Kamis, 06 Agustus 2026

Investasi Bukan Jalan Cepat Menjadi Kaya

 

Investasi Bukan Jalan Cepat Menjadi Kaya

Catatan Pahupahu – Ada satu pertanyaan yang hampir selalu muncul di benak setiap orang yang baru pertama kali mendengar kata "investasi": "Berapa lama sih saya bisa jadi kaya raya kalau mulai investasi sekarang?"

Pertanyaan ini wajar, bahkan saya sendiri dulu pernah mengalaminya. Dunia investasi dewasa ini—terutama dengan maraknya konten TikTok dan Instagram dari para "finfluencer"—sering dibungkus dengan narasi yang menggoda: "Modal kecil, untung besar!" atau "Cara gampang dapatin cuan 10 juta dalam seminggu!"

Tapi izinkan saya untuk sedikit "membuyarkan mimpi" Anda. Karena fakta pahit yang jarang diumbar di media sosial adalah: investasi bukan, dan tidak akan pernah bisa menjadi, jalan cepat menuju kekayaan.

Mari kita bedah mengapa demikian.

Ilusi "Saham Gorengan" dan Kesalahan Fatal Generasi Muda

Kita hidup di era financial nihilism, sebuah istilah yang dipopulerkan oleh pakar keuangan Kyla Scanlon. Ini adalah perasaan pesimistis generasi muda yang merasa bahwa dunia keuangan begitu rumit dan tidak adil, sehingga mereka cenderung mengambil jalan pintas yang berisiko. Mereka berpikir, "Ah, buat apa nabung pensiun? Mending main saham instan biar cepet kaya." 

Namun, hasilnya seringkali tragis. Banyak dari investor muda ini justru "tersesat" ke dalam dunia spekulasi jangka pendek, seperti trading harian atau membeli saham gorengan yang sedang naik daun. Mereka lupa bahwa ada perbedaan mendasar antara investor dan spekulan.

Seorang investor sejati adalah pemilik bisnis (walaupun hanya punya 1 lembar saham Apple atau BBCA), sementara seorang spekulan hanyalah seorang penjudi yang berharap harga naik besok pagi.

Data dari Bloomberg menunjukkan bahwa sebagian besar investor muda yang bertindak agresif justru gagal mencapai target keuangan mereka karena biaya transaksi yang tinggi dan kesalahan dalam memilih waktu pasar . Tokoh keuangan kenamaan Ric Edelman bahkan dengan tegas menyebut bahwa Amerika Serikat (dan mungkin juga negara kita) gagal dalam memberikan edukasi keuangan yang benar. Anak-anak muda belajar investasi dari TikTok, yang 99 persen isinya adalah ajakan get rich quick belaka .

Godaan Terbesar: Terlalu Percaya Diri (Overconfidence)

Mengapa kita merasa bisa mengalahkan pasar? Padahal statistik menunjukkan kebalikannya. Sebuah eksperimen yang dipublikasikan di Journal of Risk and Uncertainty (2025) menemukan bahwa kepercayaan diri berlebih (overconfidence) adalah penyakit paling umum di dunia investasi .

Fenomena ini dijelaskan dalam jurnal tersebut sebagai "overplacement"—kita cenderung merasa diri kita lebih pintar dari rata-rata investor lain. Ini mirip dengan survei klasik di mana 93% pengemudi merasa kemampuan menyetirnya di atas rata-rata (yang secara matematika tidak mungkin) .

Dalam praktik investasi, overconfidence berbahaya karena mendorong perilaku overtrading (terlalu sering jual-beli). Sebuah studi sistematik yang dilakukan pada tahun 2025 oleh Maya Katenova menegaskan bahwa investor yang overconfident biasanya memiliki turnover portofolio yang tinggi, yang pada akhirnya menggerus keuntungan karena biaya transaksi dan pajak .

Ilustrasi Sederhana:
Bayangkan Anda dan teman Anda berlomba lari maraton (42 km). Karena Anda terlalu percaya diri, Anda berlari sekencang-kencangnya di 5 km pertama. Hasilnya? Anda kehabisan napas di kilometer 10 dan harus berhenti. Investasi get rich quick sama persis seperti itu. Sedangkan investasi yang benar adalah berlari pelan tapi stabil, konsisten, hingga melewati garis akhir.

Investasi Adalah "Transfer Kesabaran"

Saya suka definisi investasi yang diberikan oleh Ben Le Fort dalam bukunya The Investor's Mindset (2023). Ia berkata bahwa investasi sejatinya adalah mentransfer daya beli masa kini ke masa depan dengan imbalan imbal hasil. Ini adalah proses yang lambat, membosankan, dan tidak instagramable sama sekali .

Sayangnya, media sosial telah membuat kita kecanduan dopamin. Kita terbiasa dengan konten 15 detik yang langsung memberikan kepuasan. Sayangnya, pasar modal tidak bekerja seperti TikTok. Pasar modal bekerja berdasarkan suku bunga majemuk (compound interest), yang oleh Albert Einstein disebut sebagai keajaiban dunia ke-8.

Untuk memanfaatkan compound interest, Anda butuh dua hal: waktu yang panjang dan konsistensi.

Coba lihat tabel sederhana ini untuk membuka mata Anda:

Gaya Investasi

Strategi

Waktu yang Dibutuhkan untuk Jadi Miliarder (Modal Awal Rp 1 Juta, Tabung Rp 1 Juta/bulan)

Get Rich Quick

Main saham gorengan, trading harian, FOMO (Fear Of Missing Out)

99% kemungkinan justru bangkrut dalam 1 tahun

Get Rich Slow

Beli ETF/Reksadana Indeks setiap bulan, tidak peduli naik turun harga

+/- 25 tahun (dengan asumsi return 12% per tahun)

Tabel di atas memang tidak instan. Tapi kabar baiknya: waktu akan berjalan dengan sendirinya. Anda tetap akan berusia 25 tahun, 35 tahun, atau 45 tahun nanti. Lebih baik memiliki uang di usia tersebut, bukan?

Yang Dikejar Itu Kaya (Rich) atau Makmur (Wealthy)?

Dalam artikel di Nasdaq baru-baru ini, pakar keuangan Abid Salahi mengingatkan perbedaan mendasar antara Rich (Kaya) dan Wealthy (Makmur). Rich adalah kondisi di mana pemasukan Anda tinggi dan Anda punya banyak uang tunai untuk membeli barang mewah sekarang. Wealthy adalah kondisi di mana Anda memiliki aset (saham, properti, bisnis) yang terus menghasilkan uang untuk Anda, bahkan saat Anda tidur .

Orang yang mengejar get rich akan FOMO beli mobil mewah saat dapat bonus. Akibatnya, uangnya habis dan ia tetap miskin secara aset. Sebaliknya, orang yang mengejar kemakmuran akan tetap menabung dan investasi, meskipun gajinya pas-pasan. Ia sabar menunggu asetnya beranak-pinak.

Psikologi "Fear of Missing Out" (FOMO)

Salah satu penyebab utama gagalnya seseorang menjadi investor jangka panjang adalah FOMO. Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di Jurnal Economia (2025) menguji secara langsung pengaruh bias kognitif terhadap investor ritel.

Hasilnya mengejutkan: FOMO memediasi kuat hubungan antara rasa takut rugi (loss aversion) dan keputusan investasi yang buruk .

Artinya, ketika Anda melihat tetangga atau teman di grup WhatsApp pamer keuntungan 50% dari saham aneh-aneh, otak Anda akan memicu rasa cemas. Anda takut ketinggalan kereta (fear of missing out). Dorongan ini sangat kuat sehingga membuat Anda mengabaikan analisis fundamental dan membeli di harga puncak (yang kemudian justru membuat Anda rugi saat harga turun).

Inilah mengapa investasi yang baik adalah investasi yang membosankan. Tidak ada sensasi, tidak ada FOMO. Hanya rutinitas bulanan membeli aset berkualitas, membaca laporan keuangan, dan tidur nyenyak.

Kesimpulan: Ubah Pola Pikir Anda

Menutup bagian ketiga dari seri catatan investasi ini, saya ingin mengajak Anda berdamai dengan kenyataan. Tidak ada yang instan.

Berikut adalah resep sederhana yang didukung oleh berbagai jurnal bereputasi (Yan, 2025; Katenova, 2025; Budiman dkk., 2025) untuk sukses berinvestasi:

1.     Akui Anda Biasa Saja (Avoid Overconfidence): Anda tidak lebih pintar dari manajer investasi profesional. Jadi berhentilah bermain-main dengan saham individual jika Anda tidak punya waktu untuk riset 20 jam seminggu. Belilah indeks.

2.     Stop Cek Harga Setiap Detik: Riset membuktikan bahwa semakin sering Anda cek portofolio, semakin besar kemungkinan Anda mengambil keputusi emosional yang salah.

3.     Konsisten, Bukan Kuantitas: Lebih baik investasi Rp 100.000 setiap bulan secara rutin daripada Rp 10 juta sekali tapi hanya setahun sekali karena menunggu momen "pas".

4.     Edukasi Diri: Jangan percaya 100% pada influencer. Baca buku klasik seperti The Intelligent Investor atau artikel jurnal yang saya cantumkan di bawah. Literasi keuangan adalah perisai terbaik melawan kebodohan .

Ingatlah pepatah lama di Wall Street: "The stock market is a device for transferring money from the impatient to the patient." (Pasar saham adalah alat untuk memindahkan uang dari orang yang tidak sabar kepada orang yang sabar).

Jadilah investor yang sabar. Karena kekayaan sejati bukan tentang seberapa cepat Anda mendapatkannya, tetapi tentang seberapa lama Anda bisa menjaganya.

Salam Panjang Umur Keuangan,

Pahupahu

 

Daftar Referensi

Budiman, J., Ong, T., & Yuwono, W. (2025). Exploring Cognitive Bias Influence on Investment Decisions in Indonesia: The Mediating Role of FOMO. Jurnal Economia, 21(3), 432–446. 

Katenova, M. (2025). Behavioral Finance in the sphere of investment: Systematic Review of Literature between 2020 and 2025. Zenodo

Le Fort, B. (2023). The Investor‘s Mindset: Analyze Markets. Invest Strategically. Minimize Risk. Maximize Returns. DK Publishing. 

Salahi, A. (2024, September 11). 8 Key Signs That Trying To Get Rich Is Keeping You From Becoming Wealthy. Nasdaq

Scanlon, K. (2025, July 1). Why Many Gen Z Investors Are Coming Up Short. Bloomberg

Yan, Z. (2025). Behavioural factors in risk perception and financial decision making. Journal of Behavioral Finance, September 2025. 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar