Sabtu, 14 Februari 2026

Membaca Buku dan Menulis Ulasannya: Cara Sederhana Menikmati Bacaan Lebih Dalam

 

Membaca Buku dan Menulis Ulasannya: Cara Sederhana Menikmati Bacaan Lebih Dalam

Membaca Buku dan Menulis Ulasannya


Ada dua tipe pembaca buku di dunia ini.
Pertama, yang membaca lalu selesai. Tutup buku, taruh di rak, lanjut hidup seperti biasa.
Kedua, yang setelah membaca justru belum selesai—karena kepalanya masih penuh pikiran, perasaan, dan keinginan buat cerita ke orang lain.

Kalau kamu termasuk tipe kedua, selamat. Kamu mungkin diam-diam sudah setengah jalan jadi penulis ulasan buku.

Saya dulu termasuk tipe pertama. Baca buku cepat, puas, lalu lupa. Judulnya masih ingat, tapi isinya samar. Kadang cuma tersisa, “Kayaknya bagus deh.” Tapi kenapa bagus? Nggak tahu.

Sampai suatu hari saya iseng menulis sedikit catatan setelah selesai membaca. Bukan ulasan panjang, cuma beberapa paragraf: kesan, kutipan favorit, dan pendapat pribadi. Ternyata efeknya luar biasa. Buku itu seperti “tinggal” lebih lama di kepala.

Dari situlah saya sadar: membaca dan menulis ulasan itu pasangan yang serasi. Seperti kopi dan pagi hari. Seperti hujan dan kenangan.

Mereka saling melengkapi.

Membaca Bukan Cuma Soal Tamat

Banyak orang menganggap membaca itu soal kuantitas.
“Tahun ini target 50 buku!”
“Bulan ini minimal 5 buku!”

Nggak salah, sih. Target bisa bikin semangat. Tapi kadang kita jadi lupa menikmati prosesnya. Buku dibaca cepat-cepat, yang penting selesai. Ibarat nonton film sambil fast forward.

Padahal membaca itu mestinya pelan. Dinikmati.

Kita berhenti di kalimat yang indah.
Mengulang paragraf yang menampar hati.
Atau tiba-tiba melamun karena ceritanya terasa dekat dengan hidup sendiri.

Nah, di sinilah menulis ulasan berperan. Ulasan memaksa kita memperlambat langkah. Kita jadi bertanya:

·         Apa sih inti buku ini?

·         Kenapa saya suka/tidak suka?

·         Bagian mana yang paling berkesan?

·         Pelajaran apa yang saya dapat?

Pertanyaan-pertanyaan itu bikin kita membaca dengan lebih sadar.

Bukan cuma lewat mata, tapi juga lewat pikiran dan perasaan.

Menulis Ulasan Itu Bukan Tugas Sekolah

Banyak orang malas menulis ulasan karena trauma tugas sekolah.
Harus formal.
Harus baku.
Harus ada sinopsis, tema, amanat, kelebihan, kekurangan…

Aduh, ribet banget.

Padahal ulasan buku di blog itu bebas. Santai saja. Anggap seperti cerita ke teman.

Bayangkan kamu baru selesai baca buku, lalu nongkrong sama sahabat. Kamu pasti bilang:

“Eh, gue baru baca buku keren banget!”
“Ceritanya bikin nangis, sumpah.”
“Tokohnya ngeselin tapi realistis.”

Nah, itu sebenarnya sudah ulasan. Tinggal ditulis saja.

Nggak perlu bahasa tinggi. Nggak perlu istilah akademis. Tulis dengan suara kamu sendiri. Justru itu yang bikin pembaca blog merasa dekat.

Karena mereka bukan cari skripsi.
Mereka cari cerita.

Kenapa Perlu Menulis Ulasan Buku?

Selain biar nggak lupa isi buku, ada banyak manfaat tersembunyi.

1. Ingatan Lebih Kuat

Saat menulis, otak bekerja dua kali. Kita mengingat, menyusun, lalu mengekspresikan ulang. Hasilnya? Cerita lebih melekat.

Kadang saya masih ingat detail buku yang dibaca bertahun-tahun lalu, cuma karena dulu sempat menulis ulasannya.

2. Melatih Berpikir Kritis

Menulis ulasan bikin kita nggak asal suka atau nggak suka. Kita belajar menjelaskan alasan.

“Kenapa bagus?”
“Kenapa membosankan?”

Pelan-pelan kita jadi pembaca yang lebih kritis.

3. Melatih Menulis

Kalau rutin bikin ulasan, tanpa sadar kemampuan menulis ikut naik. Kosakata bertambah. Gaya bahasa makin luwes. Kalimat makin enak dibaca.

Ibarat olahraga kecil tapi rutin.

4. Berbagi Manfaat ke Orang Lain

Pernah beli buku karena rekomendasi orang? Nah, ulasan kita bisa jadi “petunjuk jalan” buat pembaca lain.

Siapa tahu tulisan kita membantu seseorang menemukan buku yang mengubah hidupnya.

Keren, kan?

Cara Santai Menulis Ulasan Buku

Buat yang masih bingung mulai dari mana, ini versi santainya.

Nggak ribet. Nggak kaku.

Mulai dari Perasaan

Tanya diri sendiri:
“Setelah baca buku ini, saya merasa apa?”

Senang? Sedih? Marah? Terinspirasi?

Mulai dari situ.

Contoh:

Buku ini bikin saya terdiam lama setelah halaman terakhir. Rasanya campur aduk antara haru dan kesal.

Lihat? Simpel.

Ceritakan Sedikit Isinya

Nggak perlu spoiler. Cukup gambaran umum biar pembaca paham.

Seperti trailer film, bukan rangkuman lengkap.

Tambahkan Pendapat Pribadi

Bagian ini yang paling penting. Karena inilah yang bikin ulasan kamu unik.

·         Tokoh favorit?

·         Bagian paling berkesan?

·         Kutipan yang menempel di kepala?

·         Kritik kecil?

Jangan takut jujur.

Tutup dengan Rekomendasi

Buku ini cocok buat siapa?

“Buat yang lagi cari bacaan ringan.”
“Buat pecinta misteri.”
“Atau buat kamu yang lagi patah hati.”

Kalimat sederhana, tapi membantu.

Nggak Harus Sempurna

Kadang kita nunda nulis karena merasa:
“Ah, belum bagus.”
“Takut jelek.”
“Takut dibilang sok tahu.”

Percayalah, semua penulis pernah ada di fase itu.

Tulisan pertama pasti berantakan. Wajar.

Anggap saja seperti coretan di buku harian. Nggak perlu sempurna. Yang penting jujur.

Lama-lama gaya kamu akan terbentuk sendiri.

Justru ketidaksempurnaan itu yang bikin tulisan terasa manusiawi.

Menjadikan Ulasan Sebagai Ritual

Coba biasakan satu hal kecil:
Setiap selesai satu buku, tulis minimal 300–500 kata.

Nggak usah panjang. Yang penting konsisten.

Bisa di blog, notes HP, atau buku catatan.

Lama-lama kamu akan punya “jejak membaca”. Kumpulan kenangan dalam bentuk tulisan.

Seru banget kalau suatu hari kamu baca ulang ulasan lama. Rasanya seperti ketemu versi diri sendiri di masa lalu.

“Oh, dulu gue mikir gini, ya.”

Menyenangkan sekaligus mengharukan.

Membaca Lebih Hidup, Menulis Lebih Jujur

Akhirnya saya percaya satu hal:
Membaca itu menyerap dunia orang lain.
Menulis ulasan itu menemukan suara diri sendiri.

Dua-duanya saling melengkapi.

Buku memberi kita cerita.
Ulasan memberi kita makna.

Jadi lain kali setelah menutup buku terakhir halaman, jangan langsung buru-buru pindah ke bacaan berikutnya.

Diam sebentar.
Ambil napas.
Buka laptop atau catatan.

Tulis.

Tulis apa pun yang terlintas. Tentang tokohnya, tentang emosimu, tentang kenangan yang tiba-tiba muncul.

Karena mungkin, justru di situlah pengalaman membaca yang sesungguhnya dimulai.

Dan siapa tahu, dari sekadar ulasan santai di blog Catatan PAHUPAHU, lahir tulisan-tulisan lain yang lebih panjang, lebih dalam, dan lebih bermakna.

Selamat membaca.
Selamat menulis.

Dan selamat jatuh cinta berkali-kali lewat buku. ๐Ÿ“š


 Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)

 

Koleksi Foto Jadul Keluarga: Album Kenangan yang Tak Pernah Usang oleh Waktu

 

Koleksi Foto Jadul Keluarga: Album Kenangan yang Tak Pernah Usang oleh Waktu

Catatan PAHUPAHU – Menebar Manfaat, Membangun Dunia yang Lebih Baik

๐Ÿ“ธ Kenangan lama yang tersimpan di lembar-lembar foto


Kenangan lama yang tersimpan di lembar-lembar foto

Ada satu kebiasaan kecil yang selalu bikin saya lupa waktu.


Niatnya cuma sebentar.

Eh… tahu-tahu sudah satu jam.

Bukan nonton film.
Bukan main HP.

Tapi… buka album foto lama.

Serius.

Kadang cuma mau cari satu foto.

Tiba-tiba malah tenggelam.

Satu halaman buka, senyum sendiri.
Halaman berikutnya, ketawa kecil.
Lalu ada foto lain… dan entah kenapa mata jadi agak berkaca-kaca.

Foto jadul itu memang ajaib.

Warnanya sudah pudar.
Sudutnya menguning.
Ada bekas lipatan.
Kadang blur.

Tapi justru di situlah rasanya.

Bukan sekadar gambar.

Itu potongan hidup.

Dan tanpa sadar, saya jadi “kolektor kenangan” bernama koleksi foto keluarga jadul.

 

๐Ÿงก Dulu Foto Itu Barang Mewah

Kalau dipikir-pikir, generasi sekarang mungkin sulit membayangkan.

Dulu foto itu bukan hal sepele.

Tidak seperti sekarang yang tinggal klik ratusan kali.

Dulu…

Satu roll film cuma 24 atau 36 jepretan.

Artinya?

Setiap foto harus dipikir matang-matang.

Tidak boleh asal.

Tidak boleh sia-sia.

Jadi momen yang difoto benar-benar spesial:

·         lebaran

·         pernikahan

·         kelulusan

·         piknik keluarga

·         atau sekadar foto studio rame-rame pakai baju terbaik

Saya masih ingat jelas, dulu kalau mau foto keluarga, rasanya seperti acara resmi.

Disuruh rapi.
Sisir rambut.
Pakai baju bagus.

Lalu berdiri kaku sambil senyum tegang.

“Jangan gerak ya… satu… dua… tiga…”

Klik.

Selesai.

Hanya satu kesempatan.

Mungkin itu sebabnya foto-foto lama terasa lebih “berarti”.

Karena setiap jepretan menyimpan niat.

 

๐Ÿ“ท Kardus Tua di Lemari Itu Harta Karun

Suatu hari saya iseng bersih-bersih lemari rumah.

Ketemu satu kardus tua.

Isinya campur aduk.

Awalnya saya kira kertas bekas.

Ternyata… foto-foto lama.

Banyak sekali.

Foto hitam putih kakek-nenek.
Foto ayah masih kurus waktu remaja.
Foto ibu pakai rok jadul 90-an.
Foto saya kecil tanpa dosa dengan rambut mangkuk.

Saya duduk di lantai.

Buka satu-satu.

Dan entah kenapa… hati hangat.

Seperti bertemu keluarga versi masa lalu.

Ada yang sudah tidak ada.
Ada yang sudah berubah.
Ada yang sekarang terlihat jauh lebih tua.

Tapi di foto itu, mereka abadi.

Masih tersenyum.

Masih muda.

Masih lengkap.

Saya sadar:

foto bukan cuma menyimpan wajah.

Tapi menyimpan waktu.


๐Ÿ•ฐ️ Foto Jadul Itu Mesin Waktu Paling Jujur

๐Ÿ–ผ️ Detail suasana nostalgia membuka album lama




Detail suasana nostalgia membuka album lama


Yang unik dari foto jadul itu satu: jujur.


Tidak ada filter.
Tidak ada edit wajah.
Tidak ada pose dibuat-buat.

Apa adanya.

Kadang rambut berantakan.
Kadang mata merem.
Kadang ekspresi aneh.

Tapi justru itu yang bikin hidup.

Saya pernah lihat foto keluarga waktu piknik dulu.

Di situ ada:

·         tikar plastik

·         termos air panas

·         nasi bungkus daun pisang

·         sandal berserakan

Sederhana sekali.

Tapi rasanya… bahagia banget.

Dan ketika lihat lagi sekarang, saya sadar:

dulu kita tidak punya banyak, tapi rasanya cukup.

Foto itu seperti mesin waktu paling jujur.

Mengajak kita pulang ke masa ketika segalanya terasa lebih sederhana.

 

๐Ÿ˜„ Kenapa Mengoleksi Foto Jadul Itu Menyenangkan?

Mungkin ada yang berpikir:

“Ngapain sih simpan foto lama? Penuh tempat.”

Tapi buat saya, ini bukan soal barang.

Ini soal identitas.

Beberapa alasan kenapa saya suka mengoleksinya:

1. Mengingatkan asal-usul

Kita jadi tahu dari mana kita datang.

Siapa orang tua kita dulu.

Bagaimana perjuangan keluarga.

2. Menguatkan rasa syukur

Lihat foto rumah lama yang sederhana…

sekarang terasa jauh lebih baik.

Jadi sadar, hidup ini naik pelan-pelan.

3. Mendekatkan keluarga

Sering banget, buka album malah jadi ajang cerita.

“Aduh ini kamu waktu kecil nakal banget!”
“Ini waktu banjir besar dulu…”
“Ini kakek dulu gagah sekali…”

Tiba-tiba obrolan ngalir panjang.

4. Terapi rindu

Kalau kangen orang yang sudah tiada, lihat foto mereka.

Seolah-olah masih dekat.

Masih ada.

 

๐Ÿ—‚️ Cara Menyimpan dan Menata Koleksi Foto Lama

Karena makin banyak, saya mulai belajar merapikan.

Biar tidak rusak dan mudah dicari.

Beberapa cara sederhana:

๐Ÿ“ธ 1. Pisahkan berdasarkan tahun atau acara

Misalnya:

·         lebaran

·         pernikahan

·         masa sekolah

·         perjalanan

Lebih gampang nyarinya.

๐Ÿ“ธ 2. Gunakan album atau map plastik

Biar tidak lembap dan tidak sobek.

๐Ÿ“ธ 3. Scan atau digitalisasi

Ini penting.

Kalau foto fisik rusak, masih ada cadangan digital.

Sekarang cukup pakai HP saja.

๐Ÿ“ธ 4. Tulis keterangan kecil

Nama, tahun, tempat.

Percaya deh, 10–20 tahun lagi kita bakal lupa kalau tidak ditulis.

๐Ÿ“ธ 5. Sesekali buka bersama keluarga

Jangan cuma disimpan.

Kenangan itu harus “diputar ulang”.

Biar tetap hidup.

 

๐ŸŒฟ Foto dan Pelajaran Hidup

Dari foto-foto lama, saya belajar satu hal:

hidup itu cepat sekali.

Tiba-tiba saja:

·         anak kecil jadi dewasa

·         orang tua rambutnya memutih

·         rumah berubah

·         teman-teman berpencar

Waktu tidak pernah berhenti.

Tapi foto membuat kita berhenti sejenak.

Melihat.

Merenung.

Menghargai.

Kadang setelah melihat album lama, saya jadi lebih lembut ke orang tua.

Lebih sabar ke keluarga.

Karena sadar… waktu bersama mereka tidak selamanya.

Dan mungkin, salah satu bentuk “menebar manfaat” paling sederhana adalah hadir sepenuhnya untuk keluarga.

 

๐Ÿค Kenangan Itu Harta yang Tak Bisa Dibeli

Kalau rumah kebakaran, mungkin harta benda bisa dibeli lagi.

Tapi album foto?

Belum tentu.

Karena nilainya bukan uang.

Nilainya cerita.

Itulah kenapa sekarang saya lebih hati-hati.

Lebih menghargai.

Karena sadar:

yang paling mahal dalam hidup bukan barang baru.

Tapi kenangan lama.

 

Penutup: Menjaga Cerita Agar Tak Hilang

Sekarang, setiap kali pulang kampung, saya selalu sempatkan satu hal.

Buka lemari.

Ambil album.

Duduk bareng keluarga.

Ketawa bareng.

Cerita bareng.

Rasanya hangat sekali.

Seperti diingatkan:

hidup ini bukan cuma soal kerja, target, atau kesibukan.

Tapi soal momen-momen kecil bersama orang tercinta.

Dan foto-foto jadul itu adalah pengingat paling setia.

Bahwa kita pernah kecil.
Pernah lugu.
Pernah lengkap.
Pernah bahagia dengan hal sederhana.

Semoga dari kebiasaan kecil mengumpulkan dan merawat foto keluarga ini, kita belajar menghargai waktu, menjaga silaturahmi, dan terus menebar manfaat, membangun dunia yang lebih baik.

Karena pada akhirnya…

yang tersisa dari hidup ini
bukan seberapa banyak yang kita punya,
tapi seberapa banyak kenangan hangat
yang kita simpan di hati. ๐Ÿ“ธ