| Kebudayaan & Kearifan Lokal |
(Karena Hidup Nggak Harus Sendiri-sendiri!)
Coba jujur deh:
kapan terakhir kali kamu bantu bersihin selokan bareng tetangga? Atau bantu
gotong meja pas ada acara kawinan di kampung? Atau sekadar bantu tetangga yang
mau pindahan tanpa dibayar?
Kalau kamu harus
mikir lama buat jawab, bisa jadi kita memang sudah terlalu jauh dari yang
namanya gotong royong.
Padahal, gotong
royong itu bukan cuma warisan budaya, tapi salah satu identitas bangsa
Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, dari Toraja sampai Mandar, hampir semua
suku di negeri ini punya cara sendiri dalam menerapkan gotong royong. Dulu,
semua urusan warga—dari bangun rumah, tanam padi, sampai bikin acara
adat—dilakukan secara bareng-bareng. Tanpa pamrih, tanpa invoice, yang penting
kerja selesai dan semua senang.
Tapi sekarang,
di era digital, di mana semua bisa dipesan via aplikasi dan kita makin sibuk
ngurusin urusan sendiri, gotong royong pelan-pelan kehilangan napasnya. Banyak
orang yang lebih nyaman menyelesaikan masalah sendirian, atau kalaupun butuh
bantuan, maunya yang profesional dan dibayar. Praktis sih, tapi… ada yang
hilang.
Nah, di tulisan
Catatan Pahupahu kali ini, kita mau
ngobrol santai soal kenapa tradisi gotong royong harus kita hidupkan kembali,
dan gimana caranya biar tetap relevan di masyarakat modern.
Gotong Royong: Warisan yang Nggak Boleh Mati
Gotong royong
itu bukan sekadar kerja bareng-bareng. Di dalamnya ada nilai:
·
Kebersamaan: semua orang ambil bagian.
·
Kepedulian: bantu bukan karena disuruh, tapi karena peduli.
·
Kesederhanaan: nggak ada urusan siapa kaya siapa miskin, semua
setara.
·
Saling percaya: karena semua berjalan atas dasar niat baik.
Di Mandar,
misalnya, gotong royong dikenal dengan sebutan saling sa'banna. Kalau ada yang bangun rumah, tetangga-tetangga
datang bantu tanpa diminta. Yang bisa angkat kayu bantu angkat, yang bisa masak
bantu di dapur. Nggak dibayar, tapi dikasih makan dan dihargai. Nilai
kekeluargaannya kuat banget.
Tapi di zaman
sekarang, hal-hal seperti ini mulai langka. Orang-orang lebih memilih menyewa
tukang, beli jasa, atau urus semuanya sendiri. Mungkin karena takut repot, atau
merasa “nggak enakan” kalau minta tolong.
Kenapa Gotong Royong Mulai Ditinggalkan?
Ada banyak
faktor yang bikin gotong royong perlahan ditinggalkan. Beberapa di antaranya:
1. Gaya Hidup Individualistis
Kita hidup di
era di mana orang makin sibuk sama urusan pribadi. Bahkan dalam satu kompleks,
ada yang udah tinggal 5 tahun tapi belum kenal tetangga sebelah. Miris ya?
2. Waktu yang Padat
Gotong royong
butuh waktu dan kehadiran. Tapi sekarang, orang-orang bangun pagi udah
buru-buru kerja, pulang udah capek, akhir pekan pengen istirahat. Belum lagi
yang harus kejar deadline, konten, side hustle, dan sebagainya.
3. Pragmatisme: Semuanya Bisa Dibayar
Sekarang mau
bersih-bersih lingkungan? Panggil petugas kebersihan. Mau gotong barang? Sewa
jasa angkut. Mau pasang tenda buat acara? Sewa vendor. Semua ada tarifnya,
tinggal bayar.
4. Kurangnya Teladan
Kalau generasi
tua sudah tidak aktif dalam kegiatan gotong royong, maka generasi muda pun
tidak punya contoh untuk diikuti. Akhirnya, gotong royong hanya jadi kenangan.
Tapi, Apakah Gotong Royong Sudah Tidak Relevan?
Justru sebaliknya. Gotong royong makin dibutuhkan.
Di tengah dunia
yang makin cepat dan individualis, gotong royong bisa jadi penyeimbang.
Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bisa jadi solusi buat masalah sosial
yang sekarang kita hadapi: kesenjangan sosial, ketidakpedulian, egoisme, bahkan
stres dan kesepian.
Bayangkan kalau
di kompleks tempat tinggal kita, orang-orang saling kenal dan bantu. Kalau di
kampus, mahasiswa bisa bareng-bareng bersih lingkungan atau bantu teman yang
kesulitan. Hidup pasti lebih ringan, lebih hangat, dan lebih bahagia.
Gimana Cara Menghidupkan Kembali Gotong Royong?
Nggak usah
muluk-muluk langsung bikin gerakan nasional. Mulai aja dari yang kecil dan
dekat.
1. Mulai dari Tetangga
Kenalan lagi
sama tetangga. Kalau ada kerja bakti, ikut. Kalau ada yang kesulitan, bantu
semampunya. Nggak harus keluar uang, kadang tenaga dan waktu lebih berharga.
2. Revitalisasi Posyandu, Karang Taruna, dan Rukun
Warga
Banyak lembaga
sosial yang dulunya aktif sekarang sepi kegiatan. Coba dihidupkan lagi. Bikin
kegiatan kecil seperti bersih-bersih, arisan warga, atau bakti sosial.
3. Gotong Royong Digital? Kenapa Nggak!
Kalau zaman
sekarang semua serba digital, kita bisa adaptasi. Misalnya, bikin grup WhatsApp
RT untuk koordinasi kerja bakti. Atau galang dana online buat bantu warga yang
sakit. Bantu promosi usaha tetangga lewat medsos juga termasuk bentuk gotong
royong.
4. Melibatkan Anak Muda dengan Cara Seru
Anak muda
sekarang suka kegiatan yang seru dan meaningful. Coba ajak mereka bikin acara
sosial, eco-project, atau festival kecil-kecilan yang menggabungkan seni dan
kerja kolektif. Siapa bilang gotong royong harus serius dan kaku?
5. Kampanye Kebaikan Lewat Konten
Punya followers
banyak di Instagram? Gunakan buat sebarkan semangat gotong royong. Bikin konten
video atau tulisan soal kegiatan komunitas. Biar orang lain ikut terinspirasi.
Gotong Royong Itu Juga Bentuk Self-Care
Percaya atau
nggak, ikut kegiatan gotong royong juga bagus buat kesehatan mental. Kita
merasa terhubung, merasa berguna, dan merasa punya peran. Dan ketika kita
membantu orang lain, otak kita mengeluarkan hormon bahagia seperti oksitosin
dan dopamin.
Jadi, selain
membantu sesama, kita juga menyembuhkan diri sendiri.
Catatan Pahupahu: Mari Kita Gotong Royongkan Lagi Hidup Ini
Hidup di era
modern memang penuh tantangan. Tapi bukan berarti kita harus lepas dari akar
budaya kita. Gotong royong bukan sekadar kerja bakti, tapi cara hidup. Sebuah
filosofi bahwa hidup yang baik itu adalah hidup yang saling bantu, saling jaga,
dan saling menguatkan.
Kalau di
kampung dulu, orang bangun rumah bisa selesai dalam semalam karena dibantu satu
kampung. Sekarang, bisakah kita bangun kembali semangat yang sama—meski
bentuknya berbeda?
Mungkin bukan
rumah yang kita bangun bersama, tapi kebersamaan.
Mungkin bukan kayu dan paku yang kita angkut, tapi harapan dan empati yang kita
gotong bareng-bareng.
Jadi, yuk kita hidupkan lagi gotong royong. Mulai dari
rumah, dari gang, dari komunitas kecil. Karena dunia ini terlalu berat kalau
dipikul sendiri. Tapi kalau kita gotong bareng-bareng, siapa tahu bisa lebih
ringan dan menyenangkan.
Kalau kamu
punya cerita seru tentang gotong royong di tempatmu, atau punya ide gimana
bikin gotong royong versi modern yang seru dan relevan, share di kolom komentar
ya. Atau kirim ceritamu ke Catatan Pahupahu,
siapa tahu bisa kita angkat jadi tulisan inspiratif berikutnya.
Salam hangat dan tetap bergotong-royong walau pakai
WiFi!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar