Rabu, 25 Juni 2025

Refleksi Diri: Bagaimana Kita Bisa Menjadi Pribadi yang Lebih Baik?

Spiritualitas & Refleksi Diri


Karena bertumbuh itu bukan untuk menjadi sempurna, tapi untuk jadi lebih manusiawi.

Pernah nggak kamu duduk diam di ujung hari, lalu tiba-tiba muncul pertanyaan di kepala: “Aku ini sebenarnya orang seperti apa, ya?” atau “Apa aku udah cukup baik sebagai manusia?”

Kalau pernah, selamat. Itu pertanda kamu masih punya hati. Masih ada ruang dalam dirimu yang nggak cuma sibuk mengejar, tapi juga mau belajar. Karena jadi pribadi yang lebih baik itu bukan tujuan sekali jadi. Ia adalah proses yang panjang—yang kadang bikin kita capek, kadang bikin kita senyum, tapi selalu bikin kita lebih sadar.

Nah, lewat tulisan ini, yuk kita ngobrol santai soal refleksi diri. Bukan sebagai pakar. Bukan juga sebagai motivator. Tapi sebagai sesama manusia yang sama-sama ingin tumbuh jadi versi terbaik dari diri sendiri.

 

Kenapa Perlu Refleksi Diri?

Karena hidup itu bukan cuma soal sibuk dan produktif. Kita bisa kerja dari pagi sampai malam, bisa posting tiap hari, bisa keliling dunia—tapi kalau nggak pernah berhenti sejenak dan tanya ke dalam, bisa jadi kita kehilangan arah.

Refleksi itu ibarat ngaca, tapi bukan buat lihat penampilan. Ini ngaca ke hati, ke pola pikir, ke niat, ke kebiasaan. Kita tanya: "Aku udah jadi versi terbaikku belum, ya?" atau "Apa yang bisa aku perbaiki dari cara aku hidup selama ini?"

Bukan buat menyalahkan diri sendiri, tapi buat menyadarkan diri bahwa selalu ada ruang untuk bertumbuh.

 

1. Sadar Bahwa Kita Punya Kekurangan (Dan Itu Wajar)

Langkah pertama untuk jadi pribadi yang lebih baik adalah mengakui: “Aku belum sempurna. Dan itu nggak apa-apa.”

Kadang kita terlalu keras pada diri sendiri. Begitu tahu ada yang salah dari diri kita—mudah marah, suka menunda, kurang peka—kita langsung merasa buruk. Padahal, sadar itu langkah awal yang mulia. Banyak orang hidup bertahun-tahun tanpa sadar mereka menyakiti orang lain. Atau tanpa tahu bahwa mereka hidup di bawah topeng.

Mengakui kekurangan itu bukan kelemahan, tapi keberanian.

Jadi, kalau kamu udah sadar bahwa kamu perlu berubah, berarti kamu udah melangkah jauh.

 

2. Mulai dengan Pertanyaan Sederhana

Refleksi diri nggak harus serius dan kaku. Kadang cukup dengan pertanyaan sederhana yang kita ajukan setiap malam sebelum tidur:

·         Apa hari ini aku menyakiti seseorang?

·         Apa aku udah melakukan sesuatu yang membuat orang lain senang?

·         Apa aku berbohong hari ini, walau kecil?

·         Apa aku sudah bersyukur atas hal-hal kecil?

Dari jawaban itulah, kita bisa belajar mengenali pola dalam diri. Dan dari pola itulah, kita bisa menentukan arah perubahan.

 

3. Belajar Mendengarkan, Bukan Hanya Bicara

Salah satu ciri pribadi yang matang adalah kemampuan untuk mendengarkan. Bukan cuma telinga, tapi juga hati.

Coba deh tanya ke orang terdekat kamu: “Menurutmu, aku orangnya gimana sih?” Kadang jawaban mereka bisa mengejutkan. Tapi dari sanalah kita bisa tahu bagaimana kita terlihat di mata orang lain.

Mendengarkan juga berarti membuka diri untuk dikritik, tanpa defensif. Nggak mudah memang. Tapi justru di situ kedewasaan diuji. Karena orang yang bijak, bukan orang yang selalu benar, tapi orang yang mau memperbaiki kesalahannya.

 

4. Jangan Takut Mengubah Kebiasaan

Menjadi pribadi yang lebih baik sering kali harus dimulai dengan mengubah kebiasaan kecil. Misalnya:

·         Bangun sedikit lebih pagi biar bisa punya waktu untuk diri sendiri.

·         Kurangi scroll media sosial biar nggak gampang membandingkan diri dengan orang lain.

·         Latih diri untuk mengucap “maaf” dan “terima kasih” lebih sering.

Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Dan kabar baiknya, kamu nggak perlu jadi orang lain untuk jadi lebih baik. Cukup jadi versi kamu yang lebih sadar dan lebih peduli.

 

5. Belajar Memahami, Bukan Menghakimi

Kadang, kita bukan orang jahat, tapi suka terburu-buru menghakimi. Teman cerita soal kesalahan, kita langsung menyalahkan. Orang beda pendapat, kita langsung mencibir. Padahal, menjadi pribadi yang baik itu bukan soal menjadi yang paling benar, tapi yang paling bisa memahami.

Cobalah untuk tidak cepat menilai. Belajar melihat dari kacamata orang lain. Bertanya sebelum berasumsi. Memberi ruang sebelum memberi nasihat.

Dengan begitu, kita nggak hanya bertumbuh sebagai pribadi, tapi juga membuat orang di sekitar merasa lebih aman dan dihargai.

 

6. Berdamai dengan Masa Lalu

Kita nggak bisa jadi pribadi yang lebih baik kalau terus dihantui oleh luka lama. Entah itu kesalahan masa lalu, kekecewaan yang belum pulih, atau rasa bersalah yang belum diselesaikan.

Refleksi diri juga tentang menerima. Memaafkan diri. Mengikhlaskan apa yang tak bisa diubah. Karena kedamaian bukan datang dari mengulang-ulang kesalahan, tapi dari berjanji pada diri sendiri untuk belajar dan tidak mengulanginya.

 

7. Berbuat Baik Sekecil Apa Pun

Salah satu cara paling nyata untuk menjadi pribadi yang lebih baik adalah dengan berbuat baik—tanpa syarat, tanpa pamrih.

Bantu teman tanpa diminta. Dengar cerita orang dengan sungguh-sungguh. Beri senyum ke orang yang kamu temui di jalan. Hal-hal kecil itu mungkin tidak tercatat di sejarah besar, tapi tercatat dalam hati orang yang menerimanya.

Dan sering kali, dari sanalah kita menemukan makna hidup yang sebenarnya.

 

8. Jangan Lupa: Kamu Juga Butuh Diri Sendiri

Menjadi lebih baik bukan berarti mengorbankan diri sendiri demi orang lain sepanjang waktu. Jangan sampai niatmu untuk berubah justru membuatmu kehilangan dirimu.

Kamu boleh berkata “tidak.” Kamu boleh istirahat. Kamu boleh gagal, lalu mencoba lagi. Karena menjadi pribadi yang lebih baik juga berarti menjaga diri sendiri tetap sehat—secara fisik, mental, dan emosional.

 

Penutup: Menjadi Lebih Baik Itu Proses, Bukan Finish Line

Kita hidup di zaman yang serba cepat. Semua orang ingin sukses sekarang juga, berubah sekarang juga, bahagia sekarang juga. Tapi refleksi diri mengajarkan kita bahwa pertumbuhan butuh waktu. Kadang pelan, kadang penuh luka, tapi selalu membawa kita ke tempat yang lebih baik.

Jadi, kalau hari ini kamu merasa belum jadi pribadi yang ideal—nggak apa-apa.

Kalau kamu masih belajar mengelola emosi, belajar sabar, belajar tidak egois—itu pun baik.

Karena menjadi lebih baik bukan soal selesai, tapi soal terus berjalan. Sedikit demi sedikit. Dengan tulus. Dengan jujur. Dan dengan harapan bahwa hari esok, kita bisa jadi manusia yang lebih lembut, lebih mengerti, dan lebih penuh cinta.

Senin, 23 Juni 2025

Menemukan Kedamaian dengan Berbuat Baik kepada Sesama

Menemukan Kedamaian dengan Berbuat Baik kepada Sesama

Karena Kebaikan Itu Menyembuhkan, Bukan Melelahkan

Kita semua tahu betapa rumitnya dunia hari ini. Berita buruk datang hampir setiap jam. Media sosial penuh dengan keluhan, komentar negatif, dan kadang, manusia lupa bahwa yang mereka hujat juga manusia. Di tengah hiruk pikuk itu, kadang kita bertanya sendiri, “Kapan terakhir kali aku merasa damai?”

Lucunya, jawaban atas pertanyaan itu kadang bukan ditemukan di tempat yang mahal, bukan di resort mewah, bukan juga di meditasi yang panjang. Tapi justru dalam sesuatu yang sederhana dan manusiawi: berbuat baik kepada orang lain.

Kenapa Kebaikan Bisa Membuat Kita Damai?

Karena sejatinya, manusia itu makhluk sosial. Di dalam diri kita ada semacam ‘kabel bawaan’ yang nyambung ke orang lain. Dan ketika kita melakukan sesuatu yang baik—meski kecil—sebenarnya kita sedang menyambung ulang kabel itu. Kita mengingatkan diri kita bahwa kita bukan sendirian di dunia ini. Dan itu menenangkan.

Saat kita menolong seseorang menyeberang jalan, atau sekadar senyum ke petugas parkir, ada getaran kecil yang muncul dari dalam hati. Mungkin tidak langsung membuat kita loncat kegirangan, tapi ada rasa hangat. Rasa ringan. Rasa: “aku melakukan hal yang benar.”

Dan sering kali, dari hal sekecil itulah, kedamaian mulai tumbuh.

Kebaikan Tidak Harus Besar

Banyak orang merasa, “Aku belum bisa berbuat baik. Aku belum punya uang, belum punya waktu.” Padahal, kebaikan tidak selalu soal materi.

Pernah suatu hari saya naik angkutan umum. Di tengah jalan, sopirnya tampak lelah. Saya tidak tahu harus bilang apa, akhirnya saya cuma berkata, “Terima kasih ya Pak, sudah mengantar dengan hati-hati.” Dia tersenyum, dan berkata, “Jarang ada yang ngomong gitu, Mas. Saya senang dengarnya.”

Kebaikan itu bisa sesederhana tidak marah di jalan, tidak menyepelekan orang lain, atau mendengarkan cerita orang tanpa menyela.

Hal-hal kecil yang tampaknya sepele, tapi bisa mengubah hari seseorang.

Dan yang paling penting—mengubah hati kita sendiri.

Saat Berbuat Baik Jadi Obat Luka

Pernah nggak merasa patah hati, kecewa, atau merasa dunia seolah menutup pintu?

Itu manusiawi. Tapi dari pengalaman pribadi, justru saat-saat paling gelap dalam hidup saya, berbuat baik jadi obat yang tak terduga.

Saat sedang sedih, saya memilih menyapa orang tua yang tinggal sendirian di sebelah rumah. Saya bantu sapu halamannya. Lalu dia cerita tentang masa mudanya, tentang anak-anaknya yang jauh. Tiba-tiba, saya lupa dengan sedih saya. Saya sadar, ada luka yang lebih tua, tapi tetap bisa dilalui dengan senyum.

Kadang, dengan membantu orang lain menyembuhkan lukanya, kita justru sedang menyembuhkan luka kita sendiri.

Kebaikan yang Diam-diam Tapi Dalam

Tidak semua kebaikan harus diumbar. Bahkan, kebaikan yang paling menenangkan adalah yang dilakukan diam-diam, tanpa pamrih, tanpa ingin dikenal.

Contoh paling nyata? Orang tua kita.

Mereka jarang bilang “aku sayang kamu,” tapi tiap hari memasak, bekerja, dan memikirkan kita. Itu kebaikan dalam bentuk paling murni. Dan biasanya, mereka juga yang merasa paling damai saat melihat kita bahagia—meski tanpa mengucap apa pun.

Kita bisa meniru itu. Berbuat baik dalam diam. Memberi tanpa mengharap balas. Menolong tanpa ingin dipuji.

Dan entah bagaimana, Tuhan punya cara memeluk orang-orang seperti itu dengan damai yang tak bisa dijelaskan.

Ketika Dunia Membalas dengan Buruk

Sekarang mungkin ada yang berpikir: “Tapi aku udah baik, kenapa tetap disakiti?”

Saya pun pernah merasakannya. Memberi waktu, tenaga, perhatian, tapi dibalas dengan kekecewaan. Rasanya, ingin berhenti jadi orang baik. Ingin cuek saja. Ingin membalas.

Tapi satu hari, saya membaca sebuah kalimat yang mengubah cara pandang saya:

“Orang lain boleh tidak membalas kebaikanmu, tapi kedamaian hatimu tetap jadi milikmu.”

Berbuat baik bukan soal siapa yang pantas menerima, tapi soal siapa kita ingin jadi. Dan saya yakin, siapa pun kita, kita ingin menjadi orang yang tetap memilih cinta, meski dunia sering tidak adil.

Kedamaian Itu Efek Samping

Ya, kedamaian bukan tujuan utama dari berbuat baik. Tapi dia datang sebagai hadiah.

Semakin kita peka terhadap orang lain, semakin kita sadar bahwa kita ini bagian dari jaringan besar kemanusiaan. Kita tidak bisa hidup hanya untuk diri sendiri. Dan saat kita mulai hidup untuk memberi, hidup kita justru jadi lebih penuh.

Bukan lebih mudah, tentu. Tapi lebih bermakna.

Dan kadang, dari makna itulah lahir ketenangan.

Kebaikan Bisa Menular

Ini hal yang indah: kebaikan itu menular.

Satu senyuman bisa membuat orang lain ikut tersenyum. Satu aksi tolong-menolong bisa menciptakan rantai kebaikan yang panjang.

Pernahkah kamu dibantu orang asing saat kamu kesulitan? Rasanya ajaib, bukan?

Sekarang bayangkan kamu jadi sumber perasaan ajaib itu untuk orang lain. Dan mereka pun akan meneruskannya. Bisa jadi, kamu sedang memulai sebuah gelombang kebaikan yang tidak kamu sadari.

Itu juga salah satu bentuk kedamaian: saat kita tahu, hidup kita tidak sia-sia. Kita punya dampak. Kita bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Berbuat Baik Itu Melatih Jiwa

Berbuat baik bukan cuma soal niat baik. Itu juga latihan. Kadang kita capek, malas, atau sedang tidak dalam suasana hati terbaik.

Tapi justru di situlah letak pembelajaran.

Saat kita memilih tetap sabar saat ingin marah. Saat kita tetap memberi meski sedang sempit. Saat kita memilih mengerti, padahal bisa saja menghakimi.

Semua itu melatih jiwa kita untuk tumbuh. Menjadi manusia yang lebih dewasa. Lebih lembut. Lebih bijak.

Dan dari jiwa yang tumbuh itulah, kedamaian sejati bisa bersemi.

 

Penutup: Damai Itu Bukan Dicari, Tapi Diciptakan

Kita hidup di dunia yang keras, kadang kejam. Tapi kita selalu punya pilihan: ikut menjadi keras, atau tetap menjadi baik.

Menjadi baik mungkin tidak membuat kita menang dalam kompetisi duniawi. Tapi ia bisa membuat kita menang atas diri sendiri. Dan itu adalah kemenangan yang lebih penting.

Jadi, kalau hari ini kamu merasa resah, cobalah lakukan satu kebaikan kecil. Telepon orang tuamu. Beri makan kucing liar. Bantu temanmu yang sedang bingung. Atau cukup tersenyum pada orang yang kamu temui di jalan.

Kedamaian mungkin tak langsung datang seperti angin segar. Tapi percayalah, ia sedang berjalan pelan-pelan ke arahmu.

Dan saat ia tiba, kamu akan tahu: bahwa kebaikan bukan hanya mengubah dunia—tapi juga menyelamatkan jiwamu sendiri.

 

 

 



Jumat, 20 Juni 2025

Seni & Musik: Suara-suara Lembut yang Mengguncang Kesadaran Sosial

 

Kebudayaan & Kearifan Lokal

(Karena Kadang, Lagu Lebih Didengar daripada Ceramah)

Pernah nggak kamu tiba-tiba terdiam waktu denger lagu lama yang liriknya nyentuh banget? Atau merasa merinding pas nonton pertunjukan seni yang menggambarkan penderitaan orang-orang di daerah konflik? Ya, itu bukan kebetulan. Itu adalah kekuatan seni dan musik yang mampu mengetuk hati, bahkan mengubah cara pikir kita tentang dunia.

Di tulisan Catatan Pahupahu kali ini, kita mau ngobrol santai soal bagaimana seni dan musik punya peran besar dalam membangkitkan kesadaran sosial. Nggak melulu lewat demo, orasi, atau tulisan panjang—kadang, satu lagu atau satu lukisan bisa lebih “nendang” dan menyentuh banyak orang.

 

Seni dan Musik: Bukan Cuma Hiburan

Kalau kita bicara soal seni dan musik, banyak yang langsung mikir: “Ah, itu kan buat hiburan.” Ya, memang benar, seni dan musik bisa jadi pelepas stres. Tapi, di balik dentingan gitar atau goresan kuas, ada pesan yang seringkali lebih dalam dari sekadar senang-senang.

Seni dan musik itu medium. Sarana. Jalan alternatif untuk menyampaikan suara—terutama suara-suara yang sering diabaikan. Lewat seni, orang bisa mengkritik tanpa harus teriak. Bisa menyentil tanpa harus menyakiti. Dan yang paling keren: bisa menyatukan orang dari berbagai latar belakang untuk peduli pada satu isu yang sama.

 

Kenapa Seni & Musik Bisa Bikin Kita Lebih Sadar?

1. Bahasanya Universal

Musik dan seni nggak butuh translator. Orang yang nggak ngerti bahasa Inggris tetap bisa menangis dengar “Imagine”-nya John Lennon. Warga desa bisa terpukau lihat mural sosial meski nggak tahu teori warna.

Bahasa emosi yang dibawa seni dan musik menjangkau semua orang—lintas umur, lintas budaya.

2. Menembus Batas Ego

Kadang, orang malas diajak diskusi soal isu sosial karena merasa diserang. Tapi kalau disampaikan lewat lagu atau pertunjukan teater, mereka bisa menerima tanpa defensif. Karena hati yang disentuh lebih dulu, logika pun jadi lebih terbuka.

3. Menggugah Imajinasi dan Empati

Sebuah lukisan tentang anak-anak korban perang bisa bikin kita lebih peduli daripada angka statistik di berita. Musik yang mengangkat suara minoritas bisa bikin kita membayangkan apa rasanya jadi mereka.

 

Dari Dulu Sampai Sekarang: Seni & Musik Selalu Jadi “Alat Perlawanan”

Nggak usah jauh-jauh, kita lihat sejarah di negeri sendiri. Lagu-lagu perjuangan zaman kemerdekaan seperti “Halo-Halo Bandung” atau “Syukur” bukan cuma buat semangat, tapi juga menyatukan rakyat melawan penjajah. Seni sandiwara rakyat seperti ketoprak atau lenong sering menyisipkan kritik sosial yang tajam meski dibalut humor.

Lanjut ke era Orde Baru, banyak musisi yang “nakal”—berani mengkritik lewat lirik lagu, seperti Iwan Fals. Lagu “Bento” atau “Ibu” bukan cuma hits, tapi juga bikin orang mikir dan mempertanyakan keadaan sosial waktu itu.

Di luar negeri? Banyak. Bob Dylan, U2, Kendrick Lamar, Beyoncé, bahkan BTS sekalipun pernah mengangkat isu sosial seperti rasisme, kemiskinan, kekerasan, hingga kesehatan mental.

 

Contoh Nyata: Ketika Lagu Mengubah Dunia

·         “We Are the World” (1985) – Lagu ini mengumpulkan musisi dunia untuk bantu korban kelaparan di Afrika. Nggak cuma nyentuh hati, tapi juga sukses galang dana jutaan dolar.

·         “Heal the World” – Michael Jackson – Lagu ini mengajarkan empati dan tanggung jawab global, mengajak generasi muda untuk peduli pada dunia yang lebih baik.

·         “Surat Cinta untuk Starla” – Virgoun – Meski bukan lagu politik, lagu ini sempat dijadikan simbol gerakan cinta lingkungan di beberapa komunitas anak muda karena video klipnya yang menyentuh soal alam.

·         “Tanah Air” – Lagu Nasional – Coba denger lagu ini di perantauan, pasti baper. Lagu ini sederhana tapi ampuh menumbuhkan rasa cinta tanah air dan nasionalisme.

 

Seni Lokal Juga Banyak Berperan!

Jangan salah, kesenian tradisional juga punya peran besar dalam menyampaikan pesan sosial. Di Mandar, misalnya, ada Sayyang Pattuqduq, tarian kuda yang sering dibarengi syair-syair edukatif, bahkan kritik sosial secara halus. Atau Pakkacapingan—syair-syair yang dilagukan dengan alat musik tradisional, banyak memuat petuah kehidupan, kisah rakyat, dan ajakan moral.

Di Jawa ada wayang, di Bali ada topeng, di Toraja ada tari Ma’badong, semua membawa pesan yang lebih dari sekadar pertunjukan.

 

Generasi Muda dan Kreativitas Sosial

Seni dan musik makin penting di era sekarang, apalagi buat generasi muda. Banyak anak muda yang mungkin malas ikut seminar politik, tapi rela nonton konser musik bertema sosial. Banyak yang nggak suka baca berita, tapi betah scroll TikTok seniman yang menyuarakan isu lewat karya unik mereka.

Maka, saatnya kita manfaatkan kekuatan ini:

·         Buat mural di kampus atau desa dengan pesan keberagaman dan toleransi.

·         Ajak teman bikin musik video bertema lingkungan atau anti bullying.

·         Gunakan platform seperti YouTube, Spotify, Instagram untuk menyuarakan keresahan sosial lewat seni.

 

Tapi... Jangan Asal Viral

Satu hal yang perlu dicatat: seni dan musik bisa jadi kuat banget, tapi juga bisa disalahgunakan. Jangan sampai kita asal bikin karya cuma demi viral, tanpa pesan yang jelas. Apalagi kalau sampai malah menyebarkan hoaks, stereotip, atau merendahkan kelompok tertentu.

Karya yang bagus adalah yang menyentuh hati, membuka mata, dan memanggil empati. Bukan sekadar sensasi kosong.

 

Penutup ala Pahupahu: Mari Bersuara dengan Indah

Dunia ini kadang terlalu berisik. Tapi justru di tengah kebisingan itu, seni dan musik bisa jadi suara lembut yang menggugah. Bukan untuk menggurui, tapi mengajak. Bukan untuk menghakimi, tapi menyentuh. Dan kalau kita jeli, justru lewat karya seni lah orang jadi lebih peka, lebih sadar, dan lebih peduli.

Di tangan seniman, kuas bisa lebih tajam dari pedang. Di tangan musisi, gitar bisa lebih lantang dari toa.

Jadi, yuk, kita ramaikan dunia ini dengan suara-suara indah yang membawa pesan.

Karena mungkin, satu lagu yang kamu buat hari ini… bisa menyelamatkan banyak hati besok pagi.

 

Punya lagu, puisi, lukisan, atau karya yang mengangkat isu sosial? Kirim ke Catatan Pahupahu. Kita percaya, setiap suara punya kekuatan. Dan siapa tahu, suaramu lah yang dunia butuhkan hari ini.

Kamis, 19 Juni 2025

Menghidupkan Kembali Tradisi Gotong Royong dalam Masyarakat Modern

 

Kebudayaan & Kearifan Lokal

(Karena Hidup Nggak Harus Sendiri-sendiri!)

Coba jujur deh: kapan terakhir kali kamu bantu bersihin selokan bareng tetangga? Atau bantu gotong meja pas ada acara kawinan di kampung? Atau sekadar bantu tetangga yang mau pindahan tanpa dibayar?

Kalau kamu harus mikir lama buat jawab, bisa jadi kita memang sudah terlalu jauh dari yang namanya gotong royong.

Padahal, gotong royong itu bukan cuma warisan budaya, tapi salah satu identitas bangsa Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, dari Toraja sampai Mandar, hampir semua suku di negeri ini punya cara sendiri dalam menerapkan gotong royong. Dulu, semua urusan warga—dari bangun rumah, tanam padi, sampai bikin acara adat—dilakukan secara bareng-bareng. Tanpa pamrih, tanpa invoice, yang penting kerja selesai dan semua senang.

Tapi sekarang, di era digital, di mana semua bisa dipesan via aplikasi dan kita makin sibuk ngurusin urusan sendiri, gotong royong pelan-pelan kehilangan napasnya. Banyak orang yang lebih nyaman menyelesaikan masalah sendirian, atau kalaupun butuh bantuan, maunya yang profesional dan dibayar. Praktis sih, tapi… ada yang hilang.

Nah, di tulisan Catatan Pahupahu kali ini, kita mau ngobrol santai soal kenapa tradisi gotong royong harus kita hidupkan kembali, dan gimana caranya biar tetap relevan di masyarakat modern.

 

Gotong Royong: Warisan yang Nggak Boleh Mati

Gotong royong itu bukan sekadar kerja bareng-bareng. Di dalamnya ada nilai:

·         Kebersamaan: semua orang ambil bagian.

·         Kepedulian: bantu bukan karena disuruh, tapi karena peduli.

·         Kesederhanaan: nggak ada urusan siapa kaya siapa miskin, semua setara.

·         Saling percaya: karena semua berjalan atas dasar niat baik.

Di Mandar, misalnya, gotong royong dikenal dengan sebutan saling sa'banna. Kalau ada yang bangun rumah, tetangga-tetangga datang bantu tanpa diminta. Yang bisa angkat kayu bantu angkat, yang bisa masak bantu di dapur. Nggak dibayar, tapi dikasih makan dan dihargai. Nilai kekeluargaannya kuat banget.

Tapi di zaman sekarang, hal-hal seperti ini mulai langka. Orang-orang lebih memilih menyewa tukang, beli jasa, atau urus semuanya sendiri. Mungkin karena takut repot, atau merasa “nggak enakan” kalau minta tolong.

 

Kenapa Gotong Royong Mulai Ditinggalkan?

Ada banyak faktor yang bikin gotong royong perlahan ditinggalkan. Beberapa di antaranya:

1. Gaya Hidup Individualistis

Kita hidup di era di mana orang makin sibuk sama urusan pribadi. Bahkan dalam satu kompleks, ada yang udah tinggal 5 tahun tapi belum kenal tetangga sebelah. Miris ya?

2. Waktu yang Padat

Gotong royong butuh waktu dan kehadiran. Tapi sekarang, orang-orang bangun pagi udah buru-buru kerja, pulang udah capek, akhir pekan pengen istirahat. Belum lagi yang harus kejar deadline, konten, side hustle, dan sebagainya.

3. Pragmatisme: Semuanya Bisa Dibayar

Sekarang mau bersih-bersih lingkungan? Panggil petugas kebersihan. Mau gotong barang? Sewa jasa angkut. Mau pasang tenda buat acara? Sewa vendor. Semua ada tarifnya, tinggal bayar.

4. Kurangnya Teladan

Kalau generasi tua sudah tidak aktif dalam kegiatan gotong royong, maka generasi muda pun tidak punya contoh untuk diikuti. Akhirnya, gotong royong hanya jadi kenangan.

 

Tapi, Apakah Gotong Royong Sudah Tidak Relevan?

Justru sebaliknya. Gotong royong makin dibutuhkan.

Di tengah dunia yang makin cepat dan individualis, gotong royong bisa jadi penyeimbang. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bisa jadi solusi buat masalah sosial yang sekarang kita hadapi: kesenjangan sosial, ketidakpedulian, egoisme, bahkan stres dan kesepian.

Bayangkan kalau di kompleks tempat tinggal kita, orang-orang saling kenal dan bantu. Kalau di kampus, mahasiswa bisa bareng-bareng bersih lingkungan atau bantu teman yang kesulitan. Hidup pasti lebih ringan, lebih hangat, dan lebih bahagia.

 

Gimana Cara Menghidupkan Kembali Gotong Royong?

Nggak usah muluk-muluk langsung bikin gerakan nasional. Mulai aja dari yang kecil dan dekat.

1. Mulai dari Tetangga

Kenalan lagi sama tetangga. Kalau ada kerja bakti, ikut. Kalau ada yang kesulitan, bantu semampunya. Nggak harus keluar uang, kadang tenaga dan waktu lebih berharga.

2. Revitalisasi Posyandu, Karang Taruna, dan Rukun Warga

Banyak lembaga sosial yang dulunya aktif sekarang sepi kegiatan. Coba dihidupkan lagi. Bikin kegiatan kecil seperti bersih-bersih, arisan warga, atau bakti sosial.

3. Gotong Royong Digital? Kenapa Nggak!

Kalau zaman sekarang semua serba digital, kita bisa adaptasi. Misalnya, bikin grup WhatsApp RT untuk koordinasi kerja bakti. Atau galang dana online buat bantu warga yang sakit. Bantu promosi usaha tetangga lewat medsos juga termasuk bentuk gotong royong.

4. Melibatkan Anak Muda dengan Cara Seru

Anak muda sekarang suka kegiatan yang seru dan meaningful. Coba ajak mereka bikin acara sosial, eco-project, atau festival kecil-kecilan yang menggabungkan seni dan kerja kolektif. Siapa bilang gotong royong harus serius dan kaku?

5. Kampanye Kebaikan Lewat Konten

Punya followers banyak di Instagram? Gunakan buat sebarkan semangat gotong royong. Bikin konten video atau tulisan soal kegiatan komunitas. Biar orang lain ikut terinspirasi.

 

Gotong Royong Itu Juga Bentuk Self-Care

Percaya atau nggak, ikut kegiatan gotong royong juga bagus buat kesehatan mental. Kita merasa terhubung, merasa berguna, dan merasa punya peran. Dan ketika kita membantu orang lain, otak kita mengeluarkan hormon bahagia seperti oksitosin dan dopamin.

Jadi, selain membantu sesama, kita juga menyembuhkan diri sendiri.

 

Catatan Pahupahu: Mari Kita Gotong Royongkan Lagi Hidup Ini

Hidup di era modern memang penuh tantangan. Tapi bukan berarti kita harus lepas dari akar budaya kita. Gotong royong bukan sekadar kerja bakti, tapi cara hidup. Sebuah filosofi bahwa hidup yang baik itu adalah hidup yang saling bantu, saling jaga, dan saling menguatkan.

Kalau di kampung dulu, orang bangun rumah bisa selesai dalam semalam karena dibantu satu kampung. Sekarang, bisakah kita bangun kembali semangat yang sama—meski bentuknya berbeda?

Mungkin bukan rumah yang kita bangun bersama, tapi kebersamaan.
Mungkin bukan kayu dan paku yang kita angkut, tapi harapan dan empati yang kita gotong bareng-bareng.

Jadi, yuk kita hidupkan lagi gotong royong. Mulai dari rumah, dari gang, dari komunitas kecil. Karena dunia ini terlalu berat kalau dipikul sendiri. Tapi kalau kita gotong bareng-bareng, siapa tahu bisa lebih ringan dan menyenangkan.

 

Kalau kamu punya cerita seru tentang gotong royong di tempatmu, atau punya ide gimana bikin gotong royong versi modern yang seru dan relevan, share di kolom komentar ya. Atau kirim ceritamu ke Catatan Pahupahu, siapa tahu bisa kita angkat jadi tulisan inspiratif berikutnya.

Salam hangat dan tetap bergotong-royong walau pakai WiFi!