Cara Menentukan Prioritas Keuangan
BAGIAN I: LITERASI KEUANGAN DASAR
Setiap orang memiliki jumlah uang yang terbatas, tetapi kebutuhan dan
keinginan hampir tidak pernah ada batasnya. Inilah salah satu kenyataan dasar
dalam kehidupan finansial. Tidak peduli berapa besar penghasilan seseorang,
selalu ada banyak hal yang ingin dipenuhi: kebutuhan rumah tangga, pendidikan
anak, kendaraan, rumah, liburan, investasi, hingga persiapan masa pensiun.
Masalah muncul ketika semua kebutuhan dan keinginan dianggap sama
pentingnya. Akibatnya, seseorang sering merasa penghasilannya tidak pernah
cukup, meskipun sebenarnya jumlah pendapatannya relatif memadai. Uang habis
untuk berbagai hal yang kurang penting, sementara kebutuhan yang lebih mendesak
justru terabaikan.
Dalam konteks inilah pentingnya memahami cara menentukan prioritas keuangan.
Menentukan prioritas keuangan berarti memilih penggunaan uang berdasarkan
tingkat kepentingan dan manfaatnya bagi kehidupan saat ini maupun masa depan.
Dengan kata lain, prioritas keuangan membantu seseorang memutuskan mana yang
harus didahulukan, mana yang dapat ditunda, dan mana yang sebaiknya dihindari.
Kemampuan menetapkan prioritas merupakan salah satu ciri individu yang
memiliki literasi keuangan yang baik. Orang yang mampu menentukan prioritas
biasanya lebih mudah mencapai tujuan keuangan, memiliki kondisi finansial yang
lebih stabil, dan lebih siap menghadapi berbagai tantangan ekonomi.
Mengapa Prioritas Keuangan Itu Penting?
Bayangkan seseorang menerima penghasilan Rp7 juta per bulan. Pada bulan yang
sama, ia ingin membeli telepon genggam baru, menabung untuk dana darurat,
membayar cicilan kendaraan, membantu orang tua, dan merencanakan liburan.
Karena dana yang tersedia terbatas, tidak semua keinginan tersebut dapat
dipenuhi sekaligus. Dibutuhkan kemampuan untuk menentukan mana yang paling
penting dan paling mendesak.
Menurut OECD (2023), salah satu indikator penting literasi keuangan adalah
kemampuan individu dalam membuat keputusan keuangan yang terencana dan sesuai
dengan tujuan jangka panjang. Kemampuan ini sangat berkaitan dengan
keterampilan menentukan prioritas.
Tanpa prioritas yang jelas, seseorang cenderung:
·
Menghabiskan uang secara impulsif;
·
Kesulitan menabung;
·
Terjebak dalam utang konsumtif;
·
Mengabaikan kebutuhan masa depan;
·
Mengalami stres finansial.
Sebaliknya, prioritas yang baik membantu seseorang menggunakan uang secara
lebih efektif dan bertanggung jawab.
Mengapa Banyak Orang Sulit Menentukan Prioritas?
Secara teori, menentukan prioritas terlihat mudah. Namun dalam praktiknya,
banyak orang mengalami kesulitan.
Ada beberapa alasan yang umum terjadi.
Pengaruh Emosi
Keputusan keuangan sering kali dipengaruhi oleh emosi.
Seseorang mungkin membeli barang tertentu karena sedang merasa senang,
sedih, stres, atau ingin mendapatkan penghargaan atas kerja kerasnya.
Padahal keputusan yang didasarkan pada emosi belum tentu sesuai dengan
kebutuhan sebenarnya.
Tekanan Sosial
Lingkungan sosial sering memengaruhi cara seseorang menggunakan uang.
Melihat teman membeli kendaraan baru, berlibur ke luar negeri, atau
menggunakan gawai terbaru dapat menimbulkan dorongan untuk melakukan hal yang
sama.
Fenomena ini sering disebut sebagai Fear of Missing Out (FOMO),
yaitu rasa takut tertinggal dari orang lain.
Tidak Memiliki Tujuan Keuangan
Orang yang tidak memiliki tujuan finansial biasanya lebih mudah tergoda oleh
pengeluaran yang tidak penting.
Sebaliknya, seseorang yang memiliki tujuan yang jelas akan lebih mudah
menentukan mana yang menjadi prioritas.
Memahami Perbedaan Kebutuhan dan Keinginan
Langkah pertama dalam menentukan prioritas keuangan adalah memahami
perbedaan antara kebutuhan dan keinginan.
Kebutuhan
Kebutuhan adalah sesuatu yang harus dipenuhi agar kehidupan dapat berjalan
dengan baik.
Contohnya:
·
Makanan;
·
Tempat tinggal;
·
Pendidikan;
·
Kesehatan;
·
Transportasi untuk bekerja.
Keinginan
Keinginan adalah sesuatu yang memberikan kenyamanan atau kesenangan tambahan
tetapi tidak selalu diperlukan.
Contohnya:
·
Telepon genggam terbaru;
·
Liburan mewah;
·
Barang bermerek;
·
Langganan hiburan premium yang berlebihan.
Perbedaan ini tampak sederhana, tetapi sering menjadi sumber masalah
keuangan.
Ilustrasi
Seseorang memiliki telepon genggam yang masih berfungsi dengan baik. Namun
karena melihat model terbaru yang sedang populer, ia merasa perlu menggantinya.
Dalam situasi tersebut, telepon genggam baru lebih tepat dikategorikan
sebagai keinginan daripada kebutuhan.
Memahami perbedaan ini membantu seseorang membuat keputusan yang lebih
rasional.
Prinsip Dasar Menentukan Prioritas Keuangan
Dalam literasi keuangan, terdapat beberapa prinsip yang dapat digunakan
sebagai panduan.
1. Dahulukan Kebutuhan Dasar
Kebutuhan dasar harus selalu menjadi prioritas utama.
Kebutuhan ini meliputi:
·
Makanan;
·
Tempat tinggal;
·
Kesehatan;
·
Pendidikan;
·
Transportasi pokok.
Sebelum memikirkan hiburan atau pembelian barang mewah, pastikan kebutuhan
dasar telah terpenuhi dengan baik.
2. Bangun Dana Darurat
Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, prioritas berikutnya adalah membangun
dana darurat.
Dana darurat berfungsi sebagai perlindungan terhadap berbagai risiko yang
tidak terduga, seperti:
·
Kehilangan pekerjaan;
·
Biaya kesehatan mendadak;
·
Kerusakan kendaraan;
·
Kebutuhan keluarga yang mendesak.
Banyak ahli keuangan menyarankan dana darurat sebesar tiga hingga enam kali
pengeluaran bulanan, tergantung kondisi masing-masing keluarga.
3. Kelola Utang dengan Bijak
Jika memiliki utang, terutama utang dengan bunga tinggi, maka pelunasannya
perlu menjadi prioritas.
Utang yang tidak terkendali dapat mengurangi kemampuan seseorang untuk
menabung dan berinvestasi.
Karena itu, sebelum meningkatkan gaya hidup, pastikan kewajiban finansial
telah dikelola dengan baik.
4. Sisihkan Dana untuk Masa Depan
Prioritas keuangan tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan saat ini.
Masa depan juga perlu dipersiapkan melalui:
·
Tabungan;
·
Investasi;
·
Dana pendidikan;
·
Dana pensiun.
Menurut Lusardi (2019), individu yang memiliki kebiasaan menabung dan
merencanakan masa depan cenderung memiliki tingkat kesejahteraan finansial yang
lebih baik.
Menentukan Prioritas Berdasarkan Jangka Waktu
Cara lain untuk menyusun prioritas adalah dengan membaginya berdasarkan
jangka waktu.
Prioritas Jangka Pendek
Target yang ingin dicapai dalam waktu kurang dari satu tahun.
Contohnya:
·
Melunasi utang kecil;
·
Membangun dana darurat awal;
·
Membeli perlengkapan kerja.
Prioritas Jangka Menengah
Target yang ingin dicapai dalam waktu satu hingga lima tahun.
Contohnya:
·
Membeli kendaraan;
·
Modal usaha;
·
Pendidikan lanjutan.
Prioritas Jangka Panjang
Target yang membutuhkan waktu lebih dari lima tahun.
Contohnya:
·
Membeli rumah;
·
Dana pendidikan anak;
·
Dana pensiun.
Pembagian ini membantu seseorang mengalokasikan sumber daya secara lebih
terencana.
Metode Praktis Menentukan Prioritas Keuangan
Salah satu cara yang mudah diterapkan adalah menggunakan metode
"Penting dan Mendesak".
Penting dan Mendesak
Harus dilakukan segera.
Contoh:
·
Biaya pengobatan;
·
Pembayaran listrik;
·
Cicilan yang jatuh tempo.
Penting tetapi Tidak Mendesak
Harus direncanakan sejak sekarang.
Contoh:
·
Dana pensiun;
·
Investasi;
·
Dana pendidikan anak.
Tidak Penting tetapi Mendesak
Perlu dipertimbangkan dengan hati-hati.
Contoh:
·
Undangan acara yang membutuhkan biaya tambahan.
Tidak Penting dan Tidak Mendesak
Dapat ditunda atau dihindari.
Contoh:
·
Membeli barang hanya karena sedang tren.
Metode ini membantu mengurangi keputusan impulsif yang sering merugikan
kondisi keuangan.
Ilustrasi Kasus Keluarga
Mari kita lihat contoh sederhana.
Keluarga Pak Hasan memiliki penghasilan Rp8 juta per bulan.
Pada bulan tertentu mereka menghadapi beberapa pilihan:
1. Membeli
televisi baru.
2. Menambah
dana darurat.
3. Membayar
cicilan kendaraan.
4. Menabung
untuk pendidikan anak.
5. Liburan
akhir pekan.
Jika dilihat dari tingkat prioritas:
1. Cicilan
kendaraan.
2. Dana
darurat.
3. Dana
pendidikan anak.
4. Televisi
baru.
5. Liburan.
Dengan pendekatan ini, keputusan keuangan menjadi lebih objektif dan sesuai
kebutuhan keluarga.
Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Menentukan Prioritas
Mengutamakan Gengsi
Sebagian orang lebih mementingkan penampilan dibandingkan kestabilan
keuangan.
Akibatnya, pengeluaran untuk simbol status sering mengalahkan kebutuhan yang
lebih penting.
Mengabaikan Masa Depan
Fokus berlebihan pada kebutuhan saat ini dapat menyebabkan kurangnya
persiapan untuk masa depan.
Terlalu Banyak Prioritas
Jika semuanya dianggap prioritas, maka sebenarnya tidak ada yang menjadi
prioritas.
Karena itu, penting untuk menentukan urutan yang jelas.
Tidak Melibatkan Keluarga
Dalam rumah tangga, keputusan keuangan sebaiknya dibicarakan bersama agar
seluruh anggota keluarga memiliki pemahaman yang sama.
Hubungan Prioritas Keuangan dengan Kesejahteraan
Kesejahteraan finansial bukan hanya tentang jumlah uang yang dimiliki,
tetapi juga tentang kemampuan menggunakan uang sesuai tujuan yang benar.
Menurut penelitian Xiao dan Porto (2017), individu yang memiliki perilaku
keuangan yang terencana cenderung memiliki tingkat kepuasan finansial yang
lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak memiliki perencanaan.
Ketika prioritas keuangan tersusun dengan baik, seseorang akan lebih mudah:
·
Mengendalikan pengeluaran;
·
Menabung secara rutin;
·
Mengurangi stres finansial;
·
Mencapai tujuan hidup.
Dengan kata lain, prioritas keuangan merupakan jembatan antara penghasilan
yang diperoleh dan kesejahteraan yang ingin dicapai.
Penutup
Setiap orang memiliki kebutuhan, keinginan, dan impian yang beragam. Namun
sumber daya keuangan yang tersedia selalu terbatas. Karena itu, kemampuan
menentukan prioritas keuangan menjadi keterampilan yang sangat penting dalam
kehidupan modern.
Menentukan prioritas bukan berarti menghilangkan semua kesenangan atau
menolak setiap keinginan. Sebaliknya, prioritas membantu kita menggunakan uang
secara lebih bijaksana agar kebutuhan penting terpenuhi, masa depan lebih
terjamin, dan tujuan hidup dapat dicapai secara bertahap.
Pada akhirnya, keberhasilan finansial tidak hanya ditentukan oleh besarnya
penghasilan, tetapi juga oleh kemampuan memilih mana yang harus didahulukan.
Ketika seseorang mampu menempatkan kebutuhan dan tujuan pada urutan yang tepat,
maka uang akan menjadi alat yang membantu mewujudkan kehidupan yang lebih
tenang, aman, dan sejahtera.
Daftar Pustaka
·
Housel, M. (2020). The Psychology of Money:
Timeless Lessons on Wealth, Greed, and Happiness. Harriman House
Publishing.
·
Kaiser, T., & Lusardi, A. (2024). Financial
Literacy and Financial Education: An Overview. National Bureau of Economic
Research Working Paper No. 32355. https://doi.org/10.3386/w32355
·
Lusardi, A. (2019). Financial literacy and the
need for financial education: Evidence and implications. Swiss Journal of
Economics and Statistics, 155(1), 1–8. https://doi.org/10.1186/s41937-019-0027-5
·
OECD. (2023). OECD/INFE 2023 International
Survey of Adult Financial Literacy. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/56003a32-en
·
Xiao, J. J., & Porto, N. (2017). Financial
education and financial satisfaction: Financial literacy, behavior, and capability
as mediators. International Journal of Bank Marketing, 35(5), 805–817.
https://doi.org/10.1108/IJBM-01-2016-0009
·
Thaler, R. H. (2016). Misbehaving: The
Making of Behavioral Economics. W. W. Norton & Company.
·
World Bank. (2022). Financial Inclusion
Overview. World Bank Group.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar