering diwariskan secara lisan. “Kira-kira segini saja garamnya.”
“Kalau baunya sudah keluar, berarti sudah pas.”
“Jangan pakai api besar, nanti pahit.”

Tidak ada takaran pasti, tapi rasanya selalu sama: rasa rumah.

Saat kita memasak resep tradisional di waktu luang, tanpa sadar kita sedang ikut menjaga warisan itu. Kita menjadi bagian dari mata rantai panjang yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Dapur sebagai Ruang Meditasi

Banyak orang menemukan ketenangan saat memasak. Ada ritme yang menenangkan: memotong, mengulek, menumis, menunggu. Pikiran yang tadinya penuh pelan-pelan menjadi lebih jernih. Fokus pada satu hal sederhana membuat kita sejenak lupa pada hal-hal yang membebani.

Memasak resep tradisional, khususnya, sering kali menghadirkan rasa “hadir sepenuhnya”. Kita mendengar suara minyak panas, mencium aroma rempah, dan merasakan tekstur bahan di tangan. Ini adalah bentuk meditasi paling membumi—tanpa yoga mat, tanpa aplikasi, tanpa aturan rumit.

Nostalgia yang Mengendap di Setiap Masakan

Ada alasan mengapa makanan tradisional sering membuat kita emosional. Satu sendok kuah bisa membawa kita ke masa kecil. Satu aroma bisa memanggil wajah orang yang sudah lama tidak kita temui.

Mungkin dulu kita sering melihat ibu atau nenek memasak hidangan itu. Kita duduk di dapur, menunggu dengan sabar (atau tidak sabar) sambil sesekali mencicipi. Kini, ketika kita mencoba memasaknya sendiri di waktu luang, perasaan itu datang kembali—hangat, akrab, dan sedikit haru.

Memasak resep tradisional menjadi cara sederhana untuk menghidupkan kembali kenangan, bahkan ketika orang-orang yang dulu memasaknya sudah tidak lagi ada di dapur itu.

Tidak Harus Sempurna

Salah satu hal paling menyenangkan dari memasak di waktu luang adalah: tidak ada tekanan. Masakan boleh kurang asin, terlalu pedas, atau tampilannya tidak Instagramable. Tidak apa-apa.

Resep tradisional justru sering fleksibel. Setiap keluarga punya versi sendiri. Ada yang pakai santan kental, ada yang encer. Ada yang pedasnya “ngena”, ada yang ramah lidah anak-anak. Semua sah.

Di sinilah letak keindahannya. Kita bebas bereksperimen, menyesuaikan dengan bahan yang ada, dan menciptakan versi kita sendiri. Lama-lama, resep itu bukan lagi “resep orang tua”, tapi resep kita.

Memasak sebagai Bentuk Perlawanan Kecil

Di era makanan instan dan pesan-antar, memasak resep tradisional di waktu luang bisa dianggap sebagai bentuk perlawanan kecil. Perlawanan terhadap budaya serba cepat, serba instan, dan serba praktis.

Bukan berarti kita anti kemajuan. Tapi sesekali, kembali ke dapur dan memasak dari nol adalah cara untuk mengingat bahwa hal baik sering butuh waktu. Bahwa rasa yang dalam tidak datang dari proses yang terburu-buru.

Menyambung Cerita Lewat Masakan

Ketika hasil masakan akhirnya tersaji, sering kali kita tidak menikmatinya sendirian. Ada keluarga, pasangan, atau teman yang ikut mencicipi. Di meja makan, cerita pun mengalir.

“Dulu nenek juga masak begini.”
“Rasanya mirip waktu kita masih kecil.”
“Ini masakan kampung halaman, ya?”

Resep tradisional menjadi pemantik cerita. Ia membuka percakapan lintas generasi. Dari satu panci masakan, lahir banyak kisah.

Waktu Luang yang Tak Terbuang

Pada akhirnya, memasak resep tradisional di waktu luang adalah tentang memberi nilai pada waktu itu sendiri. Waktu yang tadinya terasa kosong berubah menjadi bermakna. Ada hasil nyata, ada rasa puas, dan ada kenangan baru yang tercipta.

Tidak perlu menunggu momen spesial. Tidak harus hari libur besar. Cukup satu sore yang lengang, dapur yang sederhana, dan niat untuk mencoba.

Karena terkadang, kebahagiaan tidak datang dari hal besar. Ia hadir dari dapur kecil, panci yang mengepul, dan aroma masakan tradisional yang perlahan memenuhi rumah.

Dan di situlah, di antara bumbu dan cerita, kita menemukan bahwa memasak bukan sekadar aktivitas—melainkan cara pulang.


Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)