Investasi Bukan Jalan Cepat Menjadi Kaya
Catatan Pahupahu – Ada satu pertanyaan yang hampir selalu
muncul di benak setiap orang yang baru pertama kali mendengar kata
"investasi": "Berapa lama sih saya bisa jadi kaya raya
kalau mulai investasi sekarang?"
Pertanyaan ini wajar,
bahkan saya sendiri dulu pernah mengalaminya. Dunia investasi dewasa
ini—terutama dengan maraknya konten TikTok dan Instagram dari para
"finfluencer"—sering dibungkus dengan narasi yang menggoda: "Modal
kecil, untung besar!" atau "Cara gampang dapatin
cuan 10 juta dalam seminggu!"
Tapi izinkan saya untuk
sedikit "membuyarkan mimpi" Anda. Karena fakta pahit yang jarang
diumbar di media sosial adalah: investasi bukan, dan tidak akan pernah
bisa menjadi, jalan cepat menuju kekayaan.
Mari kita bedah mengapa
demikian.
Ilusi "Saham Gorengan" dan Kesalahan Fatal Generasi Muda
Kita hidup di era financial
nihilism, sebuah istilah yang dipopulerkan oleh pakar keuangan Kyla
Scanlon. Ini adalah perasaan pesimistis generasi muda yang merasa bahwa dunia
keuangan begitu rumit dan tidak adil, sehingga mereka cenderung mengambil jalan
pintas yang berisiko. Mereka berpikir, "Ah, buat apa nabung
pensiun? Mending main saham instan biar cepet kaya."
Namun, hasilnya
seringkali tragis. Banyak dari investor muda ini justru "tersesat" ke
dalam dunia spekulasi jangka pendek, seperti trading harian
atau membeli saham gorengan yang sedang naik daun. Mereka lupa
bahwa ada perbedaan mendasar antara investor dan spekulan.
Seorang investor sejati
adalah pemilik bisnis (walaupun hanya punya 1 lembar saham Apple atau BBCA),
sementara seorang spekulan hanyalah seorang penjudi yang berharap harga naik
besok pagi.
Data dari Bloomberg
menunjukkan bahwa sebagian besar investor muda yang bertindak agresif justru
gagal mencapai target keuangan mereka karena biaya transaksi yang tinggi dan
kesalahan dalam memilih waktu pasar . Tokoh keuangan kenamaan Ric Edelman
bahkan dengan tegas menyebut bahwa Amerika Serikat (dan mungkin juga negara
kita) gagal dalam memberikan edukasi keuangan yang benar. Anak-anak muda
belajar investasi dari TikTok, yang 99 persen isinya adalah ajakan get
rich quick belaka .
Godaan Terbesar: Terlalu Percaya Diri (Overconfidence)
Mengapa kita merasa bisa
mengalahkan pasar? Padahal statistik menunjukkan kebalikannya. Sebuah
eksperimen yang dipublikasikan di Journal of Risk and Uncertainty (2025)
menemukan bahwa kepercayaan diri berlebih (overconfidence)
adalah penyakit paling umum di dunia investasi .
Fenomena ini dijelaskan
dalam jurnal tersebut sebagai "overplacement"—kita cenderung merasa
diri kita lebih pintar dari rata-rata investor lain. Ini mirip dengan survei
klasik di mana 93% pengemudi merasa kemampuan menyetirnya di atas rata-rata
(yang secara matematika tidak mungkin) .
Dalam praktik
investasi, overconfidence berbahaya karena mendorong
perilaku overtrading (terlalu sering jual-beli). Sebuah studi
sistematik yang dilakukan pada tahun 2025 oleh Maya Katenova menegaskan bahwa
investor yang overconfident biasanya memiliki turnover portofolio
yang tinggi, yang pada akhirnya menggerus keuntungan karena biaya transaksi dan
pajak .
Ilustrasi Sederhana:
Bayangkan Anda dan teman Anda berlomba lari maraton (42 km). Karena Anda
terlalu percaya diri, Anda berlari sekencang-kencangnya di 5 km pertama.
Hasilnya? Anda kehabisan napas di kilometer 10 dan harus berhenti.
Investasi get rich quick sama persis seperti itu. Sedangkan
investasi yang benar adalah berlari pelan tapi stabil, konsisten, hingga
melewati garis akhir.
Investasi Adalah "Transfer Kesabaran"
Saya suka definisi
investasi yang diberikan oleh Ben Le Fort dalam bukunya The Investor's
Mindset (2023). Ia berkata bahwa investasi sejatinya adalah mentransfer
daya beli masa kini ke masa depan dengan imbalan imbal hasil. Ini adalah
proses yang lambat, membosankan, dan tidak instagramable sama
sekali .
Sayangnya, media sosial
telah membuat kita kecanduan dopamin. Kita terbiasa dengan konten
15 detik yang langsung memberikan kepuasan. Sayangnya, pasar modal tidak
bekerja seperti TikTok. Pasar modal bekerja berdasarkan suku bunga
majemuk (compound interest), yang oleh Albert Einstein disebut
sebagai keajaiban dunia ke-8.
Untuk memanfaatkan compound
interest, Anda butuh dua hal: waktu yang panjang dan konsistensi.
Coba lihat tabel
sederhana ini untuk membuka mata Anda:
|
Gaya Investasi |
Strategi |
Waktu yang Dibutuhkan untuk Jadi Miliarder (Modal Awal Rp 1
Juta, Tabung Rp 1 Juta/bulan) |
|
Get Rich Quick |
Main saham gorengan, trading harian, FOMO (Fear Of Missing Out) |
99% kemungkinan justru bangkrut dalam 1 tahun |
|
Get Rich Slow |
Beli ETF/Reksadana
Indeks setiap bulan, tidak peduli naik turun harga |
+/- 25 tahun (dengan asumsi return 12% per tahun) |
Tabel di atas memang
tidak instan. Tapi kabar baiknya: waktu akan berjalan dengan sendirinya. Anda
tetap akan berusia 25 tahun, 35 tahun, atau 45 tahun nanti. Lebih baik memiliki
uang di usia tersebut, bukan?
Yang Dikejar Itu Kaya (Rich) atau Makmur (Wealthy)?
Dalam artikel di Nasdaq
baru-baru ini, pakar keuangan Abid Salahi mengingatkan perbedaan mendasar
antara Rich (Kaya) dan Wealthy (Makmur). Rich adalah
kondisi di mana pemasukan Anda tinggi dan Anda punya banyak uang tunai untuk
membeli barang mewah sekarang. Wealthy adalah kondisi di mana
Anda memiliki aset (saham, properti, bisnis) yang terus menghasilkan uang untuk
Anda, bahkan saat Anda tidur .
Orang yang
mengejar get rich akan FOMO beli mobil mewah saat dapat bonus.
Akibatnya, uangnya habis dan ia tetap miskin secara aset. Sebaliknya, orang
yang mengejar kemakmuran akan tetap menabung dan investasi, meskipun gajinya
pas-pasan. Ia sabar menunggu asetnya beranak-pinak.
Psikologi "Fear of
Missing Out" (FOMO)
Salah satu penyebab
utama gagalnya seseorang menjadi investor jangka panjang adalah FOMO. Sebuah
penelitian terbaru yang dipublikasikan di Jurnal Economia (2025)
menguji secara langsung pengaruh bias kognitif terhadap investor ritel.
Hasilnya
mengejutkan: FOMO memediasi kuat hubungan antara rasa takut rugi (loss
aversion) dan keputusan investasi yang buruk .
Artinya, ketika Anda
melihat tetangga atau teman di grup WhatsApp pamer keuntungan 50% dari saham
aneh-aneh, otak Anda akan memicu rasa cemas. Anda takut ketinggalan kereta (fear
of missing out). Dorongan ini sangat kuat sehingga membuat Anda mengabaikan
analisis fundamental dan membeli di harga puncak (yang kemudian justru membuat
Anda rugi saat harga turun).
Inilah mengapa investasi
yang baik adalah investasi yang membosankan. Tidak ada sensasi,
tidak ada FOMO. Hanya rutinitas bulanan membeli aset berkualitas, membaca
laporan keuangan, dan tidur nyenyak.
Kesimpulan: Ubah Pola Pikir Anda
Menutup bagian ketiga
dari seri catatan investasi ini, saya ingin mengajak Anda berdamai dengan
kenyataan. Tidak ada yang instan.
Berikut adalah resep
sederhana yang didukung oleh berbagai jurnal bereputasi (Yan, 2025; Katenova,
2025; Budiman dkk., 2025) untuk sukses berinvestasi:
1.
Akui
Anda Biasa Saja (Avoid
Overconfidence): Anda tidak lebih pintar dari manajer investasi
profesional. Jadi berhentilah bermain-main dengan saham individual jika Anda
tidak punya waktu untuk riset 20 jam seminggu. Belilah indeks.
2.
Stop
Cek Harga Setiap Detik:
Riset membuktikan bahwa semakin sering Anda cek portofolio, semakin besar
kemungkinan Anda mengambil keputusi emosional yang salah.
3.
Konsisten,
Bukan Kuantitas: Lebih baik investasi
Rp 100.000 setiap bulan secara rutin daripada Rp 10 juta sekali tapi hanya
setahun sekali karena menunggu momen "pas".
4.
Edukasi
Diri: Jangan percaya 100%
pada influencer. Baca buku klasik seperti The Intelligent
Investor atau artikel jurnal yang saya cantumkan di bawah. Literasi
keuangan adalah perisai terbaik melawan kebodohan .
Ingatlah pepatah lama di
Wall Street: "The stock market is a device for transferring money
from the impatient to the patient." (Pasar saham adalah alat
untuk memindahkan uang dari orang yang tidak sabar kepada orang yang sabar).
Jadilah investor yang
sabar. Karena kekayaan sejati bukan tentang seberapa cepat Anda mendapatkannya,
tetapi tentang seberapa lama Anda bisa menjaganya.
Salam Panjang Umur
Keuangan,
Pahupahu
Daftar Referensi
Budiman, J., Ong, T.,
& Yuwono, W. (2025). Exploring Cognitive Bias Influence on Investment
Decisions in Indonesia: The Mediating Role of FOMO. Jurnal Economia,
21(3), 432–446.
Katenova, M. (2025).
Behavioral Finance in the sphere of investment: Systematic Review of Literature
between 2020 and 2025. Zenodo.
Le Fort, B.
(2023). The Investor‘s Mindset: Analyze Markets. Invest Strategically.
Minimize Risk. Maximize Returns. DK Publishing.
Salahi, A. (2024,
September 11). 8 Key Signs That Trying To Get Rich Is Keeping You From Becoming
Wealthy. Nasdaq.
Scanlon, K. (2025, July
1). Why Many Gen Z Investors Are Coming Up Short. Bloomberg.
Yan, Z. (2025).
Behavioural factors in risk perception and financial decision making. Journal
of Behavioral Finance, September 2025.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar