Senin, 23 Juni 2025

Menemukan Kedamaian dengan Berbuat Baik kepada Sesama

Menemukan Kedamaian dengan Berbuat Baik kepada Sesama

Karena Kebaikan Itu Menyembuhkan, Bukan Melelahkan

Kita semua tahu betapa rumitnya dunia hari ini. Berita buruk datang hampir setiap jam. Media sosial penuh dengan keluhan, komentar negatif, dan kadang, manusia lupa bahwa yang mereka hujat juga manusia. Di tengah hiruk pikuk itu, kadang kita bertanya sendiri, “Kapan terakhir kali aku merasa damai?”

Lucunya, jawaban atas pertanyaan itu kadang bukan ditemukan di tempat yang mahal, bukan di resort mewah, bukan juga di meditasi yang panjang. Tapi justru dalam sesuatu yang sederhana dan manusiawi: berbuat baik kepada orang lain.

Kenapa Kebaikan Bisa Membuat Kita Damai?

Karena sejatinya, manusia itu makhluk sosial. Di dalam diri kita ada semacam ‘kabel bawaan’ yang nyambung ke orang lain. Dan ketika kita melakukan sesuatu yang baik—meski kecil—sebenarnya kita sedang menyambung ulang kabel itu. Kita mengingatkan diri kita bahwa kita bukan sendirian di dunia ini. Dan itu menenangkan.

Saat kita menolong seseorang menyeberang jalan, atau sekadar senyum ke petugas parkir, ada getaran kecil yang muncul dari dalam hati. Mungkin tidak langsung membuat kita loncat kegirangan, tapi ada rasa hangat. Rasa ringan. Rasa: “aku melakukan hal yang benar.”

Dan sering kali, dari hal sekecil itulah, kedamaian mulai tumbuh.

Kebaikan Tidak Harus Besar

Banyak orang merasa, “Aku belum bisa berbuat baik. Aku belum punya uang, belum punya waktu.” Padahal, kebaikan tidak selalu soal materi.

Pernah suatu hari saya naik angkutan umum. Di tengah jalan, sopirnya tampak lelah. Saya tidak tahu harus bilang apa, akhirnya saya cuma berkata, “Terima kasih ya Pak, sudah mengantar dengan hati-hati.” Dia tersenyum, dan berkata, “Jarang ada yang ngomong gitu, Mas. Saya senang dengarnya.”

Kebaikan itu bisa sesederhana tidak marah di jalan, tidak menyepelekan orang lain, atau mendengarkan cerita orang tanpa menyela.

Hal-hal kecil yang tampaknya sepele, tapi bisa mengubah hari seseorang.

Dan yang paling penting—mengubah hati kita sendiri.

Saat Berbuat Baik Jadi Obat Luka

Pernah nggak merasa patah hati, kecewa, atau merasa dunia seolah menutup pintu?

Itu manusiawi. Tapi dari pengalaman pribadi, justru saat-saat paling gelap dalam hidup saya, berbuat baik jadi obat yang tak terduga.

Saat sedang sedih, saya memilih menyapa orang tua yang tinggal sendirian di sebelah rumah. Saya bantu sapu halamannya. Lalu dia cerita tentang masa mudanya, tentang anak-anaknya yang jauh. Tiba-tiba, saya lupa dengan sedih saya. Saya sadar, ada luka yang lebih tua, tapi tetap bisa dilalui dengan senyum.

Kadang, dengan membantu orang lain menyembuhkan lukanya, kita justru sedang menyembuhkan luka kita sendiri.

Kebaikan yang Diam-diam Tapi Dalam

Tidak semua kebaikan harus diumbar. Bahkan, kebaikan yang paling menenangkan adalah yang dilakukan diam-diam, tanpa pamrih, tanpa ingin dikenal.

Contoh paling nyata? Orang tua kita.

Mereka jarang bilang “aku sayang kamu,” tapi tiap hari memasak, bekerja, dan memikirkan kita. Itu kebaikan dalam bentuk paling murni. Dan biasanya, mereka juga yang merasa paling damai saat melihat kita bahagia—meski tanpa mengucap apa pun.

Kita bisa meniru itu. Berbuat baik dalam diam. Memberi tanpa mengharap balas. Menolong tanpa ingin dipuji.

Dan entah bagaimana, Tuhan punya cara memeluk orang-orang seperti itu dengan damai yang tak bisa dijelaskan.

Ketika Dunia Membalas dengan Buruk

Sekarang mungkin ada yang berpikir: “Tapi aku udah baik, kenapa tetap disakiti?”

Saya pun pernah merasakannya. Memberi waktu, tenaga, perhatian, tapi dibalas dengan kekecewaan. Rasanya, ingin berhenti jadi orang baik. Ingin cuek saja. Ingin membalas.

Tapi satu hari, saya membaca sebuah kalimat yang mengubah cara pandang saya:

“Orang lain boleh tidak membalas kebaikanmu, tapi kedamaian hatimu tetap jadi milikmu.”

Berbuat baik bukan soal siapa yang pantas menerima, tapi soal siapa kita ingin jadi. Dan saya yakin, siapa pun kita, kita ingin menjadi orang yang tetap memilih cinta, meski dunia sering tidak adil.

Kedamaian Itu Efek Samping

Ya, kedamaian bukan tujuan utama dari berbuat baik. Tapi dia datang sebagai hadiah.

Semakin kita peka terhadap orang lain, semakin kita sadar bahwa kita ini bagian dari jaringan besar kemanusiaan. Kita tidak bisa hidup hanya untuk diri sendiri. Dan saat kita mulai hidup untuk memberi, hidup kita justru jadi lebih penuh.

Bukan lebih mudah, tentu. Tapi lebih bermakna.

Dan kadang, dari makna itulah lahir ketenangan.

Kebaikan Bisa Menular

Ini hal yang indah: kebaikan itu menular.

Satu senyuman bisa membuat orang lain ikut tersenyum. Satu aksi tolong-menolong bisa menciptakan rantai kebaikan yang panjang.

Pernahkah kamu dibantu orang asing saat kamu kesulitan? Rasanya ajaib, bukan?

Sekarang bayangkan kamu jadi sumber perasaan ajaib itu untuk orang lain. Dan mereka pun akan meneruskannya. Bisa jadi, kamu sedang memulai sebuah gelombang kebaikan yang tidak kamu sadari.

Itu juga salah satu bentuk kedamaian: saat kita tahu, hidup kita tidak sia-sia. Kita punya dampak. Kita bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Berbuat Baik Itu Melatih Jiwa

Berbuat baik bukan cuma soal niat baik. Itu juga latihan. Kadang kita capek, malas, atau sedang tidak dalam suasana hati terbaik.

Tapi justru di situlah letak pembelajaran.

Saat kita memilih tetap sabar saat ingin marah. Saat kita tetap memberi meski sedang sempit. Saat kita memilih mengerti, padahal bisa saja menghakimi.

Semua itu melatih jiwa kita untuk tumbuh. Menjadi manusia yang lebih dewasa. Lebih lembut. Lebih bijak.

Dan dari jiwa yang tumbuh itulah, kedamaian sejati bisa bersemi.

 

Penutup: Damai Itu Bukan Dicari, Tapi Diciptakan

Kita hidup di dunia yang keras, kadang kejam. Tapi kita selalu punya pilihan: ikut menjadi keras, atau tetap menjadi baik.

Menjadi baik mungkin tidak membuat kita menang dalam kompetisi duniawi. Tapi ia bisa membuat kita menang atas diri sendiri. Dan itu adalah kemenangan yang lebih penting.

Jadi, kalau hari ini kamu merasa resah, cobalah lakukan satu kebaikan kecil. Telepon orang tuamu. Beri makan kucing liar. Bantu temanmu yang sedang bingung. Atau cukup tersenyum pada orang yang kamu temui di jalan.

Kedamaian mungkin tak langsung datang seperti angin segar. Tapi percayalah, ia sedang berjalan pelan-pelan ke arahmu.

Dan saat ia tiba, kamu akan tahu: bahwa kebaikan bukan hanya mengubah dunia—tapi juga menyelamatkan jiwamu sendiri.

 

 

 



Jumat, 20 Juni 2025

Seni & Musik: Suara-suara Lembut yang Mengguncang Kesadaran Sosial

 

Kebudayaan & Kearifan Lokal

(Karena Kadang, Lagu Lebih Didengar daripada Ceramah)

Pernah nggak kamu tiba-tiba terdiam waktu denger lagu lama yang liriknya nyentuh banget? Atau merasa merinding pas nonton pertunjukan seni yang menggambarkan penderitaan orang-orang di daerah konflik? Ya, itu bukan kebetulan. Itu adalah kekuatan seni dan musik yang mampu mengetuk hati, bahkan mengubah cara pikir kita tentang dunia.

Di tulisan Catatan Pahupahu kali ini, kita mau ngobrol santai soal bagaimana seni dan musik punya peran besar dalam membangkitkan kesadaran sosial. Nggak melulu lewat demo, orasi, atau tulisan panjang—kadang, satu lagu atau satu lukisan bisa lebih “nendang” dan menyentuh banyak orang.

 

Seni dan Musik: Bukan Cuma Hiburan

Kalau kita bicara soal seni dan musik, banyak yang langsung mikir: “Ah, itu kan buat hiburan.” Ya, memang benar, seni dan musik bisa jadi pelepas stres. Tapi, di balik dentingan gitar atau goresan kuas, ada pesan yang seringkali lebih dalam dari sekadar senang-senang.

Seni dan musik itu medium. Sarana. Jalan alternatif untuk menyampaikan suara—terutama suara-suara yang sering diabaikan. Lewat seni, orang bisa mengkritik tanpa harus teriak. Bisa menyentil tanpa harus menyakiti. Dan yang paling keren: bisa menyatukan orang dari berbagai latar belakang untuk peduli pada satu isu yang sama.

 

Kenapa Seni & Musik Bisa Bikin Kita Lebih Sadar?

1. Bahasanya Universal

Musik dan seni nggak butuh translator. Orang yang nggak ngerti bahasa Inggris tetap bisa menangis dengar “Imagine”-nya John Lennon. Warga desa bisa terpukau lihat mural sosial meski nggak tahu teori warna.

Bahasa emosi yang dibawa seni dan musik menjangkau semua orang—lintas umur, lintas budaya.

2. Menembus Batas Ego

Kadang, orang malas diajak diskusi soal isu sosial karena merasa diserang. Tapi kalau disampaikan lewat lagu atau pertunjukan teater, mereka bisa menerima tanpa defensif. Karena hati yang disentuh lebih dulu, logika pun jadi lebih terbuka.

3. Menggugah Imajinasi dan Empati

Sebuah lukisan tentang anak-anak korban perang bisa bikin kita lebih peduli daripada angka statistik di berita. Musik yang mengangkat suara minoritas bisa bikin kita membayangkan apa rasanya jadi mereka.

 

Dari Dulu Sampai Sekarang: Seni & Musik Selalu Jadi “Alat Perlawanan”

Nggak usah jauh-jauh, kita lihat sejarah di negeri sendiri. Lagu-lagu perjuangan zaman kemerdekaan seperti “Halo-Halo Bandung” atau “Syukur” bukan cuma buat semangat, tapi juga menyatukan rakyat melawan penjajah. Seni sandiwara rakyat seperti ketoprak atau lenong sering menyisipkan kritik sosial yang tajam meski dibalut humor.

Lanjut ke era Orde Baru, banyak musisi yang “nakal”—berani mengkritik lewat lirik lagu, seperti Iwan Fals. Lagu “Bento” atau “Ibu” bukan cuma hits, tapi juga bikin orang mikir dan mempertanyakan keadaan sosial waktu itu.

Di luar negeri? Banyak. Bob Dylan, U2, Kendrick Lamar, Beyoncé, bahkan BTS sekalipun pernah mengangkat isu sosial seperti rasisme, kemiskinan, kekerasan, hingga kesehatan mental.

 

Contoh Nyata: Ketika Lagu Mengubah Dunia

·         “We Are the World” (1985) – Lagu ini mengumpulkan musisi dunia untuk bantu korban kelaparan di Afrika. Nggak cuma nyentuh hati, tapi juga sukses galang dana jutaan dolar.

·         “Heal the World” – Michael Jackson – Lagu ini mengajarkan empati dan tanggung jawab global, mengajak generasi muda untuk peduli pada dunia yang lebih baik.

·         “Surat Cinta untuk Starla” – Virgoun – Meski bukan lagu politik, lagu ini sempat dijadikan simbol gerakan cinta lingkungan di beberapa komunitas anak muda karena video klipnya yang menyentuh soal alam.

·         “Tanah Air” – Lagu Nasional – Coba denger lagu ini di perantauan, pasti baper. Lagu ini sederhana tapi ampuh menumbuhkan rasa cinta tanah air dan nasionalisme.

 

Seni Lokal Juga Banyak Berperan!

Jangan salah, kesenian tradisional juga punya peran besar dalam menyampaikan pesan sosial. Di Mandar, misalnya, ada Sayyang Pattuqduq, tarian kuda yang sering dibarengi syair-syair edukatif, bahkan kritik sosial secara halus. Atau Pakkacapingan—syair-syair yang dilagukan dengan alat musik tradisional, banyak memuat petuah kehidupan, kisah rakyat, dan ajakan moral.

Di Jawa ada wayang, di Bali ada topeng, di Toraja ada tari Ma’badong, semua membawa pesan yang lebih dari sekadar pertunjukan.

 

Generasi Muda dan Kreativitas Sosial

Seni dan musik makin penting di era sekarang, apalagi buat generasi muda. Banyak anak muda yang mungkin malas ikut seminar politik, tapi rela nonton konser musik bertema sosial. Banyak yang nggak suka baca berita, tapi betah scroll TikTok seniman yang menyuarakan isu lewat karya unik mereka.

Maka, saatnya kita manfaatkan kekuatan ini:

·         Buat mural di kampus atau desa dengan pesan keberagaman dan toleransi.

·         Ajak teman bikin musik video bertema lingkungan atau anti bullying.

·         Gunakan platform seperti YouTube, Spotify, Instagram untuk menyuarakan keresahan sosial lewat seni.

 

Tapi... Jangan Asal Viral

Satu hal yang perlu dicatat: seni dan musik bisa jadi kuat banget, tapi juga bisa disalahgunakan. Jangan sampai kita asal bikin karya cuma demi viral, tanpa pesan yang jelas. Apalagi kalau sampai malah menyebarkan hoaks, stereotip, atau merendahkan kelompok tertentu.

Karya yang bagus adalah yang menyentuh hati, membuka mata, dan memanggil empati. Bukan sekadar sensasi kosong.

 

Penutup ala Pahupahu: Mari Bersuara dengan Indah

Dunia ini kadang terlalu berisik. Tapi justru di tengah kebisingan itu, seni dan musik bisa jadi suara lembut yang menggugah. Bukan untuk menggurui, tapi mengajak. Bukan untuk menghakimi, tapi menyentuh. Dan kalau kita jeli, justru lewat karya seni lah orang jadi lebih peka, lebih sadar, dan lebih peduli.

Di tangan seniman, kuas bisa lebih tajam dari pedang. Di tangan musisi, gitar bisa lebih lantang dari toa.

Jadi, yuk, kita ramaikan dunia ini dengan suara-suara indah yang membawa pesan.

Karena mungkin, satu lagu yang kamu buat hari ini… bisa menyelamatkan banyak hati besok pagi.

 

Punya lagu, puisi, lukisan, atau karya yang mengangkat isu sosial? Kirim ke Catatan Pahupahu. Kita percaya, setiap suara punya kekuatan. Dan siapa tahu, suaramu lah yang dunia butuhkan hari ini.

Kamis, 19 Juni 2025

Menghidupkan Kembali Tradisi Gotong Royong dalam Masyarakat Modern

 

Kebudayaan & Kearifan Lokal

(Karena Hidup Nggak Harus Sendiri-sendiri!)

Coba jujur deh: kapan terakhir kali kamu bantu bersihin selokan bareng tetangga? Atau bantu gotong meja pas ada acara kawinan di kampung? Atau sekadar bantu tetangga yang mau pindahan tanpa dibayar?

Kalau kamu harus mikir lama buat jawab, bisa jadi kita memang sudah terlalu jauh dari yang namanya gotong royong.

Padahal, gotong royong itu bukan cuma warisan budaya, tapi salah satu identitas bangsa Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, dari Toraja sampai Mandar, hampir semua suku di negeri ini punya cara sendiri dalam menerapkan gotong royong. Dulu, semua urusan warga—dari bangun rumah, tanam padi, sampai bikin acara adat—dilakukan secara bareng-bareng. Tanpa pamrih, tanpa invoice, yang penting kerja selesai dan semua senang.

Tapi sekarang, di era digital, di mana semua bisa dipesan via aplikasi dan kita makin sibuk ngurusin urusan sendiri, gotong royong pelan-pelan kehilangan napasnya. Banyak orang yang lebih nyaman menyelesaikan masalah sendirian, atau kalaupun butuh bantuan, maunya yang profesional dan dibayar. Praktis sih, tapi… ada yang hilang.

Nah, di tulisan Catatan Pahupahu kali ini, kita mau ngobrol santai soal kenapa tradisi gotong royong harus kita hidupkan kembali, dan gimana caranya biar tetap relevan di masyarakat modern.

 

Gotong Royong: Warisan yang Nggak Boleh Mati

Gotong royong itu bukan sekadar kerja bareng-bareng. Di dalamnya ada nilai:

·         Kebersamaan: semua orang ambil bagian.

·         Kepedulian: bantu bukan karena disuruh, tapi karena peduli.

·         Kesederhanaan: nggak ada urusan siapa kaya siapa miskin, semua setara.

·         Saling percaya: karena semua berjalan atas dasar niat baik.

Di Mandar, misalnya, gotong royong dikenal dengan sebutan saling sa'banna. Kalau ada yang bangun rumah, tetangga-tetangga datang bantu tanpa diminta. Yang bisa angkat kayu bantu angkat, yang bisa masak bantu di dapur. Nggak dibayar, tapi dikasih makan dan dihargai. Nilai kekeluargaannya kuat banget.

Tapi di zaman sekarang, hal-hal seperti ini mulai langka. Orang-orang lebih memilih menyewa tukang, beli jasa, atau urus semuanya sendiri. Mungkin karena takut repot, atau merasa “nggak enakan” kalau minta tolong.

 

Kenapa Gotong Royong Mulai Ditinggalkan?

Ada banyak faktor yang bikin gotong royong perlahan ditinggalkan. Beberapa di antaranya:

1. Gaya Hidup Individualistis

Kita hidup di era di mana orang makin sibuk sama urusan pribadi. Bahkan dalam satu kompleks, ada yang udah tinggal 5 tahun tapi belum kenal tetangga sebelah. Miris ya?

2. Waktu yang Padat

Gotong royong butuh waktu dan kehadiran. Tapi sekarang, orang-orang bangun pagi udah buru-buru kerja, pulang udah capek, akhir pekan pengen istirahat. Belum lagi yang harus kejar deadline, konten, side hustle, dan sebagainya.

3. Pragmatisme: Semuanya Bisa Dibayar

Sekarang mau bersih-bersih lingkungan? Panggil petugas kebersihan. Mau gotong barang? Sewa jasa angkut. Mau pasang tenda buat acara? Sewa vendor. Semua ada tarifnya, tinggal bayar.

4. Kurangnya Teladan

Kalau generasi tua sudah tidak aktif dalam kegiatan gotong royong, maka generasi muda pun tidak punya contoh untuk diikuti. Akhirnya, gotong royong hanya jadi kenangan.

 

Tapi, Apakah Gotong Royong Sudah Tidak Relevan?

Justru sebaliknya. Gotong royong makin dibutuhkan.

Di tengah dunia yang makin cepat dan individualis, gotong royong bisa jadi penyeimbang. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bisa jadi solusi buat masalah sosial yang sekarang kita hadapi: kesenjangan sosial, ketidakpedulian, egoisme, bahkan stres dan kesepian.

Bayangkan kalau di kompleks tempat tinggal kita, orang-orang saling kenal dan bantu. Kalau di kampus, mahasiswa bisa bareng-bareng bersih lingkungan atau bantu teman yang kesulitan. Hidup pasti lebih ringan, lebih hangat, dan lebih bahagia.

 

Gimana Cara Menghidupkan Kembali Gotong Royong?

Nggak usah muluk-muluk langsung bikin gerakan nasional. Mulai aja dari yang kecil dan dekat.

1. Mulai dari Tetangga

Kenalan lagi sama tetangga. Kalau ada kerja bakti, ikut. Kalau ada yang kesulitan, bantu semampunya. Nggak harus keluar uang, kadang tenaga dan waktu lebih berharga.

2. Revitalisasi Posyandu, Karang Taruna, dan Rukun Warga

Banyak lembaga sosial yang dulunya aktif sekarang sepi kegiatan. Coba dihidupkan lagi. Bikin kegiatan kecil seperti bersih-bersih, arisan warga, atau bakti sosial.

3. Gotong Royong Digital? Kenapa Nggak!

Kalau zaman sekarang semua serba digital, kita bisa adaptasi. Misalnya, bikin grup WhatsApp RT untuk koordinasi kerja bakti. Atau galang dana online buat bantu warga yang sakit. Bantu promosi usaha tetangga lewat medsos juga termasuk bentuk gotong royong.

4. Melibatkan Anak Muda dengan Cara Seru

Anak muda sekarang suka kegiatan yang seru dan meaningful. Coba ajak mereka bikin acara sosial, eco-project, atau festival kecil-kecilan yang menggabungkan seni dan kerja kolektif. Siapa bilang gotong royong harus serius dan kaku?

5. Kampanye Kebaikan Lewat Konten

Punya followers banyak di Instagram? Gunakan buat sebarkan semangat gotong royong. Bikin konten video atau tulisan soal kegiatan komunitas. Biar orang lain ikut terinspirasi.

 

Gotong Royong Itu Juga Bentuk Self-Care

Percaya atau nggak, ikut kegiatan gotong royong juga bagus buat kesehatan mental. Kita merasa terhubung, merasa berguna, dan merasa punya peran. Dan ketika kita membantu orang lain, otak kita mengeluarkan hormon bahagia seperti oksitosin dan dopamin.

Jadi, selain membantu sesama, kita juga menyembuhkan diri sendiri.

 

Catatan Pahupahu: Mari Kita Gotong Royongkan Lagi Hidup Ini

Hidup di era modern memang penuh tantangan. Tapi bukan berarti kita harus lepas dari akar budaya kita. Gotong royong bukan sekadar kerja bakti, tapi cara hidup. Sebuah filosofi bahwa hidup yang baik itu adalah hidup yang saling bantu, saling jaga, dan saling menguatkan.

Kalau di kampung dulu, orang bangun rumah bisa selesai dalam semalam karena dibantu satu kampung. Sekarang, bisakah kita bangun kembali semangat yang sama—meski bentuknya berbeda?

Mungkin bukan rumah yang kita bangun bersama, tapi kebersamaan.
Mungkin bukan kayu dan paku yang kita angkut, tapi harapan dan empati yang kita gotong bareng-bareng.

Jadi, yuk kita hidupkan lagi gotong royong. Mulai dari rumah, dari gang, dari komunitas kecil. Karena dunia ini terlalu berat kalau dipikul sendiri. Tapi kalau kita gotong bareng-bareng, siapa tahu bisa lebih ringan dan menyenangkan.

 

Kalau kamu punya cerita seru tentang gotong royong di tempatmu, atau punya ide gimana bikin gotong royong versi modern yang seru dan relevan, share di kolom komentar ya. Atau kirim ceritamu ke Catatan Pahupahu, siapa tahu bisa kita angkat jadi tulisan inspiratif berikutnya.

Salam hangat dan tetap bergotong-royong walau pakai WiFi!

 

 



 

 

Rabu, 18 Juni 2025

Nilai-Nilai Adat yang Mengajarkan Kebaikan dan Kebersamaan: Warisan Leluhur yang Masih Relevan

Kebudayaan & Kearifan Lokal

Kamu pernah dengar pepatah, “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”? Atau pernah nggak sih dilarang duduk di atas bantal, terus dibilang “nanti pantatmu bisulan”? Hehe. Banyak banget aturan atau larangan yang dulu kita anggap aneh waktu kecil, tapi ternyata mengandung makna yang dalam.

Ya, begitulah adat. Nggak melulu tentang upacara dan pakaian adat, tapi lebih ke nilai-nilai yang diwariskan turun-temurun oleh leluhur kita. Nilai-nilai ini hidup di tengah masyarakat dan jadi panduan dalam bertingkah laku, bergaul, sampai menyelesaikan masalah.

Masalahnya, makin ke sini, nilai-nilai adat ini mulai pudar. Anak muda lebih kenal etika pergaulan versi media sosial daripada etika bermasyarakat di kampung halaman. Padahal, banyak nilai adat yang isinya mengajarkan kebaikan, kebersamaan, bahkan bisa bikin kita lebih manusiawi di tengah dunia yang makin sibuk dan individualis ini.

Nah, di Catatan Pahupahu ini, kita bahas santai yuk, gimana sebenarnya nilai-nilai adat itu bisa jadi panduan hidup yang relevan banget sampai sekarang.

 

Adat Itu Apa, Sih?

Sebelum jauh bahas nilai-nilainya, mari kita bahas dulu: apa itu adat?

Secara gampangnya, adat adalah aturan tak tertulis yang jadi bagian dari budaya masyarakat. Ia bukan hukum negara, tapi punya kekuatan moral dan sosial yang kuat banget. Misalnya, adat tentang bagaimana menghormati orang tua, cara menyambut tamu, aturan menikah, hingga cara menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.

Setiap suku di Indonesia punya adat sendiri, tapi kalau diperhatikan, banyak banget nilai-nilai universal yang sama: gotong royong, hormat pada orang tua, hidup rukun, dan cinta lingkungan.

 

Nilai-Nilai Adat yang Mengajarkan Kebaikan

1. Gotong Royong: Kebaikan dalam Aksi Kolektif

Di banyak daerah, gotong royong bukan cuma slogan, tapi gaya hidup. Orang kampung biasanya saling bantu tanpa pamrih, entah itu bangun rumah (mappalus), panen sawah, atau bikin hajatan. Nggak perlu dibayar, asal ada nasi dan kopi, orang datang bantu.

Nilai gotong royong ini ngajarin kita bahwa hidup itu nggak bisa sendiri. Kita butuh orang lain, dan memberi bantuan itu nggak harus nunggu diminta.

2. Musyawarah untuk Mufakat

Dulu, sebelum ada pemilu atau voting, masyarakat menyelesaikan masalah lewat musyawarah. Duduk sama-sama, dengar pendapat semua orang, sampai dapat keputusan yang adil.

Nilai ini ngajarin kita tentang demokrasi, menghargai pendapat orang lain, dan nggak semena-mena ambil keputusan. Cocok banget diterapkan di zaman sekarang yang kadang gampang panas karena beda pendapat.

3. Hormat pada Orang Tua dan Pemangku Adat

Di banyak daerah, orang tua dan tetua adat dianggap sebagai “penyimpan kearifan”. Mereka dihormati bukan karena kekayaan, tapi karena pengalaman dan ilmunya.

Ini mengajarkan kita pentingnya respect. Di tengah budaya pop yang kadang menomorsatukan popularitas dan uang, nilai ini mengingatkan kita bahwa kebijaksanaan itu nggak bisa dibeli, tapi harus didengar dan dihormati.

4. Tolong-Menolong Tanpa Pamrih

Di adat Mandar misalnya, ada ungkapan “Sila’ Banni”, yang intinya mengajarkan untuk berbagi dan memberi tanpa harus mengharap balasan. Ini sejalan dengan prinsip universal: berbuat baik itu nggak harus ditunggu balasannya.

Kalau nilai ini terus hidup, kita akan punya masyarakat yang kuat rasa empatinya.

 

Nilai-Nilai Adat yang Menumbuhkan Kebersamaan

1. Ritual dan Upacara Adat: Simbol Persatuan

Walau sekarang banyak yang anggap upacara adat itu kuno, sebenarnya di situlah kekuatan kolektif masyarakat terbangun. Semua orang ambil bagian. Ada yang masak, ada yang bikin dekorasi, ada yang bantu persiapan.

Tanpa disadari, ini adalah ajang mempererat tali persaudaraan. Anak muda bisa kenal tetua, tetua bisa berbagi kisah, dan semuanya merasa bagian dari satu komunitas.

2. Sistem Saling Menjaga (Kekerabatan Sosial)

Beberapa suku punya sistem “rumah adat” yang bukan sekadar tempat tinggal, tapi pusat kehidupan bersama. Di sana, anak-anak belajar sopan santun, gotong royong, dan menjaga nama baik keluarga.

Mereka nggak cuma diajari norma, tapi langsung hidup dalam nilai itu setiap hari.

3. Larangan yang Menjaga Harmoni

Ada banyak larangan adat yang awalnya terdengar aneh. Misalnya, larangan berbicara keras di hutan, atau larangan mengambil hasil panen sebelum waktunya. Tapi kalau dilihat lebih dalam, ini adalah bentuk kearifan lokal untuk menjaga keseimbangan alam dan sosial.

Dengan kata lain, adat itu mengajarkan kita cara hidup yang seimbang — dengan sesama, dengan alam, dan dengan spiritualitas.

 

Nilai Adat: Masih Perlukah di Zaman Sekarang?

Nah, ini pertanyaan besar yang sering muncul. Di zaman serba digital, apakah nilai-nilai adat masih relevan?

Jawabannya: sangat relevan.

Justru di era sekarang, saat orang mulai kehilangan rasa komunitas dan makin egois, nilai-nilai adat bisa jadi kompas moral. Nilai gotong royong bisa menangkal egoisme. Nilai musyawarah bisa jadi solusi polarisasi. Nilai menghormati orang tua bisa jadi pengingat bahwa kita nggak lahir dari ruang kosong.

Tapi tentu saja, adat juga harus adaptif. Bukan berarti semua aturan lama harus diterapkan mentah-mentah. Tapi nilai intinya — tentang kebaikan, kebersamaan, dan keseimbangan — tetap harus dijaga.

 

Lalu, Siapa yang Bertanggung Jawab Menjaga Nilai Ini?

Jawabannya simpel: kita semua. Nggak harus jadi kepala adat atau dosen budaya untuk ikut melestarikan nilai adat. Kamu bisa mulai dari hal-hal sederhana:

·         Dengarkan cerita dari orang tua atau nenekmu.

·         Ikut serta dalam acara adat di kampung.

·         Tulis dan bagikan kisah adat di media sosial atau blog.

·         Ajak temanmu bikin proyek kecil tentang tradisi lokal.

Semakin banyak yang tahu dan peduli, semakin besar kemungkinan nilai-nilai ini bertahan.

 

Penutup: Mari Hidupkan Adat, Bukan Sekadar Mengingatnya

Adat bukan benda mati yang cuma dipajang waktu festival. Ia hidup di cara kita bicara, bergaul, menolong, dan bersikap. Nilai-nilainya nggak pernah ketinggalan zaman — justru dibutuhkan di zaman yang makin terasa individualis ini.

Di Catatan Pahupahu, kita percaya bahwa adat adalah warisan paling mahal yang nggak bisa dibeli, tapi bisa dirasakan dan dijalani. Jadi, yuk mulai dari sekarang. Hidupkan kembali nilai-nilai adat dalam keseharian kita.

Karena selama kita masih percaya pada kebaikan dan kebersamaan, selama itu pula adat masih hidup di tengah kita.

 

Kalau kamu punya cerita unik soal adat atau pengalaman ikut upacara tradisional yang berkesan, tulis di kolom komentar ya. Siapa tahu bisa jadi inspirasi untuk yang lain.
Atau kalau kamu pengen ajak kolaborasi buat bikin konten budaya, yuk ngobrol!

Salam adat, dari yang (masih) percaya bahwa kebaikan itu warisan yang nggak boleh dilupakan.