Kamis, 19 Juni 2025

Menghidupkan Kembali Tradisi Gotong Royong dalam Masyarakat Modern

 

Kebudayaan & Kearifan Lokal

(Karena Hidup Nggak Harus Sendiri-sendiri!)

Coba jujur deh: kapan terakhir kali kamu bantu bersihin selokan bareng tetangga? Atau bantu gotong meja pas ada acara kawinan di kampung? Atau sekadar bantu tetangga yang mau pindahan tanpa dibayar?

Kalau kamu harus mikir lama buat jawab, bisa jadi kita memang sudah terlalu jauh dari yang namanya gotong royong.

Padahal, gotong royong itu bukan cuma warisan budaya, tapi salah satu identitas bangsa Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, dari Toraja sampai Mandar, hampir semua suku di negeri ini punya cara sendiri dalam menerapkan gotong royong. Dulu, semua urusan warga—dari bangun rumah, tanam padi, sampai bikin acara adat—dilakukan secara bareng-bareng. Tanpa pamrih, tanpa invoice, yang penting kerja selesai dan semua senang.

Tapi sekarang, di era digital, di mana semua bisa dipesan via aplikasi dan kita makin sibuk ngurusin urusan sendiri, gotong royong pelan-pelan kehilangan napasnya. Banyak orang yang lebih nyaman menyelesaikan masalah sendirian, atau kalaupun butuh bantuan, maunya yang profesional dan dibayar. Praktis sih, tapi… ada yang hilang.

Nah, di tulisan Catatan Pahupahu kali ini, kita mau ngobrol santai soal kenapa tradisi gotong royong harus kita hidupkan kembali, dan gimana caranya biar tetap relevan di masyarakat modern.

 

Gotong Royong: Warisan yang Nggak Boleh Mati

Gotong royong itu bukan sekadar kerja bareng-bareng. Di dalamnya ada nilai:

·         Kebersamaan: semua orang ambil bagian.

·         Kepedulian: bantu bukan karena disuruh, tapi karena peduli.

·         Kesederhanaan: nggak ada urusan siapa kaya siapa miskin, semua setara.

·         Saling percaya: karena semua berjalan atas dasar niat baik.

Di Mandar, misalnya, gotong royong dikenal dengan sebutan saling sa'banna. Kalau ada yang bangun rumah, tetangga-tetangga datang bantu tanpa diminta. Yang bisa angkat kayu bantu angkat, yang bisa masak bantu di dapur. Nggak dibayar, tapi dikasih makan dan dihargai. Nilai kekeluargaannya kuat banget.

Tapi di zaman sekarang, hal-hal seperti ini mulai langka. Orang-orang lebih memilih menyewa tukang, beli jasa, atau urus semuanya sendiri. Mungkin karena takut repot, atau merasa “nggak enakan” kalau minta tolong.

 

Kenapa Gotong Royong Mulai Ditinggalkan?

Ada banyak faktor yang bikin gotong royong perlahan ditinggalkan. Beberapa di antaranya:

1. Gaya Hidup Individualistis

Kita hidup di era di mana orang makin sibuk sama urusan pribadi. Bahkan dalam satu kompleks, ada yang udah tinggal 5 tahun tapi belum kenal tetangga sebelah. Miris ya?

2. Waktu yang Padat

Gotong royong butuh waktu dan kehadiran. Tapi sekarang, orang-orang bangun pagi udah buru-buru kerja, pulang udah capek, akhir pekan pengen istirahat. Belum lagi yang harus kejar deadline, konten, side hustle, dan sebagainya.

3. Pragmatisme: Semuanya Bisa Dibayar

Sekarang mau bersih-bersih lingkungan? Panggil petugas kebersihan. Mau gotong barang? Sewa jasa angkut. Mau pasang tenda buat acara? Sewa vendor. Semua ada tarifnya, tinggal bayar.

4. Kurangnya Teladan

Kalau generasi tua sudah tidak aktif dalam kegiatan gotong royong, maka generasi muda pun tidak punya contoh untuk diikuti. Akhirnya, gotong royong hanya jadi kenangan.

 

Tapi, Apakah Gotong Royong Sudah Tidak Relevan?

Justru sebaliknya. Gotong royong makin dibutuhkan.

Di tengah dunia yang makin cepat dan individualis, gotong royong bisa jadi penyeimbang. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bisa jadi solusi buat masalah sosial yang sekarang kita hadapi: kesenjangan sosial, ketidakpedulian, egoisme, bahkan stres dan kesepian.

Bayangkan kalau di kompleks tempat tinggal kita, orang-orang saling kenal dan bantu. Kalau di kampus, mahasiswa bisa bareng-bareng bersih lingkungan atau bantu teman yang kesulitan. Hidup pasti lebih ringan, lebih hangat, dan lebih bahagia.

 

Gimana Cara Menghidupkan Kembali Gotong Royong?

Nggak usah muluk-muluk langsung bikin gerakan nasional. Mulai aja dari yang kecil dan dekat.

1. Mulai dari Tetangga

Kenalan lagi sama tetangga. Kalau ada kerja bakti, ikut. Kalau ada yang kesulitan, bantu semampunya. Nggak harus keluar uang, kadang tenaga dan waktu lebih berharga.

2. Revitalisasi Posyandu, Karang Taruna, dan Rukun Warga

Banyak lembaga sosial yang dulunya aktif sekarang sepi kegiatan. Coba dihidupkan lagi. Bikin kegiatan kecil seperti bersih-bersih, arisan warga, atau bakti sosial.

3. Gotong Royong Digital? Kenapa Nggak!

Kalau zaman sekarang semua serba digital, kita bisa adaptasi. Misalnya, bikin grup WhatsApp RT untuk koordinasi kerja bakti. Atau galang dana online buat bantu warga yang sakit. Bantu promosi usaha tetangga lewat medsos juga termasuk bentuk gotong royong.

4. Melibatkan Anak Muda dengan Cara Seru

Anak muda sekarang suka kegiatan yang seru dan meaningful. Coba ajak mereka bikin acara sosial, eco-project, atau festival kecil-kecilan yang menggabungkan seni dan kerja kolektif. Siapa bilang gotong royong harus serius dan kaku?

5. Kampanye Kebaikan Lewat Konten

Punya followers banyak di Instagram? Gunakan buat sebarkan semangat gotong royong. Bikin konten video atau tulisan soal kegiatan komunitas. Biar orang lain ikut terinspirasi.

 

Gotong Royong Itu Juga Bentuk Self-Care

Percaya atau nggak, ikut kegiatan gotong royong juga bagus buat kesehatan mental. Kita merasa terhubung, merasa berguna, dan merasa punya peran. Dan ketika kita membantu orang lain, otak kita mengeluarkan hormon bahagia seperti oksitosin dan dopamin.

Jadi, selain membantu sesama, kita juga menyembuhkan diri sendiri.

 

Catatan Pahupahu: Mari Kita Gotong Royongkan Lagi Hidup Ini

Hidup di era modern memang penuh tantangan. Tapi bukan berarti kita harus lepas dari akar budaya kita. Gotong royong bukan sekadar kerja bakti, tapi cara hidup. Sebuah filosofi bahwa hidup yang baik itu adalah hidup yang saling bantu, saling jaga, dan saling menguatkan.

Kalau di kampung dulu, orang bangun rumah bisa selesai dalam semalam karena dibantu satu kampung. Sekarang, bisakah kita bangun kembali semangat yang sama—meski bentuknya berbeda?

Mungkin bukan rumah yang kita bangun bersama, tapi kebersamaan.
Mungkin bukan kayu dan paku yang kita angkut, tapi harapan dan empati yang kita gotong bareng-bareng.

Jadi, yuk kita hidupkan lagi gotong royong. Mulai dari rumah, dari gang, dari komunitas kecil. Karena dunia ini terlalu berat kalau dipikul sendiri. Tapi kalau kita gotong bareng-bareng, siapa tahu bisa lebih ringan dan menyenangkan.

 

Kalau kamu punya cerita seru tentang gotong royong di tempatmu, atau punya ide gimana bikin gotong royong versi modern yang seru dan relevan, share di kolom komentar ya. Atau kirim ceritamu ke Catatan Pahupahu, siapa tahu bisa kita angkat jadi tulisan inspiratif berikutnya.

Salam hangat dan tetap bergotong-royong walau pakai WiFi!

 

 



 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar