Minggu, 15 Februari 2026

Belajar Bahasa Asing di Waktu Luang: Pelan-Pelan Saja, yang Penting Jalan

 

Belajar Bahasa Asing di Waktu Luang: Pelan-Pelan Saja, yang Penting Jalan

Belajar Bahasa Asing di Waktu Luang

Dulu saya pernah punya niat mulia.

“Mulai bulan depan, saya mau serius belajar bahasa asing. Minimal satu jam sehari.”

Kedengarannya keren, ya? Ambisius. Terlihat seperti orang produktif yang hidupnya tertata.

Tapi kenyataannya?

Hari pertama semangat.
Hari kedua masih niat.
Hari ketiga mulai sibuk.
Hari keempat… ya sudahlah.

Buku belajar bahasanya nganggur di meja. Aplikasi di HP cuma jadi pajangan. Target tinggal kenangan.

Akhirnya saya sadar satu hal sederhana:
belajar bahasa asing itu bukan soal disiplin militer. Bukan juga soal jadwal ketat.

Kadang justru lebih cocok dijalani santai. Dicicil. Dikerjakan di sela-sela waktu luang.

Seperti ngemil. Sedikit-sedikit, tapi sering.

Dan anehnya, cara santai ini malah lebih awet.

Nggak Semua Harus Serius

Banyak orang membayangkan belajar bahasa asing itu harus seperti kursus resmi.

Duduk rapi.
Buka buku tebal.
Hafalin grammar.
Ngerjain soal.

Rasanya seperti kembali ke bangku sekolah. Berat duluan sebelum mulai.

Padahal bahasa itu pada dasarnya alat komunikasi. Sesuatu yang hidup. Bukan sekadar rumus.

Anak kecil bisa lancar ngomong tanpa tahu apa itu “tenses” atau “struktur kalimat”.

Kenapa?

Karena mereka belajar sambil main. Sambil dengar. Sambil coba-coba.

Mungkin kita juga bisa meniru cara itu.

Belajar, tapi santai. Nggak kaku.

Waktu Luang Itu Lebih Banyak dari yang Kita Kira

Coba jujur deh.

Berapa menit sehari kita habiskan buat scroll media sosial tanpa tujuan?

10 menit?
30 menit?
Satu jam?

Tanpa sadar, waktu luang itu sebenarnya ada. Cuma tersebar di mana-mana.

Nunggu ojek.
Ngantri kopi.
Istirahat makan siang.
Sebelum tidur.

Potongan waktu kecil seperti itu kalau dikumpulkan bisa jadi banyak.

Dan itu cukup banget buat belajar bahasa asing.

Nggak perlu duduk dua jam nonstop. Lima belas menit pun sudah lumayan.

Yang penting rutin.

Mulai dari Hal yang Menyenangkan

Kesalahan terbesar saya dulu adalah memulai dari yang paling ribet: grammar.

Baru buka buku, langsung pusing.

Akhirnya menyerah.

Sekarang saya ganti strategi. Mulai dari yang menyenangkan dulu.

Misalnya:

·         Nonton film pakai subtitle bahasa target

·         Dengerin lagu sambil baca lirik

·         Main game yang pakai bahasa asing

·         Baca komik atau artikel ringan

Ternyata jauh lebih enak.

Belajar tanpa terasa seperti belajar.

Tiba-tiba sudah hafal beberapa kata baru. Tiba-tiba ngerti satu-dua kalimat.

Rasanya kecil, tapi memuaskan.

Kayak nemu koin receh di saku celana lama. Nggak banyak, tapi bikin senyum.

Jangan Takut Salah

Ini penyakit klasik orang dewasa: takut salah.

Takut pengucapannya jelek.
Takut grammar berantakan.
Takut diketawain.

Akhirnya malah nggak berani mulai.

Padahal bahasa itu soal latihan. Salah itu bagian dari proses.

Anak kecil belajar ngomong juga belepotan dulu. Tapi mereka santai aja. Nggak malu.

Kita yang sudah dewasa malah kebanyakan mikir.

Saya pernah nekat ngomong bahasa Inggris sama turis, padahal grammar campur aduk. Yang penting nyambung. Dan ternyata… mereka ngerti.

Dari situ saya belajar: komunikasi itu nggak harus sempurna.

Yang penting berani.

Sedikit Tapi Konsisten

Ada satu prinsip yang sekarang saya pegang:
lebih baik 10 menit tiap hari daripada 2 jam seminggu sekali.

Karena belajar bahasa itu soal ingatan jangka panjang.

Kalau jarang disentuh, cepat lupa.

Tapi kalau sering, walaupun sebentar, otak jadi terbiasa.

Seperti nyiram tanaman. Nggak perlu seember sekaligus. Cukup sedikit tapi rutin.

Lama-lama tumbuh juga.

Cara Santai Belajar Bahasa di Waktu Luang

Biar lebih praktis, ini beberapa cara yang biasa saya lakukan.

Siapa tahu cocok juga buat kamu.

1. Ganti Bahasa HP

Kelihatannya sepele, tapi efektif.

Menu “Settings”, “Gallery”, “Message”—lama-lama jadi hafal sendiri.

Belajar tanpa sadar.

2. Pakai Aplikasi 5–10 Menit

Sekarang banyak aplikasi belajar bahasa yang modelnya mini lesson.

Sekali buka cuma beberapa menit. Cocok buat nunggu atau sebelum tidur.

Nggak berat, tapi konsisten.

3. Tempel Kosakata di Sekitar Rumah

Dulu saya pernah tempel kertas kecil:

·         door

·         window

·         mirror

·         table

Setiap lihat, kebaca. Tanpa sadar hafal.

Agak norak sih, tapi efektif. 😄

4. Nonton Tanpa Subtitle Indonesia

Coba pakai subtitle bahasa target atau malah tanpa subtitle.

Awalnya bingung. Tapi lama-lama telinga terbiasa.

Listening itu penting banget.

5. Tulis Catatan Kecil

Kalau nemu kata baru, catat.

Bisa di notes HP atau buku kecil.

Kadang saya baca lagi sebelum tidur. Aneh tapi lumayan nempel.

Belajar Itu Bukan Lomba

Sering kali kita bandingkan diri dengan orang lain.

“Dia udah lancar.”
“Dia cepet banget.”
“Saya kok lama, ya?”

Padahal tiap orang punya ritme sendiri.

Ada yang cepat. Ada yang pelan.

Nggak masalah.

Bahasa itu bukan lomba lari. Nggak ada garis finish.

Selama kamu masih belajar, kamu sudah maju.

Sekecil apa pun.

Bonus yang Nggak Terduga

Lucunya, belajar bahasa asing itu sering kasih kejutan kecil.

Tiba-tiba ngerti lirik lagu favorit.
Tiba-tiba bisa baca meme luar negeri.
Tiba-tiba paham dialog film tanpa lihat subtitle.

Rasanya seperti naik level di game.

Kepuasan kecil, tapi bikin ketagihan.

Dan dari situ motivasi muncul sendiri.

Bukan karena target. Tapi karena seru.

Lebih dari Sekadar Bahasa

Semakin lama belajar, saya sadar: bahasa itu bukan cuma kata-kata.

Di dalamnya ada budaya. Cara berpikir. Cara bercanda. Cara melihat dunia.

Belajar bahasa baru rasanya seperti membuka jendela baru.

Dunia yang tadinya sempit, pelan-pelan melebar.

Kita jadi lebih ngerti orang lain. Lebih toleran. Lebih penasaran.

Dan mungkin, sedikit lebih rendah hati.

Karena sadar bahwa dunia ini luas banget.

Pelan-Pelan Saja

Jadi kalau sekarang kamu merasa:

“Saya pengen belajar bahasa asing, tapi sibuk…”

Tenang.

Nggak harus langsung jago. Nggak harus kursus mahal. Nggak harus punya jadwal sempurna.

Mulai saja dari 5 menit hari ini.

Satu kata baru.
Satu kalimat baru.
Satu lagu baru.

Besok ulangi lagi.

Pelan-pelan.

Karena bahasa itu bukan sprint. Tapi perjalanan panjang.

Dan perjalanan panjang paling nikmat justru yang santai, sambil menikmati pemandangan.

Siapa tahu, beberapa tahun lagi kamu kaget sendiri.

“Kok sekarang saya ngerti, ya?”

Padahal dulu cuma iseng belajar di sela-sela waktu luang.

Begitulah. Kadang hal besar memang lahir dari kebiasaan kecil.

Selamat belajar.
Selamat mencoba.

Dan semoga suatu hari nanti, kamu bisa tersenyum bangga saat berbicara dengan bahasa yang dulu terasa asing.

Dari waktu luang yang sederhana, lahir kemampuan yang luar biasa.

Salam santai dari Catatan PAHUPAHU.

Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)

 

Sabtu, 14 Februari 2026

Membaca Buku dan Menulis Ulasannya: Cara Sederhana Menikmati Bacaan Lebih Dalam

 

Membaca Buku dan Menulis Ulasannya: Cara Sederhana Menikmati Bacaan Lebih Dalam

Membaca Buku dan Menulis Ulasannya


Ada dua tipe pembaca buku di dunia ini.
Pertama, yang membaca lalu selesai. Tutup buku, taruh di rak, lanjut hidup seperti biasa.
Kedua, yang setelah membaca justru belum selesai—karena kepalanya masih penuh pikiran, perasaan, dan keinginan buat cerita ke orang lain.

Kalau kamu termasuk tipe kedua, selamat. Kamu mungkin diam-diam sudah setengah jalan jadi penulis ulasan buku.

Saya dulu termasuk tipe pertama. Baca buku cepat, puas, lalu lupa. Judulnya masih ingat, tapi isinya samar. Kadang cuma tersisa, “Kayaknya bagus deh.” Tapi kenapa bagus? Nggak tahu.

Sampai suatu hari saya iseng menulis sedikit catatan setelah selesai membaca. Bukan ulasan panjang, cuma beberapa paragraf: kesan, kutipan favorit, dan pendapat pribadi. Ternyata efeknya luar biasa. Buku itu seperti “tinggal” lebih lama di kepala.

Dari situlah saya sadar: membaca dan menulis ulasan itu pasangan yang serasi. Seperti kopi dan pagi hari. Seperti hujan dan kenangan.

Mereka saling melengkapi.

Membaca Bukan Cuma Soal Tamat

Banyak orang menganggap membaca itu soal kuantitas.
“Tahun ini target 50 buku!”
“Bulan ini minimal 5 buku!”

Nggak salah, sih. Target bisa bikin semangat. Tapi kadang kita jadi lupa menikmati prosesnya. Buku dibaca cepat-cepat, yang penting selesai. Ibarat nonton film sambil fast forward.

Padahal membaca itu mestinya pelan. Dinikmati.

Kita berhenti di kalimat yang indah.
Mengulang paragraf yang menampar hati.
Atau tiba-tiba melamun karena ceritanya terasa dekat dengan hidup sendiri.

Nah, di sinilah menulis ulasan berperan. Ulasan memaksa kita memperlambat langkah. Kita jadi bertanya:

·         Apa sih inti buku ini?

·         Kenapa saya suka/tidak suka?

·         Bagian mana yang paling berkesan?

·         Pelajaran apa yang saya dapat?

Pertanyaan-pertanyaan itu bikin kita membaca dengan lebih sadar.

Bukan cuma lewat mata, tapi juga lewat pikiran dan perasaan.

Menulis Ulasan Itu Bukan Tugas Sekolah

Banyak orang malas menulis ulasan karena trauma tugas sekolah.
Harus formal.
Harus baku.
Harus ada sinopsis, tema, amanat, kelebihan, kekurangan…

Aduh, ribet banget.

Padahal ulasan buku di blog itu bebas. Santai saja. Anggap seperti cerita ke teman.

Bayangkan kamu baru selesai baca buku, lalu nongkrong sama sahabat. Kamu pasti bilang:

“Eh, gue baru baca buku keren banget!”
“Ceritanya bikin nangis, sumpah.”
“Tokohnya ngeselin tapi realistis.”

Nah, itu sebenarnya sudah ulasan. Tinggal ditulis saja.

Nggak perlu bahasa tinggi. Nggak perlu istilah akademis. Tulis dengan suara kamu sendiri. Justru itu yang bikin pembaca blog merasa dekat.

Karena mereka bukan cari skripsi.
Mereka cari cerita.

Kenapa Perlu Menulis Ulasan Buku?

Selain biar nggak lupa isi buku, ada banyak manfaat tersembunyi.

1. Ingatan Lebih Kuat

Saat menulis, otak bekerja dua kali. Kita mengingat, menyusun, lalu mengekspresikan ulang. Hasilnya? Cerita lebih melekat.

Kadang saya masih ingat detail buku yang dibaca bertahun-tahun lalu, cuma karena dulu sempat menulis ulasannya.

2. Melatih Berpikir Kritis

Menulis ulasan bikin kita nggak asal suka atau nggak suka. Kita belajar menjelaskan alasan.

“Kenapa bagus?”
“Kenapa membosankan?”

Pelan-pelan kita jadi pembaca yang lebih kritis.

3. Melatih Menulis

Kalau rutin bikin ulasan, tanpa sadar kemampuan menulis ikut naik. Kosakata bertambah. Gaya bahasa makin luwes. Kalimat makin enak dibaca.

Ibarat olahraga kecil tapi rutin.

4. Berbagi Manfaat ke Orang Lain

Pernah beli buku karena rekomendasi orang? Nah, ulasan kita bisa jadi “petunjuk jalan” buat pembaca lain.

Siapa tahu tulisan kita membantu seseorang menemukan buku yang mengubah hidupnya.

Keren, kan?

Cara Santai Menulis Ulasan Buku

Buat yang masih bingung mulai dari mana, ini versi santainya.

Nggak ribet. Nggak kaku.

Mulai dari Perasaan

Tanya diri sendiri:
“Setelah baca buku ini, saya merasa apa?”

Senang? Sedih? Marah? Terinspirasi?

Mulai dari situ.

Contoh:

Buku ini bikin saya terdiam lama setelah halaman terakhir. Rasanya campur aduk antara haru dan kesal.

Lihat? Simpel.

Ceritakan Sedikit Isinya

Nggak perlu spoiler. Cukup gambaran umum biar pembaca paham.

Seperti trailer film, bukan rangkuman lengkap.

Tambahkan Pendapat Pribadi

Bagian ini yang paling penting. Karena inilah yang bikin ulasan kamu unik.

·         Tokoh favorit?

·         Bagian paling berkesan?

·         Kutipan yang menempel di kepala?

·         Kritik kecil?

Jangan takut jujur.

Tutup dengan Rekomendasi

Buku ini cocok buat siapa?

“Buat yang lagi cari bacaan ringan.”
“Buat pecinta misteri.”
“Atau buat kamu yang lagi patah hati.”

Kalimat sederhana, tapi membantu.

Nggak Harus Sempurna

Kadang kita nunda nulis karena merasa:
“Ah, belum bagus.”
“Takut jelek.”
“Takut dibilang sok tahu.”

Percayalah, semua penulis pernah ada di fase itu.

Tulisan pertama pasti berantakan. Wajar.

Anggap saja seperti coretan di buku harian. Nggak perlu sempurna. Yang penting jujur.

Lama-lama gaya kamu akan terbentuk sendiri.

Justru ketidaksempurnaan itu yang bikin tulisan terasa manusiawi.

Menjadikan Ulasan Sebagai Ritual

Coba biasakan satu hal kecil:
Setiap selesai satu buku, tulis minimal 300–500 kata.

Nggak usah panjang. Yang penting konsisten.

Bisa di blog, notes HP, atau buku catatan.

Lama-lama kamu akan punya “jejak membaca”. Kumpulan kenangan dalam bentuk tulisan.

Seru banget kalau suatu hari kamu baca ulang ulasan lama. Rasanya seperti ketemu versi diri sendiri di masa lalu.

“Oh, dulu gue mikir gini, ya.”

Menyenangkan sekaligus mengharukan.

Membaca Lebih Hidup, Menulis Lebih Jujur

Akhirnya saya percaya satu hal:
Membaca itu menyerap dunia orang lain.
Menulis ulasan itu menemukan suara diri sendiri.

Dua-duanya saling melengkapi.

Buku memberi kita cerita.
Ulasan memberi kita makna.

Jadi lain kali setelah menutup buku terakhir halaman, jangan langsung buru-buru pindah ke bacaan berikutnya.

Diam sebentar.
Ambil napas.
Buka laptop atau catatan.

Tulis.

Tulis apa pun yang terlintas. Tentang tokohnya, tentang emosimu, tentang kenangan yang tiba-tiba muncul.

Karena mungkin, justru di situlah pengalaman membaca yang sesungguhnya dimulai.

Dan siapa tahu, dari sekadar ulasan santai di blog Catatan PAHUPAHU, lahir tulisan-tulisan lain yang lebih panjang, lebih dalam, dan lebih bermakna.

Selamat membaca.
Selamat menulis.

Dan selamat jatuh cinta berkali-kali lewat buku. 📚


 Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)